Kamis, 25 Oktober 2018

- Leave a Comment

Tai Kabagat Koat (2)

Cerita bersambung dari Tai Kabagat Koat

Vel menemui tim dive tempat ia menyewa perahu dan perlengkapan diving. Ia mencari orang bernama Sakai.
            Laki-laki bertubuh penuh tato rupa-rupa macam itu keluar. Ia hanya mengenakan celana pendek. Kulitnya yang cokelat mengkilat itu memang utuh menobatkannya sebagai orang pulau. Laut adalah dunianya. Ikan-ikan adalah temannya. Dermaga cuma jadi tempat singgahnya. Dia tentu tahu seluk-beluk Pulau Pagai ini.
            "Bang, tadi pagi saya menyewa perahu dan alat diving di sini. Tapi kenapa pas saya ke permukaan, perahu saya sudah tidak ada? Seharusnya pemandu saya dan orang kapal nunggu atau paling tidak mencari saya di bawah sana," protes Vel tanpa tedeng aling-aling.
            "Tadi adek ke mana? Perahu menunggu sekitar dua jam di tengah laut." Sakai memandang wajah oval Vel dengan tajam.
            "Saya memang sedikit menjauh. Tapi masa, sih, saya ditinggal?"
            "Adek sudah melanggar perbatasan. Kami baru saja mengirim tim untuk mencari adek karena sebentar lagi kegiatan melaut harus dihentikan," tukas Sakai lagi. Kali ini dengan nada datar. Ia tak memandang wajah Vel. Ia memandang ke laut lepas.
            Vel mengusap mukanya. "Oke. Saya minta maaf sudah merepotkan. Saya tadi diselamatkan oleh Cliff, bule yang juga menginap di resort ini. Tapi ada yang mau saya tanyakan. Saya tadi menemukan sebuah bangkai kapal di dasar laut sana."
            Sakai tak mengindahkan kalimat Vel yang terakhir. Ia menyambar pemantik untuk menyalakan rokok yang sedari tadi dijepitnya di antara jari telunjuk dan jari tengah kirinya.
            "Adek ke sini mau liburan atau mau penelitian?" tanya Sakai sinis sembari menghembuskan asap rokoknya asal.
            "Saya...saya cuma memberi tahu apa yang saya lihat," jawab Vel dengan nada pelan. Lalu dengan ragu-ragu, Vel menyambung, "Kalau begitu saya permisi."
            "Itu bangkai kapal pedagang Cina ratusan tahun lalu."
            Vel berbalik saat Sakai memulai ceritanya. Angin pantai mengacak-acak rambut Vel.
            "Sejak tsunami 2010, air laut surut. Laut yang tadinya dalam jadi dangkal. Banyak pulau-pulau baru muncul. Bangkai kapal itu terseret ke perairan Mentawai dan posisinya sangat dangkal. Itu kapal kuno. Dari barang-barang yang ditemukan di sekitar badan kapal, dipastikan itu kapal orang Cina zaman dulu," jelas Sakai sembari duduk di atas pasir.
            Vel mengikutinya duduk berselonjor di atas pasir yang ditadahi oleh pohon kelapa. Pandangan mereka sama-sama ke arah ombak-ombak kecil di garis pantai.
            "Barang apa saja yang ditemukan?"
            "Banyak. Pecahan keramik, guci, dan beberapa keping emas," jawab Sakai.
            "Lalu sekarang benda itu ada di mana?"
            "Diambil sama orang Barat. Waktu evakuasi tsunami dulu, resort ini belum ada. Para pemberi bantuan banyak berdatangan. Banyak yang lokal dan banyak pula orang Baratnya. Rupanya mereka lebih dulu menemukan bangkai itu. Mereka menyuruh kami, para nelayan untuk menyelam dan mengambil benda-benda kuno yang bisa dijangkau di dalam kapal."
            "Lalu?"
            "Yah, begitulah. Namanya juga orang kecil. Kami cuma dibayar seperlunya dan diberi hadiah beberapa barang yang menurut mereka tidak penting. Mereka cuma orang Barat berkedok relawan. Pemda kurang cepat dan kurang tegas. Mentawai kan cuma anak tiri Sumatera Barat," sahut Sakai sambil menghela napas. Gurat di wajahnya menyiratkan ketidakpedulian.
            "Benda-benda itu dijual?"
            Sakai mengangkat bahu. "Yang pasti mereka seperti melihat harta karun. Padahal cuma piring-piring usang."
            "Warga sini mau saja melepas barang-barang itu?"
            "Biarkan Tuhan yang bertindak. Tai Kabagat Koat akan melumat mereka."
            Vel mengangguk-angguk mengerti. Dia tidak berniat membagi pikirannya pada Sakai. Ia pun pamit masuk ke kamarnya. Kamar yang ia pilih berada terpisah dari bangunan utama yang merupakan resepsionis dan ruang makan. Saat ia berjalan ke bangunan cottage yang berblok-blok, Vel melewati beberapa laki-laki yang sedang berteduh dan bersandar ke dinding cottage yang menghadap pantai. Mereka terlihat kumal dengan kulit sawo matang, bibir pucat, dan mata agak kuning. Meski mereka duduk berjajar, tapi tak ada satu pun tampak mengobrol. Mereka seperti menatap ke arah Vel. Namun, bukan. Tatapan mereka kosong.
            Mendadak, Vel disergap rasa gugup. Ia hanya senyum saat berjalan di dekat para laki-laki itu. Lalu ia menyibukkan diri dengan jinjingan fin dan goggle snorkeling-nya. Sebelah tangannya lagi mencoba sibuk meraba-raba rambut yang masih basah. Vel bergegas menaiki undakan batu menuju koridor yang mengarah ke kamarnya.
            Vel berjalan menyusuri koridor kosong yang disangga tiang-tiang kayu tanpa cat. Papan-papan berderit saat kakinya menginjak lantai koridor itu. Koridor ini agak dingin dan sepertinya kayu-kayunya sudah dirayapi. Kamar Vel berada di paling ujung koridor. Ia melewati beberapa kamar yang terkunci. Sunyi.
            Saat melewati dua kamar sebelum kamarnya, tak sengaja pandangan Vel tertuju pada sebuah kamar yang terbuka.
            Rasa penasaran Vel terusik. Ia berhenti dan maju untuk mengintip.
            "Cliff?" tanyanya saat melihat Cliff sedang asyik mengetik di atas laptop.
            "Hai," sapa Cliff ramah.
            "Can I...?"
            "Oh, come, come. Please."
            Vel melangkah masuk. Kamar Cliff berantakan sekali. Mata vel tertumbuk pada sebuah kardus yang terbuka di samping tempat tidur Cliff. Dari arah pintu, Vel hanya melihat seperti barang pecah belah yang ada ukirannya, tapi tampang kumuh. Terlihat seperti piring.
            "Itu apa?" tanya Vel.
            Cliff tersentak. Pandangannya beralih dari laptop menuju arah pandangan Vel. Ia segera berdiri dan mendekat ke arah kardus itu, menutupnya, lalu mengangkat dan menaruhnya di atas lemari.
            "Tidak terlalu penting. Cuma benda-benda unik yang kutemukan. Ini kumpulan kerang."
            "Setidakbegitu pentingnya, ya, sampai kamu menyimpannya."
            "Barang pribadi. Bukan untuk dibicarakan. Sini, duduk!" sahut Cliff pura-pura tidak peduli.
            Kening Vel berkerut. Aneh, cowok bule ini, pikirnya.

Tai Kabagat Koat, cerpen Hanum, source: jurnaland.com

***

            Vel mencari berita-berita mengenai kapal karam di perairan Mentawai. Ia berselancar di depan laptop saat bangun tidur. Tubuhnya terasa pegal. Sembari meneguk teh hangat, ia menemukan beberapa artikel. Tsunami yang sempat mengguncang Mentawai tahun 2010, sempat menyeret sebuah bangkai kapal mendekati dasar dangkal. Bangkai kapal itu tadinya kapal karam di perairan Samudera Hindia, di luar batas NKRI. Tsunami Aceh membuat lempeng dasar laut berubah. Kemudian guncangan di kepulauan Mentawai 2010 menggeser bangkai kapal itu mendekati perairan Pagai.
            “Segala hal yang berada di bumi Indonesia, termasuk lautnya adalah milik NKRI. Tapi kenapa sampai sekarang tak ada yang mengamankan bangkai kapal itu? Masih ada isinya nggak, ya, kapal itu? Apa semua udah diambil kurator atau NGO asing?”
            Vel berbicara sendiri. Jiwa mahasiswanya keluar. Memang, ia datang ke Pulau Pagai ini tak sekadar liburan. Ia sedang mengamati biota laut untuk bahan penelitiannya. Namun, yang ia temukan adalah bangkai, bukan biota.
            Vel mendesah. Rasanya ia ingin menyelam lagi ke sana. Kilasan bayangan yang ia lihat sungguh membuatnya penasaran. “Jangan-jangan itu hantu air,” ucap Vel bergidik. Ia meneguk lagi teh hangatnya.
            Pang!
            Jendela kamar Vel bergetar akibat hempasan pintu di kamar sebelah. Vel beranjak dari bangkunya dan mengintip ke luar. Dia melihat Cliff berjalan memunggunginya. Dia mau keluar lagi.
            Vel keluar dari kamarnya. Dia melongok ke jendela kamar Cliff. Perhatiannya mengarah pada kunci kamar yang dibiarkan menggantung di gagangnya. Rasa penasaran menggelayuti benak Vel. Ia pun menyusup ke kamar bule itu.
            Sembari menahan napas, Vel yang sudah berada di dalam kamar Cliff, menutup pintunya pelan. Lalu, dengan cekatan, ia menggapai kotak kardus yang terletak di atas lemari.
            “Berat juga,” sahut Vel. Ia menjinjit agar bisa menggapai kardus itu sepenuhnya.
            Buk!
Prang!
“Aaw,” jeritnya tertahan.
Vel kehilangan keseimbangan dan menjatuhkan kotak kardus itu. Bunyi pecahan barang pecah belah terdengar dari dalam kotak. Vel mengatur napasnya. Ia celingak-celinguk memastikan Cliff tidak kembali ke kamar.
Ia membuka kotak itu. Ada kain lusuh menutupi benda-benda di dalamnya. Vel menarik pecahan kaca selebar telapak tangan. Ia meneliti. Dasar kaca yang berwarna biru tampak sangat kusam dan permukaannya agak licin berlumut. Pinggirannya tidak lagi mulus. Tampak bekas-bekas benturan benda keras di beberapa titik di sisinya. Ada motif mirip ukiran yang menghiasi badan kaca itu. Vel menyapukan tangannya menyentuk motif-motif yang sepertinya berwarna biru tua. Namun ia juga tidak yakin warna asli motif itu karena terlalu kusam.
Ia mengambil dua buah kepingan lagi dari dalam kardus. Kali ini bentuknya lebih utuh. Sebuah piring lebar. Saat Vel mengangkatnya, piring itu terbelah dua begitu saja. Ia membolak-balik pecahan piring itu. Permukaannya bergerigi karena motif yang menghiasi keseluruhan badan piring itu timbul dan kesat.
“Ini seperti piring keramik,” ucapnya pelan. “Kenapa Cliff menyimpan ini semua?”
Vel membongkar lebih dalam. Ada mangkuk yang sepertinya terbuat dari tanah liat. Tapi permukaannya sudah tidak rata dan sangat licin berlumut. Clif sepertinya belum sempat memoles benda-benda ini hingga bersih. Ada guci mungil yang masih utuh. Ia bisa mendefinisikan benda ini dengan baik karena keutuhannya. Permukaannya berbeda dengan yang lain. Lebih kinclong, berwarna kuning tapi agak berkarat di pinggirannya.
“Ini tidak mungkin emas. Ini baja? Bukan. Bukan. Perunggu? Guci perunggu?”
Vel ragu. Benda-benda apa ini? Ini tentunya bukan benda biasa. Benda-benda lainnya ada piring kecil yang sudah tak berbentuk, pecahan guci yang terlihat dari lengkungannya, potongan besi meriam berwarna hitam legam. Satu tangan Vel menyentuh benda yang agak lunak. Lebih menyerupai benyek. Licin dan sangat berlumut. Vel mengangkat benda mungil itu. Ukurannya hanya sebesar tiga jari tangannya. Ia mengusap lumut itu. Ada lapisan bergerigi yang agak keras. Lapisan tembaga. Vel mencoba mengamati benda itu. Lapisan tembaga itu tulisan. Ini kayu yang pastinya sudah lapuk, pikirnya. Ada angka1736 mengikuti tulisan kecil kabur di lapisan itu.
Ini nggak mungkin angka tahun, kan? batinnya.
Ia merogoh ponsel di saku. Vel memencet beberapa nomor lalu merekatkan ponsel itu ke telinganya.
“Bri. Ini aku, Vel. Sibuk, nggak? Aku mau nanya-nanya dikit,” sahut Vel cepat pada ponselnya.
“Aku nemu benda-benda aneh di Mentawai. Iya, aku lagi di Pagai, motret bahan skripsi. Tapi yang aku temukan bukannya makhluk laut, tapi malah piring-piring ini.”
Vel menjelaskan panjang lebar tentang temuannya.
“Ya, aku nelepon kamu karena aku pengin mastiin aja, Bri.”
...
“Iya, nanti aku fotoin.”
...
“Cuma agak aneh aja, bukannya kepo. Soalnya tiba-tiba aku ketemu Cliff di dasar laut dekat bangkai kapal. Dia tahu itu di luar batas area penyelaman. Dia juga kayaknya tahu banyak tentang kapal itu. Dan aku nemu keping-keping ini di kamarnya. Aneh, kan? Dia kayak tahu banyak gitu soal tempat ini padahal ngakunya cuma turis biasa.”
...
“Dia dari Jerman. Ada tugas di Singapura.”
...
“Ada kerjaan di Singapura. Yah, sekitar 27-an ke ataslah umurnya. Mumpung di Singapura, dia mampir ke Indonesia buat liburan.”
...
“Nggak tau. Iya, sih, kenapa dia bisa sampai di Pagai, ya? Dia bilangnya baru kenal Indonesia itu dari temennya dari Jerman yang tinggal di Singapura. Nggak tau juga.”
...
“Eh, udah, ya. Kayaknya aku kelamaan di kamar ini. Thanks, Bri. Nanti aku foto dan aku harus kabur dari sini. Aku takut Cliff balik. Bye.”


Bersambung...
Read More

Rabu, 17 Oktober 2018

- 1 comment

Tai Kabagat Koat (1)

Cahaya keemasan itu menarik perhatian Sakai. Bukan pertanda senja, bukan pula pantulan cahaya matahari dari air laut bening di hadapannya. Cahaya itu berasal dari sesuatu. Angin laut seperti menghembuskan cahaya itu ke matanya. Pandangan Sakai menyipit.
            Sakai meletakkan tali pengait perahunya. Dia berlari ke garis pantai. Ombak tiba-tiba menghempas sangat kencang. Gemuruh angin jadi semakin ribut. Sakai langsung mengambil perahu mesin dan mendorongnya ke air. Ia menyalakan mesin dan berlayar di antara ombak yang tampaknya makin ganas mengempas ke garis pantai.
            "Sakai! Balik. Cuaca buruk!" teriak seorang laki-laki tua yang hanya mengenakan celana pendek lusuh dan kain sarung tersandang di bahunya.
            "Oi, Sakai!"
            Gelombang laut semakin tinggi. Sakai tak menghiraukan panggilan orangtuanya dan beberapa nelayan yang batal melaut. Sakai menerjang ombak dengan perahu kecilnya itu. Kilatan emas semakin kuat berkilau. Sakai ternganga melihat sebuah benda bulat besar, berkali-kali lipat ukuran badannya menyembur di permukaan laut.
            "Emas?" tanya Sakai pada dirinya sendiri.
            Sakai melihat ke belakang ke arah garis pantai. Dia sudah berlayar sekitar dua kilometer dari pantai. Terbersit ragu di benaknya, antara ingin balik atau meneruskan perjalanan. Tapi dia sepertinya sudah dekat. Sakai melaju lurus.

Cerpen Tai Kabagat Koat. Image Source: www.jurnaland.com

            Satu hal yang ia lupa, ia belum jadi mengisi bahan bakar untuk perahunya. Mesin mendadak mati ketika ia sudah di kilometer ketiga dari lepas pantai. Sakai mengumpat. Ia masih terhipnotis dengan benda berkilau yang mencuat di tengah laut itu. Kali ini semakin tinggi. Benda bulat itu seperti ada penyangga lebar di kiri-kanannya. Sakai semakin penasaran. Tidak mungkin itu logam biasa. Itu emas. Cuma emas yang tidak akan berkarat di air laut. Atau...
            "Tai Kabagat Koat[1]!!!" teriak Sakai sekencang-kencangnya.
            Sakai mengambil dayung dan ia menjalankan perahunya. Sangat berat. Ada energi yang menahannya melaju. Angin membelokkan perahunya menjauh dari titik semburan logam berkilau itu. Dia mulai panik.
            Sakai melolong ke arah pantai, meminta bantuan. Perahunya terombang-ambing. Ia berdiri. Kini matanya membulat. Ada semacam pusaran besar yang berporos pada benda raksasa itu. Pantulan keemasan memenuhi air laut. Matahari terasa menyengat, ditambah sinar emas dari benda yang menyembul itu. Angin semakin tak terkendali. Sakai mengambil kacamata renang yang disimpan di laci kemudi. Tak ada pilihan lain. Ia harus menyelam.
***

            Sakai, si anak pulau,
            Sakai, si anak malang.
            Sakai berlayar,
            Sakai tak pernah pulang.
           
            Nyanyian pilu ibu Sakai menangisi anaknya tak kembali setelah badai aneh di cuaca cerah.
            Menjelang sore hari, beberapa nelayan dan bapak Sakai berlayar mencari anak 17 tahun itu. Badai tadi siang hanya terjadi sebentar. Mereka tak punya jam untuk menghitung waktu. Tapi cukup mengetahui bahwa badai itu berlangsung dua jam.

***
“Apa itu?”
            Gelembung udara menjalar naik menuju permukaan. Gadis itu sedang berada di kedalaman laut lima belas meter. Ia terus berenang dengan menyandang tabung oksigen di punggungnya. Pemandu diving-nya sedang menabur roti untuk ikan-ikan yang bersembunyi di balik terumbu karang tak jauh darinya. Gadis itu menoleh sekali ke arah pemandu yang tak kunjung menoleh padanya, padahal ia ingin menunjukkan sesuatu yang baru saja ia lihat.
            Ia memeriksa kadar oksigen dan tekanan air pada regulatornya. Setelah dirasa aman, gadis itu menyelam lebih dalam dan lebih jauh dari titik yang ditentukan oleh pemandunya. Dengan lincah ia berenang cepat mendekati satu benda besar di hadapannya. Agak tertutup terumbu karang dan berbagai lumut air. Ikan-ikan mungil tampak berada di sekitar benda itu. Gadis itu melihat ke sekitarnya. Di bawah tubuhnya, warna-warni terumbu karang melambai-lambai padanya. Ada karang yang berbentuk otak manusia dalam ukuran besar. Ia menelusuri dasar laut itu. Tak jauh darinya, di sebelah kanan, ada batas karang, lalu warna air tampak menggelap.
            “Palung? Kenapa tidak ada yang bilang di sekitar laut ini ada palung?” ucap gadis itu dalam hati. 
Ia mencoba bernapas tenang untuk menghemat oksigen. Di sebelah kirinya, benda besar menyentuh karang, bahkan tampak menyatu dengan karang-karang itu. Ada tali berlumut melambai-lambai beberapa meter  di sebelahnya. Gadis itu menggapai tali yang terasa kenyal dengan lendir lumut. Licin. Ia menyeret dirinya menelusuri tali yang rupanya mengarah pada benda besar itu.
Badan kapal. Ini bangkai kapal, batin gadis itu lagi.
Antara ngeri bercampur penasaran, gadis itu berhenti di hadapan yang ia yakini geladak kapal yang posisinya miring sekitar 90 derajat. Ia sadar, waktunya tak cukup untuk menelusuri seluruh badan kapal. Ia berdecak ngeri di balik masker oksigennya. Ini bukan kapal modern. Lumutnya terlalu tebal. Bahkan karang-karang dan ganggang laut sudah tumbuh merdeka menutupi sisi badan kapal. Lumut menggerayangi keseluruhan tiang, pegangan, gagang, dan sudut-sudut lancip di kapal itu.
Gadis itu termenung. Jika boleh menganga, ia pasti sudah melakukannya. Kesunyian menyerangnya. Ia hanya mendengar deru napas sendiri serta gelembung karbon dioksida yang keluar dari selang pembuangan napas. Yang terdengar di telinganya hanya dengung pergerakan air dan tubuhnya.
Sebuah kilasan bayangan tertangkap oleh sudut matanya. Gadis itu menoleh cepat. Hilang. Lalu kilasan itu tampak dari balik badan kapal di hadapannya. Napasnya menderu. Nyaris ia tersedak selang pernapasannya sendiri. Bayangan itu lewat lagi. Kini lebih cepat. Dingin menyergap dadanya.
Ia menoleh ke kiri dan kanan. Kadar kepanikannya bertambah di tengah kadar oksigennya yang menipis. Jempolnya mengacung, berharap pemandunya mengikuti dan membantunya untuk naik ke permukaan. Namun, usahanya sia-sia. Gelembung-gelembung ringan yang keluar dari samping maskernya seperti mengejek. Gelembung itu tampak berlalu ke atasnya sementara ia terlalu dalam terjebak di dekat bangkai kapal itu, berbelas-belas meter bahkan mungkin mencapai lebih dari dua puluh meter di bawah permukaan laut.
Gadis itu mengayuh fin[1]-nya, mendorong ke bawah agar tubuhnya terdorong ke atas. Tangannya mulai mengayuh cepat-cepat. Ia mencoba mengatur napasnya yang mulai berat. Tekanan udara di sini terasa mengikat geraknya. Jantungnya berdegup lebih cepat karena memompa oksigen ke seluruh tubuhnya dengan lebih keras. Ya, tubuhnya butuh lebih banyak kehangatan dari oksigen itu. Dia harus segera mengayuh ke permukaan.
“Jangan panik, Vel!” tegasnya pada diri sendiri.
            Eugh!
            Ada yang melilit kakinya. Mungkin lebih tepatnya menahannya untuk berenang. Dengan gerak refleks, gadis itu menendang. Namun lilitan itu tak lepas. Ia menoleh ke bawah.
            Bukan lilitan tali, rumput, atau sejenisnya. Itu tangan orang. Mata gadis itu membulat. Ia terkejut tapi tak bisa mengerang. Ia menendang-nendang sekuat tenaga untuk melepaskan cengkeraman kuat itu. Pergerakan air membuatnya tak bisa melihat dengan jelas. Gelembung menutupi pandangannya.
            Siapa dia?
            Pandangan gadis itu mengabur. Bayangan itu mendekat. Ia mengenakan goggle yang serupa dengan gadis itu. Secara otomatis, dengan napas yang lemah, gadis itu memberi tatapan memohon pada orang yang mencengkeram tangannya. Ia mengacungkan jempol ke atas pertanda bahwa ia ingin naik. Ia ingin mengisi paru-parunya dengan udara lepas. Rasanya kerongkongannya dingin dan mengering. Ia tahu dan sangat sadar kadar oksigennya tidak akan cukup karena ia sudah terlalu lama menyelam.
            Tubuhnya melemah sementara cengkeraman bayangan itu menguat.

***

            Gadis itu tersedak. Ia perlahan membuka mata. Perutnya terasa mual karena terombang-ambing cukup lama di laut. Angin laut menerpa wajahnya. Dia pun bangun. Suara berisik mesin speedboat mendengung di telinganya. Ia masih mengenakan wetsuit berwarna abu-abu. Fins, goggle, dan tabung oksigen tergeletak di sebelah kakinya.Ia mencari orang yang ia kenal.
            Ini bukan perahuku, pikir gadis itu.
            “Hei, akhirnya bangun juga. Ini minum!” ujar seorang laki-laki berperawakan bule menghampirinya.
            Gadis itu mendongak. Dengan sedikit ragu, ia mengambil sebotol air mineral kemasan dari tangan bule itu.
            I’m Cliff Bauer.”
            “Eng...Saya Vel. Velea Zahida,” balasnya singkat lalu meneguk botol minumannya cepat.
            “Kamu ngapain di bawah sana? Apa yang kamu lakukan tadi itu berbahaya.”
            “Saya...saya hanya menyelam," jawab Vel kebingungan.
            "Kamu hampir mati di bawah tadi. Dan saya lihat tidak ada perahumu di sekitar sini," ucap Cliff santai.
            Vel melihat sekelilingnya. Laut lepas. Tidak ada perahu kecuali speedboat kecil yang ia tumpangi saat ini.
            "Sebenarnya apa yang terjadi, emm... Mr. Bauer?"
            "Cliff. Just call me Cliff."
            "Oh, yeah. Cliff. Saya tadi melihat bayangan gelap."
            Cliff menggeleng sambil tertawa.
            "Kamu sudah menyelam terlalu dalam. Itu area terlarang."
            Vel merasa ada yang salah di sini. Dia sedang berhadapan dengan orang asing yang sangat lancar berbahasa Indonesia. Matanya tertuju pada tato berwujud babi yang tertusuk tombak. Vel bergidik. "Lalu, kenapa Anda bisa menemukan saya? Memang siapa Anda?"
            Cliff menghela napas.
            "Saya sama sepertimu. Hanya berlibur. Saya sudah beberapa kali menyelam di daerah sini. Kebetulan saja saya melihatmu ke arah palung yang seharusnya tidak boleh kita lewati?"
            "Palung? Sebentar. Kalau memang area itu dilarang, kenapa Anda juga ke sana? Berarti Anda tahu ada--"
            "Bangkai kapal? Ya. Saya tahu semuanya," potong Cliff cepat.
            "La...lalu?" tanya Vel ragu-ragu.
            "Itu cuma bangkai kapal. Tak ada istimewanya. Masalahnya hanya kamu terlalu dalam menyelam dan tanpa pengawasan. Saya pastikan, kamu belum dapat lisensi untuk menyelam, bukan? Karena itu kamu hampir mati di dalam sana.
            "Thanks," jawab Vel.
            "You're welcome." Lalu Cliff berdiri untuk mengakhiri percakapan.
            Sementara itu, pikiran Vel masih berkelana. Dia merasa aneh. Sekali lagi matanya menyapu perairan di sekelilingnya. Perahu yang aku sewa serta guide-ku ke mana, ya? pikirnya.

***

Bersambung...
Lanjut baca: Tai Kabagat Koat part 2 




[1] Sebutan untuk roh yang ada di laut yang mereka dewakan dalam Kepercayaan Arat Sabulungan, kepercayaan orang Mentawai.
Read More