Selasa, 10 April 2018

- Leave a Comment

Secangkir Kisah



Secangkir kopi. Meja. Tersisa. Bangun. Lupa. Dingin kopi. Tersisa. Poster-poster. Anti korupsi. Hentikan kekerasan. Lawan tirani informasi. Stop utang luar negeri. Hentikan kekerasan dalam rumah tangga. Kembalikan tanah kami. Freedom. Dilarang merokok. Stop illegal logging. Tanah untuk rakyat. Gunakan kondom. Berhenti merokok.
Secangkir kopi. Meja. Tersisa. Bangun. Lupa. Dingin kopi. Tersisa. Kampus. Dosen. Mahasiswi. Mahasiswa. Nyontek. Ngobrol di waktu kuliah. Dosen mara-marah. IPK. Papan tulis. OHP. LCD. Microphone. Bangku-bangku. Mengantuk. Tidur di kelas. Diusir dari kelas. Bengong. Pacaran di kelas.
Tembok lelah. Bersisi grafiti. Ini aku. Merdeka. Kupu-kupu. Cat. Pilox. Warna-warni. Nomor. Awas masih basah. Petunjuk penggunaan. Semprotkan. Dicampur dengan air. Diaduk. Lalu oleskan pada tembok. Gambar sesuka hati. Gambar mengikuti pola. Komposisi warna. Pelangi warna. Satu warna. Cat habis. Pilox habis. Imajinasi buntu. Merokok. Hisap dalam. Hembuskan.
Kopi gelas. Krim. Susu. Kamu. Entah. Gula. Meja tamu. Televisi. Handphone. Berita. Koran. Infoteinment. Kawin lagi. Cerai lagi. Buku. Puisi. Cerita pendek. Rindu. Lupa. Air panas. Bergelembung. Mendidih. Menuangkan. Keripik. Makanan ringan. Cemilan. Laptop. Kuharap. Akses internet.
Pemandangan setengah tembok. Duduk berdua. Di bangku depan. Pemandangan tembok. Tak peduli. Pemandangan tembok. Penuh grafiti. Aku setengah mabuk. Menatapmu. Menatap tembok. Menatap grafiti. Menatap kedalam matamu. Menatap tembok lagi. menatap grafiti lagi. Lagi-lagi ke dalam matamu.
Pohon beringin. Air mancur. Gedung kuliah. Ruang akademik. Ruang kemahasiswaan. Tempat pembayaran SPP. Sekretariat kemahasiswaan. Sekeretariat kemahasiswaan yang digusur. Tidak mempunyai sekretariat. Bangku-bangku berantakan. Renovasi gedung. Renovasi yang terhambat. Dana pembangunan. Berjalan tersendat-sendat.
Pakai komputer tidak bayar. Jasa akademik tidak bayar. Parkir gratis. Hilang motor. Motor dipinjam. Parkir penuh. Jam istirahat. Makan siang. Secangkir kopi. Batagor. Nasi uduk. Soto. Nasi sayur. Gorengan. Parkir penuh. Minta tanda tangan. Memalsukan tanda tangan. Tanda tangan atas nama. Mengantri tanda tangan. Tidak bertemu penanda tangan.
Toilet kampus. Corat-coret. Kran air tidak lancar. Tidak ada air. Bau pesing. Mengetuk pintu. Menggedor. Tidak tahan. Bergantian. Kencing. Berdiri. Kencing. Jongkok. Membasuh. Mengelap. Selangkangan. Lega. Ember. Gayung. Belah. Penampung air. Bak mandi. Pengap.
Keluar. Jalan. Tanah. Becek. Aspal. Sisa hujan. Dingin. Panas. Mobil. Motor. Angkutan kota. Halte. Warung makan. Kios koran. Berita. Tulisan. Fotocopy. Penjilidan. Cetak foto. Perumahan. Preman. Jatah. Satpam. Batuk-batuk. Asap knalpot. Suara mesin. Tape di angkutan kota. Alunan disko. Polisi tidur. Pembatas jalan. Zebra cros. Rumah kosong. Ban bocor. Ban menggelinding.
Tanah lapang. Layang-layang. Sepakbola. Berlari-lari. Bola. Anak-anak. Kiper-kiperan. Oper-operan. Bola plastik. Tanah merah. Tanah rumput. Pemain bola. Kiper. Wasit. Anak gawang. Gawang. Gol. Penalti. Gol bunuh diri. Aih. Suporter. Bonek. Nekad. Berantem. Melempari pemain. Menyoraki lawan. Rusuh. Tenang. Bersemangat. Bersorak-sorai. Gol.
Taman. Bunga. Pohon. Tempat duduk. Rindang. Kamu. Lewat saja. Pedagang asongan. Pedagang kaki lima. Becak. Ojek. Spanduk. Baliho. Pengumuman. Jagalah kebersihan. Nama-nama pohon. Puisi. Corat-coret. Berdua-duaan. Beramai-ramai. Sendiri saja. Tempat sampah.
Mall. Parkir motor. Parkir mobil. Jalan kaki. Nongkrong. Toko kaset. Baju-baju. Trendi. Fast food. Eskalator. Kios-kios. Gerai-gerai. Distro. Fashionable. Iklan. Penawaran-penawaran. Beli tidak ya. Diskon. Big sale. Off to 50%. Banyak barang. Keramik. Guci. Lukisan. Fashion show. Kuis. Pertunjukkan sirkus. Band. Rahasia modern. Mall. Ingin tetap cantik. Mall. Ingin gaul. Mall. Ingin gaya. Mall. Pokoknya mall. Huh.
Billiar. Bowling. Stik. Bola. Berempat. Berdua. Sendiri. Biliar. Bowling. Bola. Menggelinding. Bergantian. Bola masuk. Musik disko. menghentak-hentak. Malam selalu terang. Olah raga. Billiar. Bowling. Bergiliran. Masukkan bola. Bola kecil. Bola besar. Keras. Masukkan. Tembakkan arah. Perhitungan posisi. Strategi jitu.
Dugem. Oh tidak. Menari-nari. Minum-minum. Party. Tengok sana. Tengok sini. Oh tidak. Menari bahagia. Sedikit mabuk. Mabuk. Ah. Melantur.
Pasar tradisional. Ramai. Becek. Terjangkau. Dekat. Hampir bangkrut. Jajanan tradisional. Jajanan murah. Bergandengan tangan. Pedagang. Pembeli. Timbangan. Kuli. Tukang ikan. Tukang kue. Tukang sayur. Tukang bumbu. Pasar murah. Pasar subuh. Pasar senin sampai minggu. Pengangkut sayuran. Sampah-sampah. Dari pagi hingga lelap.
Tempat kampanye. Tempat Pemungutan Suara. Janji-janji manis. Oposisi. Golput. Massa mengambang. Kehilangan hak pilih. Coblos ulang. Sengketa politik. Penarikan dukungan. Kontrak politik. Pemberian dukungan. Koalisi. Korupsi politik. Serangan fajar. Pelanggaran pemilihan. Curi Start. Manuver politik. Pencalonan. Dicalonkan. Musik dangdut. Arak-arakan. Pawai. Penghitungan cepat.
Komputer. Keyboard. Mouse. CPU. Monitor. Stabilizer. Harddisc. CD Room. Mainboard. Flasdisc. Kabel data. Komputer rakitan. Laptop. Note book. Prosesor. Flopy. Booting. Sistem operasi. Sofware bajakan. Program pengolah data. Mengetik. Menatap layar. DVD RW. ebook. Email. Mailing list. Power suply. Speaker. Hacker. Spammer. Carder. Trojan. Cracker. Wormer. Brontok. Hallo roro.
Bagaimana. Jalan. Rehat. Cuci mata. Berendam. Musik pop mengalun. Berkhayal. Berpikir. Tidur-tiduran. Berjalan-jalan. Musik jazz. Hujan. Angin. Menatap jendela. Basah. Kopi. Susu. Gula. Pelangi.
Secangkir kopi. Meja. Tersisa. Bangun. Lupa. Dingin kopi. Tersisa. Poster-poster. Anti korupsi. Hentikan kekerasan. Lawan tirani informasi. Stop utang luar negeri. Hentikan kekerasan dalam rumah tangga. Kembalikan tanah kami. Freedom. Dilarang merokok. Stop illegal logging. Tanah untuk rakyat. Gunakan kondom. Berhenti merokok.
Tembok lelah. Bersisi grafiti. Ini aku. Merdeka. Kupu-kupu. Cat. Pilox. Warna-warni. Nomor. Awas masih basah. Petunjuk penggunaan. Semprotkan. Dicampur dengan air. Diaduk. Lalu oleskan pada tembok. Gambar sesuka hati. Gambar mengikuti pola. Komposisi warna. Pelangi warna. Satu warna. Cat habis. Pilox habis. Imajinasi buntu. Merokok. Hisap dalam. Hembuskan.
Keluar. Jalan. Tanah. Becek. Aspal. Sisa hujan. Dingin. Panas. Mobil. Motor. Angkutan kota. Halte. Warung makan. Kios koran. Berita. Tulisan. Fotocopy. Penjilidan. Cetak foto. Perumahan. Preman. Jatah. Satpam. Batuk-batuk. Asap knalpot. Suara mesin. Tape di angkutan kota. Alunan disko. Polisi tidur. Pembatas jalan. Zebra cros. Rumah kosong. Ban bocor. Ban menggelinding.
Orasi. Bergantian. Jalan. Panas. Imperialisme. Perlawanan. Stop diskriminasi. Kesetaraan. Perubahan. Spanduk. Megaphone. Angkat tangan yang tinggi. Teriakkan yang lantang. Orasi. Bergantian. Berbaris. Berjalan. Rapi. Selebaran-selebaran. Tuntutan-tuntutan.
Baca puisi. Bergiliran. Puisi sendiri. Puisi orang lain. Puisi baru saja dibuat. Puisi sudah lama dibuat. Taman budaya. Di mana saja. Baca puisi. Di internet. Baca puisi. Lomba baca puisi. Lomba tulis puisi. Baca puisi bergiliran. Deklamasi. Sajak. Gurindam. Asmarandana. Pantun. Puisi modern. Sajak. Syair. Musikalisasi puisi. Dramatisasi puisi. Kritik puisi. Puisi.
Pemandangan setengah tembok. Duduk berdua. Di bangku depan. Pemandangan tembok. Tak peduli. Pemandangan tembok. Penuh grafiti. Aku setengah mabuk. Menatapmu. Menatap tembok. Menatap grafiti. Menatap kedalam matamu. Menatap tembok lagi. menatap grafiti lagi. Lagi-lagi ke dalam matamu.
Seminar. Ujian komprehensif. Wisuda. Toga. Foto-foto. Gedung serba guna. Musik. Makan-makan. Ijazah. Sarjana. Salam-salam. Peluk-pelukkan. Pesan-pesan Rektor. Kesan-kesan di kampus.
Malam. Gelap. Tidur. Gelisah. Main kartu. Menghitung jam. Menghitung kalender. Obat tidur. Membaca buku. Menghitung-hitung kambing. Mondar-mandir. Kopi. Susu. Gula. Rebahan di sofa. Kembali ke kamar. Enggan menatap televisi. Sudah malam. Belum tidur. Gelap. Tidur. Gelisah.
Pengangguran. Pencurian. Pencurian dengan pemberatan. Pemalakan. Penjambretan. Penggelapan. Penipuan. Perzinahan. Penghasutan. Pencemaran nama baik. Penganiyayaan. Pembunuhan. Pembunuhan berencana. Perusakan. Pemusnahan. Percobaan kejahatan. Pornografi. Pemerkosaan. Pencabulan. Korupsi. Teroris. Kejahatan terhadap kemanusiaan. Genocide. Penghilangan paksa. Penjahat perang. Pelanggaran HAM berat.
Mall. Bola-bola. Kampus. Taman. Makan. Kamar. Dugem. Poster. Tembok.
Malam. Gelap. Tidur. Gelisah. Main kartu. Menghitung jam. Menghitung kalender. Obat tidur. Membaca buku. Menghitung-hitung kambing. Mondar-mandir. Kopi. Susu. Gula. Rebahan di sofa. Kembali ke kamar. Enggan menatap televisi. Sudah malam. Belum tidur. Gelap. Tidur. Gelisah.
Sosialisme. Komunisme. Liberalisme. Fasisme. Nazisme. Primordialisme. Nasionalisme. Humanisme. Kapitalisme. Animalisme. Ekologisme. Materialisme. Idealisme. Postmodernisme. Poststrukturalisme. Feminisme. Postkolonialisme. Neoliberalisme. Fundamentalisme. Anarkisme.
Secangkir kopi. Meja. Tersisa. Bangun. Lupa. Dingin kopi. Tersisa secangkir kopi.
Malam. Gelap. Tidur. Gelisah. Main kartu. Menghitung jam. Menghitung kalender. Obat tidur. Membaca buku. Menghitung-hitung kambing. Mondar-mandir. Kopi. Susu. Gula. Rebahan di sofa. Kembali ke kamar. Enggan menatap televisi. Sudah malam. Belum tidur. Gelap. Tidur. Gelisah.

Read More

Senin, 26 Februari 2018

- Leave a Comment

Elegi Cinta untuk Dewi



Dewa telah memetik jutaan bintang dari Bima Sakti, mencuri pelangi dari para bidadari, dan mengambil langit dari bumi. Tak ada alasan lain, semua dilakukannya untuk Dewi. Karena bagi Dewi, bintang itu indah, pelangi itu memesona, dan langit... ah, Dewa tak tahu kenapa Dewi menyukai langit. Namun Dewa tahu, jika dia mampu memberikan semua itu, di mata Dewi, Dewa akan lebih indah dari pelangi, lebih memesona dari pelangi, dan lebih megah dari langit. Ya, hanya jika Dewi adalah dewi.

***

Butuh waktu dua tahun untuk Dewa agar bisa benar-benar mengungkapkan perasaannya kepada Dewi, seorang gadis manis dan ramah di kampus. Dewi memang tak secantik Isyana atau Raisa, namun keramahan dan senyum manisnya membuat Dewi selalu memiliki kamar kos di hati para pria.

Kamar kos? Ya, kira-kira begitulah hati pria. Layaknya kamar kos, setiap ada kamar yang kosong, maka akan selalu ada penghuni baru di dalamnya. Namun tidak untuk Dewi. Jika hati seorang pria telah terisi olehnya, maka sulit untuk mengusirnya. Tidak hanya memenuhi hati, tapi juga pikiran.

Hal itulah yang dirasakan Dewa. Dia telah menaruh hati sejak pertama duduk bersebelahan di salah satu mata kuliah. Dewi meminjamkannya pulpen, yang diserahkan lengkap dengan senyum manis. Senyum yang dihiasi gigi gingsul itu, sukses membuat Dewa meleleh. Sejak saat itu, dia berambisi untuk dapat menaklukkan hati Dewi.

Pernah suatu ketika, Dewa tak sengaja mendengar percakapan Dewi dengan teman-temannya. Dewi merasa tak seberuntung teman-temannya yang kerap mendapat kejutan romantis. Dia tak pernah merasakan betapa senangnya diberi cincin dan seikat bunga. Dewa tersenyum. Dia merasa ini adalah anugerah dari Tuhan.

Waktu memang tak pernah berhenti mengalir, seminggu setelah percakapan itu, Dewi menemukan sebuah kotak kecil berwarna merah di tasnya. Dia membukanya. Ada sebuah cincin dan selembar kertas di dalamnya.

“Terimalah.
Aku telah menolak banyak bidadari yang memohon untuk memakai cincin ini. Mengapa? Karena aku tahu, bidadari itu tidak pantas memakai cincin ini.
Ambilah, hanya kau yang pantas memakainya.”

***

Tidak hanya satu, tapi puluhan pria yang berakhir menjadi teman setelah mengungkapkan isi hatinya kepada Dewi. Sejauh yang Dewa tahu, belum ada satu pun pria yang sukses membuat Dewi menyerah dan merebahkan tubuh di pelukan pria. Itu artinya, Dewi benar-benar belum tersentuh oleh tangan seorang pria yang ingin memilikinya. Dewa semakin tertantang.

“Bagus sekali kalungmu, Nad,” kata Dewi kepada seorang temannya.

“Tentu saja! Ini pemberian pacarku. Dan ini nggak mudah mendapatkannya. Batu alam ini masih sangat langka di sini. Lihat,” kata Nadia sambil menunjukkan liontinnya kepada Dewi. Dewi tersenyum sambil memegang-megang kalung itu.

Dewa tahu apa yang harus dilakukan. Tiga hari kemudian, dia memberikan sebuah kalung indah dari batuan alam yang dironce sedemikian apik hingga membuat hampir semua wanita tergoda untuk memilikinya.

“Dew, aku punya sesuatu untukmu,” kata Dewa menghampiri Dewi. “Ini, pakailah. Kau pasti akan terlihat cantik,” katanya sambil menyerahkan kalung itu.

“Untukku?”

“Ya, ambillah.”

“Terima kasih,” ucap Dewi datar.

***

“Dew, ini untukmu,” kata Dewa sambil menyerahkan sebuah mawar biru.

“Mawar biru? Dari mana kau tahu aku sangat menginginkan ini? Mawar ini sangat langka di dunia,” ucap Dewi terkejut.

“Aku tahu. Aku selalu memperhatikanmu. Aku mencarinya khusus untukmu.”

“Untukku? Mengapa?”

Dewa merasa, inilah waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya.

“Karena aku mencintaimu, tentunya.”

Dewi terdiam. Kini dia menatap Dewa. Mawarnya masih tergenggam erat di tangannya.

“Kau tahu, cincin yang kau temukan dalam tasmu?” tanya Dewa kemudian.

Dewi mencoba mengingat, tak lama kemudian, dia mengangguk.

“Itu dariku,” kata Dewa. “Kalung istimewa yang kuberikan padamu waktu itu, itu juga khusus kucarikan untukmu.”

“Kau berikan semua itu hanya karena kau mencintaiku?” tanya Dewi.

“Ya,” jawab Dewa mantap.

“Aku bukan barang yang bisa kau dapatkan dengan harga tertinggi.”

“Tidak, bukan itu maksudku.”

“Seandainya kau tidak mencintaiku, apa kau akan menarik simpatiku?”

Dewa terdiam.

“Aku hanya memberikan apa yang kau inginkan,” katanya kemudian.

“Agar kau bisa jadi yang kuinginkan?” tanya Dewi sambil menatap tajam ke arah Dewa.

Dewa tak mampu menjawab. Dia tak tahu apa yang harus dilakukan. Menurutnya, ini adalah cara terbaik untuk mendapatkan seorang wanita. Dia salah. Dia berakhir sama seperti pria lainnya. Hanya sebagai teman, tidak lebih. Perjuangan dan penantiannya selama dua tahun, tak berbeda hasilnya dengan perjuangan pria yang mendekati Dewi hanya dalam waktu dua hari; sia-sia.

***

Dua bulan kemudian, Dewa melihat Dewi dijemput oleh seseorang sepulang kuliah. “Beruntung benar orang itu,” batin Dewa. Padahal, dari apa yang dia lihat, dirinya tak jauh berbeda dengan orang itu. Dia punya motor yang juga bisa membuatnya terlihat gagah di mata para wanita.

Namun ada hal lain yang membuat Dewa mengerti mengapa dia tak bisa memiliki Dewi. Ya, dia mengerti begitu orang itu membuka helmnya dan mencium kening Dewi. Bukan karena Dewa kalah kaya atau tampan dengan orang itu, tapi hanya karena Dewa tak punya buah dada!


Karangmulya,
Februari 2018

*gambar diambil dari sini
Read More

Rabu, 31 Januari 2018

- Leave a Comment

Veronika Memutuskan Tetap Hidup

Jakarta, 31 Januari 2018

Dearest Veronika,
Setelah sekian tahun, aku akhirnya berani juga menyuratimu, bercerita soal ini.
Aku harus mulai darimana ya? Dari basa-basi cuaca atau macet Jakarta dahulu? Ah, sepertinya itu lebih mudah untuk mengurangi rasa kikukku untuk bercerita kepadamu. Jakarta sampai sekarang masih tetap macet dan hidup di kota ini makin keras, kejahatan yang dulunya dianggap aneh sekarang jadi sering muncul di berita, mulai dari Gubernur dipenjara karena penistaan agama, pedofilia makin menggila di sosial media sampai klub malam Alexis akhirnya resmi ditutup. Dan sekarang makin banyak pula kasus bunuh diri. Hmm, aku jadi teringat kejadian itu. Kau juga pasti ingat kan?

Malam itu, langit cerah dan rasanya lebih terang dari biasanya karena bulan purnama yang mencapai puncaknya. Kamu menatap bulan di penghujung malam lekat-lekat sambil menghabiskan sisa teh rasa mint yang selalu menjadi favoritmu. Tegukan terakhir, pikirmu. Di bawah pendaran purnama, kau tampak sangat cantik. Sinar matamu teduh dan tenang. Tapi aku tahu persis isi pikiranmu. Saat itu, kamu sedang memikirkan bagaimana cara mengakhiri hidupmu dengan setidak-menyakitkan mungkin, ya kan? Setelah melihat jasad si Lenka setelah memutuskan untuk loncat dari lantai lima hampir 10 tahun lalu, kamu sadar bahwa cara seperti itu terlalu sakit dan yang terpenting jasadmu akan terlihat sangat tidak cantik. Oh, it’s a big no no!

Segera setelah kau tandaskan lesapan terakhir minumanmu, kau menatap butir-butir putih yang tepat berada di samping cangkir tehmu. Kau mulai menghitung. 1, 2, 3, 4. Ah, kalau hanya segitu pasti kurang... apa sebaiknya 10 atau 20 butir ya? Akhirnya, kamu memilih menghabiskan semua yang ada di dalam botol, biar tidak perlu bangun lagi sesuai keinginanmu. Obat tidur sebanyak itu, akupun lupa bagaimana cara kamu mendapatkannya. Apakah dari apotik dekat rumah atau dari salah satu mantan pacarmu si dokter berwajah malaikat tapi sesungguhnya brengsek itu ya? Entahlah...
Tepat pukul 12 malam tanggal 31 Januari 2012, kau sudah terbaring di atas tempat tidurmu yang sudah dirapihkan dan ditata apik plus wangi segar seprai yang baru keluar dari laundry. Ingatan terakhirku tentang malam itu hanyalah cahaya lampu kamar yang perlahan-lahan tampak gelap, tarikan panjang nafas “terakhirku” dan perasaan bahagia karena akhirnya semua penderitaan ini akan berakhir. Kamu juga mengingatnya kan?

My lovely Veronika,
Tapi setelah kejadian malam itu, aku tidak memiliki memori sedikitpun mengapa aku bisa kembali hidup? Ingatanku terhenti di malam terakhir itu dan mulai tersambung lagi saat aku duduk kursi empuk warna biru dongker sambil menatap wajah keriput dan berjas putih yang persis duduk di hadapanku, dan ternyata juga ada Ibu yang duduk di sebelahku. Mereka pun tidak kalah terkejutnya saat aku akhirnya mulai bertanya, “Ibu, dia siapa ya? Kita lagi di mana sih?”
Ibu langsung menangis setelah mendengar ucapanku, Vero. Beliau menangis sampai tubuhnya bergetar kencang.
“Vero sayang, kamu akhirnya ingat Ibu ya, nak?” ujarnya dengan kalimat terbata-bata.
“Iya lah, Bu. Ini kita lagi ada di......?” kalimatku menggantung karena aku kembali teringat kejadian malam itu. Berbagai pertanyaan pun menggelayut di kepalaku.

Apakah ini sudah di surga? Hmm, sepertinya bukan. Orang mati karena bunuh diri dosanya tidak akan terampuni, konon kabarnya begitu.
Apakah ini di neraka? Astagfirullah, kenapa ada Ibuku neraka?!
Apakah ini rumah sakit jiwa karena ruangannya yang mirip dengan ruangan dokter penyakit jiwa yang ada di film-film? Tapi harusnya kan aku sudah “lewat”, menenggak banyak sekali pil tidur mungkinkah masih bisa selamat?

Aku sungguh tidak ingat apapun soal bagaimana kau bisa selamat, Vero. Namun kenyataannya sampai saat ini aku masih bernapas meski kisah hidup Veronika Ramadhani setelah 31 Januari 2012 hanyalah berupa potongan cerita dari sudut pandang Ibu, Ayah, Kak Mario, Kak Ivan, Bik Sumi atau Prof Ndaru psikiater yang merawatku setelah percobaan bunuh diri yang berhasil diselamatkan. Menurutnya, aku sempat mengalami dissociative-amnesia. Ya, seperti cerita di drama Korea, sinetron kepanjangan, atau roman picisan, kau mengalami amnesia alias lupa ingatan selama tiga bulan setelah kejadian itu.

Sebenarnya hampir saja setelah siuman kau berada di rumah sakit jiwa, seperti nasib Veronika Deklava dalam novel Paolo Coelho. Namun, kau terselamatkan oleh amnesia langkamu itu. Amnesia jenis ini bukan disebabkan oleh kerusakan otak akibat dari penyakit, obat, kecelakaan ataupun operasi tapi oleh tekanan psikologis karena kejadian yang sangat traumatis sampai akhirnya tidak mampu mengingat sebagaian peristiwa penting dalam hidupnya. Malah kau sampai lupa sesaat dengan identitasmu, makanya Prof Ndaru memutuskan cara terbaik untuk mengobati amnesia ini dengan berada di tengah keluarga bukan di rumah sakit jiwa.

Sampai saat ini, aku masih rutin mengunjungi Prof Ndaru, yang sebelumnya seminggu sekali lalu berubah menjadi dua minggu sekali dan sekarang hanya jika perasaan sedih, tidak berguna, tidak bersemangat, merasa helpless dan hopeless muncul kembali selama hampir seminggu maka aku harus segera mengunjungi Prof Ndaru. Perasaan “bad and dark mood” semacam itu kusebut Black Dog, meminjam istilah yang sering digunakan Winston Churchill untuk menyebut penyakit kejiwaannya: bipolar atau manic disorder. Terkadang sungguh sulit mengendalikan Black Dog, Vero. Tapi, kalau sudah mulai muncul tanda-tanda ia akan mengonggong, maka aku harus segera menghentikan apapun kegiatanku saat itu dan pergi mencari suasana yang lebih menggembirakan. Kegiatan favoritku untuk mencegah Black Dog kabur adalah ke pasar becek atau stasiun kereta untuk mengintip kegiatan orang-orang normal! Gegara anjing hitam tanpa jenis dan tanpa wujud warisan darimu ini, aku tidak bisa lagi bekerja di kantor besar dengan sistem kerja bagus yang mengharuskan berpakaian rapih. Well, tapi dahulu waktu kita bekerja di kantor besar pun hanya jadi karyawan kontrak yang harus siap diputus kapan saja dan hanya jadi kacung yang lebih sering dikasih pekerjaan urusan pribadi mereka yang bertitel General Manager atau Vice President. Ya kan?

Prof Ndaru sangat berhati-hati saat memberiku obat anti-depresan, mengingat sejarahku yang pernah minum puluhan butir obat tidur guna mengakhiri hidupku. Beliau takut aku menyalahgunakan obat-obat seperti itu lagi. Tapi cara pengobatan untuk jenis depresiku, hmm...namanya Dysthymia atau depresi ringan kronis yang sifatnya jangka panjang, lebih efektif jika dikombinasikan dengan obat dan terapi konseling secara rutin.

 gambar berasal dari sini

My younger self, Veronika
Ingatkah kamu kesulitan adaptasi di sekolah saat baru pindah dari sebuah kabupaten kecil di Pulau Buton ke Ibukota sebesar ini? Keruwetan perasaan yang sulit kau ekspresikan ini membuatmu tumbuh dengan jiwa yang tertutup. Ditambah lagi kedua kakak lelakimu sangat pandai di sekolah, muncullah tuntutan yang sama dari kedua orang tuamu. Mereka pemegang rekor nilai tertinggi nilai ujian nasional selama sekolah, kau pun harus bersusah payah untuk meneruskan rekor itu. Namun sialnya saat SMP kamu mulai gagal. Ditambah lagi menstruasi pertama yang muncul terlalu dini namun Ibumu terlalu sibuk mengejar karir dan tidak sempat menjelaskan perubahan-perubahan besar yang akan terjadi dalam tubuhmu. Hal itu akhirnya menambah keruwetan perasaanmu. Batinmu terasa makin sesak ketika kau gagal kuliah di ITB mengikuti jejak kedua kakakmu, kau hanya berhasil lulus tes ujian masuk di Fakultas Sastra UI.
“Yaa gitulah, Vero kuliahnya cuma di Sastra...” begitu jawaban datar ayah atau ibumu saat orang-orang bertanya, jauh berbeda ketika bercerita tentang Kak Mario atau Kak Ivan.

Kamu pun berjuang keras membuktikan bahwa orang yang kuliah di jurusan sastra tetap bisa sukses kaya raya, tapi kenyataan hidup tidak begitu. Kamu hanya bisa lulus dengan nilai pas-pasan dan akhirnya hanya mampu mendapatkan pekerjaan klerikal yang sesungguhnya bisa dikerjakan oleh anak lulusan SMK. Tadinya kamu merasa ada harapan, hanya harus bersabar. Namun, kegagalan demi kegagalan terus kamu alami. Obsesimu untuk menjadi karyawan tetap dengan menjalani tes masuk super panjang dan melelahkan untuk jadi PNS atau karyawan BUMN berkali-kali gagal.
Hidupmu terasa hancur berantakan ketika kedua kakakmu, lagi-lagi, sukses meraih semua mimpi mereka. Tidak hanya bekerja sebagai karyawan tetap di kantor dengan gaji besar, mereka dengan mudah memperoleh pasangan yang cantik, pandai nan salihah. Kamu semakin rendah diri ketika semua teman kuliahmu mulai naik jabatan, melanjutkan sekolah keluar negeri, dan akhirnya satu per satu menikah. Topik umum di sekitarmu mulai bergeser menjadi urusan persiapan pernikahan, parenting, atau kerja di luar negeri.

Usiamu yang terus merambat naik, kulitmu yang makin keriput dan kendor... menambah lagi keruwetan perasaanmu yang makin tidak bisa dijelaskan. Crème de la crème dari segala kehidupanmu saat itu adalah ketika kamu berpacaran dengan seorang dokter lulusan UI yang sedang spesialis. Serpihan kecil harapan menyenangkan muncul di hatimu, “baiklah, setidaknya aku masih bisa jadi ibu rumah tangga yang baik bagi lelaki ini...”

However, it seems God loves to tease you.

Di suatu hari, kamu tidak sengaja menemukan tag foto dirinya di Facebook dengan perempuan lain. Darahmu mendidih ketika membaca komentar bahagia dari teman-teman sesama dokternya. Tentu saja tak lama setelah itu, dia meninggalkanmu begitu saja melalui dua baris pesan sms. Dan tanpa menuliskan kata maaf. Catat itu!

Semua mimpi dan cinta habis terhempaskan. Tidak bisa membanggakan orang tua, ditinggal kekasih, dan akhirnya selepas Lebaran kamu di-PHK begitu saja karena katanya kondisi kantor yang hampir pailit. Tragis. Jangankan hidup sebagai manusia yang memberi dampak positif bagi masyarakat atau Indonesia apalagi dunia, menolong dirimu saja sulit! Kau berdoa tiada henti siang dan malam, berharap Tuhan berbaik hati memberikan sesuatu yang bisa dipercaya bahwa itu adalah takdirmu, alasanmu hidup di bumi. Namun nihil. Kamu pun berhenti berharap.

Tapi Vero sayang, saat ini aku telah putuskan untuk tetap hidup meskipun dengan Dysthymia yang kadang bisa kambuh, kadang bisa mengendap lama.
Sejauh ini, aku selalu patuh dengan anjuran psikiaterku. Setiap pagi, aku pasti keluar rumah untuk berolahraga, jalan kaki sambil berjemur matahari pagi. Kamu tahu, kutemukan lagi kedasyatan sinar matahari: pencegah depresi! Bahkan penduduk di negara yang jarang terkena paparan sinar matahari akan cenderung terkena Seasonal Affective Depression (SAD). Untung sekali ya Indonesia disinari matahari selama 365 hari penuh.
Aku juga menjaga nutrisi yang masuk ke tubuhku, salah satunya dengan menjadi pescatarian alias semi-vegetarian karena masih menambahkan boga bahari dalam menu makanan. Botol-botol besar suplemen bertuliskan Omega-3, Magnesium, Vitamin C dan B Kompleks selalu berada di meja makan agar aku tidak absen meminumnya. Itu semua membantu agar mood-ku tetap baik. Selain makanan, Prof Ndaru menganjurkan untuk meditasi. Tapi aku kurang suka meditasi karena lama-lama terasa bosan dan mengantuk. Akhirnya Prof Ndaru mencoba pendekatan melalui seni. Aku pun rajin mewarnai gambar-gambar yang berasal dari ilustrasi karya Johanna Basford. Saat mewarnai, rasanya keruwetan pikiranku perlahan-lahan terasa bisa terurai meski masih kusut. Efek mewarnai sama seperti meditasi menurutku.

Aku sekarang kembali bekerja, tapi ini perusahaan event organizer super mini milik adik Ibu, Tante Ani. Gajinya pun super mini di bawah UMR (belum termasuk bonus dan komisi sih) dengan beban kerja yang super mini juga tentunya. Tapi di sini aku berkesempatan mengunjungi banyak kota di berbagai daerah, ternyata ini cukup efektif menghalau Black Dog muncul kembali. Untuk pertama kalinya, aku sedikit menyukai pekerjaanku, Vero. Aku merasa senang ketika mengunjungi tempat baru, memahami keunikan bandara di berbagai kota, bertemu orang dengan logat bahasa Indonesia yang berbeda, mencicipi beragam masakan sayuran dan ikan yang lebih lezat dari yang dijual di restoran Jakarta, dan membanding-bandingkan pelayanan hotel yang ada di kota satu dan lainnya. Bahkan sekarang aku menjadi aktivis di komunitas Google Maps karena sering memberi review atau foto tentang suatu tempat loh... Hahaha!

Sebenarnya dari dulu, aku selalu suka traveling, kamu tahu itu kan, Vero? Tapi Ayah selalu melarangku berkeliaran bebas karena khawatir berlebihan akan keselamatan anak perempuan satu-satunya ini. Tapi sekarang, aku tidak peduli lagi dengan larangan Ayah ini, toh ia pun kini tidak berani mengekangku karena takut aku kembali ditelan oleh Dysthymia.

Vero, aku memutuskan untuk tetap hidup karena cap imigrasi di passport-ku belum terlalu banyak, serta belum kutinggalkan jejak DNA-ku dari Sabang sampai Merauke. Hehehe.

Vero, aku akan berusaha menyuratimu setiap tahun. Agar engkau, diriku yang berusia 27 tahun, tidak sendirian seperti di malam itu.

Dan terakhir, selamat ulang tahun Veronika Ramadhani. Semoga sehat selalu ya! Itu saja harapanku.

Salam dan kecup hangat selalu,

Vero
Read More

Jumat, 08 Desember 2017

- Leave a Comment

Bekas Luka

Cerpen Andina Dwifatma

Aryan pernah menjadi kekasih Aryani semasa SMA. Selain nama mereka berdua yang mirip, wajah mereka pun tampak serupa, sampai-sampai saat Aryan membawa Aryani ke rumah untuk bertemu kedua orangtuanya, Papa Aryan terperangah beberapa detik, sebelum kemudian meledak dalam tawa dan berkata,

"Jangan-jangan aku enggak sadar kondomku pernah bocor.” Mama Aryan mencubit perut suaminya dan Aryani menganggap selera humor bakal calon mertuanya itu meriah.

Aryan dan Aryani sama-sama punya kulit coklat, bagian apel di pipi yang menonjol saat tersenyum, bentuk rahang yang halus, muka oval, rambut bergelombang, dan mata yang berbinar. Setiap orang berkomentar bahwa wajah yang mirip berarti jodoh. Mereka tertawa saja, tetapi berharap mitos itu benar adanya.

Aryan pertama kali melihat Aryani di kantin saat sedang menyantap badak sambel—sebenarnya hanya bakwan dipotong-potong lalu dimakan dengan saus kacang, namun dikategorikan sebagai mahakarya kuliner oleh para siswa SMA 3 Semarang. Aryan mencolek bahu Haksoro, kawan sekelasnya, dan bertanya apakah dia kenal cewek yang sedang makan di ujung sana.

“Yang mana?”
“Yang pakai bando merah.”
“Oh, itu namanya Aryani, dari kelas I-8.”
“Salah kowe,” Aryan menggeleng. “Itu calon istriku.”

Haksoro menggeleng-geleng sambil menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti ‘ndasmu’.

Gambar dari sini

Aryan lalu memulai periode pedekate yang terstruktur, sistematis dan masif. Aryan menitip salam ke semua orang yang kebetulan kenal Aryani. Aryan merekayasa kesempatan mengantarkan Aryani pulang dengan menyuruh kawan sekelas Aryani yang juga tetangga rumah gadis itu untuk pura-pura sakit perut, sehingga perlu minta tolong Aryani membawakan buku paket yang baru dibagikan wali kelas sebanyak 12 buah. Ketika Aryani kebingungan bagaimana caranya pulang dengan sekardus penuh buku, muncul Aryan dan motornya sebagai penyelamat. Sepanjang perjalanan menuju rumah Aryani, Aryan sengaja lewat jalan-jalan yang agak menanjak dan bergeronjal sambil berkata sok casual, “Pegangan aja.”

Aryan bahkan ikut Aryani masuk ekstrakurikuler Kepanduan Soeringgit alias Pramuka padahal sumpah mati dia benci sekali tali temali apalagi seragam. Aryan membuat puisi, surat cinta, menyanyi untuk Aryani di bawah balkon kelas gadis itu yang terletak di lantai 2. Selama tiga bulan Aryani merespons tipis-tipis saja, membuat orang satu sekolah ikut deg-degan dan merana.

Maka ketika mereka jadian sungguhan, banyak yang bersuka cita. Bagi Aryan dan Aryani, hari-hari itu berwarna pelangi. Ketika Aryan memberi Aryani ciuman pertamanya, mereka saling menatap dan diam-diam berkata dalam hati masing-masing, "aku akan hidup dengan orang ini sampai mati."

Aryani paling senang mengelus-elus bekas luka di sudut mata kiri Aryan, berbentuk garis seperti codet kecil, kira-kira sepanjang tiga sentimeter. Setiap kali Aryani meminta Aryan menceritakan tentang bekas lukanya, Aryan selalu memberikan versi yang berbeda-beda, tergantung mood dia saat ditanya. Aryani suka mendengarkannya.

Mood sedang ingin dianggap bad boy.
“Bekas luka ini karena aku jatuh dari genteng waktu kecil.”
“Aku maling mangga terus galahnya kena mata.”
“Aku berantem sama anak RT sebelah karena nyuit-nyuitin kakakku.”

Mood cowok sporty.
“Ini waktu aku jadi kiper terus ditekel penyerang lawan.”
“Dilempar bola basket. Lawanku kesal karena aku berhasil three point dari jarak yang jauuh banget."

Mood rayuan gombal.
“Oh, ini? Ini baru ada semalem, saking kerasnya aku mikirin kamu.”

Aryani keburu muntah. Aryan tertawa-tawa.

Semua orang bilang Aryan ganteng karena ia tinggi dan berkulit coklat dan punya senyum manis dan bentuk rahang yang halus dan muka oval dan rambut bergelombang dan mata yang berbinar—tapi bagi Aryani, bekas luka di sudut mata kiri itulah yang membuat Aryan tampan. Aryani bahkan sering memimpikan bekas luka Aryan. Lebih tepatnya, setiap kali Aryan tampil di mimpi Aryani, bekas luka tersebut selalu tampak menonjol. Kelak ketika Aryani meminta putus dari Aryan, malamnya dia mimpi dari bekas luka Aryan itu keluar darah (tapi itu cerita sedih setelah hari-hari tak lagi berwarna pelangi). Setiap mereka bertengkar, Aryani akan mengecup bekas luka Aryan sebagai tanda berbaikan. Dan Aryan balas mencium tangannya.

Lalu hidup membuat Aryan dan Aryani berubah dari sepasang remaja yang cukup bahagia berjalan di bawah hujan berdua, menjadi dua orang asing yang saling mencintai tapi terlalu berbeda. Aryan memutuskan kuliah di luar kota. Aryani melepaskan kepergian Aryan sambil membawakan CD berisi lagu sendu, walau ke ujung dunia pasti akan kunanti, walau ke tujuh samudera pasti ku kan menunggu..

Kenyataannya Aryani tidak menanti Aryan meskipun Aryan tidak pergi ke ujung dunia dan tidak menyeberang tujuh samudera. Aryani meninggalkan Aryan, Aryan meninggalkan Aryani, berkali-kali, sampai akhirnya tak ada lagi alasan yang tersisa untuk bersama.

“Tidak ada orang lain yang bisa mencintaimu seperti aku,” jerit Aryan dalam salah satu episode putus mereka.
“Dan tidak ada orang lain yang bisa menyakitiku seperti kamu,” Aryani balas menjerit.

Dengan pahit mereka berpisah menuju takdir masing-masing. Aryan menikah dengan seorang akuntan dan punya satu anak perempuan. Aryani menikah dengan seorang insinyur dan punya satu anak laki-laki. Mereka tinggal di kota, bahkan pulau, yang berbeda. Sebelum menikah, Aryan membuang nomor lamanya seolah ingin mengenyahkan Aryani dari hidupnya. Dan hidup berjalan tanpa banyak kejutan.

Sesekali Aryani memikirkan Aryan. Bahwa mereka tidak cocok—dan tidak akan pernah cocok—itu ia mengerti. Bila bersama, Aryan dan Aryani seperti memancing keluar sisi tergelap dan terburuk masing-masing. Itulah kesimpulan paling logis dari cinta pertamanya.

Yang tidak ia pahami adalah mengapa, pada malam-malam tertentu saat suaminya tidur di sebelahnya, Aryani bisa melihat Aryan tersenyum menatapnya, dengan sepasang mata dan bekas luka di sudut kiri, bekas luka yang selalu ia sayangi.***

Read More

Sabtu, 11 November 2017

- Leave a Comment

PROMOSI BISNIS


Sebuah karavan kecil dengan atap terpal kuning kusam terparkir di tengah alun-alun kota Bern. Tak jauh dari sana, dua ekor kuda pertanian kurus yang bertugas menariknya sedang merumput dengan tenang.

Di samping kanan karavan itu, boks-boks kayu bekas disusun membentuk sebuah latar dan undakan kecil, bagaikan sebuah panggung untuk seniman jalanan. Dinding latar dan lantai boks didominasi warna merah kehitaman, tanpa pernak-pernik lainnya. Sebuah panggung terbuka yang sekilas sama sekali tidak menarik.

Setiap akhir pekan, petani Joe akan membawa dua atau tiga ekor sapi terbaiknya ke sana untuk pertunjukan. Pesuruhnya akan membawa sapi itu, lalu mengikatnya ke pasak di tengah panggung. Sapi itu akan melenguh gelisah.

Lalu, seorang pemuda dengan tinggi badan sedang namun berotot akan naik ke atas panggung. Kepalanya ditutup topeng kain algojo, dan ia bertelanjang dada. Ia membawa tujuh jenis pisau dan sebilah golok besar.

Dalam satu kedipan mata, pemuda itu menggorok leher si sapi hingga darah muncrat ke mana-mana, membasahi lantai dan latar, membuat warna hitamnya kembali merah. Sapi itu akan terkejut dan menggelepar, lalu jatuh. Dengan kecepatan yang lebih luar biasa lagi, si algojo akan langsung memotong-motong tubuh si sapi. Mengulitinya, lalu memisahkan bagian sandung lamur, paha bagian dalam, iga, ruas punggung, jeroan serta isi perut. Lalu ia memutuskan kepala sapi dari badan, mengeluarkan otak dan memisahkan lidahnya. Terakhir, ia mengangkat tinggi-tinggi kepala bangkai sapi itu, dan memberi salut kepada para penduduk desa yang memberikan tepuk tangan meriah.

Semua daging yang ia potong langsung dijual saat itu juga. Harganya lebih mahal, tapi tetap saja ada orang yang mau membeli. Kadang algojo itu melakukan pertunjukan ekstra bila ada yang memesan daging cincang. Di sisi kiri, ada sebuah papan bertuliskan: "Butchering Alive", dengan tinta hijau cerah.

Tak jauh dari panggung, petani Joe yang menyewa si algojo setiap minggu, menatap seluruh pertunjukan barbar itu sambil menggigit pipa tembakau.



"Promosi jaman sekarang," gumamnya pada diri sendiri. "Semakin gila, semakin menarik perhatian, maka semakin laku pula jualan. Mengherankan."

(Dini Afiandri)
Read More

Jumat, 21 Juli 2017

- Leave a Comment

Negara Tak Akan Berubah


Akhirnya, terjadi lagi kerusuhan besar seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Namun kali ini penyebabnya karena para pemuda di Indonesia muak dengan berita-berita yang selalu menampilkan tingkah koruptor, dari kelas teri hingga kelas kakap, sebagai bintangnya.

Ramai-ramai para pemuda menyerbu gedung pemerintahan. Entah ini sudah kali keberapa mereka mendatangi gedung yang katanya akan dibuat baru itu. Ya, bisa jadi, akhir-akhir ini para pemuda yang kesemuanya adalah mahasiswa, lebih sering datang ke gedung ini ketimbang datang ke kampus mereka sendiri. Aku serius akan hal ini. Aku ingat betul terakhir kali aku ke kampus yaitu ketika hendak berkonsultasi judul skripsi kepada dosen pembimbingku, di tengah perjalanan aku dihadang oleh temanku.

“Apa yang kau lakukan, Kawan? Para pemuda akan melakukan perubahan besar, dan kau masih bisa berjalan dengan santai?”

Aku terdiam mendengarnya. Sejenak aku berpikir tentang kata “perubahan” yang dia maksudkan. Tapi aku tak menemukan apa maksudnya.

“Perubahan? Perubahan bagaimana maksudmu?”

“Perubahan pemerintahan, Kawan! Kau tahu apa yang melatarbelakangi para pemerintah itu korupsi? Tekanan ekonomi, Kawan! Mereka melakukan itu untuk membahagiakan keluarganya! Seharusnya Negara tidak boleh dipimpin oleh orang-orang yang berada di bawah tekanan, Kawan!”

“Maksudmu, Negara itu harus dipimpin oleh ….”

“Pemuda! Kau benar, Kawan! Karena pemuda belum memiliki keluarga yang tentu saja tidak akan merasakan tekanan ekonomi karena hasratnya untuk membahagiakan anak dan istrinya!”

Aku tertegun mendengarnya, tampaknya dia benar. Aku memutuskan untuk ikut dengannya. Aku melupakan judul skripsiku, dan aku melupakan pendidikanku. Tenang, ini hanya untuk sementara. Sampai perjuangan para pemuda akhirnya bisa dimenangkan.

Sekarang aku di sini. Bergabung di antara ribuan pemuda yang menuntut lengsernya pemerintahan. Tapi, tidak, tidak tepat jika kukatakan “lengsernya pemerintahan”, semua pemuda di sini memiliki keinginan yang sama, yaitu mengganti pemerintahan dengan kader pemuda. Berarti pemerintahan benar-benar diubah total! Kalau begitu, kita sebut saja “longsornya pemerintahan”.

Hanya butuh waktu sepuluh hari untuk melongsorkan pemerintahan. Rupanya, para orang tua yang selama ini duduk di kursi pemerintahan tidak mampu menahan bokongnya lebih lama lagi. Ramai-ramai mereka keluar sambil membawa pengeras suara. Secara terang-terangan, mereka menyerah, dan menyerahkan kekuasaan sepenuhnya kepada para pemuda. Mendengar pernyataan itu, sontak para pemuda bersorak. Gemuruh memenuhi langit kala itu.

***

Kini aku menjabat sebagai Menteri Keuangan, jabatan yang sangat “basah” di kala pemerintahan orang tua dulu. Jika saja kuikuti jejak mereka dulu, tak dapat dipungkiri, setahun kemudian mungkin saja aku harus menambahkan dua buah huruf “X” di depan label ukuran bajuku yang sebelumnya hanya bertuliskan “L” saja. Ya, aku serius. Karena dengan keahlian manipulasi data yang diwariskan oleh orang tua di pemerintahan dulu, angka pengeluaran yang seharusnya Rp1.000.000 bisa kusulap manjadi Rp10.000.000. Kupakai Rp1.000.000 untuk anggaran sebenarnya, sisanya kumasukkan ke rekening pribadiku. Mudah bukan? Tapi, aku tak mau mengulang sejarah kotor itu. Bagiku, gaji saja sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Ya, karena aku tak perlu repot-repot memikirkan biaya dapur untuk anak-istri juga biaya pendidikan untuk anakku.

 Ada beberapa peraturan baru terkait pemerintahan pemuda ini, di antaranya adalah:
  • Setiap pejabat Negara diperbolehkan menyelesaikan studinya selama masa jabatan dengan catatan bahwa pejabat terkait tetap mempertanggungjawabkan kinerjanya kepada Negara.
  • Setiap pejabat Negara tidak diperbolehkan untuk berkeluarga. Pejabat Negara yang memutuskan untuk berkeluarga, akan diberhentikan demi kebaikan pemerintahan.
  • Masa jabatan ditentukan oleh usia. Pejabat Negara yang diperbolehkan menjabat adalah yang berusia antara 22 sampai dengan 30 tahun.
  • Pemilihan pejabat Negara ditentukan melalui seleksi khusus yang mempertimbangkan keahliannya masing-masing.
  • Presiden, wakil presiden, ketua dewan permusyawaratan rakyat, dan ketua majelis permusyawaratan rakyat dipilih dari pemuda terbaik dengan kriteria tertentu.
Kira-kira, seperti itulah beberapa peraturan-peraturan baru yang kuingat. Entah pemerintahan seperti ini menguntungkan atau tidak, tapi sejauh yang kuketahui, tak ada masa periode jabatan. Kadang pergantian jabatan terjadi tiga kali dalam seminggu, dan terkadang tidak ada satu pun pergantian jabatan dalam satu bulan.

“Kapan kau akan menikahiku?”

Dinda bertanya kepadaku ketika aku mampir ke rumahnya seusai bekerja. Aku terkejut mendengarnya. Hampir kumuncratkan lagi teh manis yang belum sempat kutelan. Aku memandangnya dalam diam.

“Dulu kau bilang, kau akan menikahiku ketika kau sudah mapan, bukan?”

Ya, aku ingat itu, aku memang pernah berjanji seperti itu. Aku ingat, tepat dua tahun yang lalu, ketika aku masih menjadi mahasiswa, sebelum aku berada dalam pemerintahan pemuda ini.

“Kenapa kau diam? Apa itu hanya janji palsu? Ketika kini kau sudah mapan dan memiliki segalanya, kau akan meninggalkanku begitu saja?”

“Bukan. Bukan seperti itu, Din. Dengar, sekarang aku memang sudah mapan, tetapi kau tahu kan bahwa aku sedang bekerja di pemerintahan? Kau tahu kan bahwa pemuda yang bekerja di pemerintahan tidak boleh berkeluarga?”

“Lalu aku harus menunggu lagi? Dulu kau memintaku untuk menunggumu sampai mapan, kini aku harus menunggu lagi sampai kau berhenti dari pemerintahan?”

“Tidak, bukan itu maksudku.”

“Lalu apa? Jika memang seperti ini, aku tidak akan pernah mendukungmu masuk ke pemerintahan!”

Kulihat mata Dinda mulai berkaca. Aku sudah dapat menduga apa yang akan terjadi selanjutnya, dia akan menyudutkanku, menangis, kemudian meninggalkanku begitu saja.

“Dengar! Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi!” Dinda bangkit dari duduknya, “nikahi aku, atau akan kucari laki-laki lain yang lebih bisa memberikan kepastian kepadaku!”

Air matanya mulai mengalir anggun dari mata melewati pipi. Aku tak mampu menatap beningnya air mata itu. Sesaat kemudian, Dinda masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkanku di teras rumah begitu saja. Aku tak bisa berkata apa-apa.

Sepanjang perjalanan aku memikirkan apa yang baru saja kualami. Aku harus memilih antara janjiku kepada Dinda dan pengabdianku kepada Negara. Sebuah pilihan yang tidak mudah bagiku, karena keduanya, merupakan hal yang sama-sama harus dipertanggungjawabkan.

Kuparkirkan mobilku di sebuah masjid yang sebenarnya tak jauh dari rumahku. Tidak, aku tidak sedang ingin beribadah kepada-Nya. Hal ini pernah kulakukan sebelumnya. Di sini, aku hanya ingin menenangkan pikiranku. Menyendiri dan menyepi, berharap Tuhan akan membisikkan jawaban atas pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikiranku kini.

Aku duduk bersila menghadap mimbar. Berada di tengah ruangan, tepat di bawah kubah masjid. Mataku tak kuhadapkan ke arah mimbar, namun kuarahkan pada karpet hijau yang bergambar masjid di bawahku.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang.

“Regiansyah Candrasena, Menteri Keuangan kita,” katanya sambil tersenyum.

Aku membalas senyumnya.

“Apa yang kau pikirkan, Nak? Sepertinya sesuatu yang sangat berat sedang menindih kepalamu.”

Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya. Aku hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.

“Ceritakanlah, Nak. Kau tidak bisa menyembunyikan sesuatu dariku,” katanya sambil memegang pundakku.

“Dinda memintaku untuk segera menikahinya, Kek.”

“Itu bagus! Lalu apa lagi yang kau pikirkan? Regiansyah, kau sudah mapan sekarang. Memang sudah waktunya untuk berkeluarga!”

“Masalahnya, aku masih menjabat di pemerintahan, Kek.”

“Masalah? Di mana masalahnya? Apa hubungannya berkeluarga dengan pemerintahan, Nak?”

“Kek, pemerintahan sebelumnya kacau karena para pejabatnya sudah berkeluarga.” Kakek mengernyitkan matanya, “maksudku, karena para pejabatnya sudah berkeluarga, maka mereka terjebak dalam himpitan ekonomi. Himpitan ekonomi inilah yang menyebabkan para pejabat itu nekat melakukan tindakan korupsi. Keuangan Negara pun kacau, dan semuanya menjadi berantakan. Inilah yang menyebabkan kami, para pemuda, akhirnya melongsorkan pemerintahan sebelumnya, Kek.”

“Ya, aku tahu tentang itu. Regiansyah Candrasena, mungkin kau benar bahwa jika kita berkeluarga maka kita akan terjebak dalam himpitan ekonomi. Tapi aku rasa kesimpulanmu salah jika kau mengatakan bahwa berkeluargalah yang akhirnya memicu lahirnya korupsi. Regiansyah, menikah itu bisa membuka pintu rahmat, bukan malah sebaliknya. Himpitan ekonomi terjadi karena ada sesuatu yang ingin kau wujudkan namun memerlukan sejumlah biaya. Mungkin benar, dengan berkeluarga kau akan terjebak dalam himpitan ekonomi. Karena saat berkeluarga, kau mulai memikirkan untuk mewujudkan keinginan banyak orang. Kau ingin mewujudkan keinginanmu sendiri, istrimu, juga anakmu. Itu artinya, kau memerlukan biaya yang tidak sedikit lagi. Sekarang yang jadi masalah adalah, bagaimana caramu untuk mewujudkan semua keinginan itu? Sebagai seorang kepala keluarga, tentu saja kau ingin melihat keluargamu selalu bahagia. Cara yang kau ambil itu, bisa saja benar atau bahkan bisa saja salah. Semua tergantung bagaimana caramu mempertimbangkan segalanya.”

Aku mengangguk sambil terus mendengarkan penjelasan kakekku.

“Regiansyah Candrasena, sebenarnya aku sangat menyayangkan apa yang kau lakukan bersama teman-temanmu pada waktu. Jika kau perhatikan, apa yang terjadi di pemerintahan sebelum dan sesudah ‘pelongsoran’ itu, benar-benar tidak ada bedanya. Kalian tetap memerintah dengan sistem kerja yang tidak ada bedanya. Hanya saja, kalian memiliki keyakinan bahwa pemuda lebih baik dari orang tua yang sebelumnya. Padahal, baik orang tua maupun pemuda, keduanya hanya digerakkan oleh tiga hal; nafsu, pikiran, dan hati.”

Aku mengernyitkan mataku, seperti ada perasaan tidak setuju dengan kakekku, namun aku masih enggan untuk memotong pembicaraannya.

“Kau tahu, nafsulah yang membuatmu memiliki keinginan akan sesuatu, pikiran yang menciptakan akal tentang bagaimana caramu mewujudkan keinginan itu, dan hatilah yang menimbang serta memberi penilaian tentang baik atau buruknya caramu mewujudkan sesuatu itu. Sayangnya, hati inilah yang jarang digunakan. Pemerintahan yang baik, bukanlah pemerintahan yang dipimpin oleh para pemuda atau oleh para orang tua. Akan tetapi, pemerintahan yang dipimpin dengan ini,” dia mengarahkan tangannya ke dada dan menunjuknya berkali-kali, “kau mengerti?”

Aku terdiam. Tak mampu menjawab.

“Mungkin pemerintahanmu ini akan baik di awalnya saja,” dia melanjutkan, “tapi kita lihat saja nanti, beberapa tahun lagi. Ketika pemuda-pemuda penggantimu mulai melupakan tekad dibentuknya pemerintahan ini. Ketika mereka yang menjabat bukanlah mereka yang ikut berjuang dalam ‘pelongsoran’ kemarin. Masa-masa seperti itu, sudah pernah aku lewati.”

Tiba-tiba suasana menjadi hening sesaat. Aku seakan kehilangan kata-kata begitu kakekku selesai berbicara.

“Oh, iya. Bagaimana dengan Dinda, Nak? Jadi, apakah kau sudah mulai menemukan jawaban dari masalahmu itu?” kakekku mencoba memecahkan keheningan yang terjadi.

“Aku masih belum begitu yakin, Kek.”

Kakekku tersenyum. Meski kumis dan jenggot hampir menutupi lekuk bibirnya, aku masih tetap bisa merasakan senyumannya yang ikhlas.

“Yakinkanlah dirimu, Nak. Ingat tiga hal yang kubicarakan tadi. Jangan pernah kau lupakan yang terakhir.” Sesaat dia melirik jam besar yang ada di belakangku. “Pulanglah, besok kau harus kembali bekerja.”

Aku melirik jam tanganku dan bangkit setelah berpamitan dengan kakekku. Kakekku ikut berdiri dan mengantarku sampai ke depan pintu masjid. Aku meninggalkannya setelah dia menitipkan salam untuk ayah dan ibuku di rumah. Ya, kakek tidak tinggal serumah bersamaku, dia lebih memilih tinggal sendiri dan menghabiskan waktunya di masjid.

***

Beberapa bulan setelah itu, aku menikah dengan Dinda. Setelah setahun menunggu, putra pertamaku pun lahir. Sayang, kakekku sudah tiada sebelum putra pertamaku ini lahir. Dia wafat tidak lama setelah pernikahanku dengan Dinda.

Kini, setelah anakku berumur lima tahun, tiba-tiba saja aku terkenang akan obrolanku dengan kakek di masjid pada waktu itu. Dia benar, kini Negara kembali kacau. Mungkin, akan selalu seperti ini keadaannya sampai kapan pun. Pemerintahan yang dijabat oleh para pemuda, jelas terbukti tidak dapat mengubah Negara ini menjadi lebih baik. Aku rasa, benar apa yang dikatakan oleh kakekku, Negara ini baru akan berubah jika pemerintahannya dijabat oleh mereka yang selalu memperhatikan tiga hal, yaitu nafsu, pikiran, dan tidak pernah lupa untuk menggunakan hati.

Gondangdia,
21 Juli 2017
20:11
 
Sumber gambar: http://kalaliterasi.com/wp-content/uploads/2017/02/Aksi-Mahasiswa.jpg
Read More

Sabtu, 01 Agustus 2015

- Leave a Comment

Bebas



“Aku hamil.”
Kau terdiam.
“Kamu tahu dari mana?”
“Semalam aku beli test pack. Dan hasilnya positif,” suaraku datar, tenagaku habis kupakai untuk menangis semalam. Kau terdiam lagi. Aku juga.
“Aku ga mau hamil. Aku ga boleh hamil.”
“Ya sudah, kita nikah aja,” Setelah lama, suaramu yang tidak kalah datar dengan suaraku tadi memecah keheningan. Jelas kau tidak menyimak kata-kataku.
 Pagi ini kampus masih sepi. Jadwal bertemu dengan dosen masih dua jam lagi. Aku memang datang terlalu pagi tapi lebih lama di rumah bisa membuatku gila.
“Hah?” Setelah sekian lama pertemuan kami, aku menoleh, menatap matamu dengan terheran-heran. Matamu diam di sana, balas menatapku dengan pandangan yang tidak kumengerti. Manik matamu langsung menantang tatapanku.
“Nikah gimana?” Aku membalas tatapanmu dengan dua kali lebih heran dari sebelumnya.
 Kau kembali dalam diammu. Matamu meninggalkan tatapanku yang penuh kebingungan. Sekarang pandanganmu menatap jauh ke lapangan kampus di hadapan kita. Aku tahu kau tidak mengerti apa yang kau bicarakan.
            Pagi ini masih menyambung hujan dari semalam. Hujan rintik-rintik tapi tak kunjung reda.  Semalam setelah beberapa hari aku curiga dengan rasa aneh yang kualami dengan badanku, aku memberanikan diri untuk ke apotek beli test pack.  Aku linglung semalam. Kau belum pulang dari bimbingan dengan dosennya dan aku tidak sanggup lagi menunggu seperti apa kenyataan sebenarnya. Rasanya mirip ketika kau tahu tidak akan lulus ujian karena separo esai yang diberikan kau biarkan kosong begitu saja karena kau tidak mengerti sama sekali bagaimana menjawabnya, tapi ketika nilai-nilai ujian sudah masuk sistem komputer, jauh sekali di lubuk hatimu, atau hati kecilmu yang paling kecil masih (sedikit) berharap bahwa ketika kau memberanikan diri untuk masuk ke dalam sistem dan melihat nilaimu,  nilaimu masuk kategori lulus. Dan tentu saja, kenyataannya tidak demikian. Aku bahkan sempat berpikir mungkin kalau aku yakin benar kalau aku benar-benar hamil, aku tidak akan hamil. Sayang, harapan kecil itu ada di entah bagian mana hatiku yang paling dalam. Bagaimana tidak, aku merasa mensku bulan ini tidak datang-datang padahal siklusku teratur, payudaraku membengkak seperti mau mens dan terus membengkak tak kunjung reda, dan setelah aku menghitung sepertinya aku sedang masa subur pada saat terakhir kali aku berhubungan denganmu dan kau tidak menggunakan kondom. Entahlah, aku tidak terlalu paham dengan menghitung masa subur tapi dari situs yang kubuka kemarin sore, ada cara mudah menghitungnya, hanya dengan menambahkan beberapa hari setelah hari terakhir mens. Dari sekian pertanda yang tidak pernah kualami sebelumnya, aku berasumsi aku hamil sejak beberapa hari kemarin, dan keyakinanku semakin bertambah besar aku semakin merasakan ada yang aneh dengan tubuhku. Dan benar saja.
            “Aku sebentar lagi sidang, aku pasti lulus. Habis itu aku akan langsung cari kerja,” Kau kembali memecah kesenyapan di antara kami berdua. Tatapanmu kini menerawang, berpindah dari lapangan kampus ke udara di sekitarnya.
            “Aku takut, Biru. ” Takut bukanlah kata yang tepat. Sejujurnya aku sangat takut. Aku luar biasa takut. Atau, kalau ada kata yang bisa mewakili perasaan takutku yang amat sangat ini, itulah yang kurasakan. Ya, itu. Aku tidak tahu apa itu.
            “Takut apa? Ada aku,” Kau mengambil tanganku dan menggenggamnya erat-erat, seakan-akan genggamanmu bisa menenangkanku. “Kamu kan sudah mau lulus, aku juga. Kita nikah, aku akan bilang ke ayah bunda kamu. Aku bisa cari kerja duluan, kamu bisa tunggu sampai melahirkan. Setelah itu kamu mau coba kerja juga boleh, tapi kalau mau di rumah aja ga apa-apa, biar aku yang cari uang.”
              Aku jelas mendengar keraguan dari kata-katamu. Aku tahu kamu juga takut, tapi kata-katamu sungguh manis.
              “Tapi bukan itu yang aku mau, Biru,” Aku membalas genggamanmu tak kalah erat. Aku bisa merasakan cincin kayu yang ada di jari manismu, oleh-oleh dariku ketika aku liburan ke Jogja dua tahun lalu. Aku pun punya satu, dan kukenakan di jari manisku juga, sebagai tanda cinta kita berdua dua tahun yang lalu.
              Kau merespon jawabanku dengan kembali diam. Aku mengikutimu.
              “Kemarin aku browsing-browsing, ada obat yang…” Kau memutus ucapanku dengan melepaskan genggamanmu tiba-tiba.
              “Jangan macam-macam!” Kau menatapku tajam. Lalu kau seperti hendak mengatakan sesuatu tapi kau memutuskan untuk kembali diam.
             Dadaku berdegup kencang. Tangisku mulai pecah tapi kutahan mati-matian. Kampus mulai ramai. Aku dan Biru memang duduk di bawah tangga, sedikit tersembunyi tapi tetap saja satu dua mahasiswa mulai lalu lalang di sekitar kami.
             “Aku takut, Biru.” Takut yang amat sangat. Takut yang amat sangat pun bukan kata yang tepat. Ya, itu, kata lain menggambarkan ketakutanku yang luar biasa. Aku tidak tahu kata yang tepat.
             “Ada aku,” Kau kembali mengambil tanganku, kali ini lebih perlahan. Dan menggenggamnya pelan-pelan, erat-erat.
             Aku tidak membalas genggamanmu.
             “Bukan itu…” Kali ini aku yang memecah diam di antara kita. Mataku menerawang ke langit. Sejak tadi warna langit belum berubah, masih kelabu. Biasanya aku sangat menyukai pagi dengan langit abu-abu. Warna abu-abu di langit membuat segala sesuatunya menjadi lebih tenang, membuatku merasa tidak perlu terburu-buru bangun dan mulai siap-siap beraktifitas. Aku merasa lebih dapat menikmati hidup dengan pagi yang kelabu. Tapi pagi ini berbeda. Langit abu-abu pagi ini terasa hambar.
            “Masih banyak yang ingin aku lakukan, Biru…” Aku mengucapkan perasaanku pelan-pelan. “Aku ga mau hamil. Aku ga boleh hamil. Kau tahu, aku ingin jadi jurnalis, dari dulu. Aku ingin bisa meliput berita-berita terbaru. Aku ingin mengguncangkan dunia dengan berita-berita yang kulaporkan. Aku…”
             “Dunia akan terus terguncang tanpa perlu kamu yang melaporkan, Ning,” Kau memotong ucapanku dengan desisanmu menahan volume suaramu sendiri. “Kenyataannya, kamu…”
             Kau menghentikan kalimatmu. Perlahan kau lepaskan genggaman tanganku dan kini memegang kepalamu dan mengusap-usap rambutmu yang sudah mulai panjang menunggu dipotong untuk maju ke ruang sidang skripsi. Rambut indahmu yang pertama kali membuat makanku tidak enak dan hari-hari penuh harapan sampai kau menanyakan namaku sehabis kuliah sore, empat tahun yang lalu.
             “Kamu tetap bisa jadi jurnalis, Ning, seperti mimpimu. Aku tidak akan menahanmu…”
             Kau kembali memutus kalimatmu. Dan kita kembali diam. Kali ini lebih lama dari sebelumnya.
             “Sebentar lagi aku dan kamu sama-sama lulus. Kita nikah. Kita lewatin ini sama-sama. Lagipula kita sudah cukup dewasa kan untuk punya keluarga sendiri.”
             Nada suaramu kembali terdengar ragu. Aku tahu lagi-lagi kamu juga tidak yakin dengan ucapanmu sendiri.
             “Aku ga siap, Biru,” responku spontan. Aku menatap jauh ke lapangan kampus yang sudah ramai dengan mahasiswa-mahasiswi lalu lalang, ada yang dengan payung ada yang lari-lari kecil menghindari rintik hujan. Pikiranku melayang ke lapangan dan berhenti pada seorang gadis berpayung biru yang berjalan berlahan menembus gerimis. Apa yang sedang ia pikirkan? Apakah ia menyembunyikan sesuatu di dalam perutnya? Adakah yang sedang ia tutup-tutupi? Hamilkah ia?
Hujan masih belum berhenti juga.
“Aku juga ga siap, Ning,”
Aku menghela napas panjang.
“Masih banyak yang ingin aku lakukan, Biru, kau tahu itu. Masih banyak yang bisa kita lakukan,” Ucapanku mulai menggebu, “Dunia ini terlalu luas kalau kita hanya diami di satu titik. Aku ga mau nikah…”
Kau menoleh dan aku memutus ucapanku. Mata kita bertemu lagi. Kali ini ada kebingungan yang berbeda di matamu. Kau mungkin melihat api di mataku.
“… Tidak sekarang, Biru,” Aku melanjutkan ucapanku yang terputus, atau aku hanya menambahkan karena kau langsung bereaksi dengan kata-kataku itu, entahlah, aku tidak tahu mana yang benar. “Aku akan nikah, suatu hari nanti. Kita akan nikah, nanti.”
Kau dan aku kembali dalam diam. Aku memperhatikan titik-titik kecil air dari langit yang turun dengan cepat ke tanah. Aku membayangkan akan kemana air dari langit itu. Apakah titik-titik air itu mengenal titik-titik air yang lain? Apakah mereka berteman? Atau bahkan bersaudara? Apakah mereka merasa takut ketika jatuh dari langit ke tanah yang mungkin tidak dikenalnya? Atau apakah karena mereka jatuh bersama-sama sehingga mereka tidak takut sama sekali? Akankah mereka kembali ke tanah yang sama? Atau mereka akan selalu mendarat di tanah yang berbeda?
“Entahlah Biru,” Memikirkan titik-titik air hujan di hadapanmu membuatku merasa kau perlu tahu apa yang kupikirkan. “Aku tidak bisa membayangkan diriku menjadi seperti Bunda. Pagi-pagi entah sepagi apa dia sudah bangun menyiapkan sarapan untuk Ayah, aku, dan Arti. Lalu entah apa yang dia lakukan ketika kami seharian pergi, mungkin masak, beres-beres rumah, menjahit, arisan, yang jelas Bunda selalu ada kalau aku pulang, siang atau sore atau malam. Kapanpun aku butuh, Bunda selalu ada. Maksudku itu hal yang sangat aku sukai bermanja-manjaan dengan Bunda sepulang aku dari bepergian, tapi… Aku selalu berpikir Bunda tidak mempunyai kehidupan. Hidupnya adalah kami. Hidupnya adalah ayah, aku, dan Arti. Sedangkan aku tahu ayah, aku, dan Arti punya kehidupan sendiri-sendiri…”
“Lalu?” Kau kembali menatapku dengan kebingungan yang berbeda lagi. “Kau tidak perlu menjadi seperti bundamu. Kamu tetap bisa jadi jurnalis. Kamu tidak perlu seharian di rumah. Itu pilihan Ning. Mungkin itu memang pilihan Bundamu, untuk tetap di rumah, mengurus kamu dan ayahmu dan adikmu. Kau punya pilihan untuk menjadi jurnalis, dan kau akan selalu punya pilihan…”
“Bagaimana kalau tidak?” Aku memotong. “Bagaimana kalau sebenarnya Bunda tidak punya pilihan karena harus mengurus keluarga? Bagaimana kalau sebenarnya Bunda ga punya pilihan karena ga tega nelantarin anak-anaknya? Bagaimana kalau sebenarnya Bunda ga pernah menginginkan kehidupan yang sekarang ia jalani? Beberapa kali aku memergoki Bunda sedang termenung, lama… Waktu aku memanggilnya, ia seperti dibangunkan dari tidur dan membalasku dengan senyuman. Aku hanya merasa… Bunda tidak bahagia.”
Dadaku terasa sesak dan tatapanku mulai membara. Aku berusaha memindahkan kekalutan otakku ke dalam kata-kata. Dan tidak berhasil.
 “Kalau kamu bilang aku punya pilihan, aku memilih untuk ga hamil.” Hanya itu yang berhasil keluar dari mulutku.
“Terus kamu mau apa?” Tatapanmu mulai tersungut ketidaksabaran. “Aku ga ngerti sama kamu. Sekarang kenyataannya seperti ini, terus kamu ga mau. Kamu ga bisa untuk ga mau. Kita ga bisa, Ning. Kita harus mau. Yang kita bisa lakuin adalah nentuin pilihan kita sesudahnya.”
Aku diam. Untuk kesekian kalinya pagi ini dan kali ini bahkan lebih lama dari sebelumnya. Aku tahu kepalamu juga bising dengan pikiran-pikiranmu sendiri. Aku pun demikian.
“Masih banyak yang ingin aku lakukan, Biru,” Ulangku. Aku menghela napas panjang, sangat panjang. “Aku masih muda. Ada begitu banyak kesempatan di hadapanku. Aku ingin menjadi jurnalis yang hebat. Aku ingin keliling dunia meliput berita dari segala penjuru negeri. Aku ingin menjelajah ke tempat-tempat yang belum disentuh oleh orang-orang. Aku bahkan ingin ke Kutub Utara untuk merasakan seberapa dingin udara di sana dan seperti apa rasanya terjebak di musim dingin yang panjang tanpa matahari…”
Dengan gugup aku merogoh kantong kecil di dalam tasku. Aku mengambil buku kecil bersampul kulit yang mulai kumal karena terus kubawa-bawa kemanapun aku pergi sejak pertama kali aku membelinya, sehari setelah aku lulus SMA.
“Lihat ini, Biru,”Aku membuka buku itu sampai halaman terakhir yang kutulisi. Ada 432 hal yang ingin aku lakuin, dan angka ini akan terus bertambah!”
             Jemari tanganku membuka acak halaman buku kecilku dan mulai membaca perlahan. Air mataku mulai merebak. Semakin banyak daftar yang aku baca, air mataku turun menetes-netes di atas halaman daftar mimpiku tanpa bisa kutahan lagi.
“Mending aku mati aja, Biru,” Kedua tanganku menahan air mataku untuk turun lebih banyak lagi. “Semua mimpi ini ga akan ada artinya lagi kalau aku… Kalau aku punya anak sekarang…”
Kau menghela nafas. Ketidaksabaranmu terasa olehku.
“Menikah dan punya anak bukan akhir segalanya, Ning,”Kau berusaha menekan nada suaramu serendah mungkin. “Kau tetap bisa melakukan apapun yang kamu mau, aku janji tidak akan menghalangimu, aku mau menemanimu kemanapun kamu pergi.”
Untuk kesekian kalinya, aku tenggelam dalam diamku. Dalam pikiranku. Dalam kegaduhan otakku.
“Aku ga bisa melihat seperti yang kamu lihat, Biru,” Aku menghapus bersih air mataku. Jemariku  yang basah membelai pelan sampul buku kecilku. “Yang ada di depan mataku cuma Bunda. Aku bakal seperti Bunda kalau kita nikah sekarang. Dan aku ga mau…”
“Kalau Bundamu tidak seperti sekarang, katakanlah sibuk dengan kariernya dan jarang di rumah, apakah akan membuatmu berpikir berbeda?”
Kau menantangku. Dan membuatku berpikir jauh lebih keras lagi.
Aku tidak tahu.
Hujan mulai bosan turun. Titik-titik air yang jatuh ke tanah semakin sedikit. Dan mendadak aku mulai lelah luar biasa berbicara denganmu, seperti gula darahku yang turun tiba-tiba.
“Kalau kita ga nikah sekarang, lantas kamu mau apa, Ning?”
Aku bersumpah ini adalah pertanyaan terakhir yang ingin kudengar dari mulutmu.
“Biru, dengar,” putusku. “Kau bilang aku punya pilihan. Aku selalu punya pilihan. Dan untuk sekarang, aku memutuskan untuk ga hamil.”
Dahimu mengernyit dalam.
“Lalu maumu apa, Ning?” Akhirnya kesabaranmu benar-benar sampai di ujung. Aku bisa merasakannya dan aku tidak mau berurusan dengan itu.
Aku menatapmu lekat-lekat. Cukup sudah, kau membuatku terlalu lelah.
“Nanti akan kupikirkan caranya.” Aku membereskan tasku dengan seadanya dan berlari meninggalkanmu, menyeberangi lapangan kampus.
Hujan sudah berhenti dan matahari mulai kelihatan dari balik awan. Kau tidak mengejarku.         

*

            Sepanjang sore aku sibuk mencari berbagai informasi. Jelas hatiku memutuskan hanya melipat tangan sambil memantau. Otakku yang bekerja keras, memproses informasi dari sana sini, memikirkan cara yang terbaik yang paling sesuai dengan majikannya, Aku. Semakin banyak informasi yang kutemui, semakin was-was hatiku ini. Sampai akhirnya keduanya jatuh kelelahan menjelang larut malam, ketika bulan persis di atas kepala.
Aku pun jatuh tertidur di atas laptop yang masih terbuka dan monitor masih menyala.
Alam bawah sadarku perlahan mengambil alih. Segala hal yang kulihat tadi sore berusaha menjadi nyata dalam mimpiku. Ada seorang perempuan memakai jaket bulu putih, entah ayam entah burung, menyodorkanku segelas minuman. Dengan ragu aku menerimanya. Gelasnya hangat dan meneguknya sedikit. Aku mencecapnya pelan-pelan. Cairan hangat itu berubah menjadi dingin di dalam mulutku. Dalam hitungan detik aku merasakan tubuhku lemas dan jatuh perlahan ke atas tempat tidur berseprei putih. Kesadaranku menurun tiba-tiba dan dengan susah payah aku tetap berusaha membuka mata. Perempuan yang menawariku minuman itu tersenyum lebar, membaringkanku sepenuhnya, dan meluruskan kedua belah kakiku. Aku melihat sebilah pisau dapur yang biasa dipakai Bunda untuk memotong daging di tangannya. Tanpa ragu ia menaruh ujung pisau di tengah perutku. Dingin. Aku ingin berteriak tapi tidak ada suara yang keluar. Tanpa menunggu aku bisa mendengar suaraku sendiri, ia membelah perutku dan mengeluarkan isinya. Semuanya. Usus, jantung, ginjal, hati, berlumur darah dan lendir. Rasa sakit yang amat sangat menjalar ke seluruh tubuhku. Lalu perlahan ia menanggalkan jaket bulu yang dikenakannya, melipatnya menjadi empat bagian lalu dimasukkannya ke dalam badanku yang sudah kosong melompong dan menjahitnya dengan cepat. Sebentar saja badanku terisi kembali, seperti balon kempis yang ditiup cepat-cepat.
Aku terbangun menjelang pagi karena rasa gatal yang amat sangat dari leherku. Aku terbatuk tanpa henti seperti tersedak bulu-bulu burung yang memaksa keluar dari kerongkonganku. Rasa mual yang luar biasa hebat menyerangku tanpa ampun.
Aku berlari ke kamar mandi. Tapi terlambat. Seluruh isi perutku keluar dalam satu kali hentakan di lantai persis selangkah sebelum aku mencapai kamar mandi. Aku tersungkur di lantai, badanku luar biasa lemas. Aku merasakan sesuatu yang lembut di tanganku. Ada segenggam bulu burung berwarna putih di tanganku.

*

Aku terbangun dengan keringat di sekujur tubuhku dan napas terengah-engah luar biasa. Rupanya mimpiku terlalu buruk.

*

             Kekasihku bilang aku selalu punya pilihan, dan memang benar adanya. Aku punya pilihan. Yang dibutuhkan hanyalah sedikit keberanian. Keputusan ini kuambil karena aku tahu apa yang aku inginkan, walaupun aku tidak tahu apakah ini yang terbaik atau tidak. Persetan dengan keputusan yang terbaik, aku tidak peduli. Bagiku, meskipun ini keputusan yang paling buruk sekalipun, tapi ini yang kuinginkan. Aku sering mendengar orang-orang bilang kita bisa mengambil keputusan yang terbaik dari yang terburuk ataupun menemukan solusi yang menyenangkan semua pihak. Semuanya omong kosong bagiku. Aku tidak perlu yang terbaik ataupun memenangkan hati orang lain. Aku ingin mengikuti apa kata hatiku walaupun sering bentrok dengan otakku, atau malah sebaliknya, entahlah, tapi salah satu dari mereka memang sering kumanjakan. Dan kini, tubuhku yang harus menanggung akibatnya.
             Rasa nyeri yang belum pernah kurasakan sebelumnya menghinggapi perutku bagian bawah. Aku tidak tahu apa yang kurasakan atau kupikirkan saat ini. Aku hanya ingin segera jatuh tertidur dan melupakan semuanya. Mungkin ketika bangun nanti semua ini hanya mimpi belaka, bagian dari malam-malamku yang biasa yang terputus saat pagi mulai naik dan aku harus bergegas siap-siap ke kampus.

*

              Malamnya aku bermimpi terbang tanpa sayap. Aku memakai terusan panjang berwarna putih dan tanganku mengepak di udara seperti sayap seekor burung camar. Setiap kepakan kedua tanganku, aku melampaui jarak yang tidak bisa kutempuh ketika aku berjalan kaki saja. Sejuknya angin di ketinggian membelai lembut pipiku dan membuat rambutku melambai-lambai. Aku merasakan ada sesuatu yang terlepas dari dalam diriku.
              Aku merasa  b e b a s.



                

Read More