Jumat, 21 September 2018

- Leave a Comment

Puncak


Oleh: Ronny Mailindra

Rianti sedang di puncak. Bagai sedang di puncak gedung tertinggi, sekelilingnya terlihat kecil.Indah, namun berbahaya. Jika entah karena tersebab apa pun ia sampai terjatuh ke bawah, tak akan ada ampun buatnya. Tapi, seperti sedang berada di dalam gedung, setinggi apa pun gedung itu, kita tentu tak akan mudah terjun ke bawah. Ada jendela, pintu, dan pagar yang melindungi. Rianti tahu itu, bahkan sudah memperhitungkannya. Satu-satunya sebab ia bisa terjatuh adalah jika ada yang sengaja mendorongnya keluar. Dan hal itu rasanya sangat tidak mungkin.

Rianti melangkah. Hawa sejuk nan wangi bersemilir menerpanya. Ia melihat pintu kaca di depannya membuka secara otomatis. Lalu kerlip lampu, beraneka ragam barang mewah, dan senyum gadis-gadis cantik menyambut kedatangannya.

Bak ratu, Rianti mengangguk saat melangkah memasuki pusat perbelanjaan mewah itu. Ia tahu para penyambutnya pasti melihat busana serta tas yang menggelayut di lengannya. Dan itu saja sudah cukup untuk memperkenalkan dirinya.
Rianti mengedarkan pandangan. Seorang gadis semampai tampak mendekat, tersenyum, lalu menyodorkan potongan kertas. Rianti mengambil kertas itu lalu menghirupnya. Campuran wangi rempah dan bunga yang tidak ia kenal tercium. Rianti tersenyum, namun menggelengkan kepala dan melanjutkan langkah.

Delapan langkah setelah meninggalkan gerai kosmetik, Rianti mendengar ponselnya bernyanyi. Ia tersenyum melihat nama yang muncul di layar.

“Ya, Pi?” kata Rianti. “Ya, begitu selesai Mami langsung ke sana. Apa? Ah, paling lama dua jam. Oke, see you, darling.”
Bahagianya jadi wanita sukses, pikir Rianti, baru ditinggal sebentar, suami langsung mencari.

Di usia empat puluh lima tahun, banyak perempuan yang mengalami krisis kepercayaan diri. Mereka  mencoba segala cara untuk memermak wajah dan tubuh agar tetap menarik sehingga suami tak melirik ke gadis-gadis muda. Rianti tidak memerlukan hal semacam itu. Ia telah memutuskan untuk memiliki kekuasaan yang diidam-idamkan banyak lelaki. Ia telah menyejajarkan dirinya, bahkan mungkin lebih tinggi, dari suaminya. Itu semua bisa terjadi karena ia pemberani dan sanggup menantang resiko.

Rianti terus melangkah. Setelah melewati etalase yang memajang beraneka ragam tas, serta menahan hasrat untuk menyambar sebuah, Rianti berbelok ke kiri, lalu berjalan menuju pintu keluar, dan mendatangi sebuah toko yang tak akan ia kunjungi jika tidak terpaksa.

Dekat pintu masuk toko itu Rianti berhenti. Di dalam toko tak tampak pakaian, kosmetik, atau barang dagangan apa pun. Hanya ada gerai yang menghadap pintu masuk dan papan elektronik besar yang menampilkan berbagai angka dan simbol mata uang asing.

Di gerai tersebut terlihat tiga orang pegawai sedang melayani: dua orang wanita dan seorang pria. Di sisi kiri ruangan tampak dua baris kursi yang disepuh mengilap. Enam orang duduk di sana, semuanya pria.
Rianti melangkah masuk lalu mengangguk kepada pegawai wanita yang ada di sisi paling kanan gerai. Pegawai itu balas mengangguk dan tersenyum.

“Selamat siang, Bu Rianti. Cantik sekali hari ini. Ada yang bisa dibantu?”
Rianti mengucapkan terima kasih, lalu membuka tas dan mengeluarkan sebuah amplop.
“Dik, bisa proses ini seperti biasa?” kata Rianti sambil menyerahkan amplop itu.
Si Gadis gerai menyambut amplop itu, mengintip isinya, lalu tersenyum.
“Ibu mau dicairkan dalam dolar atau rupiah?”
“Dolar saja seperti biasa. Lama?”
“Sekitar satu jam, Bu.”
Rianti mengangguk lalu membetulkan posisi tasnya. “Oke, saya tinggal dulu kalau begitu.”
“Baik, Bu. Terima kasih.”
Rianti berbalik lalu berjalan ke luar.

Saat Rianti telah dekat pintu keluar, seorang pria yang sedari tadi duduk di kursi dekat gerai sambil membaca koran, tiba-tiba menurunkan korannya dan memperhatikan Rianti. Ketika bokong Rianti melenggang lalu menghilang di balik pintu, pria itu mendekatkan bibirnya ke bahu kanan lalu berbisik.

***
Satu jam kemudian Rianti kembali lagi. Hanya sedikit perubahan di toko itu. Beberapa angka mata uang asing telah berubah dan jumlah orang yang duduk menunggu juga sudah berkurang. Tetapi, jika diperhatikan lebih cermat, ada seorang lelaki yang tetap di sana meski sekarang ia telah mengganti korannya. Namun saat itu detail demikian tidaklah menarik buat Rianti . Begitu memasuki toko, perempuan itu langsung berjalan menuju gerai. Pegawai perempuan yang tadi melayaninya telah tersenyum kepada Rianti .

“Selesai, Dik?” kata Rianti .
Pegawai itu mengangguk lalu menyerahkan sebuah amplop cokelat.
“Sudah, Bu. Fee-nya juga sudah diambil seperti biasa. Mau dihitung?”
Rianti tersenyum, segera mengambil amplop itu dan memasukkannya ke dalam tas, “Ah, tidak perlu. Terima kasih.”

Rianti berbalik lalu berjalan keluar.
Saat Rianti telah berada di pintu keluar, lelaki yang sedari tadi mengamati, berbisik, bangkit, lalu berjalan mengikuti Rianti . Lelaki itu menjaga jaraknya beberapa meter di belakang Rianti .
Rianti terus berjalan menuju pintu keluar, menuju matahari kegembiraan. “Hari ini sungguh indah, semuanya berjalan mulus,” pikir Rianti . Sekarang tinggal berangkat ke hotel tempat suaminya telah menunggu, dan mereka bisa makan malam dengan para petinggi partai. Urusan pencairan uang ini memang agak merepotkan karena harus ia lakukan sendiri. Namun apalah artinya sedikit kerepotan dibandingkan hasilnya. Dan kerepotan hari ini tidak ada apa-apanya dibandingkan saat kampanye dulu. Belum lagi kalau Rianti ingat jumlah uang yang harus ia kucurkan saat itu. Benar-benar bikin jantungan.

Untunglah ia bukan penakut. Rianti tahu sukses besar hanya bisa diraih jika berani mengambil resiko yang besar. Hal itu juga yang ia katakan kepada suaminya. Waktu itu Rianti berhasil menyakinkan suaminya yang penakut itu. Dan keberuntungan memang memihak kepada mereka yang berani.
Prediksi Rianti tidak meleset. Setelah menjadi anggota dewan, proyek-proyek dengan lancar diraup perusahaan suaminya. Dan modal untuk kampanye kemarin dalam sekejap sudah kembali.
Teman-temannya di partai dan dewan memang orang-orang kompeten. Mereka cakap menggunakan pengetahuan untuk kemakmuran bersama. Komisi yang dibayar memakai cek pelawat sungguh praktis. Hidup ini dan negeri ini sungguh menakjubkan. Gemah ripah loh jinawi, pikir Rianti sambil tersenyum dan terus melangkah.

Beberapa langkah sebelum mencapai pintu keluar, Rianti melihat pintu itu membuka. Rianti lalu merasakan hawa panas menerpanya. Pastilah matahari bersinar sangat terik di luar sana. Dan pastilah sangat tersiksa jika harus bekerja keras di bawah terik seperti itu.

“Amit-amit kalau aku harus berpanas-panasan mencari uang,” pikir Rianti .
Beberapa meter di depan, Rianti melihat dua orang pria. Mereka seperti ingin menghalangi jalan Rianti .
Rianti melirik ke kanan. 
Ada satpam sepuluh meter di kanan sana. Sedikit penyesalan terbersit di benak perempuan itu. Harusnya tadi ia membawa supir agar bisa mengawalnya. Tetapi itu juga agak riskan. Rianti tidak ingin pencairan cek hari ini diketahui banyak orang.
Rianti berhenti, lalu menimbang-nimbang untuk berjalan ke arah satpam. Di dalam tasnya ada uang yang jumlahnya cukup untuk membuat orang tega membunuh untuk mendapatkannya.
Kedua pria itu semakin mendekat dan seperti merapatkan kepungan.

Rianti ingin menggertak, tetapi belum sempat bersuara, Rianti mendengar seseorang memanggilnya. Rianti menoleh ke belakang.
Seorang pria tampak mendekatinya.

“Maaf, Bu Rianti ,” kata pria itu memulai pembicaraan sambil menunjukkan tanda pengenalnya.

Rianti menatap benda itu dan berharap sedang berada di gurun pasir, pinggir pantai, atau tempat terik nan panas mana pun asal bukan di mal ini. Di mata Rianti benda itu tampak seperti pistol yang sedang ditodongkan langsung ke kepalanya.
Meski pria itu tidak sedang menyentuh tubuh Rianti , Rianti merasa orang itu sedang mendorongnya ke pinggir gedung.

Rianti mengerjap. Udara terasa semakin panas. Benda di tangan pria itu tampak berkilap diterpa cahaya. Menempel pada benda itu sebuah pahatan burung garuda berwarna merah dan putih dengan tiga huruf besar di bawahnya: KPK.

Rianti gemetar, tas di tangannya terasa begitu berat, dan kini ia merasa sedang terjun dari puncak gedung tertinggi.


-SELESAI-

Penulis: Wahyu Heriyadi

Tulisan lain dari Wahyu Heriyadi

Kenali lebih dekat di sini:

Icon Icon mengumpulkan saja

0 comments:

Posting Komentar