Sabtu, 01 Agustus 2015

- Leave a Comment

Bebas



“Aku hamil.”
Kau terdiam.
“Kamu tahu dari mana?”
“Semalam aku beli test pack. Dan hasilnya positif,” suaraku datar, tenagaku habis kupakai untuk menangis semalam. Kau terdiam lagi. Aku juga.
“Aku ga mau hamil. Aku ga boleh hamil.”
“Ya sudah, kita nikah aja,” Setelah lama, suaramu yang tidak kalah datar dengan suaraku tadi memecah keheningan. Jelas kau tidak menyimak kata-kataku.
 Pagi ini kampus masih sepi. Jadwal bertemu dengan dosen masih dua jam lagi. Aku memang datang terlalu pagi tapi lebih lama di rumah bisa membuatku gila.
“Hah?” Setelah sekian lama pertemuan kami, aku menoleh, menatap matamu dengan terheran-heran. Matamu diam di sana, balas menatapku dengan pandangan yang tidak kumengerti. Manik matamu langsung menantang tatapanku.
“Nikah gimana?” Aku membalas tatapanmu dengan dua kali lebih heran dari sebelumnya.
 Kau kembali dalam diammu. Matamu meninggalkan tatapanku yang penuh kebingungan. Sekarang pandanganmu menatap jauh ke lapangan kampus di hadapan kita. Aku tahu kau tidak mengerti apa yang kau bicarakan.
            Pagi ini masih menyambung hujan dari semalam. Hujan rintik-rintik tapi tak kunjung reda.  Semalam setelah beberapa hari aku curiga dengan rasa aneh yang kualami dengan badanku, aku memberanikan diri untuk ke apotek beli test pack.  Aku linglung semalam. Kau belum pulang dari bimbingan dengan dosennya dan aku tidak sanggup lagi menunggu seperti apa kenyataan sebenarnya. Rasanya mirip ketika kau tahu tidak akan lulus ujian karena separo esai yang diberikan kau biarkan kosong begitu saja karena kau tidak mengerti sama sekali bagaimana menjawabnya, tapi ketika nilai-nilai ujian sudah masuk sistem komputer, jauh sekali di lubuk hatimu, atau hati kecilmu yang paling kecil masih (sedikit) berharap bahwa ketika kau memberanikan diri untuk masuk ke dalam sistem dan melihat nilaimu,  nilaimu masuk kategori lulus. Dan tentu saja, kenyataannya tidak demikian. Aku bahkan sempat berpikir mungkin kalau aku yakin benar kalau aku benar-benar hamil, aku tidak akan hamil. Sayang, harapan kecil itu ada di entah bagian mana hatiku yang paling dalam. Bagaimana tidak, aku merasa mensku bulan ini tidak datang-datang padahal siklusku teratur, payudaraku membengkak seperti mau mens dan terus membengkak tak kunjung reda, dan setelah aku menghitung sepertinya aku sedang masa subur pada saat terakhir kali aku berhubungan denganmu dan kau tidak menggunakan kondom. Entahlah, aku tidak terlalu paham dengan menghitung masa subur tapi dari situs yang kubuka kemarin sore, ada cara mudah menghitungnya, hanya dengan menambahkan beberapa hari setelah hari terakhir mens. Dari sekian pertanda yang tidak pernah kualami sebelumnya, aku berasumsi aku hamil sejak beberapa hari kemarin, dan keyakinanku semakin bertambah besar aku semakin merasakan ada yang aneh dengan tubuhku. Dan benar saja.
            “Aku sebentar lagi sidang, aku pasti lulus. Habis itu aku akan langsung cari kerja,” Kau kembali memecah kesenyapan di antara kami berdua. Tatapanmu kini menerawang, berpindah dari lapangan kampus ke udara di sekitarnya.
            “Aku takut, Biru. ” Takut bukanlah kata yang tepat. Sejujurnya aku sangat takut. Aku luar biasa takut. Atau, kalau ada kata yang bisa mewakili perasaan takutku yang amat sangat ini, itulah yang kurasakan. Ya, itu. Aku tidak tahu apa itu.
            “Takut apa? Ada aku,” Kau mengambil tanganku dan menggenggamnya erat-erat, seakan-akan genggamanmu bisa menenangkanku. “Kamu kan sudah mau lulus, aku juga. Kita nikah, aku akan bilang ke ayah bunda kamu. Aku bisa cari kerja duluan, kamu bisa tunggu sampai melahirkan. Setelah itu kamu mau coba kerja juga boleh, tapi kalau mau di rumah aja ga apa-apa, biar aku yang cari uang.”
              Aku jelas mendengar keraguan dari kata-katamu. Aku tahu kamu juga takut, tapi kata-katamu sungguh manis.
              “Tapi bukan itu yang aku mau, Biru,” Aku membalas genggamanmu tak kalah erat. Aku bisa merasakan cincin kayu yang ada di jari manismu, oleh-oleh dariku ketika aku liburan ke Jogja dua tahun lalu. Aku pun punya satu, dan kukenakan di jari manisku juga, sebagai tanda cinta kita berdua dua tahun yang lalu.
              Kau merespon jawabanku dengan kembali diam. Aku mengikutimu.
              “Kemarin aku browsing-browsing, ada obat yang…” Kau memutus ucapanku dengan melepaskan genggamanmu tiba-tiba.
              “Jangan macam-macam!” Kau menatapku tajam. Lalu kau seperti hendak mengatakan sesuatu tapi kau memutuskan untuk kembali diam.
             Dadaku berdegup kencang. Tangisku mulai pecah tapi kutahan mati-matian. Kampus mulai ramai. Aku dan Biru memang duduk di bawah tangga, sedikit tersembunyi tapi tetap saja satu dua mahasiswa mulai lalu lalang di sekitar kami.
             “Aku takut, Biru.” Takut yang amat sangat. Takut yang amat sangat pun bukan kata yang tepat. Ya, itu, kata lain menggambarkan ketakutanku yang luar biasa. Aku tidak tahu kata yang tepat.
             “Ada aku,” Kau kembali mengambil tanganku, kali ini lebih perlahan. Dan menggenggamnya pelan-pelan, erat-erat.
             Aku tidak membalas genggamanmu.
             “Bukan itu…” Kali ini aku yang memecah diam di antara kita. Mataku menerawang ke langit. Sejak tadi warna langit belum berubah, masih kelabu. Biasanya aku sangat menyukai pagi dengan langit abu-abu. Warna abu-abu di langit membuat segala sesuatunya menjadi lebih tenang, membuatku merasa tidak perlu terburu-buru bangun dan mulai siap-siap beraktifitas. Aku merasa lebih dapat menikmati hidup dengan pagi yang kelabu. Tapi pagi ini berbeda. Langit abu-abu pagi ini terasa hambar.
            “Masih banyak yang ingin aku lakukan, Biru…” Aku mengucapkan perasaanku pelan-pelan. “Aku ga mau hamil. Aku ga boleh hamil. Kau tahu, aku ingin jadi jurnalis, dari dulu. Aku ingin bisa meliput berita-berita terbaru. Aku ingin mengguncangkan dunia dengan berita-berita yang kulaporkan. Aku…”
             “Dunia akan terus terguncang tanpa perlu kamu yang melaporkan, Ning,” Kau memotong ucapanku dengan desisanmu menahan volume suaramu sendiri. “Kenyataannya, kamu…”
             Kau menghentikan kalimatmu. Perlahan kau lepaskan genggaman tanganku dan kini memegang kepalamu dan mengusap-usap rambutmu yang sudah mulai panjang menunggu dipotong untuk maju ke ruang sidang skripsi. Rambut indahmu yang pertama kali membuat makanku tidak enak dan hari-hari penuh harapan sampai kau menanyakan namaku sehabis kuliah sore, empat tahun yang lalu.
             “Kamu tetap bisa jadi jurnalis, Ning, seperti mimpimu. Aku tidak akan menahanmu…”
             Kau kembali memutus kalimatmu. Dan kita kembali diam. Kali ini lebih lama dari sebelumnya.
             “Sebentar lagi aku dan kamu sama-sama lulus. Kita nikah. Kita lewatin ini sama-sama. Lagipula kita sudah cukup dewasa kan untuk punya keluarga sendiri.”
             Nada suaramu kembali terdengar ragu. Aku tahu lagi-lagi kamu juga tidak yakin dengan ucapanmu sendiri.
             “Aku ga siap, Biru,” responku spontan. Aku menatap jauh ke lapangan kampus yang sudah ramai dengan mahasiswa-mahasiswi lalu lalang, ada yang dengan payung ada yang lari-lari kecil menghindari rintik hujan. Pikiranku melayang ke lapangan dan berhenti pada seorang gadis berpayung biru yang berjalan berlahan menembus gerimis. Apa yang sedang ia pikirkan? Apakah ia menyembunyikan sesuatu di dalam perutnya? Adakah yang sedang ia tutup-tutupi? Hamilkah ia?
Hujan masih belum berhenti juga.
“Aku juga ga siap, Ning,”
Aku menghela napas panjang.
“Masih banyak yang ingin aku lakukan, Biru, kau tahu itu. Masih banyak yang bisa kita lakukan,” Ucapanku mulai menggebu, “Dunia ini terlalu luas kalau kita hanya diami di satu titik. Aku ga mau nikah…”
Kau menoleh dan aku memutus ucapanku. Mata kita bertemu lagi. Kali ini ada kebingungan yang berbeda di matamu. Kau mungkin melihat api di mataku.
“… Tidak sekarang, Biru,” Aku melanjutkan ucapanku yang terputus, atau aku hanya menambahkan karena kau langsung bereaksi dengan kata-kataku itu, entahlah, aku tidak tahu mana yang benar. “Aku akan nikah, suatu hari nanti. Kita akan nikah, nanti.”
Kau dan aku kembali dalam diam. Aku memperhatikan titik-titik kecil air dari langit yang turun dengan cepat ke tanah. Aku membayangkan akan kemana air dari langit itu. Apakah titik-titik air itu mengenal titik-titik air yang lain? Apakah mereka berteman? Atau bahkan bersaudara? Apakah mereka merasa takut ketika jatuh dari langit ke tanah yang mungkin tidak dikenalnya? Atau apakah karena mereka jatuh bersama-sama sehingga mereka tidak takut sama sekali? Akankah mereka kembali ke tanah yang sama? Atau mereka akan selalu mendarat di tanah yang berbeda?
“Entahlah Biru,” Memikirkan titik-titik air hujan di hadapanmu membuatku merasa kau perlu tahu apa yang kupikirkan. “Aku tidak bisa membayangkan diriku menjadi seperti Bunda. Pagi-pagi entah sepagi apa dia sudah bangun menyiapkan sarapan untuk Ayah, aku, dan Arti. Lalu entah apa yang dia lakukan ketika kami seharian pergi, mungkin masak, beres-beres rumah, menjahit, arisan, yang jelas Bunda selalu ada kalau aku pulang, siang atau sore atau malam. Kapanpun aku butuh, Bunda selalu ada. Maksudku itu hal yang sangat aku sukai bermanja-manjaan dengan Bunda sepulang aku dari bepergian, tapi… Aku selalu berpikir Bunda tidak mempunyai kehidupan. Hidupnya adalah kami. Hidupnya adalah ayah, aku, dan Arti. Sedangkan aku tahu ayah, aku, dan Arti punya kehidupan sendiri-sendiri…”
“Lalu?” Kau kembali menatapku dengan kebingungan yang berbeda lagi. “Kau tidak perlu menjadi seperti bundamu. Kamu tetap bisa jadi jurnalis. Kamu tidak perlu seharian di rumah. Itu pilihan Ning. Mungkin itu memang pilihan Bundamu, untuk tetap di rumah, mengurus kamu dan ayahmu dan adikmu. Kau punya pilihan untuk menjadi jurnalis, dan kau akan selalu punya pilihan…”
“Bagaimana kalau tidak?” Aku memotong. “Bagaimana kalau sebenarnya Bunda tidak punya pilihan karena harus mengurus keluarga? Bagaimana kalau sebenarnya Bunda ga punya pilihan karena ga tega nelantarin anak-anaknya? Bagaimana kalau sebenarnya Bunda ga pernah menginginkan kehidupan yang sekarang ia jalani? Beberapa kali aku memergoki Bunda sedang termenung, lama… Waktu aku memanggilnya, ia seperti dibangunkan dari tidur dan membalasku dengan senyuman. Aku hanya merasa… Bunda tidak bahagia.”
Dadaku terasa sesak dan tatapanku mulai membara. Aku berusaha memindahkan kekalutan otakku ke dalam kata-kata. Dan tidak berhasil.
 “Kalau kamu bilang aku punya pilihan, aku memilih untuk ga hamil.” Hanya itu yang berhasil keluar dari mulutku.
“Terus kamu mau apa?” Tatapanmu mulai tersungut ketidaksabaran. “Aku ga ngerti sama kamu. Sekarang kenyataannya seperti ini, terus kamu ga mau. Kamu ga bisa untuk ga mau. Kita ga bisa, Ning. Kita harus mau. Yang kita bisa lakuin adalah nentuin pilihan kita sesudahnya.”
Aku diam. Untuk kesekian kalinya pagi ini dan kali ini bahkan lebih lama dari sebelumnya. Aku tahu kepalamu juga bising dengan pikiran-pikiranmu sendiri. Aku pun demikian.
“Masih banyak yang ingin aku lakukan, Biru,” Ulangku. Aku menghela napas panjang, sangat panjang. “Aku masih muda. Ada begitu banyak kesempatan di hadapanku. Aku ingin menjadi jurnalis yang hebat. Aku ingin keliling dunia meliput berita dari segala penjuru negeri. Aku ingin menjelajah ke tempat-tempat yang belum disentuh oleh orang-orang. Aku bahkan ingin ke Kutub Utara untuk merasakan seberapa dingin udara di sana dan seperti apa rasanya terjebak di musim dingin yang panjang tanpa matahari…”
Dengan gugup aku merogoh kantong kecil di dalam tasku. Aku mengambil buku kecil bersampul kulit yang mulai kumal karena terus kubawa-bawa kemanapun aku pergi sejak pertama kali aku membelinya, sehari setelah aku lulus SMA.
“Lihat ini, Biru,”Aku membuka buku itu sampai halaman terakhir yang kutulisi. Ada 432 hal yang ingin aku lakuin, dan angka ini akan terus bertambah!”
             Jemari tanganku membuka acak halaman buku kecilku dan mulai membaca perlahan. Air mataku mulai merebak. Semakin banyak daftar yang aku baca, air mataku turun menetes-netes di atas halaman daftar mimpiku tanpa bisa kutahan lagi.
“Mending aku mati aja, Biru,” Kedua tanganku menahan air mataku untuk turun lebih banyak lagi. “Semua mimpi ini ga akan ada artinya lagi kalau aku… Kalau aku punya anak sekarang…”
Kau menghela nafas. Ketidaksabaranmu terasa olehku.
“Menikah dan punya anak bukan akhir segalanya, Ning,”Kau berusaha menekan nada suaramu serendah mungkin. “Kau tetap bisa melakukan apapun yang kamu mau, aku janji tidak akan menghalangimu, aku mau menemanimu kemanapun kamu pergi.”
Untuk kesekian kalinya, aku tenggelam dalam diamku. Dalam pikiranku. Dalam kegaduhan otakku.
“Aku ga bisa melihat seperti yang kamu lihat, Biru,” Aku menghapus bersih air mataku. Jemariku  yang basah membelai pelan sampul buku kecilku. “Yang ada di depan mataku cuma Bunda. Aku bakal seperti Bunda kalau kita nikah sekarang. Dan aku ga mau…”
“Kalau Bundamu tidak seperti sekarang, katakanlah sibuk dengan kariernya dan jarang di rumah, apakah akan membuatmu berpikir berbeda?”
Kau menantangku. Dan membuatku berpikir jauh lebih keras lagi.
Aku tidak tahu.
Hujan mulai bosan turun. Titik-titik air yang jatuh ke tanah semakin sedikit. Dan mendadak aku mulai lelah luar biasa berbicara denganmu, seperti gula darahku yang turun tiba-tiba.
“Kalau kita ga nikah sekarang, lantas kamu mau apa, Ning?”
Aku bersumpah ini adalah pertanyaan terakhir yang ingin kudengar dari mulutmu.
“Biru, dengar,” putusku. “Kau bilang aku punya pilihan. Aku selalu punya pilihan. Dan untuk sekarang, aku memutuskan untuk ga hamil.”
Dahimu mengernyit dalam.
“Lalu maumu apa, Ning?” Akhirnya kesabaranmu benar-benar sampai di ujung. Aku bisa merasakannya dan aku tidak mau berurusan dengan itu.
Aku menatapmu lekat-lekat. Cukup sudah, kau membuatku terlalu lelah.
“Nanti akan kupikirkan caranya.” Aku membereskan tasku dengan seadanya dan berlari meninggalkanmu, menyeberangi lapangan kampus.
Hujan sudah berhenti dan matahari mulai kelihatan dari balik awan. Kau tidak mengejarku.         

*

            Sepanjang sore aku sibuk mencari berbagai informasi. Jelas hatiku memutuskan hanya melipat tangan sambil memantau. Otakku yang bekerja keras, memproses informasi dari sana sini, memikirkan cara yang terbaik yang paling sesuai dengan majikannya, Aku. Semakin banyak informasi yang kutemui, semakin was-was hatiku ini. Sampai akhirnya keduanya jatuh kelelahan menjelang larut malam, ketika bulan persis di atas kepala.
Aku pun jatuh tertidur di atas laptop yang masih terbuka dan monitor masih menyala.
Alam bawah sadarku perlahan mengambil alih. Segala hal yang kulihat tadi sore berusaha menjadi nyata dalam mimpiku. Ada seorang perempuan memakai jaket bulu putih, entah ayam entah burung, menyodorkanku segelas minuman. Dengan ragu aku menerimanya. Gelasnya hangat dan meneguknya sedikit. Aku mencecapnya pelan-pelan. Cairan hangat itu berubah menjadi dingin di dalam mulutku. Dalam hitungan detik aku merasakan tubuhku lemas dan jatuh perlahan ke atas tempat tidur berseprei putih. Kesadaranku menurun tiba-tiba dan dengan susah payah aku tetap berusaha membuka mata. Perempuan yang menawariku minuman itu tersenyum lebar, membaringkanku sepenuhnya, dan meluruskan kedua belah kakiku. Aku melihat sebilah pisau dapur yang biasa dipakai Bunda untuk memotong daging di tangannya. Tanpa ragu ia menaruh ujung pisau di tengah perutku. Dingin. Aku ingin berteriak tapi tidak ada suara yang keluar. Tanpa menunggu aku bisa mendengar suaraku sendiri, ia membelah perutku dan mengeluarkan isinya. Semuanya. Usus, jantung, ginjal, hati, berlumur darah dan lendir. Rasa sakit yang amat sangat menjalar ke seluruh tubuhku. Lalu perlahan ia menanggalkan jaket bulu yang dikenakannya, melipatnya menjadi empat bagian lalu dimasukkannya ke dalam badanku yang sudah kosong melompong dan menjahitnya dengan cepat. Sebentar saja badanku terisi kembali, seperti balon kempis yang ditiup cepat-cepat.
Aku terbangun menjelang pagi karena rasa gatal yang amat sangat dari leherku. Aku terbatuk tanpa henti seperti tersedak bulu-bulu burung yang memaksa keluar dari kerongkonganku. Rasa mual yang luar biasa hebat menyerangku tanpa ampun.
Aku berlari ke kamar mandi. Tapi terlambat. Seluruh isi perutku keluar dalam satu kali hentakan di lantai persis selangkah sebelum aku mencapai kamar mandi. Aku tersungkur di lantai, badanku luar biasa lemas. Aku merasakan sesuatu yang lembut di tanganku. Ada segenggam bulu burung berwarna putih di tanganku.

*

Aku terbangun dengan keringat di sekujur tubuhku dan napas terengah-engah luar biasa. Rupanya mimpiku terlalu buruk.

*

             Kekasihku bilang aku selalu punya pilihan, dan memang benar adanya. Aku punya pilihan. Yang dibutuhkan hanyalah sedikit keberanian. Keputusan ini kuambil karena aku tahu apa yang aku inginkan, walaupun aku tidak tahu apakah ini yang terbaik atau tidak. Persetan dengan keputusan yang terbaik, aku tidak peduli. Bagiku, meskipun ini keputusan yang paling buruk sekalipun, tapi ini yang kuinginkan. Aku sering mendengar orang-orang bilang kita bisa mengambil keputusan yang terbaik dari yang terburuk ataupun menemukan solusi yang menyenangkan semua pihak. Semuanya omong kosong bagiku. Aku tidak perlu yang terbaik ataupun memenangkan hati orang lain. Aku ingin mengikuti apa kata hatiku walaupun sering bentrok dengan otakku, atau malah sebaliknya, entahlah, tapi salah satu dari mereka memang sering kumanjakan. Dan kini, tubuhku yang harus menanggung akibatnya.
             Rasa nyeri yang belum pernah kurasakan sebelumnya menghinggapi perutku bagian bawah. Aku tidak tahu apa yang kurasakan atau kupikirkan saat ini. Aku hanya ingin segera jatuh tertidur dan melupakan semuanya. Mungkin ketika bangun nanti semua ini hanya mimpi belaka, bagian dari malam-malamku yang biasa yang terputus saat pagi mulai naik dan aku harus bergegas siap-siap ke kampus.

*

              Malamnya aku bermimpi terbang tanpa sayap. Aku memakai terusan panjang berwarna putih dan tanganku mengepak di udara seperti sayap seekor burung camar. Setiap kepakan kedua tanganku, aku melampaui jarak yang tidak bisa kutempuh ketika aku berjalan kaki saja. Sejuknya angin di ketinggian membelai lembut pipiku dan membuat rambutku melambai-lambai. Aku merasakan ada sesuatu yang terlepas dari dalam diriku.
              Aku merasa  b e b a s.



                

0 comments:

Posting Komentar