Jumat, 08 Desember 2017

- Leave a Comment

Bekas Luka

Cerpen Andina Dwifatma

Aryan pernah menjadi kekasih Aryani semasa SMA. Selain nama mereka berdua yang mirip, wajah mereka pun tampak serupa, sampai-sampai saat Aryan membawa Aryani ke rumah untuk bertemu kedua orangtuanya, Papa Aryan terperangah beberapa detik, sebelum kemudian meledak dalam tawa dan berkata,

"Jangan-jangan aku enggak sadar kondomku pernah bocor.” Mama Aryan mencubit perut suaminya dan Aryani menganggap selera humor bakal calon mertuanya itu meriah.

Aryan dan Aryani sama-sama punya kulit coklat, bagian apel di pipi yang menonjol saat tersenyum, bentuk rahang yang halus, muka oval, rambut bergelombang, dan mata yang berbinar. Setiap orang berkomentar bahwa wajah yang mirip berarti jodoh. Mereka tertawa saja, tetapi berharap mitos itu benar adanya.

Aryan pertama kali melihat Aryani di kantin saat sedang menyantap badak sambel—sebenarnya hanya bakwan dipotong-potong lalu dimakan dengan saus kacang, namun dikategorikan sebagai mahakarya kuliner oleh para siswa SMA 3 Semarang. Aryan mencolek bahu Haksoro, kawan sekelasnya, dan bertanya apakah dia kenal cewek yang sedang makan di ujung sana.

“Yang mana?”
“Yang pakai bando merah.”
“Oh, itu namanya Aryani, dari kelas I-8.”
“Salah kowe,” Aryan menggeleng. “Itu calon istriku.”

Haksoro menggeleng-geleng sambil menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti ‘ndasmu’.

Gambar dari sini

Aryan lalu memulai periode pedekate yang terstruktur, sistematis dan masif. Aryan menitip salam ke semua orang yang kebetulan kenal Aryani. Aryan merekayasa kesempatan mengantarkan Aryani pulang dengan menyuruh kawan sekelas Aryani yang juga tetangga rumah gadis itu untuk pura-pura sakit perut, sehingga perlu minta tolong Aryani membawakan buku paket yang baru dibagikan wali kelas sebanyak 12 buah. Ketika Aryani kebingungan bagaimana caranya pulang dengan sekardus penuh buku, muncul Aryan dan motornya sebagai penyelamat. Sepanjang perjalanan menuju rumah Aryani, Aryan sengaja lewat jalan-jalan yang agak menanjak dan bergeronjal sambil berkata sok casual, “Pegangan aja.”

Aryan bahkan ikut Aryani masuk ekstrakurikuler Kepanduan Soeringgit alias Pramuka padahal sumpah mati dia benci sekali tali temali apalagi seragam. Aryan membuat puisi, surat cinta, menyanyi untuk Aryani di bawah balkon kelas gadis itu yang terletak di lantai 2. Selama tiga bulan Aryani merespons tipis-tipis saja, membuat orang satu sekolah ikut deg-degan dan merana.

Maka ketika mereka jadian sungguhan, banyak yang bersuka cita. Bagi Aryan dan Aryani, hari-hari itu berwarna pelangi. Ketika Aryan memberi Aryani ciuman pertamanya, mereka saling menatap dan diam-diam berkata dalam hati masing-masing, "aku akan hidup dengan orang ini sampai mati."

Aryani paling senang mengelus-elus bekas luka di sudut mata kiri Aryan, berbentuk garis seperti codet kecil, kira-kira sepanjang tiga sentimeter. Setiap kali Aryani meminta Aryan menceritakan tentang bekas lukanya, Aryan selalu memberikan versi yang berbeda-beda, tergantung mood dia saat ditanya. Aryani suka mendengarkannya.

Mood sedang ingin dianggap bad boy.
“Bekas luka ini karena aku jatuh dari genteng waktu kecil.”
“Aku maling mangga terus galahnya kena mata.”
“Aku berantem sama anak RT sebelah karena nyuit-nyuitin kakakku.”

Mood cowok sporty.
“Ini waktu aku jadi kiper terus ditekel penyerang lawan.”
“Dilempar bola basket. Lawanku kesal karena aku berhasil three point dari jarak yang jauuh banget."

Mood rayuan gombal.
“Oh, ini? Ini baru ada semalem, saking kerasnya aku mikirin kamu.”

Aryani keburu muntah. Aryan tertawa-tawa.

Semua orang bilang Aryan ganteng karena ia tinggi dan berkulit coklat dan punya senyum manis dan bentuk rahang yang halus dan muka oval dan rambut bergelombang dan mata yang berbinar—tapi bagi Aryani, bekas luka di sudut mata kiri itulah yang membuat Aryan tampan. Aryani bahkan sering memimpikan bekas luka Aryan. Lebih tepatnya, setiap kali Aryan tampil di mimpi Aryani, bekas luka tersebut selalu tampak menonjol. Kelak ketika Aryani meminta putus dari Aryan, malamnya dia mimpi dari bekas luka Aryan itu keluar darah (tapi itu cerita sedih setelah hari-hari tak lagi berwarna pelangi). Setiap mereka bertengkar, Aryani akan mengecup bekas luka Aryan sebagai tanda berbaikan. Dan Aryan balas mencium tangannya.

Lalu hidup membuat Aryan dan Aryani berubah dari sepasang remaja yang cukup bahagia berjalan di bawah hujan berdua, menjadi dua orang asing yang saling mencintai tapi terlalu berbeda. Aryan memutuskan kuliah di luar kota. Aryani melepaskan kepergian Aryan sambil membawakan CD berisi lagu sendu, walau ke ujung dunia pasti akan kunanti, walau ke tujuh samudera pasti ku kan menunggu..

Kenyataannya Aryani tidak menanti Aryan meskipun Aryan tidak pergi ke ujung dunia dan tidak menyeberang tujuh samudera. Aryani meninggalkan Aryan, Aryan meninggalkan Aryani, berkali-kali, sampai akhirnya tak ada lagi alasan yang tersisa untuk bersama.

“Tidak ada orang lain yang bisa mencintaimu seperti aku,” jerit Aryan dalam salah satu episode putus mereka.
“Dan tidak ada orang lain yang bisa menyakitiku seperti kamu,” Aryani balas menjerit.

Dengan pahit mereka berpisah menuju takdir masing-masing. Aryan menikah dengan seorang akuntan dan punya satu anak perempuan. Aryani menikah dengan seorang insinyur dan punya satu anak laki-laki. Mereka tinggal di kota, bahkan pulau, yang berbeda. Sebelum menikah, Aryan membuang nomor lamanya seolah ingin mengenyahkan Aryani dari hidupnya. Dan hidup berjalan tanpa banyak kejutan.

Sesekali Aryani memikirkan Aryan. Bahwa mereka tidak cocok—dan tidak akan pernah cocok—itu ia mengerti. Bila bersama, Aryan dan Aryani seperti memancing keluar sisi tergelap dan terburuk masing-masing. Itulah kesimpulan paling logis dari cinta pertamanya.

Yang tidak ia pahami adalah mengapa, pada malam-malam tertentu saat suaminya tidur di sebelahnya, Aryani bisa melihat Aryan tersenyum menatapnya, dengan sepasang mata dan bekas luka di sudut kiri, bekas luka yang selalu ia sayangi.***

0 comments:

Posting Komentar