Sabtu, 17 Agustus 2013

- 2 comments

Ada yang Hinggap di Atas Kepala

Oleh: Andina Dwifatma.

Sumber: Cathy on Etsy

Perempuan itu bangun pagi dengan seekor burung di atas kepalanya. Sejak kapan atau dari mana burung itu datang dia tidak tahu. Burung itu hinggap begitu saja seolah-olah perempuan itu adalah sebatang pohon.

Dia tidak menjerit karena tahu tidak bakal ada gunanya. Soalnya dia tinggal sendirian di rumah besar dan kamar tidurnya ada di lantai dua. Kalaupun menjerit, apakah tetangga dengar? Lagipula kalau dengar, apakah akan peduli? Tinggal di Jakarta  membikin susah bergaul dengan sesama.

Ia ingat waktu masih kecil dulu di Semarang, habis mandi sore dia akan bermain benteng, sepeda, atau petak umpet dengan anak-anak tetangga, sementara pembantunya akan ngobrol sambil duduk-duduk di buk dengan para ibu. Ibunya sendiri, seorang akuntan yang sibuk, belum pulang. Pembantunya juga suka minta garam atau cabe rawit atau kemiri ke tetangga kalau sedang memasak. Biasanya dia yang disuruh. Dan dia menjalankannya dengan senang karena ibu-ibu tetangga suka membekalinya permen atau ciki sebelum dia pulang.

Tapi sekarang bukan waktunya mengenang tetangga baik hati. Perempuan itu bangkit dari tidur lalu mengaca—ya, dia tidak bermimpi. Seekor burung hinggap dengan anteng di atas kepalanya. Dicobanya menghalau dengan tangan. Burung itu bergeming. Digeleng-gelengkan kepalanya. Lho, burung itu malah mencicit seperti menyanyi. Seperti bilang ‘halo, salam kenal’. Kedua kaki burung itu seperti terpatri di rambutnya seolah tidak mau ke mana-mana.

Burung itu ukurannya tidak kecil, juga tidak terlalu besar. Warnanya kuning, dan ada  garis hitam yang melingkari leher memanjang ke dada sampai ekor. Jenis apa, ya? Oh, barangkali seekor gelatik. Memikirkan cara lain untuk mengusir gelatik itu, perempuan itu masuk ke kamar mandi lalu mengguyur kepalanya di wastafel. Sekalian keramas. Ia mengambil shampoo lalu mencuci rambutnya. Selama menggosok-gosok rambut, perempuan itu tidak merasakan ada seekor gelatik sedang hinggap manis di atas kepalanya. Tadi memang ia sengaja membuka jendela kamar mandi agar gelatik itu dapat langsung terbang keluar.

Perempuan itu mengambil handuk, membungkus kepala agar airnya terserap, lalu menggosok-gosok rambutnya agar cepat kering. Dia mengangkat kepala, berkaca. Lho, kok burungnya masih ada? Dia meringis. Jangan-jangan ini gelatik siluman. Diraihnya sang gelatik, terasa lembut bulunya. Tapi kalau itu gelatik asli, kenapa tadi tidak terasa waktu keramas? Ia menggeleng-geleng kepala. Gelatik mulai menyanyi. Perempuan itu lalu memutuskan untuk mandi.

Sebenarnya ia tidak terlalu terganggu dengan kehadiran gelatik itu karena gelatik itu tidak ada rasanya. Maksudnya, tidak berat, tidak gatal, dan tidak bikin risih. Hanya kalau dia mengaca dan menyentuh gelatik itu, memang teraba. Tapi kenapa juga ia harus membiarkan kepalanya jadi sarang makhluk lain. Sedangkan rumah sebesar ini saja kutempati seorang diri.

Sehabis mandi, perempuan itu pergi menemui temannya, Rahmat si dokter hewan. Tempat praktek Rahmat hanya beberapa halte dari rumahnya. Persoalannya, masak dia berjalan  dan naik bus kota dengan seekor gelatik di atas kepala? Ah, ya, ada topi. Ia buru-buru memakai kemeja dan celana jins, lalu menyambar topi lebar yang biasa dia pakai waktu liburan di pantai.

Rahmat si dokter hewan sedang tidak ada pasien. Mungkin karena ia baru buka. Biasanya agak siang baru orang-orang membawa binatang peliharaan yang pada teler. Tanpa basa-basi ia membuka topi lebarnya.
“Coba Mat, kau lihat. Apa tidak aneh?” Ia menyerocos.
“Apa yang aneh?” Sahabatnya Rahmat menelengkan kepala.
“Itu lho, ada burung di atas kepalaku. Segitu besar masak tidak kelihatan?”
Burung apa?”
Burung gelatik atau burung apa begitu. Masak burungmu!”
Ia mulai gusar. Ia takut dibilang berhalusinasi.
Rahmat si dokter hewan menatapnya prihatin. “Kau tidur cukup semalam?”
Perempuan itu kebat-kebit. Diraihnya lengan sahabatnya. “Mat, kau sungguh-sungguh tidak lihat?”
“Sungguh. Kau sebaiknya ke psikiater.”

Ia pergi tanpa berpamitan. Tak dihiraukannya Rahmat yang berteriak. Psikiater hanya untuk orang gila dan dia tidak gila. Rahmat keterlaluan sekali menyarankan begitu. Ia lalu menyusuri jalanan. Orang-orang berlalu lalang. Tukang burger. Tukang es. Tukang koran. Tukang ojek. Papan reklame. Tiang listrik. Halte bus. Angin kencang. Angin amat kencang. Topinya!

Ia melambai panik. Topinya diterbangkan angin. Hatinya berdegup takut orang-orang menertawakan karena dia jalan-jalan membawa gelatik di atas kepala. Ia mencoba menangkap topinya tapi sang topi terus saja terbang ke ujung jalan. Meliuk-liuk seperti menunggang angin. Pergi menjauh tanpa menoleh, seperti memang ingin berpisah.

Perempuan itu terdiam di pinggir jalan. Matanya mengawasi orang-orang. Tukang burger. Tukang es. Tukang koran. Tukang ojek. Semua tetap pada aktivitas masing-masing. Ia meraba atas kepalanya. Gelatik itu ada di sana. Hinggap manis seperti semula. Tapi orang-orang, kenapa mereka diam saja? Perempuan itu mulai berpikir hanya ia yang bisa melihat gelatik itu.

Sambil menata debaran jantungnya, perempuan itu memutuskan untuk terus saja berangkat kerja (ia jadi akuntan seperti ibunya). Di depan lift, satpam menyapa seperti biasa. Di lantai tiga, sekretaris bos menanyakan berkas tanpa sedikit pun nyeletuk soal burung. Teman-temannya sesama akuntan sibuk menghadap  layar komputer masing-masing, mengobrol sekenanya, tapi tidak ada satu pun yang menjerit melihat kepalanya. Padahal, gelatik itu masih ada di sana. Bayangannya terpantul pada layar monitor komputer saat perempuan itu bekerja. Ia sedikit lega.

Hari itu berjalan wajar saja dan begitulah hari-hari berikutnya, bahkan ketika gelatik mulai membikin sarang. Gelatik pergi terbang keluar jendela, tapi meskipun perempuan itu kemudian menutupnya, sang gelatik selalu menemukan cara untuk kembali hinggap di tempat yang sama. Gelatik terbang mencari ranting-ranting kering, lalu menyusunnya di atas kepala perempuan itu tanpa minta izin. Perempuan itu akhirnya pasrah. Kini ia tak hanya seorang perempuan dengan seekor gelatik di atas kepala; ia seorang perempuan dengan seekor gelatik bersarang di atas kepala.

Ranting-ranting kering kadang membuat kepala perempuan itu gatal. Kalau sudah begitu, ia terpaksa menggaruk. Ia katakan ‘terpaksa’, karena sekarang ia sudah tidak terpikir mau mengusir gelatik dan mengobrak-abrik sarangnya. Ia bahkan takut melakukan gerakan-gerakan yang bisa membuat gelatik pergi, meskipun ia tahu bahkan keramas pun tak mempan mengusir si gelatik.

Semua ini karena ia menyukai nyanyian gelatik malam-malam. Awalnya dia terbangun kaget. Nada itu seperti gumpalan masa lalu yang hadir dengan wajah baru. Sesuatu yang tidak pernah ia dengar tapi anehnya terasa familiar. Nyanyian gelatik mengingatkan perempuan itu pada segala yang pernah akrab dalam hidupnya: senyum ibu, peluk ayah, tawa riang bersama teman-teman, ciuman pertama dari kakak kelas di bangku sekolah. Ke mana semua itu pergi? Gelatik dan nyanyiannya adalah kepingan-kepingan kenangan yang sempat ia lupakan, tapi kini hadir lagi seterang siang.

Kalau tidak sedang menyanyi, gelatik berceloteh. Perempuan itu tentu saja tidak paham, tapi ia memang tidak ingin dan tidak perlu paham. Ia hanya ingin menghayati bahasa gelatik. Ia ingin meyakini bahwa gelatik mengucapkan terima kasih karena perempuan itu telah mengizinkan sang burung bersarang di atas kepalanya. Karena telah berbagi kehidupan. Perempuan itu ingin percaya gelatik menyayanginya, dan ia pun menyayangi gelatik. Dan ia tidak pernah tahu, menyayangi dan disayangi balik oleh sesuatu, adalah hal yang bisa membuat siapapun terharu.

Bersama gelatik, perempuan itu merasa menjelma sebatang pohon. Kakinya menancap lebih kuat pada bumi, seperti akar. Tubuhnya berdiri lebih tegap karena tahu ada seekor burung yang menitipkan kehidupan di atas kepalanya. Tangan-tangannya lebih lincah dan giat bekerja sebab sekarang hidup lebih punya arti. Ia selalu berangkat kerja lebih awal agar bisa pulang lebih cepat—agar ia bisa berdua-duaan dengan gelatik di kamar, mendengarkan nyanyian, menghayati celotehan.

Ia belajar bahwa ternyata hidup bukan angka satu. Jika dibagi tidak menjadi setengah, melainkan terus bertambah.

Maka jangan Engkau heran kalau malam ini perempuan itu akan datang padaMu, sekitar pukul sembilan. Ia akan bicara dengan berlinang air mata sebab gelatik itu telah meninggalkannya. Sarang sudah bersih, ranting-ranting kering yang suka membuat kepala gatal sudah raib. Tak ada lagi nyanyian. Tak ada lagi celotehan. Perginya pun tanpa pesan. Perempuan itu akan meminta sesuatu padaMu.

“Izinkanlah aku memohon,” pinta perempuan itu.
“Apa doamu?” Kau menjawab.
“Bukan doa. Aku ingin memohon.”
“Memohon?”
“Menjadi pohon.”

Kalau Kau mengabulkan permintaannya, maka mulai detik itu sang perempuan akan sungguh-sungguh menjelma sebatang pohon. Kakinya menjadi akar. Tubuhnya menjadi batang. Tangannya menjadi ranting. Rambutnya gerumbul daun. Dengan menjelma sebatang pohon, perempuan itu berharap gelatik akan kembali bersarang di atas kepalanya. Atau di rantingnya. Atau di mana saja. Tapi kalau jawabannya adalah tidak, Kau akan menemukan satu lagi orang yang jatuh gila berkeliaran di atas bumi-Mu.

“Izinkanlah aku memohon,” pinta perempuan itu.
Jakarta, Juli 2013
untuk J.P.

Penulis: Andina Dwifatma

Tulisan lain dari Andina Dwifatma

Kenali lebih dekat di sini:

Icon CATATAN-CATATAN YANG TERCECER

2 komentar: