Senin, 23 Juli 2018

- Leave a Comment

Memori

Gambar pinjam dari RockChairbook

Karya: Regina Kalosa

Akhirnya aku bertemu juga dengannya. DenganNya. Buku baruNya kubeli kemarin sore dan harus kubawa hari ini untuk dapat terdaftar sebagai peserta acara peluncuran buku baruNya. Setelah sekian lama, berbelas-belas tahun rasanya, tiba-tiba saja terbit buku baruNya. Aku setengah tidak percaya ketika melihat namanya di tumpukan buku-buku yang ada di bagian depan toko buku langganganku. Buku BaruNya. Mungkin aku terlalu berlebihan. Ia bukan Tuhan. Tapi rasa kagumku padanya, padaNya terlalu besar untuk kuungkapkan ke dalam bentuk apapun.
Dulu, dulu sekali, aku tidak tahu persisnya kapan. Hmm, aku tidak sepenuhnya jujur, aku tahu apa yang kumaksud dulu sekali, tapi tidak ada tanggal atau bulan atau tahun pasti kapan persisnya terjadi. Singkatnya, dulu sekali itu terjadi pada awal ketika aku mulai mampu mengingat sesuatu, yang bisa kubawa utuh sampai sekarang ini. Ingatan itu.
Dulu, dulu sekali, aku selalu ditemani buku-buku, kebanyakan buku cerita, bukan buku pelajaran. Ya, ketika itu aku sudah mulai pergi sekolah, belajar bersama orang-orang kecil berukuran seperti aku dengan kombinasi beberapa orang-orang besar, dan pulang dengan banyak buku yang harus kubuka-buka kembali di rumah. Ketika buku pelajaran sudah membuatku bosan, aku selalu beralih ke buku-bukuNya yang membawaku ke dunia yang lebih indah dari sekadar puisi yang kubuat untuk tugas sekolah, yang lebih menantang dari sekadar menghitung luas sebuah lingkaran, dan yang lebih kuinginkan dari sekadar kenyataan-kenyataan sejarah yang harus kuhapal tanpa kumengerti.
“Run, kamu bawa berapa buku?” Maya, temanku yang juga pengagumNya menghampiriku setelah sebelumnya melambai-lambaikan tangannya padaku seperti hendak memberhentikan bis. Terlalu berlebihan. Ruangan ini tidak terlalu besar, siapapun bisa menghampiri siapapun tanpa perlu memberikan isyarat berlebihan untuk dikenali. Sebenarnya aku dan Maya tidak membuat janji untuk bertemu di sini tapi kemarin aku bertemu dengannya di bis kampus dan mendadak kami membicarakan hal yang sama, peluncuran bukuNya di toko buku dekat kampusku.
“Semuanya,” balasku pendek. Aku membetulkan posisi ransel di pundakku yang sudah mulai menyakitkan. Jelas saja, kubawa 43 buku karyaNya.
“Kamu gila!” Maya tertawa sambil memperlihatkan empat atau lima buku dalam genggamannya.
“Yang gila itu orang yang menyia-nyiakan kesempatan untuk tidak membiarkan semua bukunya ditandatangani penulisnya langsung,” Aku menemukan tempat duduk yang kupikir cukup strategis untuk melihatNya langsung sekaligus membuatNya juga bisa melihatku tanpa susah payah. Aku menyapu pandangan ke sekelilingku. Kebanyakan anak-anak dan juga beberapa orang tua. Mungkin hanya aku, dan Maya, dan seorang gadis berambut panjang yang duduk di baris belakangku yang tergolong bukan anak-anak lagi yang datang untuk diri sendiri.
Maya hendak membalas ucapanku tapi terhenti oleh suara perempuan melalui pengeras suara yang mengumumkan acara segera dimulai. Ini dia, antusiasmeku mengalir deras ke kepala dan membuat dadaku berdegup lebih kencang dari sebelumnya.
Tidak lama setelah pengumuman, sosok yang menemaniku di waktu dulu sekali itu masuk ke ruangan dengan langkah perlahan dan hati-hati.
Hatiku membuncah dengan perasaan yang sulit kumengertikan. Kuperhatikan lamat-lamat sosok tubuh yang berjalan pelan-pelan ke tengah panggung dengan tubuh yang tidak lebih dari setengah berat tubuhku, dengan tulang-tulang yang menonjol di sana-sini, dan rambut putih yang tidak disisir terlalu rapi sehingga tampak seperti gula-gula kapas kesukaanku yang diletakkan di atas kepala yang penuh kerut
Aku tercekat, seperti ada sesuatu yang menaiki kerongkonganku. Aku terdiam. Lama.
“Kamu tahu berapa lama lagi ia akan hidup?” Dari banyak rasa yang membuatku dadaku seperti mau meledak, malah kalimat itu yang keluar yang mulutku. Dirinya jelas mengingatkanku pada seseorang.
*
Dulu, nenekku, yang kupanggil Nena, selalu mengingatkanku untuk tidak membaca di kamar. Tepatnya di kamar tidurku. Lampu kamarku sepertinya sengaja dipasang tidak terlalu terang bahkan cenderung remang-remang dengan warna kuning hangat yang membuatku lebih cepat terlelap dari kamar atau ruangan manapun yang aku tumpangi. Ketika aku sudah lebih besar, aku menyadari bahwa nenekku memang memasang lampu kamarku yang lebih redup dari ruangan lainnya supaya aku melakukan kegiatan lainnya di luar kamar.
Sejak dulu, aku tinggal bersama kakek, yang kupanggil Pippa dan Nena yang kuanggap sebagai orang tuaku, sama seperti ketika teman-temanku bercerita mengenai ayah dan ibu mereka, maka aku akan bercerita mengenai Nena dan Pippa. Hanya mereka yang kukenal dari dulu, walaupun memang ada beberapa orang lain yang kadang kutemui yang dengan mereka aku menghabiskan beberapa waktu, tapi itu tidak penting, bagiku sama saja seperti tamu yang sesekali berkunjung, datang, minum teh dan makan kue kecil, lalu pergi. Hanya Nena dan Pippa yang selalu ada dan tidak pernah pergi.
Ada rutinitas bersama Nena yang selalu membuatku senang bahkan di saat aku sedang sedih. Setiap sore, sehabis mandi, Nena selalu mengoleskan minyak rambut di kepalaku dan memijatnya dengan lembut. Harumnya minyak tersebut begitu kusukai. Wanginya seperti campuran bunga melati ditambahkan dengan sesuatu yang manis entah apa itu. Aku pernah menanyakan ke Nena apakah ia mengambilnya dari semak bunga melati di taman belakang, memerasnya, dan memasukkannya ke botol. Nena malah tertawa dan mencium pucuk kepalaku keras-keras. Pertanyaanku tetap tidak terjawab. Sampai sekarang.
*
 “Banyak sekali?” Kau bertanya mengagumi buku-buku karyaMu sendiri yang kubawa.
“Ini semua buku-buku Anda,” balasku kikuk. Jujur aku gugup Kau menyapaku terlebih dahulu.
“Benarkah?” Jari-jemariMu dengan tulang-tulang yang menonjol meraba sampul buku terdepan yang kutaruh di meja tempatMu duduk berhadapan dengan penggemar-penggemarmu yang berbaris rapi. Buku pertamaMu yang pertama kali kubaca.
“Ini buku pertama Anda, buku kesukaanku.” aku menyentuh sedikit buku tipis yang sampulnya sudah cukup lecek. Buku-bukuMu sudah kuurutkan dari buku pertama sampai yang terakhir terbit.
Kau terdiam menatap sampul buku berwarna putih dengan gambar dua anak perempuan yang sedang lompat di atas tempat tidur. Lalu, jelas sekali terlihat pikiranMu meninggalkan aku yang sedang dihadapanMu dan berpuluh-puluh orang yang mengantri di belakangku. Mungkin kau melayang ke hari-hari ketika Kau sedang menulis buku pertamamu atau mungkin ke hari pertama buku pertamaMu diterbitkan atau mungkin ke hari di mana Kau dibuat terkesan oleh dua orang anak perempuan sehingga Kau putuskan untuk Kau tulis ke dalam buku pertamaMu atau… Entahlah, siapa pula yang bisa menyelami pikiran manusia. Tapi aku tahu pikiranmu berkelana jauh sekali.
Diammu terhenti ketika seorang juru potret memanggilMu dan aku untuk difoto bersama. Segera Kau memasang senyum, yang menurutku sangat manis, dan mengingatkanku pada seseorang. Akupun tertular senyummu dan kuberikan senyumku yang paling manis kepada juru potret yang menjepret foto kita beberapa kali.
Kau kembali kepadaku. Aku merasakan ketertarikanMu padaku terlihat jelas karena setumpuk bukuMu yang kubawa.
“Berapa umurmu sekarang?” Jemarimu yang menurutku sangat ramping dan mungil mulai membuka sampul buku pertamaMu dan menggoreskan penaMu di atasnya.
Aku terdiam. Ada dua pilihan, menjawab langsung pertanyaanmu atau menanyakan mengapa Kau bertanya demikian. Aku memilih yang pertama. Rasanya tidak ada alasan aku untuk tidak segera menjawabku. PertanyaanMu sederhana walau membingungkanku.
 “Dua puluh lima,” jawabku dengan suara pelan.
Kau berhenti menorehkan penamu ke bukuku, ah tidak, bukuMu. Dan tersenyum. Kehangatan mengaliri tubuhku perlahan-lahan. Aku balas tersenyum. Malu-malu.
“Sudah berapa lama cerita-ceritaku menemanimu?”
Pelan-pelan senyumku terhenti. Giliran aku yang meninggalkanMu.
*
            Sore itu hanya ada aku dan Nena di teras belakang. Aku sedang duduk bermalas-malasan di kursi goyang milik Nena sedangkan Nena menyirami semak bunga melati kesayanganku dengan teko siram warna merah jambu. Miaw, yang lebih sering kupanggil Mimi, kucing kampung berbulu putih milik Pippa yang katanya usianya sebaya denganku sedang bermanja-manja di pangkuanku, menikmati elusan jemariku yang sesekali mampir ke badannya yang berbulu lebat karena selalu diberi makanan khusus kucing oleh Pippa. Angin sepoi-sepoi menggerakkan dedaunan pada ranting pohon Angsana yang suka kupanjat sepulang sekolah. Hari minggu sore memang paling nyaman untuk bermalas-malasan.
            Aku sudah hampir jatuh tertidur ketika kudengar namaku dipanggil oleh suara yang kurasa belum pernah kudengar sebelumnya.
            “Aruna?” Ada suara yang tidak kukenal memanggil namaku, atau mungkin menanyakan apakah aku benar Aruna yang dimaksud olehnya.
            Aku membuka mata perlahan dan ada sosok perempuan yang tidak kukenal membungkuk berpegangan dengan tangan kursi goyang milik Nena.
            “Melati!”
            Aku kebingungan. Perempuan itu memanggil namaku dan Nena memanggil nama perempuan itu. Ya kupikir Melati adalah namanya karena jelas bukan nama bunga yang sedang disiraminya yang dimaksud Nena. Kalau iya, mengapa Nena sampai berteriak menyebutkan nama Melati.
            Perempuan itu, yang rupanya benar bernama Melati menoleh ke arah Nena yang masih berada di dekat semak bunga yang namanya sama dengan namanya. Ia hanya sebentar menoleh ke Nena lalu ia kembali menatapku. Kali ini lebih dekat karena ia membungkuk dan berpegangan dengan tangan kursi goyangku. Aku sedikit menggeser dudukku ke sudut kursi untuk menjauhinya. Ia meletakkan satu kantong kertas di pangkuanku
            “Halo, Sayang,” Perempuan itu tiba-tiba mengelus kepalaku. “Kau sudah besar sekali sekarang.”
            Aku menatap matanya lekat-lekat berusaha menilai apa yang dilakukannya dan mengapa ia melakukannya.
            “Melati!” Aku belum pernah mendengar Nena bersuara sekeras itu dan ia pun tergopoh-gopoh menghampiri kami lalu mencengkeram lengan perempuan itu.
            Aku dan perempuan itu sama-sama terkejut. Baginya mungkin cengkeraman Nena terlalu keras dan buatku, belum pernah kulihat Nena segusar itu.
            “Sebentar ya, Una,” Nena selalu memanggilku Una, bukan Runa seperti kebanyakan orang-orang. Melati, perempuan itu, terpaksa berdiri dan mengikuti Nena, tapi ia sempat mengelus pipiku sebelum ia terseret mengikuti Nena dan meninggalkanku dalam kebingungan.
            Pintu teras ditutup dengan setengah dibanting dan kemudian terdengar kasak-kusuk dari dalam. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas suara dari dalam tapi jelas sekali perempuan itu telah membuat Nena marah. Mengapa Nena sampai begitu geram, itu aku tidak tahu.
            Aku beranjak dari dudukku untuk mendekati pintu kaca teras sampai tiba-tiba ada yang terjatuh dari pangkuanku. Kantong kertas milik perempuan itu.
Aku membungkuk dan kuintip isinya. Ada banyak buku di dalamnya. Satu, dua, … Lima buku, aku menghitungnya. Aku keluarkan semua buku dan kulihat satu per satu.
Buku cerita anak-anak. Aku sedang melihat sampulnya satu per satu ketika Nena memanggilku.  
*
            Sikap Nena tetap tidak berubah sejak hari itu tapi kehidupanku yang damai dan tenang sebelumnya berantakan seketika. Kedatangan perempuan yang tidak kukenal yang tiba-tiba memanggilku “sayang” seakan-akan aku kucing kecil kesayangannya, belaian tangan asing yang masih terasa di pipiku sampai beberapa hari sesudahnya, dan buku-buku cerita yang ditinggalkannya telah memunculkan satu demi satu pertanyaan di kepalaku.
            Siapa perempuan itu, siapa Melati? Mengapa namanya sama dengan semak bunga kesayangan Nena? Mengapa ia memanggilku Sayang? Mengapa ia mengatakan aku sudah besar sekali, apakah aku pernah tampak begitu kecil baginya? Mengapa ia membelaiku? Mengapa belaian tangannya begitu membekas di pipiku? Mengapa Nena tidak menyukai kehadirannya?
Mengapa ia meninggalkan banyak buku dan tidak pernah datang untuk mengambilnya?
Mengapa ia tidak pernah datang lagi?
Aku sempat menanyakan siapa perempuan yang ia panggil Melati itu dan Nena mengatakan ia hanya seorang saudara dari jauh yang kebetulan mampir. Ada sesuatu di nada suara Nena yang membuatku tidak ingin bertanya lebih jauh lagi. Lagipula Nena memutuskan untuk memberikan buku-buku yang ditinggalkan perempuan itu untukku. Hah! Itu bagian yang paling kusukai dari kedatangannya di minggu sore waktu itu. Walaupun aku hanya boleh membacanya di hari Minggu ketika libur dan tugas-tugas sekolahku sudah selesai kukerjakan.
Buku-buku yang ditinggalkannya kubaca dengan khidmat dan segera kubaca ulang begitu habis. Bagaimana tidak, hari Minggu yang kulewatkan menjadi begitu menyenangkan dengan pengalaman dan teman-teman baru. Minggu lalu aku meninggalkan rumah Nena dan pergi ke sebuah bukit hijau di mana aku dan kedua teman baruku bermain seluncuran dengan menggunakan kereta ski yang kami temukan di gudang. Lelah bermain kami beristirahat di pinggir sungai dengan menaruh botol-botol susu yang kami bawa ke dalam air sungai supaya menjadi sejuk ketika kami meminumnya. Kapan waktu, aku memetik buah ceri dan menjualnya kepada orang-orang yang lewat dan setelahnya aku lari ke sungai dan menceburkan diri ke airnya yang dingin untuk menghilangkan rasa panas dan keringat di badanku.
Ah, tentu saja. Pada kenyataannya, aku tidak kemana-mana. Aku tetap duduk di kursi goyang milik Pippa dan menonton Nena menyirami taman belakang rumah.
*
Aku tergagap menjawab pertanyaanmu.
            “Mmm,” Aku kebingungan. Sorot matamu yang lembut menatapku dengan sabar tapi kutahu Kau menantikan jawabanku.
            “Beberapa lama kurasa,” Kurasa itu jawaban yang paling sesuai. Aku memaksa seulas senyum muncul di bibirku.
            “Ah, senangnya bisa menemani hari-harimu,” Kau kembali melanjutkan menggoreskan penamu di buku-bukuMu.
            Butuh waktu beberapa lama untukmu menandatangani semua bukumu milikku. Tentu saja, aku satu-satu yang datang dengan koleksi terlengkap sehingga Kau dan para panitia malah ingin berfoto bersamaku. Jelas mereka terlalu berlebihan. Aku malah tidak habis pikir mengapa mereka yang datang hanya membawa dua tiga bukumu, paling banyak sepuluh, yaitu yang dibawa gadis berambut panjang yang duduk di belakangku. Kupikir orang-orang yang datang tidak terlalu menganggap acara peluncuran buku ini serius. Hanya aku yang memberikan penghargaan tertinggi padaMu.
*


Hari ini sama seperti hari ketika pertama kalinya aku mendapati buku-bukuNya yang ditinggalkan begitu saja oleh seseorang yang namanya sama dengan semak bunga kesayangan Nena, Melati. Sejak pertemuanku denganNya siang tadi, pikiranku terusik menyeretku begitu jauh ke tahun-tahun awal yang bisa kuingat. Kursi goyang Pippa tempatku bermalas-malasan di hari minggu, buku-buku cerita yang menjadi temanku sampai waktu yang cukup lama, dan belaian tangan perempuan bernama Melati yang mendadak kembali kurasakan di pipiku setelah aku bertemu denganNya.
“Sudah berapa lama buku-bukuku menemanimu?” PernyataanNya terus terngiang-ngiang di telingaku. Sudah lama sekali rasanya, selama aku menantikan kedatangan seseorang yang belaian tangannya melekat di pipiku yang rasa hangatnya tak juga pupus sampai detik ini.

***
Read More

Kamis, 19 Juli 2018

- Leave a Comment

Stockholm

Ruang laboratorium yang dingin. Dengungan suara mesin pendingin yang memancarkan hawa hangat dari bagian belakangnya. Kabel-kabel yang menjuntai di bawah meja. Tumpukan kertas-kertas dengan grafik-grafik yang rumit. Kutarik kursi, duduk menghadap meja kerjamu yang kosong. Percakapan terakhir kembali terngiang. "Sekarang apa lagi? tanyaku gusar. Kamu sudah berhasil menemukan teknologi untuk menyimpan gambar berformat GIF dalam DNA dari sel hidup yang bisa menjadi perekam data molekuler dan dapat singgah di sel hidup."


Read More

Kamis, 07 Juni 2018

- Leave a Comment

Baja Hitam Tangan Satu

Oleh: Apendi 
Ssstt... aku akan menceritakan sebuah rahasia padamu....
   Ayahku adalah seorang Ksatria Baja Hitam! Tapi tidak seperti Kotaro Minami, ia hanya mempunyai sebelah tangan untuk berubah wujud. Dan karena itu, ibu marah besar sewaktu ayah memutuskan mencicil belalang tempur agar dapat memudahkannya menyelamatkan dunia.
   “Untuk makan saja sudah susah!” tegur ibu. “Mana sanggup kau bayar motor itu?”
   Akan tetapi, ayah tetap ngotot membeli belalang tempur karena sudah terlanjur jatuh cinta pada motor itu.
   “Semua laki-laki apalagi seorang pahlawan membutuhkan sebuah motor!” tegas ayah pada ibu, meskipun aku tahu ia menitipkan pesan padaku untuk aku ingat.
   “Kau cuma punya sebelah tangan! Kau pikir siapa yang mau jadi penumpangmu?” bentak ibu.
   “Lihat saja nanti! Pasti ada orang yang membutuhkan pertolonganku!”
   Ibu mendengus kesal dan tidak mau berbicara pada ayah selama tiga hari. Setiap pagi, ayah mangkal di lampu merah untuk mencari penumpang. Tukang ojek di sana biasanya tidak begitu bersahabat terhadap pesaing baru, tapi karena ayah hanya mempunyai sebelah lengan, mereka menaruh simpati padanya -- walaupun ada juga yang mengejeknya dan menganggap ayah sudah gila.
   Sedikit banyak, ada saja orang-orang yang bosan hidup dan memilih ayah untuk mengantarkan mereka ke tempat tujuan. Ayah mengerjakan tugasnya dengan baik dan hati-hati. Rasa cemas para penumpang ayah mulai berkurang dan mereka pun menjadi langganan tetap.
   Tentu saja ayah pernah diberhentikan beberapa kali untuk diperiksa kelayakan SIM dan STNK-nya. Pak polisi yang menghentikan ayah merasa takjub, ngeri, dan khawatir. Namun mereka tak tega untuk meminta “uang rokok” bahkan seandainya ayah melanggar salah satu dari peraturan lalu lintas.
   Ayah bercerita bahwa ia dan penumpangnya sering menjadi pusat perhatian di setiap lampu merah maupun di jalanan. Mata-mata menyelidik, tatapan kagum, dan debar jantung pengendara motor lainnya telah menjadi santapan ayah sehari-hari.
   Ayah menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang yang ditemuinya. Para pengendara motor lainnya menjadi lebih tertib dan sabar ketika berpapasan dengan ayah. Mereka tidak berani mengklakson, apalagi menyalib ayah. Seandainya terjadi tabrakan, para pengguna jalan akan menyalahkan siapa saja selain ayah. Bahkan mobil polisi dan ambulans pun memberikan jalan pada ayah dan belalang tempur.
***
   Aku ingin sekali menaiki belalang tempur dan ayah telah berjanji bahwa suatu hari ia akan memboncengku. Mendengar janji itu, ibu marah-marah pada ayah.
   “Aku tidak mengizinkan kau membawa anakku! Kau sudah gila? Bagaimana kalau terjadi apa-apa?”
   “Tidak akan terjadi apa-apa, Bu. Hidup mati di tangan Tuhan! Lha, orang sehat saja bisa jantungan dan mati,” bujuk ayah.
   “Tidak, tidak, tidak. Pokoknya tidak!” kata ibu bersikeras.
   Ayah tidak berkata apa-apa lagi karena telah memahami sifat ibu. Aku ngambek pada ibu dan bolos sekolah keesokan harinya. Ibu memukulku. Malamnya, ayah pulang dan dalam keadaan lelah ia berjanji akan membelikanku sepeda.
   “Aku tidak mau sepeda. Aku mau belalang tempur!”
   “Iya, tapi kau harus belajar mengendarai sepeda dulu baru bisa mengendarai belalang tempur.”
   Aku mendongak dan menatap ayah. “Kapan ayah mengajakku naik belalang tempur?”
   Ayah menghela napas. “Kau harus tanyakan pada ibumu.”
***
   Pendapatan ayah setelah mempunyai belalang tempur jauh lebih baik daripada ketika memulung botol-botol plastik. Kami sekeluarga dapat makan daging seminggu sekali dengan teratur dan ibu dapat mencicil utangnya di warung. Sikap ibu terhadap ayah pun mulai berubah. Dengan enggan, ibu terpaksa menyetujui pekerjaan baru ayah walaupun masih merasa cemas dengan kondisi ayah.
   Kecemasan ibu beralasan. Suatu hari, seorang penumpang merampok ayah! Ayah telah melawan sekuat tenaga namun tetap kalah. Ia pulang dalam keadaan sedih, kecewa, dan terluka. Ibu mengelus dada. Kecemasannya menguncup menjadi perasaan lega. Ibu bersyukur kalau ayah hanya mendapati lecet-lecet kecil. Tidak terluka parah apalagi sampai meninggal.
   Ayah menggebrak meja dan membentak ibu. Musibah baru saja terjadi kenapa malah bersyukur! Ibu menjawab: Kau masih dapat teriak? Baguslah!
   Ibu lalu pergi meninggalkan ayah ke dapur untuk menghindari perdebatan lebih lanjut. Aku berdiri di pintu kamarku dan mengawasi ayah takut-takut. Belum pernah aku melihat ayah seperti ini. Ia sedang dalam keadaan kacau, terpuruk, dan menderita kekalahan hebat. Sedikit-banyak aku rasa aku mengerti perasaan ayah. Jika ayah membelikanku sepeda dan anak yang lebih besar menginginkan dan berusaha mencurinya dariku, dan lalu aku tak bisa mencegahnya, kukira perasaanku akan sama seperti perasaan ayah. Sedih — bukan karena kehilangan sepeda itu — melainkan karena aku tidak mampu melindunginya. Dan sepedaku tahu hal itu. Begitu pun dengan belalang tempur. Ia tahu kalau ayah tidak mampu melindunginya.
   Ayah melihatku dan memanggilku ke dalam pangkuannya.
   “Nak, kamu tahu kan, kalau ayah sudah berusaha mencegahnya?” ayah berusaha membela diri. Mungkin ada sesuatu di dalam tatapanku yang membuatnya berkata seperti itu.
   Aku mengangguk. “Tidak apa-apa, Yah! Nanti belalang tempur pasti bisa mencari jalan pulang sendiri.”
   Ayah tersenyum kecut. “Mungkin. Tapi mungkin juga ia menunggu diselamatkan ayah!”
   Aku mendongak dan menatap ayah dengan ternganga. Kalau begitu kejadiannya, aku tidak akan pernah bisa melihat belalang tempur lagi.
   “Monster yang dikirimkan Kapten Jack sungguh kuat. Ayah telah memakai tendangan maut tapi monster itu tidak bisa mati.”
   “Ayah juga memakai pukulan maut?” tanyaku spontan.
   “Ya.”
   “Bagaimana dengan pedang matahari?”
   Ayah ternganga dan sorot matanya tampak seperti baru teringat akan sesuatu. Ah, ayah pasti lupa memakainya lagi!
***

Read More

Selasa, 10 April 2018

- Leave a Comment

Secangkir Kisah



Secangkir kopi. Meja. Tersisa. Bangun. Lupa. Dingin kopi. Tersisa. Poster-poster. Anti korupsi. Hentikan kekerasan. Lawan tirani informasi. Stop utang luar negeri. Hentikan kekerasan dalam rumah tangga. Kembalikan tanah kami. Freedom. Dilarang merokok. Stop illegal logging. Tanah untuk rakyat. Gunakan kondom. Berhenti merokok.
Secangkir kopi. Meja. Tersisa. Bangun. Lupa. Dingin kopi. Tersisa. Kampus. Dosen. Mahasiswi. Mahasiswa. Nyontek. Ngobrol di waktu kuliah. Dosen mara-marah. IPK. Papan tulis. OHP. LCD. Microphone. Bangku-bangku. Mengantuk. Tidur di kelas. Diusir dari kelas. Bengong. Pacaran di kelas.
Tembok lelah. Bersisi grafiti. Ini aku. Merdeka. Kupu-kupu. Cat. Pilox. Warna-warni. Nomor. Awas masih basah. Petunjuk penggunaan. Semprotkan. Dicampur dengan air. Diaduk. Lalu oleskan pada tembok. Gambar sesuka hati. Gambar mengikuti pola. Komposisi warna. Pelangi warna. Satu warna. Cat habis. Pilox habis. Imajinasi buntu. Merokok. Hisap dalam. Hembuskan.
Kopi gelas. Krim. Susu. Kamu. Entah. Gula. Meja tamu. Televisi. Handphone. Berita. Koran. Infoteinment. Kawin lagi. Cerai lagi. Buku. Puisi. Cerita pendek. Rindu. Lupa. Air panas. Bergelembung. Mendidih. Menuangkan. Keripik. Makanan ringan. Cemilan. Laptop. Kuharap. Akses internet.
Pemandangan setengah tembok. Duduk berdua. Di bangku depan. Pemandangan tembok. Tak peduli. Pemandangan tembok. Penuh grafiti. Aku setengah mabuk. Menatapmu. Menatap tembok. Menatap grafiti. Menatap kedalam matamu. Menatap tembok lagi. menatap grafiti lagi. Lagi-lagi ke dalam matamu.
Pohon beringin. Air mancur. Gedung kuliah. Ruang akademik. Ruang kemahasiswaan. Tempat pembayaran SPP. Sekretariat kemahasiswaan. Sekeretariat kemahasiswaan yang digusur. Tidak mempunyai sekretariat. Bangku-bangku berantakan. Renovasi gedung. Renovasi yang terhambat. Dana pembangunan. Berjalan tersendat-sendat.
Pakai komputer tidak bayar. Jasa akademik tidak bayar. Parkir gratis. Hilang motor. Motor dipinjam. Parkir penuh. Jam istirahat. Makan siang. Secangkir kopi. Batagor. Nasi uduk. Soto. Nasi sayur. Gorengan. Parkir penuh. Minta tanda tangan. Memalsukan tanda tangan. Tanda tangan atas nama. Mengantri tanda tangan. Tidak bertemu penanda tangan.
Toilet kampus. Corat-coret. Kran air tidak lancar. Tidak ada air. Bau pesing. Mengetuk pintu. Menggedor. Tidak tahan. Bergantian. Kencing. Berdiri. Kencing. Jongkok. Membasuh. Mengelap. Selangkangan. Lega. Ember. Gayung. Belah. Penampung air. Bak mandi. Pengap.
Keluar. Jalan. Tanah. Becek. Aspal. Sisa hujan. Dingin. Panas. Mobil. Motor. Angkutan kota. Halte. Warung makan. Kios koran. Berita. Tulisan. Fotocopy. Penjilidan. Cetak foto. Perumahan. Preman. Jatah. Satpam. Batuk-batuk. Asap knalpot. Suara mesin. Tape di angkutan kota. Alunan disko. Polisi tidur. Pembatas jalan. Zebra cros. Rumah kosong. Ban bocor. Ban menggelinding.
Tanah lapang. Layang-layang. Sepakbola. Berlari-lari. Bola. Anak-anak. Kiper-kiperan. Oper-operan. Bola plastik. Tanah merah. Tanah rumput. Pemain bola. Kiper. Wasit. Anak gawang. Gawang. Gol. Penalti. Gol bunuh diri. Aih. Suporter. Bonek. Nekad. Berantem. Melempari pemain. Menyoraki lawan. Rusuh. Tenang. Bersemangat. Bersorak-sorai. Gol.
Taman. Bunga. Pohon. Tempat duduk. Rindang. Kamu. Lewat saja. Pedagang asongan. Pedagang kaki lima. Becak. Ojek. Spanduk. Baliho. Pengumuman. Jagalah kebersihan. Nama-nama pohon. Puisi. Corat-coret. Berdua-duaan. Beramai-ramai. Sendiri saja. Tempat sampah.
Mall. Parkir motor. Parkir mobil. Jalan kaki. Nongkrong. Toko kaset. Baju-baju. Trendi. Fast food. Eskalator. Kios-kios. Gerai-gerai. Distro. Fashionable. Iklan. Penawaran-penawaran. Beli tidak ya. Diskon. Big sale. Off to 50%. Banyak barang. Keramik. Guci. Lukisan. Fashion show. Kuis. Pertunjukkan sirkus. Band. Rahasia modern. Mall. Ingin tetap cantik. Mall. Ingin gaul. Mall. Ingin gaya. Mall. Pokoknya mall. Huh.
Billiar. Bowling. Stik. Bola. Berempat. Berdua. Sendiri. Biliar. Bowling. Bola. Menggelinding. Bergantian. Bola masuk. Musik disko. menghentak-hentak. Malam selalu terang. Olah raga. Billiar. Bowling. Bergiliran. Masukkan bola. Bola kecil. Bola besar. Keras. Masukkan. Tembakkan arah. Perhitungan posisi. Strategi jitu.
Dugem. Oh tidak. Menari-nari. Minum-minum. Party. Tengok sana. Tengok sini. Oh tidak. Menari bahagia. Sedikit mabuk. Mabuk. Ah. Melantur.
Pasar tradisional. Ramai. Becek. Terjangkau. Dekat. Hampir bangkrut. Jajanan tradisional. Jajanan murah. Bergandengan tangan. Pedagang. Pembeli. Timbangan. Kuli. Tukang ikan. Tukang kue. Tukang sayur. Tukang bumbu. Pasar murah. Pasar subuh. Pasar senin sampai minggu. Pengangkut sayuran. Sampah-sampah. Dari pagi hingga lelap.
Tempat kampanye. Tempat Pemungutan Suara. Janji-janji manis. Oposisi. Golput. Massa mengambang. Kehilangan hak pilih. Coblos ulang. Sengketa politik. Penarikan dukungan. Kontrak politik. Pemberian dukungan. Koalisi. Korupsi politik. Serangan fajar. Pelanggaran pemilihan. Curi Start. Manuver politik. Pencalonan. Dicalonkan. Musik dangdut. Arak-arakan. Pawai. Penghitungan cepat.
Komputer. Keyboard. Mouse. CPU. Monitor. Stabilizer. Harddisc. CD Room. Mainboard. Flasdisc. Kabel data. Komputer rakitan. Laptop. Note book. Prosesor. Flopy. Booting. Sistem operasi. Sofware bajakan. Program pengolah data. Mengetik. Menatap layar. DVD RW. ebook. Email. Mailing list. Power suply. Speaker. Hacker. Spammer. Carder. Trojan. Cracker. Wormer. Brontok. Hallo roro.
Bagaimana. Jalan. Rehat. Cuci mata. Berendam. Musik pop mengalun. Berkhayal. Berpikir. Tidur-tiduran. Berjalan-jalan. Musik jazz. Hujan. Angin. Menatap jendela. Basah. Kopi. Susu. Gula. Pelangi.
Secangkir kopi. Meja. Tersisa. Bangun. Lupa. Dingin kopi. Tersisa. Poster-poster. Anti korupsi. Hentikan kekerasan. Lawan tirani informasi. Stop utang luar negeri. Hentikan kekerasan dalam rumah tangga. Kembalikan tanah kami. Freedom. Dilarang merokok. Stop illegal logging. Tanah untuk rakyat. Gunakan kondom. Berhenti merokok.
Tembok lelah. Bersisi grafiti. Ini aku. Merdeka. Kupu-kupu. Cat. Pilox. Warna-warni. Nomor. Awas masih basah. Petunjuk penggunaan. Semprotkan. Dicampur dengan air. Diaduk. Lalu oleskan pada tembok. Gambar sesuka hati. Gambar mengikuti pola. Komposisi warna. Pelangi warna. Satu warna. Cat habis. Pilox habis. Imajinasi buntu. Merokok. Hisap dalam. Hembuskan.
Keluar. Jalan. Tanah. Becek. Aspal. Sisa hujan. Dingin. Panas. Mobil. Motor. Angkutan kota. Halte. Warung makan. Kios koran. Berita. Tulisan. Fotocopy. Penjilidan. Cetak foto. Perumahan. Preman. Jatah. Satpam. Batuk-batuk. Asap knalpot. Suara mesin. Tape di angkutan kota. Alunan disko. Polisi tidur. Pembatas jalan. Zebra cros. Rumah kosong. Ban bocor. Ban menggelinding.
Orasi. Bergantian. Jalan. Panas. Imperialisme. Perlawanan. Stop diskriminasi. Kesetaraan. Perubahan. Spanduk. Megaphone. Angkat tangan yang tinggi. Teriakkan yang lantang. Orasi. Bergantian. Berbaris. Berjalan. Rapi. Selebaran-selebaran. Tuntutan-tuntutan.
Baca puisi. Bergiliran. Puisi sendiri. Puisi orang lain. Puisi baru saja dibuat. Puisi sudah lama dibuat. Taman budaya. Di mana saja. Baca puisi. Di internet. Baca puisi. Lomba baca puisi. Lomba tulis puisi. Baca puisi bergiliran. Deklamasi. Sajak. Gurindam. Asmarandana. Pantun. Puisi modern. Sajak. Syair. Musikalisasi puisi. Dramatisasi puisi. Kritik puisi. Puisi.
Pemandangan setengah tembok. Duduk berdua. Di bangku depan. Pemandangan tembok. Tak peduli. Pemandangan tembok. Penuh grafiti. Aku setengah mabuk. Menatapmu. Menatap tembok. Menatap grafiti. Menatap kedalam matamu. Menatap tembok lagi. menatap grafiti lagi. Lagi-lagi ke dalam matamu.
Seminar. Ujian komprehensif. Wisuda. Toga. Foto-foto. Gedung serba guna. Musik. Makan-makan. Ijazah. Sarjana. Salam-salam. Peluk-pelukkan. Pesan-pesan Rektor. Kesan-kesan di kampus.
Malam. Gelap. Tidur. Gelisah. Main kartu. Menghitung jam. Menghitung kalender. Obat tidur. Membaca buku. Menghitung-hitung kambing. Mondar-mandir. Kopi. Susu. Gula. Rebahan di sofa. Kembali ke kamar. Enggan menatap televisi. Sudah malam. Belum tidur. Gelap. Tidur. Gelisah.
Pengangguran. Pencurian. Pencurian dengan pemberatan. Pemalakan. Penjambretan. Penggelapan. Penipuan. Perzinahan. Penghasutan. Pencemaran nama baik. Penganiyayaan. Pembunuhan. Pembunuhan berencana. Perusakan. Pemusnahan. Percobaan kejahatan. Pornografi. Pemerkosaan. Pencabulan. Korupsi. Teroris. Kejahatan terhadap kemanusiaan. Genocide. Penghilangan paksa. Penjahat perang. Pelanggaran HAM berat.
Mall. Bola-bola. Kampus. Taman. Makan. Kamar. Dugem. Poster. Tembok.
Malam. Gelap. Tidur. Gelisah. Main kartu. Menghitung jam. Menghitung kalender. Obat tidur. Membaca buku. Menghitung-hitung kambing. Mondar-mandir. Kopi. Susu. Gula. Rebahan di sofa. Kembali ke kamar. Enggan menatap televisi. Sudah malam. Belum tidur. Gelap. Tidur. Gelisah.
Sosialisme. Komunisme. Liberalisme. Fasisme. Nazisme. Primordialisme. Nasionalisme. Humanisme. Kapitalisme. Animalisme. Ekologisme. Materialisme. Idealisme. Postmodernisme. Poststrukturalisme. Feminisme. Postkolonialisme. Neoliberalisme. Fundamentalisme. Anarkisme.
Secangkir kopi. Meja. Tersisa. Bangun. Lupa. Dingin kopi. Tersisa secangkir kopi.
Malam. Gelap. Tidur. Gelisah. Main kartu. Menghitung jam. Menghitung kalender. Obat tidur. Membaca buku. Menghitung-hitung kambing. Mondar-mandir. Kopi. Susu. Gula. Rebahan di sofa. Kembali ke kamar. Enggan menatap televisi. Sudah malam. Belum tidur. Gelap. Tidur. Gelisah.

Read More

Senin, 26 Februari 2018

- Leave a Comment

Elegi Cinta untuk Dewi



Dewa telah memetik jutaan bintang dari Bima Sakti, mencuri pelangi dari para bidadari, dan mengambil langit dari bumi. Tak ada alasan lain, semua dilakukannya untuk Dewi. Karena bagi Dewi, bintang itu indah, pelangi itu memesona, dan langit... ah, Dewa tak tahu kenapa Dewi menyukai langit. Namun Dewa tahu, jika dia mampu memberikan semua itu, di mata Dewi, Dewa akan lebih indah dari pelangi, lebih memesona dari pelangi, dan lebih megah dari langit. Ya, hanya jika Dewi adalah dewi.

***

Butuh waktu dua tahun untuk Dewa agar bisa benar-benar mengungkapkan perasaannya kepada Dewi, seorang gadis manis dan ramah di kampus. Dewi memang tak secantik Isyana atau Raisa, namun keramahan dan senyum manisnya membuat Dewi selalu memiliki kamar kos di hati para pria.

Kamar kos? Ya, kira-kira begitulah hati pria. Layaknya kamar kos, setiap ada kamar yang kosong, maka akan selalu ada penghuni baru di dalamnya. Namun tidak untuk Dewi. Jika hati seorang pria telah terisi olehnya, maka sulit untuk mengusirnya. Tidak hanya memenuhi hati, tapi juga pikiran.

Hal itulah yang dirasakan Dewa. Dia telah menaruh hati sejak pertama duduk bersebelahan di salah satu mata kuliah. Dewi meminjamkannya pulpen, yang diserahkan lengkap dengan senyum manis. Senyum yang dihiasi gigi gingsul itu, sukses membuat Dewa meleleh. Sejak saat itu, dia berambisi untuk dapat menaklukkan hati Dewi.

Pernah suatu ketika, Dewa tak sengaja mendengar percakapan Dewi dengan teman-temannya. Dewi merasa tak seberuntung teman-temannya yang kerap mendapat kejutan romantis. Dia tak pernah merasakan betapa senangnya diberi cincin dan seikat bunga. Dewa tersenyum. Dia merasa ini adalah anugerah dari Tuhan.

Waktu memang tak pernah berhenti mengalir, seminggu setelah percakapan itu, Dewi menemukan sebuah kotak kecil berwarna merah di tasnya. Dia membukanya. Ada sebuah cincin dan selembar kertas di dalamnya.

“Terimalah.
Aku telah menolak banyak bidadari yang memohon untuk memakai cincin ini. Mengapa? Karena aku tahu, bidadari itu tidak pantas memakai cincin ini.
Ambilah, hanya kau yang pantas memakainya.”

***

Tidak hanya satu, tapi puluhan pria yang berakhir menjadi teman setelah mengungkapkan isi hatinya kepada Dewi. Sejauh yang Dewa tahu, belum ada satu pun pria yang sukses membuat Dewi menyerah dan merebahkan tubuh di pelukan pria. Itu artinya, Dewi benar-benar belum tersentuh oleh tangan seorang pria yang ingin memilikinya. Dewa semakin tertantang.

“Bagus sekali kalungmu, Nad,” kata Dewi kepada seorang temannya.

“Tentu saja! Ini pemberian pacarku. Dan ini nggak mudah mendapatkannya. Batu alam ini masih sangat langka di sini. Lihat,” kata Nadia sambil menunjukkan liontinnya kepada Dewi. Dewi tersenyum sambil memegang-megang kalung itu.

Dewa tahu apa yang harus dilakukan. Tiga hari kemudian, dia memberikan sebuah kalung indah dari batuan alam yang dironce sedemikian apik hingga membuat hampir semua wanita tergoda untuk memilikinya.

“Dew, aku punya sesuatu untukmu,” kata Dewa menghampiri Dewi. “Ini, pakailah. Kau pasti akan terlihat cantik,” katanya sambil menyerahkan kalung itu.

“Untukku?”

“Ya, ambillah.”

“Terima kasih,” ucap Dewi datar.

***

“Dew, ini untukmu,” kata Dewa sambil menyerahkan sebuah mawar biru.

“Mawar biru? Dari mana kau tahu aku sangat menginginkan ini? Mawar ini sangat langka di dunia,” ucap Dewi terkejut.

“Aku tahu. Aku selalu memperhatikanmu. Aku mencarinya khusus untukmu.”

“Untukku? Mengapa?”

Dewa merasa, inilah waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya.

“Karena aku mencintaimu, tentunya.”

Dewi terdiam. Kini dia menatap Dewa. Mawarnya masih tergenggam erat di tangannya.

“Kau tahu, cincin yang kau temukan dalam tasmu?” tanya Dewa kemudian.

Dewi mencoba mengingat, tak lama kemudian, dia mengangguk.

“Itu dariku,” kata Dewa. “Kalung istimewa yang kuberikan padamu waktu itu, itu juga khusus kucarikan untukmu.”

“Kau berikan semua itu hanya karena kau mencintaiku?” tanya Dewi.

“Ya,” jawab Dewa mantap.

“Aku bukan barang yang bisa kau dapatkan dengan harga tertinggi.”

“Tidak, bukan itu maksudku.”

“Seandainya kau tidak mencintaiku, apa kau akan menarik simpatiku?”

Dewa terdiam.

“Aku hanya memberikan apa yang kau inginkan,” katanya kemudian.

“Agar kau bisa jadi yang kuinginkan?” tanya Dewi sambil menatap tajam ke arah Dewa.

Dewa tak mampu menjawab. Dia tak tahu apa yang harus dilakukan. Menurutnya, ini adalah cara terbaik untuk mendapatkan seorang wanita. Dia salah. Dia berakhir sama seperti pria lainnya. Hanya sebagai teman, tidak lebih. Perjuangan dan penantiannya selama dua tahun, tak berbeda hasilnya dengan perjuangan pria yang mendekati Dewi hanya dalam waktu dua hari; sia-sia.

***

Dua bulan kemudian, Dewa melihat Dewi dijemput oleh seseorang sepulang kuliah. “Beruntung benar orang itu,” batin Dewa. Padahal, dari apa yang dia lihat, dirinya tak jauh berbeda dengan orang itu. Dia punya motor yang juga bisa membuatnya terlihat gagah di mata para wanita.

Namun ada hal lain yang membuat Dewa mengerti mengapa dia tak bisa memiliki Dewi. Ya, dia mengerti begitu orang itu membuka helmnya dan mencium kening Dewi. Bukan karena Dewa kalah kaya atau tampan dengan orang itu, tapi hanya karena Dewa tak punya buah dada!


Karangmulya,
Februari 2018

*gambar diambil dari sini
Read More

Rabu, 31 Januari 2018

- Leave a Comment

Veronika Memutuskan Tetap Hidup

Jakarta, 31 Januari 2018

Dearest Veronika,
Setelah sekian tahun, aku akhirnya berani juga menyuratimu, bercerita soal ini.
Aku harus mulai darimana ya? Dari basa-basi cuaca atau macet Jakarta dahulu? Ah, sepertinya itu lebih mudah untuk mengurangi rasa kikukku untuk bercerita kepadamu. Jakarta sampai sekarang masih tetap macet dan hidup di kota ini makin keras, kejahatan yang dulunya dianggap aneh sekarang jadi sering muncul di berita, mulai dari Gubernur dipenjara karena penistaan agama, pedofilia makin menggila di sosial media sampai klub malam Alexis akhirnya resmi ditutup. Dan sekarang makin banyak pula kasus bunuh diri. Hmm, aku jadi teringat kejadian itu. Kau juga pasti ingat kan?

Malam itu, langit cerah dan rasanya lebih terang dari biasanya karena bulan purnama yang mencapai puncaknya. Kamu menatap bulan di penghujung malam lekat-lekat sambil menghabiskan sisa teh rasa mint yang selalu menjadi favoritmu. Tegukan terakhir, pikirmu. Di bawah pendaran purnama, kau tampak sangat cantik. Sinar matamu teduh dan tenang. Tapi aku tahu persis isi pikiranmu. Saat itu, kamu sedang memikirkan bagaimana cara mengakhiri hidupmu dengan setidak-menyakitkan mungkin, ya kan? Setelah melihat jasad si Lenka setelah memutuskan untuk loncat dari lantai lima hampir 10 tahun lalu, kamu sadar bahwa cara seperti itu terlalu sakit dan yang terpenting jasadmu akan terlihat sangat tidak cantik. Oh, it’s a big no no!

Segera setelah kau tandaskan lesapan terakhir minumanmu, kau menatap butir-butir putih yang tepat berada di samping cangkir tehmu. Kau mulai menghitung. 1, 2, 3, 4. Ah, kalau hanya segitu pasti kurang... apa sebaiknya 10 atau 20 butir ya? Akhirnya, kamu memilih menghabiskan semua yang ada di dalam botol, biar tidak perlu bangun lagi sesuai keinginanmu. Obat tidur sebanyak itu, akupun lupa bagaimana cara kamu mendapatkannya. Apakah dari apotik dekat rumah atau dari salah satu mantan pacarmu si dokter berwajah malaikat tapi sesungguhnya brengsek itu ya? Entahlah...
Tepat pukul 12 malam tanggal 31 Januari 2012, kau sudah terbaring di atas tempat tidurmu yang sudah dirapihkan dan ditata apik plus wangi segar seprai yang baru keluar dari laundry. Ingatan terakhirku tentang malam itu hanyalah cahaya lampu kamar yang perlahan-lahan tampak gelap, tarikan panjang nafas “terakhirku” dan perasaan bahagia karena akhirnya semua penderitaan ini akan berakhir. Kamu juga mengingatnya kan?

My lovely Veronika,
Tapi setelah kejadian malam itu, aku tidak memiliki memori sedikitpun mengapa aku bisa kembali hidup? Ingatanku terhenti di malam terakhir itu dan mulai tersambung lagi saat aku duduk kursi empuk warna biru dongker sambil menatap wajah keriput dan berjas putih yang persis duduk di hadapanku, dan ternyata juga ada Ibu yang duduk di sebelahku. Mereka pun tidak kalah terkejutnya saat aku akhirnya mulai bertanya, “Ibu, dia siapa ya? Kita lagi di mana sih?”
Ibu langsung menangis setelah mendengar ucapanku, Vero. Beliau menangis sampai tubuhnya bergetar kencang.
“Vero sayang, kamu akhirnya ingat Ibu ya, nak?” ujarnya dengan kalimat terbata-bata.
“Iya lah, Bu. Ini kita lagi ada di......?” kalimatku menggantung karena aku kembali teringat kejadian malam itu. Berbagai pertanyaan pun menggelayut di kepalaku.

Apakah ini sudah di surga? Hmm, sepertinya bukan. Orang mati karena bunuh diri dosanya tidak akan terampuni, konon kabarnya begitu.
Apakah ini di neraka? Astagfirullah, kenapa ada Ibuku neraka?!
Apakah ini rumah sakit jiwa karena ruangannya yang mirip dengan ruangan dokter penyakit jiwa yang ada di film-film? Tapi harusnya kan aku sudah “lewat”, menenggak banyak sekali pil tidur mungkinkah masih bisa selamat?

Aku sungguh tidak ingat apapun soal bagaimana kau bisa selamat, Vero. Namun kenyataannya sampai saat ini aku masih bernapas meski kisah hidup Veronika Ramadhani setelah 31 Januari 2012 hanyalah berupa potongan cerita dari sudut pandang Ibu, Ayah, Kak Mario, Kak Ivan, Bik Sumi atau Prof Ndaru psikiater yang merawatku setelah percobaan bunuh diri yang berhasil diselamatkan. Menurutnya, aku sempat mengalami dissociative-amnesia. Ya, seperti cerita di drama Korea, sinetron kepanjangan, atau roman picisan, kau mengalami amnesia alias lupa ingatan selama tiga bulan setelah kejadian itu.

Sebenarnya hampir saja setelah siuman kau berada di rumah sakit jiwa, seperti nasib Veronika Deklava dalam novel Paolo Coelho. Namun, kau terselamatkan oleh amnesia langkamu itu. Amnesia jenis ini bukan disebabkan oleh kerusakan otak akibat dari penyakit, obat, kecelakaan ataupun operasi tapi oleh tekanan psikologis karena kejadian yang sangat traumatis sampai akhirnya tidak mampu mengingat sebagaian peristiwa penting dalam hidupnya. Malah kau sampai lupa sesaat dengan identitasmu, makanya Prof Ndaru memutuskan cara terbaik untuk mengobati amnesia ini dengan berada di tengah keluarga bukan di rumah sakit jiwa.

Sampai saat ini, aku masih rutin mengunjungi Prof Ndaru, yang sebelumnya seminggu sekali lalu berubah menjadi dua minggu sekali dan sekarang hanya jika perasaan sedih, tidak berguna, tidak bersemangat, merasa helpless dan hopeless muncul kembali selama hampir seminggu maka aku harus segera mengunjungi Prof Ndaru. Perasaan “bad and dark mood” semacam itu kusebut Black Dog, meminjam istilah yang sering digunakan Winston Churchill untuk menyebut penyakit kejiwaannya: bipolar atau manic disorder. Terkadang sungguh sulit mengendalikan Black Dog, Vero. Tapi, kalau sudah mulai muncul tanda-tanda ia akan mengonggong, maka aku harus segera menghentikan apapun kegiatanku saat itu dan pergi mencari suasana yang lebih menggembirakan. Kegiatan favoritku untuk mencegah Black Dog kabur adalah ke pasar becek atau stasiun kereta untuk mengintip kegiatan orang-orang normal! Gegara anjing hitam tanpa jenis dan tanpa wujud warisan darimu ini, aku tidak bisa lagi bekerja di kantor besar dengan sistem kerja bagus yang mengharuskan berpakaian rapih. Well, tapi dahulu waktu kita bekerja di kantor besar pun hanya jadi karyawan kontrak yang harus siap diputus kapan saja dan hanya jadi kacung yang lebih sering dikasih pekerjaan urusan pribadi mereka yang bertitel General Manager atau Vice President. Ya kan?

Prof Ndaru sangat berhati-hati saat memberiku obat anti-depresan, mengingat sejarahku yang pernah minum puluhan butir obat tidur guna mengakhiri hidupku. Beliau takut aku menyalahgunakan obat-obat seperti itu lagi. Tapi cara pengobatan untuk jenis depresiku, hmm...namanya Dysthymia atau depresi ringan kronis yang sifatnya jangka panjang, lebih efektif jika dikombinasikan dengan obat dan terapi konseling secara rutin.

 gambar berasal dari sini

My younger self, Veronika
Ingatkah kamu kesulitan adaptasi di sekolah saat baru pindah dari sebuah kabupaten kecil di Pulau Buton ke Ibukota sebesar ini? Keruwetan perasaan yang sulit kau ekspresikan ini membuatmu tumbuh dengan jiwa yang tertutup. Ditambah lagi kedua kakak lelakimu sangat pandai di sekolah, muncullah tuntutan yang sama dari kedua orang tuamu. Mereka pemegang rekor nilai tertinggi nilai ujian nasional selama sekolah, kau pun harus bersusah payah untuk meneruskan rekor itu. Namun sialnya saat SMP kamu mulai gagal. Ditambah lagi menstruasi pertama yang muncul terlalu dini namun Ibumu terlalu sibuk mengejar karir dan tidak sempat menjelaskan perubahan-perubahan besar yang akan terjadi dalam tubuhmu. Hal itu akhirnya menambah keruwetan perasaanmu. Batinmu terasa makin sesak ketika kau gagal kuliah di ITB mengikuti jejak kedua kakakmu, kau hanya berhasil lulus tes ujian masuk di Fakultas Sastra UI.
“Yaa gitulah, Vero kuliahnya cuma di Sastra...” begitu jawaban datar ayah atau ibumu saat orang-orang bertanya, jauh berbeda ketika bercerita tentang Kak Mario atau Kak Ivan.

Kamu pun berjuang keras membuktikan bahwa orang yang kuliah di jurusan sastra tetap bisa sukses kaya raya, tapi kenyataan hidup tidak begitu. Kamu hanya bisa lulus dengan nilai pas-pasan dan akhirnya hanya mampu mendapatkan pekerjaan klerikal yang sesungguhnya bisa dikerjakan oleh anak lulusan SMK. Tadinya kamu merasa ada harapan, hanya harus bersabar. Namun, kegagalan demi kegagalan terus kamu alami. Obsesimu untuk menjadi karyawan tetap dengan menjalani tes masuk super panjang dan melelahkan untuk jadi PNS atau karyawan BUMN berkali-kali gagal.
Hidupmu terasa hancur berantakan ketika kedua kakakmu, lagi-lagi, sukses meraih semua mimpi mereka. Tidak hanya bekerja sebagai karyawan tetap di kantor dengan gaji besar, mereka dengan mudah memperoleh pasangan yang cantik, pandai nan salihah. Kamu semakin rendah diri ketika semua teman kuliahmu mulai naik jabatan, melanjutkan sekolah keluar negeri, dan akhirnya satu per satu menikah. Topik umum di sekitarmu mulai bergeser menjadi urusan persiapan pernikahan, parenting, atau kerja di luar negeri.

Usiamu yang terus merambat naik, kulitmu yang makin keriput dan kendor... menambah lagi keruwetan perasaanmu yang makin tidak bisa dijelaskan. Crème de la crème dari segala kehidupanmu saat itu adalah ketika kamu berpacaran dengan seorang dokter lulusan UI yang sedang spesialis. Serpihan kecil harapan menyenangkan muncul di hatimu, “baiklah, setidaknya aku masih bisa jadi ibu rumah tangga yang baik bagi lelaki ini...”

However, it seems God loves to tease you.

Di suatu hari, kamu tidak sengaja menemukan tag foto dirinya di Facebook dengan perempuan lain. Darahmu mendidih ketika membaca komentar bahagia dari teman-teman sesama dokternya. Tentu saja tak lama setelah itu, dia meninggalkanmu begitu saja melalui dua baris pesan sms. Dan tanpa menuliskan kata maaf. Catat itu!

Semua mimpi dan cinta habis terhempaskan. Tidak bisa membanggakan orang tua, ditinggal kekasih, dan akhirnya selepas Lebaran kamu di-PHK begitu saja karena katanya kondisi kantor yang hampir pailit. Tragis. Jangankan hidup sebagai manusia yang memberi dampak positif bagi masyarakat atau Indonesia apalagi dunia, menolong dirimu saja sulit! Kau berdoa tiada henti siang dan malam, berharap Tuhan berbaik hati memberikan sesuatu yang bisa dipercaya bahwa itu adalah takdirmu, alasanmu hidup di bumi. Namun nihil. Kamu pun berhenti berharap.

Tapi Vero sayang, saat ini aku telah putuskan untuk tetap hidup meskipun dengan Dysthymia yang kadang bisa kambuh, kadang bisa mengendap lama.
Sejauh ini, aku selalu patuh dengan anjuran psikiaterku. Setiap pagi, aku pasti keluar rumah untuk berolahraga, jalan kaki sambil berjemur matahari pagi. Kamu tahu, kutemukan lagi kedasyatan sinar matahari: pencegah depresi! Bahkan penduduk di negara yang jarang terkena paparan sinar matahari akan cenderung terkena Seasonal Affective Depression (SAD). Untung sekali ya Indonesia disinari matahari selama 365 hari penuh.
Aku juga menjaga nutrisi yang masuk ke tubuhku, salah satunya dengan menjadi pescatarian alias semi-vegetarian karena masih menambahkan boga bahari dalam menu makanan. Botol-botol besar suplemen bertuliskan Omega-3, Magnesium, Vitamin C dan B Kompleks selalu berada di meja makan agar aku tidak absen meminumnya. Itu semua membantu agar mood-ku tetap baik. Selain makanan, Prof Ndaru menganjurkan untuk meditasi. Tapi aku kurang suka meditasi karena lama-lama terasa bosan dan mengantuk. Akhirnya Prof Ndaru mencoba pendekatan melalui seni. Aku pun rajin mewarnai gambar-gambar yang berasal dari ilustrasi karya Johanna Basford. Saat mewarnai, rasanya keruwetan pikiranku perlahan-lahan terasa bisa terurai meski masih kusut. Efek mewarnai sama seperti meditasi menurutku.

Aku sekarang kembali bekerja, tapi ini perusahaan event organizer super mini milik adik Ibu, Tante Ani. Gajinya pun super mini di bawah UMR (belum termasuk bonus dan komisi sih) dengan beban kerja yang super mini juga tentunya. Tapi di sini aku berkesempatan mengunjungi banyak kota di berbagai daerah, ternyata ini cukup efektif menghalau Black Dog muncul kembali. Untuk pertama kalinya, aku sedikit menyukai pekerjaanku, Vero. Aku merasa senang ketika mengunjungi tempat baru, memahami keunikan bandara di berbagai kota, bertemu orang dengan logat bahasa Indonesia yang berbeda, mencicipi beragam masakan sayuran dan ikan yang lebih lezat dari yang dijual di restoran Jakarta, dan membanding-bandingkan pelayanan hotel yang ada di kota satu dan lainnya. Bahkan sekarang aku menjadi aktivis di komunitas Google Maps karena sering memberi review atau foto tentang suatu tempat loh... Hahaha!

Sebenarnya dari dulu, aku selalu suka traveling, kamu tahu itu kan, Vero? Tapi Ayah selalu melarangku berkeliaran bebas karena khawatir berlebihan akan keselamatan anak perempuan satu-satunya ini. Tapi sekarang, aku tidak peduli lagi dengan larangan Ayah ini, toh ia pun kini tidak berani mengekangku karena takut aku kembali ditelan oleh Dysthymia.

Vero, aku memutuskan untuk tetap hidup karena cap imigrasi di passport-ku belum terlalu banyak, serta belum kutinggalkan jejak DNA-ku dari Sabang sampai Merauke. Hehehe.

Vero, aku akan berusaha menyuratimu setiap tahun. Agar engkau, diriku yang berusia 27 tahun, tidak sendirian seperti di malam itu.

Dan terakhir, selamat ulang tahun Veronika Ramadhani. Semoga sehat selalu ya! Itu saja harapanku.

Salam dan kecup hangat selalu,

Vero
Read More