Rabu, 17 Oktober 2018

- Leave a Comment

Tai Kabagat Koat (1)


Cahaya keemasan itu menarik perhatian Sakai. Bukan pertanda senja, bukan pula pantulan cahaya matahari dari air laut bening di hadapannya. Cahaya itu berasal dari sesuatu. Angin laut seperti menghembuskan cahaya itu ke matanya. Pandangan Sakai menyipit.
            Sakai meletakkan tali pengait perahunya. Dia berlari ke garis pantai. Ombak tiba-tiba menghempas sangat kencang. Gemuruh angin jadi semakin ribut. Sakai langsung mengambil perahu mesin dan mendorongnya ke air. Ia menyalakan mesin dan berlayar di antara ombak yang tampaknya makin ganas mengempas ke garis pantai.
            "Sakai! Balik. Cuaca buruk!" teriak seorang laki-laki tua yang hanya mengenakan celana pendek lusuh dan kain sarung tersandang di bahunya.
            "Oi, Sakai!"
            Gelombang laut semakin tinggi. Sakai tak menghiraukan panggilan orangtuanya dan beberapa nelayan yang batal melaut. Sakai menerjang ombak dengan perahu kecilnya itu. Kilatan emas semakin kuat berkilau. Sakai ternganga melihat sebuah benda bulat besar, berkali-kali lipat ukuran badannya menyembur di permukaan laut.
            "Emas?" tanya Sakai pada dirinya sendiri.
            Sakai melihat ke belakang ke arah garis pantai. Dia sudah berlayar sekitar dua kilometer dari pantai. Terbersit ragu di benaknya, antara ingin balik atau meneruskan perjalanan. Tapi dia sepertinya sudah dekat. Sakai melaju lurus.

Cerpen Tai Kabagat Koat. Image Source: www.jurnaland.com

            Satu hal yang ia lupa, ia belum jadi mengisi bahan bakar untuk perahunya. Mesin mendadak mati ketika ia sudah di kilometer ketiga dari lepas pantai. Sakai mengumpat. Ia masih terhipnotis dengan benda berkilau yang mencuat di tengah laut itu. Kali ini semakin tinggi. Benda bulat itu seperti ada penyangga lebar di kiri-kanannya. Sakai semakin penasaran. Tidak mungkin itu logam biasa. Itu emas. Cuma emas yang tidak akan berkarat di air laut. Atau...
            "Tai Kabagat Koat[1]!!!" teriak Sakai sekencang-kencangnya.
            Sakai mengambil dayung dan ia menjalankan perahunya. Sangat berat. Ada energi yang menahannya melaju. Angin membelokkan perahunya menjauh dari titik semburan logam berkilau itu. Dia mulai panik.
            Sakai melolong ke arah pantai, meminta bantuan. Perahunya terombang-ambing. Ia berdiri. Kini matanya membulat. Ada semacam pusaran besar yang berporos pada benda raksasa itu. Pantulan keemasan memenuhi air laut. Matahari terasa menyengat, ditambah sinar emas dari benda yang menyembul itu. Angin semakin tak terkendali. Sakai mengambil kacamata renang yang disimpan di laci kemudi. Tak ada pilihan lain. Ia harus menyelam.
***

            Sakai, si anak pulau,
            Sakai, si anak malang.
            Sakai berlayar,
            Sakai tak pernah pulang.
           
            Nyanyian pilu ibu Sakai menangisi anaknya tak kembali setelah badai aneh di cuaca cerah.
            Menjelang sore hari, beberapa nelayan dan bapak Sakai berlayar mencari anak 17 tahun itu. Badai tadi siang hanya terjadi sebentar. Mereka tak punya jam untuk menghitung waktu. Tapi cukup mengetahui bahwa badai itu berlangsung dua jam.

***
“Apa itu?”
            Gelembung udara menjalar naik menuju permukaan. Gadis itu sedang berada di kedalaman laut lima belas meter. Ia terus berenang dengan menyandang tabung oksigen di punggungnya. Pemandu diving-nya sedang menabur roti untuk ikan-ikan yang bersembunyi di balik terumbu karang tak jauh darinya. Gadis itu menoleh sekali ke arah pemandu yang tak kunjung menoleh padanya, padahal ia ingin menunjukkan sesuatu yang baru saja ia lihat.
            Ia memeriksa kadar oksigen dan tekanan air pada regulatornya. Setelah dirasa aman, gadis itu menyelam lebih dalam dan lebih jauh dari titik yang ditentukan oleh pemandunya. Dengan lincah ia berenang cepat mendekati satu benda besar di hadapannya. Agak tertutup terumbu karang dan berbagai lumut air. Ikan-ikan mungil tampak berada di sekitar benda itu. Gadis itu melihat ke sekitarnya. Di bawah tubuhnya, warna-warni terumbu karang melambai-lambai padanya. Ada karang yang berbentuk otak manusia dalam ukuran besar. Ia menelusuri dasar laut itu. Tak jauh darinya, di sebelah kanan, ada batas karang, lalu warna air tampak menggelap.
            “Palung? Kenapa tidak ada yang bilang di sekitar laut ini ada palung?” ucap gadis itu dalam hati. 
Ia mencoba bernapas tenang untuk menghemat oksigen. Di sebelah kirinya, benda besar menyentuh karang, bahkan tampak menyatu dengan karang-karang itu. Ada tali berlumut melambai-lambai beberapa meter  di sebelahnya. Gadis itu menggapai tali yang terasa kenyal dengan lendir lumut. Licin. Ia menyeret dirinya menelusuri tali yang rupanya mengarah pada benda besar itu.
Badan kapal. Ini bangkai kapal, batin gadis itu lagi.
Antara ngeri bercampur penasaran, gadis itu berhenti di hadapan yang ia yakini geladak kapal yang posisinya miring sekitar 90 derajat. Ia sadar, waktunya tak cukup untuk menelusuri seluruh badan kapal. Ia berdecak ngeri di balik masker oksigennya. Ini bukan kapal modern. Lumutnya terlalu tebal. Bahkan karang-karang dan ganggang laut sudah tumbuh merdeka menutupi sisi badan kapal. Lumut menggerayangi keseluruhan tiang, pegangan, gagang, dan sudut-sudut lancip di kapal itu.
Gadis itu termenung. Jika boleh menganga, ia pasti sudah melakukannya. Kesunyian menyerangnya. Ia hanya mendengar deru napas sendiri serta gelembung karbon dioksida yang keluar dari selang pembuangan napas. Yang terdengar di telinganya hanya dengung pergerakan air dan tubuhnya.
Sebuah kilasan bayangan tertangkap oleh sudut matanya. Gadis itu menoleh cepat. Hilang. Lalu kilasan itu tampak dari balik badan kapal di hadapannya. Napasnya menderu. Nyaris ia tersedak selang pernapasannya sendiri. Bayangan itu lewat lagi. Kini lebih cepat. Dingin menyergap dadanya.
Ia menoleh ke kiri dan kanan. Kadar kepanikannya bertambah di tengah kadar oksigennya yang menipis. Jempolnya mengacung, berharap pemandunya mengikuti dan membantunya untuk naik ke permukaan. Namun, usahanya sia-sia. Gelembung-gelembung ringan yang keluar dari samping maskernya seperti mengejek. Gelembung itu tampak berlalu ke atasnya sementara ia terlalu dalam terjebak di dekat bangkai kapal itu, berbelas-belas meter bahkan mungkin mencapai lebih dari dua puluh meter di bawah permukaan laut.
Gadis itu mengayuh fin[1]-nya, mendorong ke bawah agar tubuhnya terdorong ke atas. Tangannya mulai mengayuh cepat-cepat. Ia mencoba mengatur napasnya yang mulai berat. Tekanan udara di sini terasa mengikat geraknya. Jantungnya berdegup lebih cepat karena memompa oksigen ke seluruh tubuhnya dengan lebih keras. Ya, tubuhnya butuh lebih banyak kehangatan dari oksigen itu. Dia harus segera mengayuh ke permukaan.
“Jangan panik, Vel!” tegasnya pada diri sendiri.
            Eugh!
            Ada yang melilit kakinya. Mungkin lebih tepatnya menahannya untuk berenang. Dengan gerak refleks, gadis itu menendang. Namun lilitan itu tak lepas. Ia menoleh ke bawah.
            Bukan lilitan tali, rumput, atau sejenisnya. Itu tangan orang. Mata gadis itu membulat. Ia terkejut tapi tak bisa mengerang. Ia menendang-nendang sekuat tenaga untuk melepaskan cengkeraman kuat itu. Pergerakan air membuatnya tak bisa melihat dengan jelas. Gelembung menutupi pandangannya.
            Siapa dia?
            Pandangan gadis itu mengabur. Bayangan itu mendekat. Ia mengenakan goggle yang serupa dengan gadis itu. Secara otomatis, dengan napas yang lemah, gadis itu memberi tatapan memohon pada orang yang mencengkeram tangannya. Ia mengacungkan jempol ke atas pertanda bahwa ia ingin naik. Ia ingin mengisi paru-parunya dengan udara lepas. Rasanya kerongkongannya dingin dan mengering. Ia tahu dan sangat sadar kadar oksigennya tidak akan cukup karena ia sudah terlalu lama menyelam.
            Tubuhnya melemah sementara cengkeraman bayangan itu menguat.

***

            Gadis itu tersedak. Ia perlahan membuka mata. Perutnya terasa mual karena terombang-ambing cukup lama di laut. Angin laut menerpa wajahnya. Dia pun bangun. Suara berisik mesin speedboat mendengung di telinganya. Ia masih mengenakan wetsuit berwarna abu-abu. Fins, goggle, dan tabung oksigen tergeletak di sebelah kakinya.Ia mencari orang yang ia kenal.
            Ini bukan perahuku, pikir gadis itu.
            “Hei, akhirnya bangun juga. Ini minum!” ujar seorang laki-laki berperawakan bule menghampirinya.
            Gadis itu mendongak. Dengan sedikit ragu, ia mengambil sebotol air mineral kemasan dari tangan bule itu.
            I’m Cliff Bauer.”
            “Eng...Saya Vel. Velea Zahida,” balasnya singkat lalu meneguk botol minumannya cepat.
            “Kamu ngapain di bawah sana? Apa yang kamu lakukan tadi itu berbahaya.”
            “Saya...saya hanya menyelam," jawab Vel kebingungan.
            "Kamu hampir mati di bawah tadi. Dan saya lihat tidak ada perahumu di sekitar sini," ucap Cliff santai.
            Vel melihat sekelilingnya. Laut lepas. Tidak ada perahu kecuali speedboat kecil yang ia tumpangi saat ini.
            "Sebenarnya apa yang terjadi, emm... Mr. Bauer?"
            "Cliff. Just call me Cliff."
            "Oh, yeah. Cliff. Saya tadi melihat bayangan gelap."
            Cliff menggeleng sambil tertawa.
            "Kamu sudah menyelam terlalu dalam. Itu area terlarang."
            Vel merasa ada yang salah di sini. Dia sedang berhadapan dengan orang asing yang sangat lancar berbahasa Indonesia. Matanya tertuju pada tato berwujud babi yang tertusuk tombak. Vel bergidik. "Lalu, kenapa Anda bisa menemukan saya? Memang siapa Anda?"
            Cliff menghela napas.
            "Saya sama sepertimu. Hanya berlibur. Saya sudah beberapa kali menyelam di daerah sini. Kebetulan saja saya melihatmu ke arah palung yang seharusnya tidak boleh kita lewati?"
            "Palung? Sebentar. Kalau memang area itu dilarang, kenapa Anda juga ke sana? Berarti Anda tahu ada--"
            "Bangkai kapal? Ya. Saya tahu semuanya," potong Cliff cepat.
            "La...lalu?" tanya Vel ragu-ragu.
            "Itu cuma bangkai kapal. Tak ada istimewanya. Masalahnya hanya kamu terlalu dalam menyelam dan tanpa pengawasan. Saya pastikan, kamu belum dapat lisensi untuk menyelam, bukan? Karena itu kamu hampir mati di dalam sana.
            "Thanks," jawab Vel.
            "You're welcome." Lalu Cliff berdiri untuk mengakhiri percakapan.
            Sementara itu, pikiran Vel masih berkelana. Dia merasa aneh. Sekali lagi matanya menyapu perairan di sekelilingnya. Perahu yang aku sewa serta guide-ku ke mana, ya? pikirnya.

***

Bersambung...



[1] Sebutan untuk roh yang ada di laut yang mereka dewakan dalam Kepercayaan Arat Sabulungan, kepercayaan orang Mentawai.
Read More

Jumat, 28 September 2018

- Leave a Comment

Hari Ketika Lenka Melompat

Oleh: Ronny Mailindra
Malam yang sempurna.
Hall Jakarta Art Exhibition Center malam ini mengulangi kejayaannya—kembali menjamu tamu berkelas. Jika dahulu meneer dan noni Belanda serta bangsawan pribumi yang berpesta, kini politikus, musisi papan atas, pengusaha serta para sosialita menggantikannya. Ruangan itu tersenyum ceria dan musik mengalun menemaninya, berebut peran dengan para pelayan untuk membuat nyaman para tamu.

Delapan meter dari pilar barat ruangan itu, dua pria berjas hitam berdiri memandangi sebuah patung kristal. Benda setinggi seratus sentimeter itu berkilap dan memancarkan bias warna merah muda. Cantik. Cahaya lampu sorot yang sesekali menyambar dari sudut-sudut tertentu membuat benda itu beberapa kali lipat lebih menarik. Rambut berombak, garis wajah yang tegas, dan bahu lebar yang terpahat dengan baik pada patung itu, mirip sekali dengan seorang lelaki yang berdiri di kanan sang patung.

Well, Bapak Tiung, bagaimana pendapat Anda?” pria yang berdiri di kiri patung menyunggingkan senyum diplomasinya yang terkenal: bibir kanan tertarik ke atas, dan alis sebelah kiri terangkat. Senyum itulah yang menjadi andalannya jika sedang menghadapi perdebatan, yang selalu berhasil menggiring lawan bicara sekeras apa pun menjadi sependapat dengannya.
Lawan bicaranyanya memiringkan kepala. “Ternyata saya lebih tampan jika berkilap, Pak Amir,” jawab Tiung Sukmadjati—bintang pesta malam ini.
Amir Sambaliung meledak dalam tawa bangga. 
“Saya senang Bapak menyukainya,” kata Amir.
Dari awal Amir sudah punya firasat bahwa “Pustaka Bunyi Indonesia” akan menjadi lebih dari sekadar acara pengumpulan dana biasa. Tidak, Amir Sambaliung yakin benar ada sesuatu yang bisa dikeruk dari acara ini. Sejak tadi ia sudah mendengar lagu keroncong, salawat, lonceng, bahkan Bengawan Solo dengan kicauan burung kepodang sebagai ganti suara Gesang. Pikiran untuk menjadikan Tiung Sukmajati ikon kampanye partai membuat hatinya dipenuhi rasa gembira.
Amir Sambaliung berdeham.
“Bapak tahu, partai kami sangat peduli pada dunia seni. Kami percaya seni memberikan kontribusi bagi pembentukan mental negeri ini. Orang-orang seperti Bapak lah yang menginspirasi kami. Maka itu kami merasa perlu memberikan penghargaan kecil seperti ini, semoga berkenan,” kata Amir.
Tiung Sukmadjati tersenyum. “ Terima kasih. Kedatangan politisi ulung seperti Anda saja sudah membuat saya tersanjung, Pak.”
“Oh, saya memang sangat mendukung acara seperti ini, Pak Tiung.” Amir langsung menyambar. “Siapa yang akan menyadari negeri ini penuh dengan bebunyian unik, kalau Pustaka Bunyi Indonesia tidak memulainya? Orang sering tidak peduli dengan hal-hal kecil dan remeh seperti ini, yang sepintas terkesan tak berguna sama sekali.”
“Saya senang ada yang memahami pentingnya mendokumentasikan bunyi.” Tiung Sukmajati berkata pendek. Matanya menatap Amir Sambaliung.
Amir Sambaliung tertawa gelisah menyadari nada sinis dalam kalimat Tiung barusan.  

Beberapa meter di depan patung dada Tiung Sukmadjati, orang-orang duduk mengitari meja-meja bulat berlapis kain putih bersih. Mereka makan sambil mengumandangkan tawa basa basi pergaulan. Jenis tawa yang harus dikeluarkan setiap kali ada yang melontarkan lelucon, lucu atau tidak. Piring-piring dengan sejuta sendok garpu (masing-masing untuk jenis makanan yang berbeda; bulat untuk sup, cekung untuk pasta, hanya Tuhan yang tahu bagaimana mengingat semuanya) terhampar di hadapan mereka. Bunga-bunga mawar merah dan lili putih, tempayan-tempayan berisi lilin dalam air tersebar dimana-mana. Para pelayan dengan dasi kupu-kupu hitam sibuk meladeni permintaan tambahan anggur, sampanye, dan saus steak. Aroma daging bakar berbaur dengan harum berbagai jenis parfum yang harga per botolnya bisa membuat pedagang sayur Pasar Jumat terserang stroke mendadak. Denting piring, sendok, dan gelas kaca, berpadu dengan suara klak klok klak klok sepatu-sepatu bagus ketika beradu dengan lantai mengilap, terdengar bagai musik melankolik yang rata.

Amir Sambaliung mengamati ini semua sambil masih memikirkan kata-kata yang tepat untuk menggiring Tiung Sukmadjati pada pokok permasalahan yang diincarnya.
“Jadi, Pak Tiung...”
Kalimat itu terputus. Seorang perempuan cantik bergaun dengan kerah cheongsam dan belahan paha tinggi tergopoh-gopoh menghampiri Tiung. Seorang pria berambut setengah gondrong melangkah bersama perempuan itu. Begitu tiba di samping Tiung, si gadis langsung berkata-kata dengan wajah kesal. 
“Orang ini minta sesi wawancara dengan Bapak. Saya sudah bilang ...”
Tiung Sukmadjati memberi isyarat agar gadis itu berhenti bicara. 
“Tidak apa-apa, Galuh,” kata Tiung.
Pria yang datang bersama perempuan itu tersenyum penuh kemenangan, lantas mengulurkan tangannya.
“Jabar Kamus, Koran Metro Baru," kata pria itu dengan mantap, "saya dengar Anda mendokumentasikan berbagai bunyi yang tak biasa dalam proyek ini, Pak Tiung, termasuk ringkik kuda. Benarkah?”
Tiung membiarkan tangan Jabar tergantung di udara.
“Begini, Pak Jabar,” kata Tiung, “seperti Anda lihat, saya sedang berbincang dengan Bapak Amir Sambaliung, dan saya akan sangat senang jika Anda mau menunggu sampai acara selesai jika ingin mewawancarai saya.”
Wajah si wartawan berubah. “Oh...”
“Anda boleh menunggu sambil menikmati hidangan. Galuh akan menemani Anda.”
Tiung tersenyum, menyentuh bahu Galuh, dan berbisik di telinganya, “Kau bisa menceritakan padanya tentang proyek bunyi ini, darling, atau tentang perjalanan musik selomu.”
Si gadis menunduk dengan muka sedikit merona. Kekesalannya menguap bagaikan alkohol di udara bebas.

Tiga belas meter dari tempat Tiung berdiri, Luisa, istri Tiung, sedang menyesap anggur di gelas kristalnya. 
Ai kagum sekali loh dengan Mas Tiung,” kata seorang wanita yang berada di depan Luisa. “Suami Jeng Luisa ini benar-benar jenius, fantastis!”
Danke schön,” jawab Luisa sambil mengangkat gelasnya. Bias kemerahan muncul, meski sekejap, di pipinya. Lalu seperti sodoran minuman di pesta itu, pujian bertubi-tubi menghampiri Luisa—datang dari para sosialita yang mengelilinginya. Di sela-sela buih pujian, suara tawa terdengar.

Pemandangan pesta itu tak lepas dari pengamatan seorang gadis cantik bergaun biru yang berdiri agak di pojok.
Malam yang sempurna, pikir gadis itu.
“Lenka!”
Gadis itu menoleh. Seorang pemuda tampan menenteng kamera mendekati Lenka. Lelaki itu kemudian mengatakan sesuatu kepada Lenka. Lenka tersenyum. Lenka lalu meyakinkan bahwa malam ini adalah malam yang sempurna.
Mendengar perkataan Lenka, Helong mendesah. Karena tak bisa lagi mendebat Lenka yang sudah membulatkan tekadnya, Helong mundur pun mundur lalu meninggalkan Lenka. Wajah Helong memancarkan keresahan. Setelah beberapa langkah, Helong membalikkan badan untuk melihat Lenka. 
Lenka sedang tersenyum.

****
Komposisi kedelapan belas selesai dimainkan. Sempurna. Beberapa tamu memberikan tepuk tangan. Pada saat itulah terdengar jeritan, mengalahkan riuh tawa dan tepukan tangan. Sepotong tubuh meluncur dari railing lantai lima. Gaun biru yang dikenakan sosok yang meluncur itu berkibar. Seberkas rambut panjang kecoklatan melambai dari puncak kepala. Dengan bunyi berdebam dan suara kaca pecah, tubuh itu terhempas.

Ruangan membeku.
Lalu, jeritan histeris berpadu dengan penyebutan nama Tuhan terdengar. Beberapa orang yang punya nyali lebih, maju untuk melihat hal yang terjadi.

Jabar Kamus, wartawan Koran Metro Baru bergerak, menembus kerumunan, langsung ke sumber hiteria. Saat melihatnya, Jabar mengangkat kedua tangan lalu memegang kepalanya.
“Gusti,” desis Jabar.

Di depan Jabar, seorang gadis bergaun biru tergeletak di lantai yang dingin dan keras. Jatuh dari ketinggian membuat kepalanya hancur separuh. Darah menggenang seperti saus vla diberi pewarna merah pekat di sekitar tengkorak yang remuk, berpadu dengan pecahan mengilap kristal dalam berbagai ukuran.

Musik, pesta kaum borjuis dan mayat seorang gadis. Sempurna, berita yang sempurna, rutuk Jabar sambil membayangkan panjangnya malam yang harus ia lalui. []

####
Catatan penulis:
1. Cerita ini tidak dimasukkan ke dalam novel Lenka. Ini masuk salah satu bagian yang dibuang. Cerita yang masuk dalam novel Lenka jauh lebih bagus dari tulisan ini.
2. Review novel Lenka bisa dilihat di goodreads


Read More