Jumat, 28 September 2018

- Leave a Comment

Hari Ketika Lenka Melompat

Oleh: Ronny Mailindra
Malam yang sempurna.
Hall Jakarta Art Exhibition Center malam ini mengulangi kejayaannya—kembali menjamu tamu berkelas. Jika dahulu meneer dan noni Belanda serta bangsawan pribumi yang berpesta, kini politikus, musisi papan atas, pengusaha serta para sosialita menggantikannya. Ruangan itu tersenyum ceria dan musik mengalun menemaninya, berebut peran dengan para pelayan untuk membuat nyaman para tamu.

Delapan meter dari pilar barat ruangan itu, dua pria berjas hitam berdiri memandangi sebuah patung kristal. Benda setinggi seratus sentimeter itu berkilap dan memancarkan bias warna merah muda. Cantik. Cahaya lampu sorot yang sesekali menyambar dari sudut-sudut tertentu membuat benda itu beberapa kali lipat lebih menarik. Rambut berombak, garis wajah yang tegas, dan bahu lebar yang terpahat dengan baik pada patung itu, mirip sekali dengan seorang lelaki yang berdiri di kanan sang patung.

Well, Bapak Tiung, bagaimana pendapat Anda?” pria yang berdiri di kiri patung menyunggingkan senyum diplomasinya yang terkenal: bibir kanan tertarik ke atas, dan alis sebelah kiri terangkat. Senyum itulah yang menjadi andalannya jika sedang menghadapi perdebatan, yang selalu berhasil menggiring lawan bicara sekeras apa pun menjadi sependapat dengannya.
Lawan bicaranyanya memiringkan kepala. “Ternyata saya lebih tampan jika berkilap, Pak Amir,” jawab Tiung Sukmadjati—bintang pesta malam ini.
Amir Sambaliung meledak dalam tawa bangga. 
“Saya senang Bapak menyukainya,” kata Amir.
Dari awal Amir sudah punya firasat bahwa “Pustaka Bunyi Indonesia” akan menjadi lebih dari sekadar acara pengumpulan dana biasa. Tidak, Amir Sambaliung yakin benar ada sesuatu yang bisa dikeruk dari acara ini. Sejak tadi ia sudah mendengar lagu keroncong, salawat, lonceng, bahkan Bengawan Solo dengan kicauan burung kepodang sebagai ganti suara Gesang. Pikiran untuk menjadikan Tiung Sukmajati ikon kampanye partai membuat hatinya dipenuhi rasa gembira.
Amir Sambaliung berdeham.
“Bapak tahu, partai kami sangat peduli pada dunia seni. Kami percaya seni memberikan kontribusi bagi pembentukan mental negeri ini. Orang-orang seperti Bapak lah yang menginspirasi kami. Maka itu kami merasa perlu memberikan penghargaan kecil seperti ini, semoga berkenan,” kata Amir.
Tiung Sukmadjati tersenyum. “ Terima kasih. Kedatangan politisi ulung seperti Anda saja sudah membuat saya tersanjung, Pak.”
“Oh, saya memang sangat mendukung acara seperti ini, Pak Tiung.” Amir langsung menyambar. “Siapa yang akan menyadari negeri ini penuh dengan bebunyian unik, kalau Pustaka Bunyi Indonesia tidak memulainya? Orang sering tidak peduli dengan hal-hal kecil dan remeh seperti ini, yang sepintas terkesan tak berguna sama sekali.”
“Saya senang ada yang memahami pentingnya mendokumentasikan bunyi.” Tiung Sukmajati berkata pendek. Matanya menatap Amir Sambaliung.
Amir Sambaliung tertawa gelisah menyadari nada sinis dalam kalimat Tiung barusan.  

Beberapa meter di depan patung dada Tiung Sukmadjati, orang-orang duduk mengitari meja-meja bulat berlapis kain putih bersih. Mereka makan sambil mengumandangkan tawa basa basi pergaulan. Jenis tawa yang harus dikeluarkan setiap kali ada yang melontarkan lelucon, lucu atau tidak. Piring-piring dengan sejuta sendok garpu (masing-masing untuk jenis makanan yang berbeda; bulat untuk sup, cekung untuk pasta, hanya Tuhan yang tahu bagaimana mengingat semuanya) terhampar di hadapan mereka. Bunga-bunga mawar merah dan lili putih, tempayan-tempayan berisi lilin dalam air tersebar dimana-mana. Para pelayan dengan dasi kupu-kupu hitam sibuk meladeni permintaan tambahan anggur, sampanye, dan saus steak. Aroma daging bakar berbaur dengan harum berbagai jenis parfum yang harga per botolnya bisa membuat pedagang sayur Pasar Jumat terserang stroke mendadak. Denting piring, sendok, dan gelas kaca, berpadu dengan suara klak klok klak klok sepatu-sepatu bagus ketika beradu dengan lantai mengilap, terdengar bagai musik melankolik yang rata.

Amir Sambaliung mengamati ini semua sambil masih memikirkan kata-kata yang tepat untuk menggiring Tiung Sukmadjati pada pokok permasalahan yang diincarnya.
“Jadi, Pak Tiung...”
Kalimat itu terputus. Seorang perempuan cantik bergaun dengan kerah cheongsam dan belahan paha tinggi tergopoh-gopoh menghampiri Tiung. Seorang pria berambut setengah gondrong melangkah bersama perempuan itu. Begitu tiba di samping Tiung, si gadis langsung berkata-kata dengan wajah kesal. 
“Orang ini minta sesi wawancara dengan Bapak. Saya sudah bilang ...”
Tiung Sukmadjati memberi isyarat agar gadis itu berhenti bicara. 
“Tidak apa-apa, Galuh,” kata Tiung.
Pria yang datang bersama perempuan itu tersenyum penuh kemenangan, lantas mengulurkan tangannya.
“Jabar Kamus, Koran Metro Baru," kata pria itu dengan mantap, "saya dengar Anda mendokumentasikan berbagai bunyi yang tak biasa dalam proyek ini, Pak Tiung, termasuk ringkik kuda. Benarkah?”
Tiung membiarkan tangan Jabar tergantung di udara.
“Begini, Pak Jabar,” kata Tiung, “seperti Anda lihat, saya sedang berbincang dengan Bapak Amir Sambaliung, dan saya akan sangat senang jika Anda mau menunggu sampai acara selesai jika ingin mewawancarai saya.”
Wajah si wartawan berubah. “Oh...”
“Anda boleh menunggu sambil menikmati hidangan. Galuh akan menemani Anda.”
Tiung tersenyum, menyentuh bahu Galuh, dan berbisik di telinganya, “Kau bisa menceritakan padanya tentang proyek bunyi ini, darling, atau tentang perjalanan musik selomu.”
Si gadis menunduk dengan muka sedikit merona. Kekesalannya menguap bagaikan alkohol di udara bebas.

Tiga belas meter dari tempat Tiung berdiri, Luisa, istri Tiung, sedang menyesap anggur di gelas kristalnya. 
Ai kagum sekali loh dengan Mas Tiung,” kata seorang wanita yang berada di depan Luisa. “Suami Jeng Luisa ini benar-benar jenius, fantastis!”
Danke schön,” jawab Luisa sambil mengangkat gelasnya. Bias kemerahan muncul, meski sekejap, di pipinya. Lalu seperti sodoran minuman di pesta itu, pujian bertubi-tubi menghampiri Luisa—datang dari para sosialita yang mengelilinginya. Di sela-sela buih pujian, suara tawa terdengar.

Pemandangan pesta itu tak lepas dari pengamatan seorang gadis cantik bergaun biru yang berdiri agak di pojok.
Malam yang sempurna, pikir gadis itu.
“Lenka!”
Gadis itu menoleh. Seorang pemuda tampan menenteng kamera mendekati Lenka. Lelaki itu kemudian mengatakan sesuatu kepada Lenka. Lenka tersenyum. Lenka lalu meyakinkan bahwa malam ini adalah malam yang sempurna.
Mendengar perkataan Lenka, Helong mendesah. Karena tak bisa lagi mendebat Lenka yang sudah membulatkan tekadnya, Helong mundur pun mundur lalu meninggalkan Lenka. Wajah Helong memancarkan keresahan. Setelah beberapa langkah, Helong membalikkan badan untuk melihat Lenka. 
Lenka sedang tersenyum.

****
Komposisi kedelapan belas selesai dimainkan. Sempurna. Beberapa tamu memberikan tepuk tangan. Pada saat itulah terdengar jeritan, mengalahkan riuh tawa dan tepukan tangan. Sepotong tubuh meluncur dari railing lantai lima. Gaun biru yang dikenakan sosok yang meluncur itu berkibar. Seberkas rambut panjang kecoklatan melambai dari puncak kepala. Dengan bunyi berdebam dan suara kaca pecah, tubuh itu terhempas.

Ruangan membeku.
Lalu, jeritan histeris berpadu dengan penyebutan nama Tuhan terdengar. Beberapa orang yang punya nyali lebih, maju untuk melihat hal yang terjadi.

Jabar Kamus, wartawan Koran Metro Baru bergerak, menembus kerumunan, langsung ke sumber hiteria. Saat melihatnya, Jabar mengangkat kedua tangan lalu memegang kepalanya.
“Gusti,” desis Jabar.

Di depan Jabar, seorang gadis bergaun biru tergeletak di lantai yang dingin dan keras. Jatuh dari ketinggian membuat kepalanya hancur separuh. Darah menggenang seperti saus vla diberi pewarna merah pekat di sekitar tengkorak yang remuk, berpadu dengan pecahan mengilap kristal dalam berbagai ukuran.

Musik, pesta kaum borjuis dan mayat seorang gadis. Sempurna, berita yang sempurna, rutuk Jabar sambil membayangkan panjangnya malam yang harus ia lalui. []

####
Catatan penulis:
1. Cerita ini tidak dimasukkan ke dalam novel Lenka. Ini masuk salah satu bagian yang dibuang. Cerita yang masuk dalam novel Lenka jauh lebih bagus dari tulisan ini.
2. Review novel Lenka bisa dilihat di goodreads


Read More

Jumat, 21 September 2018

- Leave a Comment

Puncak


Oleh: Ronny Mailindra

Rianti sedang di puncak. Bagai sedang di puncak gedung tertinggi, sekelilingnya terlihat kecil.Indah, namun berbahaya. Jika entah karena tersebab apa pun ia sampai terjatuh ke bawah, tak akan ada ampun buatnya. Tapi, seperti sedang berada di dalam gedung, setinggi apa pun gedung itu, kita tentu tak akan mudah terjun ke bawah. Ada jendela, pintu, dan pagar yang melindungi. Rianti tahu itu, bahkan sudah memperhitungkannya. Satu-satunya sebab ia bisa terjatuh adalah jika ada yang sengaja mendorongnya keluar. Dan hal itu rasanya sangat tidak mungkin.

Rianti melangkah. Hawa sejuk nan wangi bersemilir menerpanya. Ia melihat pintu kaca di depannya membuka secara otomatis. Lalu kerlip lampu, beraneka ragam barang mewah, dan senyum gadis-gadis cantik menyambut kedatangannya.

Bak ratu, Rianti mengangguk saat melangkah memasuki pusat perbelanjaan mewah itu. Ia tahu para penyambutnya pasti melihat busana serta tas yang menggelayut di lengannya. Dan itu saja sudah cukup untuk memperkenalkan dirinya.
Rianti mengedarkan pandangan. Seorang gadis semampai tampak mendekat, tersenyum, lalu menyodorkan potongan kertas. Rianti mengambil kertas itu lalu menghirupnya. Campuran wangi rempah dan bunga yang tidak ia kenal tercium. Rianti tersenyum, namun menggelengkan kepala dan melanjutkan langkah.

Delapan langkah setelah meninggalkan gerai kosmetik, Rianti mendengar ponselnya bernyanyi. Ia tersenyum melihat nama yang muncul di layar.

“Ya, Pi?” kata Rianti. “Ya, begitu selesai Mami langsung ke sana. Apa? Ah, paling lama dua jam. Oke, see you, darling.”
Bahagianya jadi wanita sukses, pikir Rianti, baru ditinggal sebentar, suami langsung mencari.

Di usia empat puluh lima tahun, banyak perempuan yang mengalami krisis kepercayaan diri. Mereka  mencoba segala cara untuk memermak wajah dan tubuh agar tetap menarik sehingga suami tak melirik ke gadis-gadis muda. Rianti tidak memerlukan hal semacam itu. Ia telah memutuskan untuk memiliki kekuasaan yang diidam-idamkan banyak lelaki. Ia telah menyejajarkan dirinya, bahkan mungkin lebih tinggi, dari suaminya. Itu semua bisa terjadi karena ia pemberani dan sanggup menantang resiko.

Rianti terus melangkah. Setelah melewati etalase yang memajang beraneka ragam tas, serta menahan hasrat untuk menyambar sebuah, Rianti berbelok ke kiri, lalu berjalan menuju pintu keluar, dan mendatangi sebuah toko yang tak akan ia kunjungi jika tidak terpaksa.

Dekat pintu masuk toko itu Rianti berhenti. Di dalam toko tak tampak pakaian, kosmetik, atau barang dagangan apa pun. Hanya ada gerai yang menghadap pintu masuk dan papan elektronik besar yang menampilkan berbagai angka dan simbol mata uang asing.

Di gerai tersebut terlihat tiga orang pegawai sedang melayani: dua orang wanita dan seorang pria. Di sisi kiri ruangan tampak dua baris kursi yang disepuh mengilap. Enam orang duduk di sana, semuanya pria.
Rianti melangkah masuk lalu mengangguk kepada pegawai wanita yang ada di sisi paling kanan gerai. Pegawai itu balas mengangguk dan tersenyum.

“Selamat siang, Bu Rianti. Cantik sekali hari ini. Ada yang bisa dibantu?”
Rianti mengucapkan terima kasih, lalu membuka tas dan mengeluarkan sebuah amplop.
“Dik, bisa proses ini seperti biasa?” kata Rianti sambil menyerahkan amplop itu.
Si Gadis gerai menyambut amplop itu, mengintip isinya, lalu tersenyum.
“Ibu mau dicairkan dalam dolar atau rupiah?”
“Dolar saja seperti biasa. Lama?”
“Sekitar satu jam, Bu.”
Rianti mengangguk lalu membetulkan posisi tasnya. “Oke, saya tinggal dulu kalau begitu.”
“Baik, Bu. Terima kasih.”
Rianti berbalik lalu berjalan ke luar.

Saat Rianti telah dekat pintu keluar, seorang pria yang sedari tadi duduk di kursi dekat gerai sambil membaca koran, tiba-tiba menurunkan korannya dan memperhatikan Rianti. Ketika bokong Rianti melenggang lalu menghilang di balik pintu, pria itu mendekatkan bibirnya ke bahu kanan lalu berbisik.

***
Satu jam kemudian Rianti kembali lagi. Hanya sedikit perubahan di toko itu. Beberapa angka mata uang asing telah berubah dan jumlah orang yang duduk menunggu juga sudah berkurang. Tetapi, jika diperhatikan lebih cermat, ada seorang lelaki yang tetap di sana meski sekarang ia telah mengganti korannya. Namun saat itu detail demikian tidaklah menarik buat Rianti . Begitu memasuki toko, perempuan itu langsung berjalan menuju gerai. Pegawai perempuan yang tadi melayaninya telah tersenyum kepada Rianti .

“Selesai, Dik?” kata Rianti .
Pegawai itu mengangguk lalu menyerahkan sebuah amplop cokelat.
“Sudah, Bu. Fee-nya juga sudah diambil seperti biasa. Mau dihitung?”
Rianti tersenyum, segera mengambil amplop itu dan memasukkannya ke dalam tas, “Ah, tidak perlu. Terima kasih.”

Rianti berbalik lalu berjalan keluar.
Saat Rianti telah berada di pintu keluar, lelaki yang sedari tadi mengamati, berbisik, bangkit, lalu berjalan mengikuti Rianti . Lelaki itu menjaga jaraknya beberapa meter di belakang Rianti .
Rianti terus berjalan menuju pintu keluar, menuju matahari kegembiraan. “Hari ini sungguh indah, semuanya berjalan mulus,” pikir Rianti . Sekarang tinggal berangkat ke hotel tempat suaminya telah menunggu, dan mereka bisa makan malam dengan para petinggi partai. Urusan pencairan uang ini memang agak merepotkan karena harus ia lakukan sendiri. Namun apalah artinya sedikit kerepotan dibandingkan hasilnya. Dan kerepotan hari ini tidak ada apa-apanya dibandingkan saat kampanye dulu. Belum lagi kalau Rianti ingat jumlah uang yang harus ia kucurkan saat itu. Benar-benar bikin jantungan.

Untunglah ia bukan penakut. Rianti tahu sukses besar hanya bisa diraih jika berani mengambil resiko yang besar. Hal itu juga yang ia katakan kepada suaminya. Waktu itu Rianti berhasil menyakinkan suaminya yang penakut itu. Dan keberuntungan memang memihak kepada mereka yang berani.
Prediksi Rianti tidak meleset. Setelah menjadi anggota dewan, proyek-proyek dengan lancar diraup perusahaan suaminya. Dan modal untuk kampanye kemarin dalam sekejap sudah kembali.
Teman-temannya di partai dan dewan memang orang-orang kompeten. Mereka cakap menggunakan pengetahuan untuk kemakmuran bersama. Komisi yang dibayar memakai cek pelawat sungguh praktis. Hidup ini dan negeri ini sungguh menakjubkan. Gemah ripah loh jinawi, pikir Rianti sambil tersenyum dan terus melangkah.

Beberapa langkah sebelum mencapai pintu keluar, Rianti melihat pintu itu membuka. Rianti lalu merasakan hawa panas menerpanya. Pastilah matahari bersinar sangat terik di luar sana. Dan pastilah sangat tersiksa jika harus bekerja keras di bawah terik seperti itu.

“Amit-amit kalau aku harus berpanas-panasan mencari uang,” pikir Rianti .
Beberapa meter di depan, Rianti melihat dua orang pria. Mereka seperti ingin menghalangi jalan Rianti .
Rianti melirik ke kanan. 
Ada satpam sepuluh meter di kanan sana. Sedikit penyesalan terbersit di benak perempuan itu. Harusnya tadi ia membawa supir agar bisa mengawalnya. Tetapi itu juga agak riskan. Rianti tidak ingin pencairan cek hari ini diketahui banyak orang.
Rianti berhenti, lalu menimbang-nimbang untuk berjalan ke arah satpam. Di dalam tasnya ada uang yang jumlahnya cukup untuk membuat orang tega membunuh untuk mendapatkannya.
Kedua pria itu semakin mendekat dan seperti merapatkan kepungan.

Rianti ingin menggertak, tetapi belum sempat bersuara, Rianti mendengar seseorang memanggilnya. Rianti menoleh ke belakang.
Seorang pria tampak mendekatinya.

“Maaf, Bu Rianti ,” kata pria itu memulai pembicaraan sambil menunjukkan tanda pengenalnya.

Rianti menatap benda itu dan berharap sedang berada di gurun pasir, pinggir pantai, atau tempat terik nan panas mana pun asal bukan di mal ini. Di mata Rianti benda itu tampak seperti pistol yang sedang ditodongkan langsung ke kepalanya.
Meski pria itu tidak sedang menyentuh tubuh Rianti , Rianti merasa orang itu sedang mendorongnya ke pinggir gedung.

Rianti mengerjap. Udara terasa semakin panas. Benda di tangan pria itu tampak berkilap diterpa cahaya. Menempel pada benda itu sebuah pahatan burung garuda berwarna merah dan putih dengan tiga huruf besar di bawahnya: KPK.

Rianti gemetar, tas di tangannya terasa begitu berat, dan kini ia merasa sedang terjun dari puncak gedung tertinggi.


-SELESAI-
Read More

Senin, 23 Juli 2018

- Leave a Comment

Memori

Gambar pinjam dari RockChairbook

Karya: Regina Kalosa

Akhirnya aku bertemu juga dengannya. DenganNya. Buku baruNya kubeli kemarin sore dan harus kubawa hari ini untuk dapat terdaftar sebagai peserta acara peluncuran buku baruNya. Setelah sekian lama, berbelas-belas tahun rasanya, tiba-tiba saja terbit buku baruNya. Aku setengah tidak percaya ketika melihat namanya di tumpukan buku-buku yang ada di bagian depan toko buku langganganku. Buku BaruNya. Mungkin aku terlalu berlebihan. Ia bukan Tuhan. Tapi rasa kagumku padanya, padaNya terlalu besar untuk kuungkapkan ke dalam bentuk apapun.
Dulu, dulu sekali, aku tidak tahu persisnya kapan. Hmm, aku tidak sepenuhnya jujur, aku tahu apa yang kumaksud dulu sekali, tapi tidak ada tanggal atau bulan atau tahun pasti kapan persisnya terjadi. Singkatnya, dulu sekali itu terjadi pada awal ketika aku mulai mampu mengingat sesuatu, yang bisa kubawa utuh sampai sekarang ini. Ingatan itu.
Dulu, dulu sekali, aku selalu ditemani buku-buku, kebanyakan buku cerita, bukan buku pelajaran. Ya, ketika itu aku sudah mulai pergi sekolah, belajar bersama orang-orang kecil berukuran seperti aku dengan kombinasi beberapa orang-orang besar, dan pulang dengan banyak buku yang harus kubuka-buka kembali di rumah. Ketika buku pelajaran sudah membuatku bosan, aku selalu beralih ke buku-bukuNya yang membawaku ke dunia yang lebih indah dari sekadar puisi yang kubuat untuk tugas sekolah, yang lebih menantang dari sekadar menghitung luas sebuah lingkaran, dan yang lebih kuinginkan dari sekadar kenyataan-kenyataan sejarah yang harus kuhapal tanpa kumengerti.
“Run, kamu bawa berapa buku?” Maya, temanku yang juga pengagumNya menghampiriku setelah sebelumnya melambai-lambaikan tangannya padaku seperti hendak memberhentikan bis. Terlalu berlebihan. Ruangan ini tidak terlalu besar, siapapun bisa menghampiri siapapun tanpa perlu memberikan isyarat berlebihan untuk dikenali. Sebenarnya aku dan Maya tidak membuat janji untuk bertemu di sini tapi kemarin aku bertemu dengannya di bis kampus dan mendadak kami membicarakan hal yang sama, peluncuran bukuNya di toko buku dekat kampusku.
“Semuanya,” balasku pendek. Aku membetulkan posisi ransel di pundakku yang sudah mulai menyakitkan. Jelas saja, kubawa 43 buku karyaNya.
“Kamu gila!” Maya tertawa sambil memperlihatkan empat atau lima buku dalam genggamannya.
“Yang gila itu orang yang menyia-nyiakan kesempatan untuk tidak membiarkan semua bukunya ditandatangani penulisnya langsung,” Aku menemukan tempat duduk yang kupikir cukup strategis untuk melihatNya langsung sekaligus membuatNya juga bisa melihatku tanpa susah payah. Aku menyapu pandangan ke sekelilingku. Kebanyakan anak-anak dan juga beberapa orang tua. Mungkin hanya aku, dan Maya, dan seorang gadis berambut panjang yang duduk di baris belakangku yang tergolong bukan anak-anak lagi yang datang untuk diri sendiri.
Maya hendak membalas ucapanku tapi terhenti oleh suara perempuan melalui pengeras suara yang mengumumkan acara segera dimulai. Ini dia, antusiasmeku mengalir deras ke kepala dan membuat dadaku berdegup lebih kencang dari sebelumnya.
Tidak lama setelah pengumuman, sosok yang menemaniku di waktu dulu sekali itu masuk ke ruangan dengan langkah perlahan dan hati-hati.
Hatiku membuncah dengan perasaan yang sulit kumengertikan. Kuperhatikan lamat-lamat sosok tubuh yang berjalan pelan-pelan ke tengah panggung dengan tubuh yang tidak lebih dari setengah berat tubuhku, dengan tulang-tulang yang menonjol di sana-sini, dan rambut putih yang tidak disisir terlalu rapi sehingga tampak seperti gula-gula kapas kesukaanku yang diletakkan di atas kepala yang penuh kerut
Aku tercekat, seperti ada sesuatu yang menaiki kerongkonganku. Aku terdiam. Lama.
“Kamu tahu berapa lama lagi ia akan hidup?” Dari banyak rasa yang membuatku dadaku seperti mau meledak, malah kalimat itu yang keluar yang mulutku. Dirinya jelas mengingatkanku pada seseorang.
*
Dulu, nenekku, yang kupanggil Nena, selalu mengingatkanku untuk tidak membaca di kamar. Tepatnya di kamar tidurku. Lampu kamarku sepertinya sengaja dipasang tidak terlalu terang bahkan cenderung remang-remang dengan warna kuning hangat yang membuatku lebih cepat terlelap dari kamar atau ruangan manapun yang aku tumpangi. Ketika aku sudah lebih besar, aku menyadari bahwa nenekku memang memasang lampu kamarku yang lebih redup dari ruangan lainnya supaya aku melakukan kegiatan lainnya di luar kamar.
Sejak dulu, aku tinggal bersama kakek, yang kupanggil Pippa dan Nena yang kuanggap sebagai orang tuaku, sama seperti ketika teman-temanku bercerita mengenai ayah dan ibu mereka, maka aku akan bercerita mengenai Nena dan Pippa. Hanya mereka yang kukenal dari dulu, walaupun memang ada beberapa orang lain yang kadang kutemui yang dengan mereka aku menghabiskan beberapa waktu, tapi itu tidak penting, bagiku sama saja seperti tamu yang sesekali berkunjung, datang, minum teh dan makan kue kecil, lalu pergi. Hanya Nena dan Pippa yang selalu ada dan tidak pernah pergi.
Ada rutinitas bersama Nena yang selalu membuatku senang bahkan di saat aku sedang sedih. Setiap sore, sehabis mandi, Nena selalu mengoleskan minyak rambut di kepalaku dan memijatnya dengan lembut. Harumnya minyak tersebut begitu kusukai. Wanginya seperti campuran bunga melati ditambahkan dengan sesuatu yang manis entah apa itu. Aku pernah menanyakan ke Nena apakah ia mengambilnya dari semak bunga melati di taman belakang, memerasnya, dan memasukkannya ke botol. Nena malah tertawa dan mencium pucuk kepalaku keras-keras. Pertanyaanku tetap tidak terjawab. Sampai sekarang.
*
 “Banyak sekali?” Kau bertanya mengagumi buku-buku karyaMu sendiri yang kubawa.
“Ini semua buku-buku Anda,” balasku kikuk. Jujur aku gugup Kau menyapaku terlebih dahulu.
“Benarkah?” Jari-jemariMu dengan tulang-tulang yang menonjol meraba sampul buku terdepan yang kutaruh di meja tempatMu duduk berhadapan dengan penggemar-penggemarmu yang berbaris rapi. Buku pertamaMu yang pertama kali kubaca.
“Ini buku pertama Anda, buku kesukaanku.” aku menyentuh sedikit buku tipis yang sampulnya sudah cukup lecek. Buku-bukuMu sudah kuurutkan dari buku pertama sampai yang terakhir terbit.
Kau terdiam menatap sampul buku berwarna putih dengan gambar dua anak perempuan yang sedang lompat di atas tempat tidur. Lalu, jelas sekali terlihat pikiranMu meninggalkan aku yang sedang dihadapanMu dan berpuluh-puluh orang yang mengantri di belakangku. Mungkin kau melayang ke hari-hari ketika Kau sedang menulis buku pertamamu atau mungkin ke hari pertama buku pertamaMu diterbitkan atau mungkin ke hari di mana Kau dibuat terkesan oleh dua orang anak perempuan sehingga Kau putuskan untuk Kau tulis ke dalam buku pertamaMu atau… Entahlah, siapa pula yang bisa menyelami pikiran manusia. Tapi aku tahu pikiranmu berkelana jauh sekali.
Diammu terhenti ketika seorang juru potret memanggilMu dan aku untuk difoto bersama. Segera Kau memasang senyum, yang menurutku sangat manis, dan mengingatkanku pada seseorang. Akupun tertular senyummu dan kuberikan senyumku yang paling manis kepada juru potret yang menjepret foto kita beberapa kali.
Kau kembali kepadaku. Aku merasakan ketertarikanMu padaku terlihat jelas karena setumpuk bukuMu yang kubawa.
“Berapa umurmu sekarang?” Jemarimu yang menurutku sangat ramping dan mungil mulai membuka sampul buku pertamaMu dan menggoreskan penaMu di atasnya.
Aku terdiam. Ada dua pilihan, menjawab langsung pertanyaanmu atau menanyakan mengapa Kau bertanya demikian. Aku memilih yang pertama. Rasanya tidak ada alasan aku untuk tidak segera menjawabku. PertanyaanMu sederhana walau membingungkanku.
 “Dua puluh lima,” jawabku dengan suara pelan.
Kau berhenti menorehkan penamu ke bukuku, ah tidak, bukuMu. Dan tersenyum. Kehangatan mengaliri tubuhku perlahan-lahan. Aku balas tersenyum. Malu-malu.
“Sudah berapa lama cerita-ceritaku menemanimu?”
Pelan-pelan senyumku terhenti. Giliran aku yang meninggalkanMu.
*
            Sore itu hanya ada aku dan Nena di teras belakang. Aku sedang duduk bermalas-malasan di kursi goyang milik Nena sedangkan Nena menyirami semak bunga melati kesayanganku dengan teko siram warna merah jambu. Miaw, yang lebih sering kupanggil Mimi, kucing kampung berbulu putih milik Pippa yang katanya usianya sebaya denganku sedang bermanja-manja di pangkuanku, menikmati elusan jemariku yang sesekali mampir ke badannya yang berbulu lebat karena selalu diberi makanan khusus kucing oleh Pippa. Angin sepoi-sepoi menggerakkan dedaunan pada ranting pohon Angsana yang suka kupanjat sepulang sekolah. Hari minggu sore memang paling nyaman untuk bermalas-malasan.
            Aku sudah hampir jatuh tertidur ketika kudengar namaku dipanggil oleh suara yang kurasa belum pernah kudengar sebelumnya.
            “Aruna?” Ada suara yang tidak kukenal memanggil namaku, atau mungkin menanyakan apakah aku benar Aruna yang dimaksud olehnya.
            Aku membuka mata perlahan dan ada sosok perempuan yang tidak kukenal membungkuk berpegangan dengan tangan kursi goyang milik Nena.
            “Melati!”
            Aku kebingungan. Perempuan itu memanggil namaku dan Nena memanggil nama perempuan itu. Ya kupikir Melati adalah namanya karena jelas bukan nama bunga yang sedang disiraminya yang dimaksud Nena. Kalau iya, mengapa Nena sampai berteriak menyebutkan nama Melati.
            Perempuan itu, yang rupanya benar bernama Melati menoleh ke arah Nena yang masih berada di dekat semak bunga yang namanya sama dengan namanya. Ia hanya sebentar menoleh ke Nena lalu ia kembali menatapku. Kali ini lebih dekat karena ia membungkuk dan berpegangan dengan tangan kursi goyangku. Aku sedikit menggeser dudukku ke sudut kursi untuk menjauhinya. Ia meletakkan satu kantong kertas di pangkuanku
            “Halo, Sayang,” Perempuan itu tiba-tiba mengelus kepalaku. “Kau sudah besar sekali sekarang.”
            Aku menatap matanya lekat-lekat berusaha menilai apa yang dilakukannya dan mengapa ia melakukannya.
            “Melati!” Aku belum pernah mendengar Nena bersuara sekeras itu dan ia pun tergopoh-gopoh menghampiri kami lalu mencengkeram lengan perempuan itu.
            Aku dan perempuan itu sama-sama terkejut. Baginya mungkin cengkeraman Nena terlalu keras dan buatku, belum pernah kulihat Nena segusar itu.
            “Sebentar ya, Una,” Nena selalu memanggilku Una, bukan Runa seperti kebanyakan orang-orang. Melati, perempuan itu, terpaksa berdiri dan mengikuti Nena, tapi ia sempat mengelus pipiku sebelum ia terseret mengikuti Nena dan meninggalkanku dalam kebingungan.
            Pintu teras ditutup dengan setengah dibanting dan kemudian terdengar kasak-kusuk dari dalam. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas suara dari dalam tapi jelas sekali perempuan itu telah membuat Nena marah. Mengapa Nena sampai begitu geram, itu aku tidak tahu.
            Aku beranjak dari dudukku untuk mendekati pintu kaca teras sampai tiba-tiba ada yang terjatuh dari pangkuanku. Kantong kertas milik perempuan itu.
Aku membungkuk dan kuintip isinya. Ada banyak buku di dalamnya. Satu, dua, … Lima buku, aku menghitungnya. Aku keluarkan semua buku dan kulihat satu per satu.
Buku cerita anak-anak. Aku sedang melihat sampulnya satu per satu ketika Nena memanggilku.  
*
            Sikap Nena tetap tidak berubah sejak hari itu tapi kehidupanku yang damai dan tenang sebelumnya berantakan seketika. Kedatangan perempuan yang tidak kukenal yang tiba-tiba memanggilku “sayang” seakan-akan aku kucing kecil kesayangannya, belaian tangan asing yang masih terasa di pipiku sampai beberapa hari sesudahnya, dan buku-buku cerita yang ditinggalkannya telah memunculkan satu demi satu pertanyaan di kepalaku.
            Siapa perempuan itu, siapa Melati? Mengapa namanya sama dengan semak bunga kesayangan Nena? Mengapa ia memanggilku Sayang? Mengapa ia mengatakan aku sudah besar sekali, apakah aku pernah tampak begitu kecil baginya? Mengapa ia membelaiku? Mengapa belaian tangannya begitu membekas di pipiku? Mengapa Nena tidak menyukai kehadirannya?
Mengapa ia meninggalkan banyak buku dan tidak pernah datang untuk mengambilnya?
Mengapa ia tidak pernah datang lagi?
Aku sempat menanyakan siapa perempuan yang ia panggil Melati itu dan Nena mengatakan ia hanya seorang saudara dari jauh yang kebetulan mampir. Ada sesuatu di nada suara Nena yang membuatku tidak ingin bertanya lebih jauh lagi. Lagipula Nena memutuskan untuk memberikan buku-buku yang ditinggalkan perempuan itu untukku. Hah! Itu bagian yang paling kusukai dari kedatangannya di minggu sore waktu itu. Walaupun aku hanya boleh membacanya di hari Minggu ketika libur dan tugas-tugas sekolahku sudah selesai kukerjakan.
Buku-buku yang ditinggalkannya kubaca dengan khidmat dan segera kubaca ulang begitu habis. Bagaimana tidak, hari Minggu yang kulewatkan menjadi begitu menyenangkan dengan pengalaman dan teman-teman baru. Minggu lalu aku meninggalkan rumah Nena dan pergi ke sebuah bukit hijau di mana aku dan kedua teman baruku bermain seluncuran dengan menggunakan kereta ski yang kami temukan di gudang. Lelah bermain kami beristirahat di pinggir sungai dengan menaruh botol-botol susu yang kami bawa ke dalam air sungai supaya menjadi sejuk ketika kami meminumnya. Kapan waktu, aku memetik buah ceri dan menjualnya kepada orang-orang yang lewat dan setelahnya aku lari ke sungai dan menceburkan diri ke airnya yang dingin untuk menghilangkan rasa panas dan keringat di badanku.
Ah, tentu saja. Pada kenyataannya, aku tidak kemana-mana. Aku tetap duduk di kursi goyang milik Pippa dan menonton Nena menyirami taman belakang rumah.
*
Aku tergagap menjawab pertanyaanmu.
            “Mmm,” Aku kebingungan. Sorot matamu yang lembut menatapku dengan sabar tapi kutahu Kau menantikan jawabanku.
            “Beberapa lama kurasa,” Kurasa itu jawaban yang paling sesuai. Aku memaksa seulas senyum muncul di bibirku.
            “Ah, senangnya bisa menemani hari-harimu,” Kau kembali melanjutkan menggoreskan penamu di buku-bukuMu.
            Butuh waktu beberapa lama untukmu menandatangani semua bukumu milikku. Tentu saja, aku satu-satu yang datang dengan koleksi terlengkap sehingga Kau dan para panitia malah ingin berfoto bersamaku. Jelas mereka terlalu berlebihan. Aku malah tidak habis pikir mengapa mereka yang datang hanya membawa dua tiga bukumu, paling banyak sepuluh, yaitu yang dibawa gadis berambut panjang yang duduk di belakangku. Kupikir orang-orang yang datang tidak terlalu menganggap acara peluncuran buku ini serius. Hanya aku yang memberikan penghargaan tertinggi padaMu.
*


Hari ini sama seperti hari ketika pertama kalinya aku mendapati buku-bukuNya yang ditinggalkan begitu saja oleh seseorang yang namanya sama dengan semak bunga kesayangan Nena, Melati. Sejak pertemuanku denganNya siang tadi, pikiranku terusik menyeretku begitu jauh ke tahun-tahun awal yang bisa kuingat. Kursi goyang Pippa tempatku bermalas-malasan di hari minggu, buku-buku cerita yang menjadi temanku sampai waktu yang cukup lama, dan belaian tangan perempuan bernama Melati yang mendadak kembali kurasakan di pipiku setelah aku bertemu denganNya.
“Sudah berapa lama buku-bukuku menemanimu?” PernyataanNya terus terngiang-ngiang di telingaku. Sudah lama sekali rasanya, selama aku menantikan kedatangan seseorang yang belaian tangannya melekat di pipiku yang rasa hangatnya tak juga pupus sampai detik ini.

***
Read More

Kamis, 19 Juli 2018

- Leave a Comment

Stockholm

Ruang laboratorium yang dingin. Dengungan suara mesin pendingin yang memancarkan hawa hangat dari bagian belakangnya. Kabel-kabel yang menjuntai di bawah meja. Tumpukan kertas-kertas dengan grafik-grafik yang rumit. Kutarik kursi, duduk menghadap meja kerjamu yang kosong. Percakapan terakhir kembali terngiang. "Sekarang apa lagi? tanyaku gusar. Kamu sudah berhasil menemukan teknologi untuk menyimpan gambar berformat GIF dalam DNA dari sel hidup yang bisa menjadi perekam data molekuler dan dapat singgah di sel hidup."


Read More

Kamis, 07 Juni 2018

- Leave a Comment

Baja Hitam Tangan Satu

Oleh: Apendi 
Ssstt... aku akan menceritakan sebuah rahasia padamu....
   Ayahku adalah seorang Ksatria Baja Hitam! Tapi tidak seperti Kotaro Minami, ia hanya mempunyai sebelah tangan untuk berubah wujud. Dan karena itu, ibu marah besar sewaktu ayah memutuskan mencicil belalang tempur agar dapat memudahkannya menyelamatkan dunia.
   “Untuk makan saja sudah susah!” tegur ibu. “Mana sanggup kau bayar motor itu?”
   Akan tetapi, ayah tetap ngotot membeli belalang tempur karena sudah terlanjur jatuh cinta pada motor itu.
   “Semua laki-laki apalagi seorang pahlawan membutuhkan sebuah motor!” tegas ayah pada ibu, meskipun aku tahu ia menitipkan pesan padaku untuk aku ingat.
   “Kau cuma punya sebelah tangan! Kau pikir siapa yang mau jadi penumpangmu?” bentak ibu.
   “Lihat saja nanti! Pasti ada orang yang membutuhkan pertolonganku!”
   Ibu mendengus kesal dan tidak mau berbicara pada ayah selama tiga hari. Setiap pagi, ayah mangkal di lampu merah untuk mencari penumpang. Tukang ojek di sana biasanya tidak begitu bersahabat terhadap pesaing baru, tapi karena ayah hanya mempunyai sebelah lengan, mereka menaruh simpati padanya -- walaupun ada juga yang mengejeknya dan menganggap ayah sudah gila.
   Sedikit banyak, ada saja orang-orang yang bosan hidup dan memilih ayah untuk mengantarkan mereka ke tempat tujuan. Ayah mengerjakan tugasnya dengan baik dan hati-hati. Rasa cemas para penumpang ayah mulai berkurang dan mereka pun menjadi langganan tetap.
   Tentu saja ayah pernah diberhentikan beberapa kali untuk diperiksa kelayakan SIM dan STNK-nya. Pak polisi yang menghentikan ayah merasa takjub, ngeri, dan khawatir. Namun mereka tak tega untuk meminta “uang rokok” bahkan seandainya ayah melanggar salah satu dari peraturan lalu lintas.
   Ayah bercerita bahwa ia dan penumpangnya sering menjadi pusat perhatian di setiap lampu merah maupun di jalanan. Mata-mata menyelidik, tatapan kagum, dan debar jantung pengendara motor lainnya telah menjadi santapan ayah sehari-hari.
   Ayah menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang yang ditemuinya. Para pengendara motor lainnya menjadi lebih tertib dan sabar ketika berpapasan dengan ayah. Mereka tidak berani mengklakson, apalagi menyalib ayah. Seandainya terjadi tabrakan, para pengguna jalan akan menyalahkan siapa saja selain ayah. Bahkan mobil polisi dan ambulans pun memberikan jalan pada ayah dan belalang tempur.
***
   Aku ingin sekali menaiki belalang tempur dan ayah telah berjanji bahwa suatu hari ia akan memboncengku. Mendengar janji itu, ibu marah-marah pada ayah.
   “Aku tidak mengizinkan kau membawa anakku! Kau sudah gila? Bagaimana kalau terjadi apa-apa?”
   “Tidak akan terjadi apa-apa, Bu. Hidup mati di tangan Tuhan! Lha, orang sehat saja bisa jantungan dan mati,” bujuk ayah.
   “Tidak, tidak, tidak. Pokoknya tidak!” kata ibu bersikeras.
   Ayah tidak berkata apa-apa lagi karena telah memahami sifat ibu. Aku ngambek pada ibu dan bolos sekolah keesokan harinya. Ibu memukulku. Malamnya, ayah pulang dan dalam keadaan lelah ia berjanji akan membelikanku sepeda.
   “Aku tidak mau sepeda. Aku mau belalang tempur!”
   “Iya, tapi kau harus belajar mengendarai sepeda dulu baru bisa mengendarai belalang tempur.”
   Aku mendongak dan menatap ayah. “Kapan ayah mengajakku naik belalang tempur?”
   Ayah menghela napas. “Kau harus tanyakan pada ibumu.”
***
   Pendapatan ayah setelah mempunyai belalang tempur jauh lebih baik daripada ketika memulung botol-botol plastik. Kami sekeluarga dapat makan daging seminggu sekali dengan teratur dan ibu dapat mencicil utangnya di warung. Sikap ibu terhadap ayah pun mulai berubah. Dengan enggan, ibu terpaksa menyetujui pekerjaan baru ayah walaupun masih merasa cemas dengan kondisi ayah.
   Kecemasan ibu beralasan. Suatu hari, seorang penumpang merampok ayah! Ayah telah melawan sekuat tenaga namun tetap kalah. Ia pulang dalam keadaan sedih, kecewa, dan terluka. Ibu mengelus dada. Kecemasannya menguncup menjadi perasaan lega. Ibu bersyukur kalau ayah hanya mendapati lecet-lecet kecil. Tidak terluka parah apalagi sampai meninggal.
   Ayah menggebrak meja dan membentak ibu. Musibah baru saja terjadi kenapa malah bersyukur! Ibu menjawab: Kau masih dapat teriak? Baguslah!
   Ibu lalu pergi meninggalkan ayah ke dapur untuk menghindari perdebatan lebih lanjut. Aku berdiri di pintu kamarku dan mengawasi ayah takut-takut. Belum pernah aku melihat ayah seperti ini. Ia sedang dalam keadaan kacau, terpuruk, dan menderita kekalahan hebat. Sedikit-banyak aku rasa aku mengerti perasaan ayah. Jika ayah membelikanku sepeda dan anak yang lebih besar menginginkan dan berusaha mencurinya dariku, dan lalu aku tak bisa mencegahnya, kukira perasaanku akan sama seperti perasaan ayah. Sedih — bukan karena kehilangan sepeda itu — melainkan karena aku tidak mampu melindunginya. Dan sepedaku tahu hal itu. Begitu pun dengan belalang tempur. Ia tahu kalau ayah tidak mampu melindunginya.
   Ayah melihatku dan memanggilku ke dalam pangkuannya.
   “Nak, kamu tahu kan, kalau ayah sudah berusaha mencegahnya?” ayah berusaha membela diri. Mungkin ada sesuatu di dalam tatapanku yang membuatnya berkata seperti itu.
   Aku mengangguk. “Tidak apa-apa, Yah! Nanti belalang tempur pasti bisa mencari jalan pulang sendiri.”
   Ayah tersenyum kecut. “Mungkin. Tapi mungkin juga ia menunggu diselamatkan ayah!”
   Aku mendongak dan menatap ayah dengan ternganga. Kalau begitu kejadiannya, aku tidak akan pernah bisa melihat belalang tempur lagi.
   “Monster yang dikirimkan Kapten Jack sungguh kuat. Ayah telah memakai tendangan maut tapi monster itu tidak bisa mati.”
   “Ayah juga memakai pukulan maut?” tanyaku spontan.
   “Ya.”
   “Bagaimana dengan pedang matahari?”
   Ayah ternganga dan sorot matanya tampak seperti baru teringat akan sesuatu. Ah, ayah pasti lupa memakainya lagi!
***

Read More

Selasa, 10 April 2018

- Leave a Comment

Secangkir Kisah



Secangkir kopi. Meja. Tersisa. Bangun. Lupa. Dingin kopi. Tersisa. Poster-poster. Anti korupsi. Hentikan kekerasan. Lawan tirani informasi. Stop utang luar negeri. Hentikan kekerasan dalam rumah tangga. Kembalikan tanah kami. Freedom. Dilarang merokok. Stop illegal logging. Tanah untuk rakyat. Gunakan kondom. Berhenti merokok.
Secangkir kopi. Meja. Tersisa. Bangun. Lupa. Dingin kopi. Tersisa. Kampus. Dosen. Mahasiswi. Mahasiswa. Nyontek. Ngobrol di waktu kuliah. Dosen mara-marah. IPK. Papan tulis. OHP. LCD. Microphone. Bangku-bangku. Mengantuk. Tidur di kelas. Diusir dari kelas. Bengong. Pacaran di kelas.
Tembok lelah. Bersisi grafiti. Ini aku. Merdeka. Kupu-kupu. Cat. Pilox. Warna-warni. Nomor. Awas masih basah. Petunjuk penggunaan. Semprotkan. Dicampur dengan air. Diaduk. Lalu oleskan pada tembok. Gambar sesuka hati. Gambar mengikuti pola. Komposisi warna. Pelangi warna. Satu warna. Cat habis. Pilox habis. Imajinasi buntu. Merokok. Hisap dalam. Hembuskan.
Kopi gelas. Krim. Susu. Kamu. Entah. Gula. Meja tamu. Televisi. Handphone. Berita. Koran. Infoteinment. Kawin lagi. Cerai lagi. Buku. Puisi. Cerita pendek. Rindu. Lupa. Air panas. Bergelembung. Mendidih. Menuangkan. Keripik. Makanan ringan. Cemilan. Laptop. Kuharap. Akses internet.
Pemandangan setengah tembok. Duduk berdua. Di bangku depan. Pemandangan tembok. Tak peduli. Pemandangan tembok. Penuh grafiti. Aku setengah mabuk. Menatapmu. Menatap tembok. Menatap grafiti. Menatap kedalam matamu. Menatap tembok lagi. menatap grafiti lagi. Lagi-lagi ke dalam matamu.
Pohon beringin. Air mancur. Gedung kuliah. Ruang akademik. Ruang kemahasiswaan. Tempat pembayaran SPP. Sekretariat kemahasiswaan. Sekeretariat kemahasiswaan yang digusur. Tidak mempunyai sekretariat. Bangku-bangku berantakan. Renovasi gedung. Renovasi yang terhambat. Dana pembangunan. Berjalan tersendat-sendat.
Pakai komputer tidak bayar. Jasa akademik tidak bayar. Parkir gratis. Hilang motor. Motor dipinjam. Parkir penuh. Jam istirahat. Makan siang. Secangkir kopi. Batagor. Nasi uduk. Soto. Nasi sayur. Gorengan. Parkir penuh. Minta tanda tangan. Memalsukan tanda tangan. Tanda tangan atas nama. Mengantri tanda tangan. Tidak bertemu penanda tangan.
Toilet kampus. Corat-coret. Kran air tidak lancar. Tidak ada air. Bau pesing. Mengetuk pintu. Menggedor. Tidak tahan. Bergantian. Kencing. Berdiri. Kencing. Jongkok. Membasuh. Mengelap. Selangkangan. Lega. Ember. Gayung. Belah. Penampung air. Bak mandi. Pengap.
Keluar. Jalan. Tanah. Becek. Aspal. Sisa hujan. Dingin. Panas. Mobil. Motor. Angkutan kota. Halte. Warung makan. Kios koran. Berita. Tulisan. Fotocopy. Penjilidan. Cetak foto. Perumahan. Preman. Jatah. Satpam. Batuk-batuk. Asap knalpot. Suara mesin. Tape di angkutan kota. Alunan disko. Polisi tidur. Pembatas jalan. Zebra cros. Rumah kosong. Ban bocor. Ban menggelinding.
Tanah lapang. Layang-layang. Sepakbola. Berlari-lari. Bola. Anak-anak. Kiper-kiperan. Oper-operan. Bola plastik. Tanah merah. Tanah rumput. Pemain bola. Kiper. Wasit. Anak gawang. Gawang. Gol. Penalti. Gol bunuh diri. Aih. Suporter. Bonek. Nekad. Berantem. Melempari pemain. Menyoraki lawan. Rusuh. Tenang. Bersemangat. Bersorak-sorai. Gol.
Taman. Bunga. Pohon. Tempat duduk. Rindang. Kamu. Lewat saja. Pedagang asongan. Pedagang kaki lima. Becak. Ojek. Spanduk. Baliho. Pengumuman. Jagalah kebersihan. Nama-nama pohon. Puisi. Corat-coret. Berdua-duaan. Beramai-ramai. Sendiri saja. Tempat sampah.
Mall. Parkir motor. Parkir mobil. Jalan kaki. Nongkrong. Toko kaset. Baju-baju. Trendi. Fast food. Eskalator. Kios-kios. Gerai-gerai. Distro. Fashionable. Iklan. Penawaran-penawaran. Beli tidak ya. Diskon. Big sale. Off to 50%. Banyak barang. Keramik. Guci. Lukisan. Fashion show. Kuis. Pertunjukkan sirkus. Band. Rahasia modern. Mall. Ingin tetap cantik. Mall. Ingin gaul. Mall. Ingin gaya. Mall. Pokoknya mall. Huh.
Billiar. Bowling. Stik. Bola. Berempat. Berdua. Sendiri. Biliar. Bowling. Bola. Menggelinding. Bergantian. Bola masuk. Musik disko. menghentak-hentak. Malam selalu terang. Olah raga. Billiar. Bowling. Bergiliran. Masukkan bola. Bola kecil. Bola besar. Keras. Masukkan. Tembakkan arah. Perhitungan posisi. Strategi jitu.
Dugem. Oh tidak. Menari-nari. Minum-minum. Party. Tengok sana. Tengok sini. Oh tidak. Menari bahagia. Sedikit mabuk. Mabuk. Ah. Melantur.
Pasar tradisional. Ramai. Becek. Terjangkau. Dekat. Hampir bangkrut. Jajanan tradisional. Jajanan murah. Bergandengan tangan. Pedagang. Pembeli. Timbangan. Kuli. Tukang ikan. Tukang kue. Tukang sayur. Tukang bumbu. Pasar murah. Pasar subuh. Pasar senin sampai minggu. Pengangkut sayuran. Sampah-sampah. Dari pagi hingga lelap.
Tempat kampanye. Tempat Pemungutan Suara. Janji-janji manis. Oposisi. Golput. Massa mengambang. Kehilangan hak pilih. Coblos ulang. Sengketa politik. Penarikan dukungan. Kontrak politik. Pemberian dukungan. Koalisi. Korupsi politik. Serangan fajar. Pelanggaran pemilihan. Curi Start. Manuver politik. Pencalonan. Dicalonkan. Musik dangdut. Arak-arakan. Pawai. Penghitungan cepat.
Komputer. Keyboard. Mouse. CPU. Monitor. Stabilizer. Harddisc. CD Room. Mainboard. Flasdisc. Kabel data. Komputer rakitan. Laptop. Note book. Prosesor. Flopy. Booting. Sistem operasi. Sofware bajakan. Program pengolah data. Mengetik. Menatap layar. DVD RW. ebook. Email. Mailing list. Power suply. Speaker. Hacker. Spammer. Carder. Trojan. Cracker. Wormer. Brontok. Hallo roro.
Bagaimana. Jalan. Rehat. Cuci mata. Berendam. Musik pop mengalun. Berkhayal. Berpikir. Tidur-tiduran. Berjalan-jalan. Musik jazz. Hujan. Angin. Menatap jendela. Basah. Kopi. Susu. Gula. Pelangi.
Secangkir kopi. Meja. Tersisa. Bangun. Lupa. Dingin kopi. Tersisa. Poster-poster. Anti korupsi. Hentikan kekerasan. Lawan tirani informasi. Stop utang luar negeri. Hentikan kekerasan dalam rumah tangga. Kembalikan tanah kami. Freedom. Dilarang merokok. Stop illegal logging. Tanah untuk rakyat. Gunakan kondom. Berhenti merokok.
Tembok lelah. Bersisi grafiti. Ini aku. Merdeka. Kupu-kupu. Cat. Pilox. Warna-warni. Nomor. Awas masih basah. Petunjuk penggunaan. Semprotkan. Dicampur dengan air. Diaduk. Lalu oleskan pada tembok. Gambar sesuka hati. Gambar mengikuti pola. Komposisi warna. Pelangi warna. Satu warna. Cat habis. Pilox habis. Imajinasi buntu. Merokok. Hisap dalam. Hembuskan.
Keluar. Jalan. Tanah. Becek. Aspal. Sisa hujan. Dingin. Panas. Mobil. Motor. Angkutan kota. Halte. Warung makan. Kios koran. Berita. Tulisan. Fotocopy. Penjilidan. Cetak foto. Perumahan. Preman. Jatah. Satpam. Batuk-batuk. Asap knalpot. Suara mesin. Tape di angkutan kota. Alunan disko. Polisi tidur. Pembatas jalan. Zebra cros. Rumah kosong. Ban bocor. Ban menggelinding.
Orasi. Bergantian. Jalan. Panas. Imperialisme. Perlawanan. Stop diskriminasi. Kesetaraan. Perubahan. Spanduk. Megaphone. Angkat tangan yang tinggi. Teriakkan yang lantang. Orasi. Bergantian. Berbaris. Berjalan. Rapi. Selebaran-selebaran. Tuntutan-tuntutan.
Baca puisi. Bergiliran. Puisi sendiri. Puisi orang lain. Puisi baru saja dibuat. Puisi sudah lama dibuat. Taman budaya. Di mana saja. Baca puisi. Di internet. Baca puisi. Lomba baca puisi. Lomba tulis puisi. Baca puisi bergiliran. Deklamasi. Sajak. Gurindam. Asmarandana. Pantun. Puisi modern. Sajak. Syair. Musikalisasi puisi. Dramatisasi puisi. Kritik puisi. Puisi.
Pemandangan setengah tembok. Duduk berdua. Di bangku depan. Pemandangan tembok. Tak peduli. Pemandangan tembok. Penuh grafiti. Aku setengah mabuk. Menatapmu. Menatap tembok. Menatap grafiti. Menatap kedalam matamu. Menatap tembok lagi. menatap grafiti lagi. Lagi-lagi ke dalam matamu.
Seminar. Ujian komprehensif. Wisuda. Toga. Foto-foto. Gedung serba guna. Musik. Makan-makan. Ijazah. Sarjana. Salam-salam. Peluk-pelukkan. Pesan-pesan Rektor. Kesan-kesan di kampus.
Malam. Gelap. Tidur. Gelisah. Main kartu. Menghitung jam. Menghitung kalender. Obat tidur. Membaca buku. Menghitung-hitung kambing. Mondar-mandir. Kopi. Susu. Gula. Rebahan di sofa. Kembali ke kamar. Enggan menatap televisi. Sudah malam. Belum tidur. Gelap. Tidur. Gelisah.
Pengangguran. Pencurian. Pencurian dengan pemberatan. Pemalakan. Penjambretan. Penggelapan. Penipuan. Perzinahan. Penghasutan. Pencemaran nama baik. Penganiyayaan. Pembunuhan. Pembunuhan berencana. Perusakan. Pemusnahan. Percobaan kejahatan. Pornografi. Pemerkosaan. Pencabulan. Korupsi. Teroris. Kejahatan terhadap kemanusiaan. Genocide. Penghilangan paksa. Penjahat perang. Pelanggaran HAM berat.
Mall. Bola-bola. Kampus. Taman. Makan. Kamar. Dugem. Poster. Tembok.
Malam. Gelap. Tidur. Gelisah. Main kartu. Menghitung jam. Menghitung kalender. Obat tidur. Membaca buku. Menghitung-hitung kambing. Mondar-mandir. Kopi. Susu. Gula. Rebahan di sofa. Kembali ke kamar. Enggan menatap televisi. Sudah malam. Belum tidur. Gelap. Tidur. Gelisah.
Sosialisme. Komunisme. Liberalisme. Fasisme. Nazisme. Primordialisme. Nasionalisme. Humanisme. Kapitalisme. Animalisme. Ekologisme. Materialisme. Idealisme. Postmodernisme. Poststrukturalisme. Feminisme. Postkolonialisme. Neoliberalisme. Fundamentalisme. Anarkisme.
Secangkir kopi. Meja. Tersisa. Bangun. Lupa. Dingin kopi. Tersisa secangkir kopi.
Malam. Gelap. Tidur. Gelisah. Main kartu. Menghitung jam. Menghitung kalender. Obat tidur. Membaca buku. Menghitung-hitung kambing. Mondar-mandir. Kopi. Susu. Gula. Rebahan di sofa. Kembali ke kamar. Enggan menatap televisi. Sudah malam. Belum tidur. Gelap. Tidur. Gelisah.

Read More

Senin, 26 Februari 2018

- Leave a Comment

Elegi Cinta untuk Dewi



Dewa telah memetik jutaan bintang dari Bima Sakti, mencuri pelangi dari para bidadari, dan mengambil langit dari bumi. Tak ada alasan lain, semua dilakukannya untuk Dewi. Karena bagi Dewi, bintang itu indah, pelangi itu memesona, dan langit... ah, Dewa tak tahu kenapa Dewi menyukai langit. Namun Dewa tahu, jika dia mampu memberikan semua itu, di mata Dewi, Dewa akan lebih indah dari pelangi, lebih memesona dari pelangi, dan lebih megah dari langit. Ya, hanya jika Dewi adalah dewi.

***

Butuh waktu dua tahun untuk Dewa agar bisa benar-benar mengungkapkan perasaannya kepada Dewi, seorang gadis manis dan ramah di kampus. Dewi memang tak secantik Isyana atau Raisa, namun keramahan dan senyum manisnya membuat Dewi selalu memiliki kamar kos di hati para pria.

Kamar kos? Ya, kira-kira begitulah hati pria. Layaknya kamar kos, setiap ada kamar yang kosong, maka akan selalu ada penghuni baru di dalamnya. Namun tidak untuk Dewi. Jika hati seorang pria telah terisi olehnya, maka sulit untuk mengusirnya. Tidak hanya memenuhi hati, tapi juga pikiran.

Hal itulah yang dirasakan Dewa. Dia telah menaruh hati sejak pertama duduk bersebelahan di salah satu mata kuliah. Dewi meminjamkannya pulpen, yang diserahkan lengkap dengan senyum manis. Senyum yang dihiasi gigi gingsul itu, sukses membuat Dewa meleleh. Sejak saat itu, dia berambisi untuk dapat menaklukkan hati Dewi.

Pernah suatu ketika, Dewa tak sengaja mendengar percakapan Dewi dengan teman-temannya. Dewi merasa tak seberuntung teman-temannya yang kerap mendapat kejutan romantis. Dia tak pernah merasakan betapa senangnya diberi cincin dan seikat bunga. Dewa tersenyum. Dia merasa ini adalah anugerah dari Tuhan.

Waktu memang tak pernah berhenti mengalir, seminggu setelah percakapan itu, Dewi menemukan sebuah kotak kecil berwarna merah di tasnya. Dia membukanya. Ada sebuah cincin dan selembar kertas di dalamnya.

“Terimalah.
Aku telah menolak banyak bidadari yang memohon untuk memakai cincin ini. Mengapa? Karena aku tahu, bidadari itu tidak pantas memakai cincin ini.
Ambilah, hanya kau yang pantas memakainya.”

***

Tidak hanya satu, tapi puluhan pria yang berakhir menjadi teman setelah mengungkapkan isi hatinya kepada Dewi. Sejauh yang Dewa tahu, belum ada satu pun pria yang sukses membuat Dewi menyerah dan merebahkan tubuh di pelukan pria. Itu artinya, Dewi benar-benar belum tersentuh oleh tangan seorang pria yang ingin memilikinya. Dewa semakin tertantang.

“Bagus sekali kalungmu, Nad,” kata Dewi kepada seorang temannya.

“Tentu saja! Ini pemberian pacarku. Dan ini nggak mudah mendapatkannya. Batu alam ini masih sangat langka di sini. Lihat,” kata Nadia sambil menunjukkan liontinnya kepada Dewi. Dewi tersenyum sambil memegang-megang kalung itu.

Dewa tahu apa yang harus dilakukan. Tiga hari kemudian, dia memberikan sebuah kalung indah dari batuan alam yang dironce sedemikian apik hingga membuat hampir semua wanita tergoda untuk memilikinya.

“Dew, aku punya sesuatu untukmu,” kata Dewa menghampiri Dewi. “Ini, pakailah. Kau pasti akan terlihat cantik,” katanya sambil menyerahkan kalung itu.

“Untukku?”

“Ya, ambillah.”

“Terima kasih,” ucap Dewi datar.

***

“Dew, ini untukmu,” kata Dewa sambil menyerahkan sebuah mawar biru.

“Mawar biru? Dari mana kau tahu aku sangat menginginkan ini? Mawar ini sangat langka di dunia,” ucap Dewi terkejut.

“Aku tahu. Aku selalu memperhatikanmu. Aku mencarinya khusus untukmu.”

“Untukku? Mengapa?”

Dewa merasa, inilah waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya.

“Karena aku mencintaimu, tentunya.”

Dewi terdiam. Kini dia menatap Dewa. Mawarnya masih tergenggam erat di tangannya.

“Kau tahu, cincin yang kau temukan dalam tasmu?” tanya Dewa kemudian.

Dewi mencoba mengingat, tak lama kemudian, dia mengangguk.

“Itu dariku,” kata Dewa. “Kalung istimewa yang kuberikan padamu waktu itu, itu juga khusus kucarikan untukmu.”

“Kau berikan semua itu hanya karena kau mencintaiku?” tanya Dewi.

“Ya,” jawab Dewa mantap.

“Aku bukan barang yang bisa kau dapatkan dengan harga tertinggi.”

“Tidak, bukan itu maksudku.”

“Seandainya kau tidak mencintaiku, apa kau akan menarik simpatiku?”

Dewa terdiam.

“Aku hanya memberikan apa yang kau inginkan,” katanya kemudian.

“Agar kau bisa jadi yang kuinginkan?” tanya Dewi sambil menatap tajam ke arah Dewa.

Dewa tak mampu menjawab. Dia tak tahu apa yang harus dilakukan. Menurutnya, ini adalah cara terbaik untuk mendapatkan seorang wanita. Dia salah. Dia berakhir sama seperti pria lainnya. Hanya sebagai teman, tidak lebih. Perjuangan dan penantiannya selama dua tahun, tak berbeda hasilnya dengan perjuangan pria yang mendekati Dewi hanya dalam waktu dua hari; sia-sia.

***

Dua bulan kemudian, Dewa melihat Dewi dijemput oleh seseorang sepulang kuliah. “Beruntung benar orang itu,” batin Dewa. Padahal, dari apa yang dia lihat, dirinya tak jauh berbeda dengan orang itu. Dia punya motor yang juga bisa membuatnya terlihat gagah di mata para wanita.

Namun ada hal lain yang membuat Dewa mengerti mengapa dia tak bisa memiliki Dewi. Ya, dia mengerti begitu orang itu membuka helmnya dan mencium kening Dewi. Bukan karena Dewa kalah kaya atau tampan dengan orang itu, tapi hanya karena Dewa tak punya buah dada!


Karangmulya,
Februari 2018

*gambar diambil dari sini
Read More