Sabtu, 24 Agustus 2013

- Leave a Comment

MARS

Sumber gambar: http://scottcohn.blogspot.nl
Oleh: Utami Diah Kusumawati

Satu botol lagi sudah kutenggak dari tiga botol alkohol yang kubeli di perjalanan pulang dari kantor.

Malam berubah menjadi pendar-pendar cahaya berbaur satu, menampilkan kenikmatan yang mungkin diucapkan sebagai ‘surga’. Nyatanya, aku tak pernah kesulitan menemukan surga bersama botol-botol ini.

Satu botol bergambar bintang dan pintu surga pun perlahan terbuka. Karung batu yang biasanya disesakkan ke kepalaku lenyap sirna setelah satu botol itu habis kuminum. Dunia menjadi ringan seperti bulu. Aku melayang-layang dengan perasaan senang dan lepas kendali akan semua situasi dunia yang menghantuiku.

Mars, kucing gemuk berbulu loreng hitam-putih itu, sedang menunggu di depan tembok sembari menatap langit-langit saat aku menghabiskan botol bir keempat. Ia menggoyang-goyangkan ekornya yang pendek-gemuk sementara kepalanya tetap setia tengadah mencari cicak-cicak yang biasanya berkeliaran di sela-sela lukisan atau foto di dinding.

Ia tak pernah berhasil mendapatkan cicak-cicak itu, tentunya. Tubuhnya terlalu gemuk untuk bisa melompat tinggi. Tetapi, ia selalu setia menunggu di sana seolah-olah suatu saat nanti ia pasti akan berhasil menangkap satu cicak, dengan wajah selalu diliputi keriangan melakukan kegiatan rutin, yang bagiku seperti kesia-siaan.

Dasar kucing dungu, makiku dalam hati, sedikit terkekeh ketika berjalan masuk ke dalam rumah.

Aku berdiri dari kursiku dan melangkah melewatinya. Kubungkukkan tubuh sembari mengacak-acak bulu Mars yang tebal dengan kedua tanganku. Ia mengeong kencang, suaranya berat pertanda tidak suka. Aku mengulangi lagi tindakanku.

“Jangan Marah, Mars. Kau tahu, aku sayang kau. Hanya kaulah yang selalu ada saat kubutuhkan. Kau harus tahu itu, Mars.”

Aku mendekatkan kepala ke arah kepala kucing itu, yang langsung mencondongkan tubuhnya untuk mencium bauku. Ia lalu menolak untuk mendekat. Setelah melakukan satu gerakan, ia langsung menarik kembali kepalanya hingga membuat posisi merunduk.

“Hei! Kenapa kau ini, Mars? Aku sayang kau, Mars.” Aku berteriak kecewa dan menarik kepalanya mendekatiku lalu menciumnya. Ia menggeliat dan aku pun melepaskan tubuhnya kembali.

“Kucing sialan! Tingkahmu menjengkelkan.”

Kutendang kucing gemuk itu dua kali. Ia mengeong dengan nada melengking dan cepat serta menundukkan wajahnya berusaha menghindari kontak mata denganku.

Aku terus berjalan menuju ruang tamu berharap kucing gemuk itu mengikutiku seperti yang biasa ia lakukan. Ia selalu bisa merasakan saat aku ingin bermain-main dengannya atau tidak. Bahkan, ia pernah tiba-tiba duduk di pangkuanku, mengelus-eluskan kepalanya yang bundar ke tubuhku seolah menghiburku. Saat itu, hatiku sedang sedih. Namun, kali ini kucing itu memilih untuk tetap tinggal di tempatnya untuk memburu cicak.

Mars telah tinggal bersamaku nyaris setahun lamanya. Ia adalah seekor kucing kampung yang datang di depan rumah kontrakanku dengan muka menampilkan kesan iba lebih dari wajah para peminta uang di jalan.

Awalnya aku tidak menyukai kucing sama sekali. Pasalnya, saat kecil ibu selalu berpesan kalau kucing bisa membuatmu susah hamil. Aku mempercayai saran itu dan memutuskan untuk menjauhi kucing, hingga kemudian bertemu Mars.

Ketika pertama kali datang ke rumah, usianya masih kecil. Mars memiliki tubuh yang kurus dengan tulang-tulang menonjol di balik kulitnya sehingga jika kau memegang tubuhnya, kau akan merasakan tulang tersebut. Ia mempunyai bulu tipis dan pendek yang membuatnya terlihat tidak menggemaskan sama sekali. Suaranya kecil namun terdengar ganas.

Saat itu, mata Mars masih terpejam dan ia berjalan tertatih-tatih seperti mencari induk yang telah memberikannya tempat di dunia ini. Aku sempat menduga binatang itu akan mati dalam beberapa jam kemudian. Ia terlihat sangat lemah dan tidak berdaya untuk bertahan hidup lebih dari sehari.

Untuk menghindari rasa bersalah karena membiarkannya mati tanpa berupaya apa pun, aku mengambil susu dan meletakkannya di atas keset di depan pintu rumah. Lalu aku masuk ke rumah, menunggu beberapa jam dan mengintip dari balik jendela. Menunggu hingga ia tak lagi mengeong. Menunggu ia menghilang.

Ternyata, Mars bertahan di depan rumah. Ketika aku membuka pintu, susu yang kuberikan telah habis dan ia mengeong kencang, seolah-olah menunjukkan amarahnya ditinggalkan sendiri saat hadir di kehidupan ini.

Kucing itu ingin aku tahu bahwa ia berhak ada di dunia ini.

Saat itulah aku memutuskan untuk merawat kucing ringkih itu. Kuberi nama Mars, yang berarti amarah dan keberanian dalam simbol kartu Tarot. Dua sikap yang sejujurnya tak pernah kumiliki dan tak ada pada diriku.

Aku, kebalikan dari Mars, adalah seorang perempuan pengecut yang gemar lari dari kenyataan alih-alih menghadapinya dengan berani. Setiap kali berhadapan dengan masalah, aku akan cepat-cepat membalikkan badan dan menutup telinga, berpura-pura semua kejadian buruk itu tidak pernah ada. Bahwa hidupku baik-baik saja, dan kejadian-kejadian buruk itu hanyalah imajinasiku.

Oleh karena itu, ketika bertemu Mars pertama kali, aku langsung jatuh hati pada kucing rapuh yang berani itu. Tindakannya untuk mengeong kencang saat berada dalam masa-masa kritis, bagiku merupakan keberanian untuk tetap mempertahankan hidup dan sikap itu sesuai dengan arti namanya.

Mars pun menjadi bagian tak terpisahkan dalam keseharianku. Saat aku pergi bekerja, ia tak pernah kutinggalkan di dalam rumah. Ia selalu kuberikan kesempatan untuk berkeliaran di luar rumah sesuai dengan kebiasaannya sebagai kucing liar.

Meskipun senang bermain ke luar rumah, ia selalu kembali tepat sebelum ataupun saat aku pulang kantor. Ia akan menyeruak dari kerumunan pohon, tempat sampah, ataupun rumah tetangga dan berlari menyongsongku sembari mengeong. Lalu, ia akan berhenti tepat di sampingku dan mengeluskan tubuhnya ke kakiku.

Setelah itu, aku akan mengelus kepalanya, hal yang paling disenangi Mars dan bisa membuatnya langsung tergeletak seperti kucing mati di lantai. Kemudian, setelah membersihkan tubuhnya dan memberinya makanan, aku akan membopongnya dan mengelus-elusnya sambil menonton acara televisi. Nyaris setiap hari kuhabiskan seperti itu.

Karena terbiasa dimanja-manjakan olehku, jika aku tak membopongnya, Mars akan terus mengikutiku ke mana pun aku pergi untuk meminta dielus hingga tertidur. Lama-kelamaan tumbuh rasa sayangku padanya.

Ia menjadi sesosok mahluk yang lebih dari sekadar binatang. Bagiku, ia memiliki perasaan layaknya manusia dan bisa memahami geliat perasaanku sebagai temannya bermain dan bermanja-manja. Jiwa kami terhubung satu sama lain. Saking dekatnya koneksi kami, aku bahkan sering berharap seandainya Mars adalah manusia dan bukan binatang. Ia akan menjadi orang terkasihku, satu-satunya.

Namun, akhir-akhir ini, ketika aku mulai mengenal minuman dalam botol ini, yang memicu perubahan pada temperamenku, Mars perlahan menjauhiku. Jika dulu ia selalu membuntutiku sepulang kerja, sekarang ia hanya tidur-tiduran dan bermalas-malasan di lantai seakan tak peduli dengan kehadiranku.

Awalnya aku merasa kesal dengan ketidakpeduliannya, terlebih saat aku merasa letih bekerja dan ingin membagi perasaan itu. Rasa kesal itu dengan cepat berubah menjadi amarah dan Mars sering kali menjadi pelampiasan rasa ketidakpuasanku terhadap hidup.

Tetapi, ketika sudah sangat mabuk, aku menjadi asyik sendiri dengan kegiatanku: ocehan-ocehanku dan imajinasi-imajinasiku akan dunia yang kuinginkan tetapi tidak pernah kudapatkan. Entah karena ketidakgigihanku ataupun karena nasib.

Aku mencintai ilusi yang kuciptakan sendiri.

Dalam imajinasi itu, aku membayangkan sebuah keluarga yang terdiri atas ayah, ibu, kakak, dan adik yang akrab satu sama lain, tertawa dan berangkulan seperti kisah dalam potret keluarga klasik yang selalu kau temukan di dinding ruang tamu. Bukan sebuah potret retak lengkap dengan cacian dan serangan akan religiusitas seperti yang selama ini hadir dalam hidupku.

Selain itu, ada juga wajah-wajah sahabat yang selalu berkata, "Aku mendukungmu, apa pun yang kamu lakukan,” atau, “Aku memahamimu, bagaimanapun kepribadianmu.” Dan di akhir kisah, kami akan menepuk pundak satu sama lain, berkata untuk tidak saling mengkhianati kepercayaan masing-masing. Bukan tatapan aneh dari sahabatmu atau sikap mengucilkan ketika kau melakukan sesuatu yang bodoh di mata orang banyak.

Ataupun seorang pacar dengan wajah manisnya, berdiri di sampingku dan memeluk tubuhku untuk menenangkanku dari emosi tak terkendali dan keletihan akan rutinitas kantor yang tak berujung. Bukan kehadiran binatang seperti Mars.

Hal-hal itu kupikir bisa membuatku merasa tidak terasing dalam kehidupan ini sebagai seorang perempuan yang tinggal di kota besar. Namun, anehnya, semakin aku melayang ke awang-awang, semakin kurasakan pula Mars menjaga jarak dariku.

Hingga hari ini kucing itu masih menolak disentuh. Ketika minumanku habis dan pendar-pendar cahaya semakin buram, yang terlihat hanyalah warna gelap di kedua mataku. Nun jauh di sana. Gelap yang kosong. Gelap tanpa suara. Gelap tanpa keriuhan. Gelap yang sepi menyelimutiku, sendiri. Aku panik dan berteriak-teriak memanggil nama Mars. Nama itu yang pertama kali muncul di benakku.

“Mars! Mars! Mars! Di manakah kau? Mars, kemari kau kucing sialan. Mengeonglah! Katakan di mana kau. Aku ingin memelukmu,” suaraku merintih, pilu seperti tangisan.

Aku bergerak menuju entah ke mana seperti racauan dari bibirku yang terus menyemprot keluar. Aku memaksakan kakiku bergerak meskipun lantai terasa dingin. Beberapa kali tubuhku terasa sakit karena terpentok sesuatu. Namun, aku tetap berjalan sembari meneriakkan nama Mars.

Dalam diriku, Mars menjelma cahaya, menjelma sebuah kayu panjang yang bisa kupegang saat aku terapung-apung di tengah lautan luas, menjelma bangku kuat saat kedua kakiku limbung menopang beban tubuhku sendiri, menjelma selimut hangat di saat udara dingin menguasaiku.

Tidak, aku tidak mau sendiri. Aku tidak mau berada dalam kegelapan ini sendiri. Mengeong, Mars. Tunjukkan bahwa kau ada di sini. Aku ingin merasa hangat. Aku... ah, mengapa aku tiba-tiba merasa dipenuhi luapan gairah. Perasaan apa yang muncul ini?

Aku ingin disentuh, Mars. Aku ingin kau, yang selama ini memahamiku. Jiwamu yang selalu berhasil menyentuh jiwaku, turut merasakanku secara fisik pula. Tubuh ini lapar, Mars. Tubuh ini... ah... haus dengan keberanian-keberanianmu. Sentuhlah aku, Mars… Bantu aku mendapatkan ekstasi perempuanku secara utuh.. Aku ingin intimasi itu, Mars...

Aku semakin meracau dan pikiranku berkelana liar seperti seekor kuda yang terlepas dari kekangnya. Aku semakin tak bisa mengendalikan diriku sendiri.

Ketika larut dalam imajinasiku yang berlarian, tiba-tiba aku tersandung suatu benda. Benda itu besar, basah, dan bergerak. Aku merasakan jantungku berdebar semakin kencang dan kepalaku pusing luar biasa. Aku mundur selangkah dan meraba-raba benda apa pun yang bisa kupegang dalam kegelapan.

Setelah menemukan benda itu, aku maju kembali dan mendekati benda besar itu. Jalanku sempoyongan karena kepalaku semakin pusing. Tiba-tiba aku merasakan sakit dan perih pada kakiku seperti diiris silet.

Benda besar itu menyerangku. Terbakar amarah dan takut, kupukulkan benda yang kupegang ke arah benda besar itu dengan kalap dan membabi buta.

Saat itulah ruangan menjadi terang. Lampu sudah menyala kembali. Aku hendak berseru gembira namun kubatalkan saat melihat tragedi mengerikan di depanku: Mars terbujur kaku dengan perut bersimbah darah.

Aku telah membunuh kucing itu dengan botol kaca yang sialnya kupecahkan tanpa sadar selagi terserang rasa panik dan takut. Aku ingin menangis, tetapi tak setetes air mata pun keluar. Akhirnya aku hanya berdiri di depan jasad Mars dengan tatapan kosong.

Saat melihat wajah kucing itu, ada sebuah pencerahan muncul di sana.

Mars adalah satu-satunya hal yang nyata bagiku dan aku membunuhnya. Aku menjatuhkan tubuh di sofa dan meringkuk seperti bayi, lantas menangis. Menyesal telah menyia-nyiakan binatang itu.




Penulis: Diah Utami Kusumawati

Tulisan lain dari Diah Utami Kusumawati
Kenali lebih dekat di sini:
Icon Icon SPICES OF THE WORDS

0 comments:

Posting Komentar