Sabtu, 01 Agustus 2015

- Leave a Comment

Bebas



“Aku hamil.”
Kau terdiam.
“Kamu tahu dari mana?”
“Semalam aku beli test pack. Dan hasilnya positif,” suaraku datar, tenagaku habis kupakai untuk menangis semalam. Kau terdiam lagi. Aku juga.
“Aku ga mau hamil. Aku ga boleh hamil.”
“Ya sudah, kita nikah aja,” Setelah lama, suaramu yang tidak kalah datar dengan suaraku tadi memecah keheningan. Jelas kau tidak menyimak kata-kataku.
 Pagi ini kampus masih sepi. Jadwal bertemu dengan dosen masih dua jam lagi. Aku memang datang terlalu pagi tapi lebih lama di rumah bisa membuatku gila.
“Hah?” Setelah sekian lama pertemuan kami, aku menoleh, menatap matamu dengan terheran-heran. Matamu diam di sana, balas menatapku dengan pandangan yang tidak kumengerti. Manik matamu langsung menantang tatapanku.
“Nikah gimana?” Aku membalas tatapanmu dengan dua kali lebih heran dari sebelumnya.
 Kau kembali dalam diammu. Matamu meninggalkan tatapanku yang penuh kebingungan. Sekarang pandanganmu menatap jauh ke lapangan kampus di hadapan kita. Aku tahu kau tidak mengerti apa yang kau bicarakan.
            Pagi ini masih menyambung hujan dari semalam. Hujan rintik-rintik tapi tak kunjung reda.  Semalam setelah beberapa hari aku curiga dengan rasa aneh yang kualami dengan badanku, aku memberanikan diri untuk ke apotek beli test pack.  Aku linglung semalam. Kau belum pulang dari bimbingan dengan dosennya dan aku tidak sanggup lagi menunggu seperti apa kenyataan sebenarnya. Rasanya mirip ketika kau tahu tidak akan lulus ujian karena separo esai yang diberikan kau biarkan kosong begitu saja karena kau tidak mengerti sama sekali bagaimana menjawabnya, tapi ketika nilai-nilai ujian sudah masuk sistem komputer, jauh sekali di lubuk hatimu, atau hati kecilmu yang paling kecil masih (sedikit) berharap bahwa ketika kau memberanikan diri untuk masuk ke dalam sistem dan melihat nilaimu,  nilaimu masuk kategori lulus. Dan tentu saja, kenyataannya tidak demikian. Aku bahkan sempat berpikir mungkin kalau aku yakin benar kalau aku benar-benar hamil, aku tidak akan hamil. Sayang, harapan kecil itu ada di entah bagian mana hatiku yang paling dalam. Bagaimana tidak, aku merasa mensku bulan ini tidak datang-datang padahal siklusku teratur, payudaraku membengkak seperti mau mens dan terus membengkak tak kunjung reda, dan setelah aku menghitung sepertinya aku sedang masa subur pada saat terakhir kali aku berhubungan denganmu dan kau tidak menggunakan kondom. Entahlah, aku tidak terlalu paham dengan menghitung masa subur tapi dari situs yang kubuka kemarin sore, ada cara mudah menghitungnya, hanya dengan menambahkan beberapa hari setelah hari terakhir mens. Dari sekian pertanda yang tidak pernah kualami sebelumnya, aku berasumsi aku hamil sejak beberapa hari kemarin, dan keyakinanku semakin bertambah besar aku semakin merasakan ada yang aneh dengan tubuhku. Dan benar saja.
            “Aku sebentar lagi sidang, aku pasti lulus. Habis itu aku akan langsung cari kerja,” Kau kembali memecah kesenyapan di antara kami berdua. Tatapanmu kini menerawang, berpindah dari lapangan kampus ke udara di sekitarnya.
            “Aku takut, Biru. ” Takut bukanlah kata yang tepat. Sejujurnya aku sangat takut. Aku luar biasa takut. Atau, kalau ada kata yang bisa mewakili perasaan takutku yang amat sangat ini, itulah yang kurasakan. Ya, itu. Aku tidak tahu apa itu.
            “Takut apa? Ada aku,” Kau mengambil tanganku dan menggenggamnya erat-erat, seakan-akan genggamanmu bisa menenangkanku. “Kamu kan sudah mau lulus, aku juga. Kita nikah, aku akan bilang ke ayah bunda kamu. Aku bisa cari kerja duluan, kamu bisa tunggu sampai melahirkan. Setelah itu kamu mau coba kerja juga boleh, tapi kalau mau di rumah aja ga apa-apa, biar aku yang cari uang.”
              Aku jelas mendengar keraguan dari kata-katamu. Aku tahu kamu juga takut, tapi kata-katamu sungguh manis.
              “Tapi bukan itu yang aku mau, Biru,” Aku membalas genggamanmu tak kalah erat. Aku bisa merasakan cincin kayu yang ada di jari manismu, oleh-oleh dariku ketika aku liburan ke Jogja dua tahun lalu. Aku pun punya satu, dan kukenakan di jari manisku juga, sebagai tanda cinta kita berdua dua tahun yang lalu.
              Kau merespon jawabanku dengan kembali diam. Aku mengikutimu.
              “Kemarin aku browsing-browsing, ada obat yang…” Kau memutus ucapanku dengan melepaskan genggamanmu tiba-tiba.
              “Jangan macam-macam!” Kau menatapku tajam. Lalu kau seperti hendak mengatakan sesuatu tapi kau memutuskan untuk kembali diam.
             Dadaku berdegup kencang. Tangisku mulai pecah tapi kutahan mati-matian. Kampus mulai ramai. Aku dan Biru memang duduk di bawah tangga, sedikit tersembunyi tapi tetap saja satu dua mahasiswa mulai lalu lalang di sekitar kami.
             “Aku takut, Biru.” Takut yang amat sangat. Takut yang amat sangat pun bukan kata yang tepat. Ya, itu, kata lain menggambarkan ketakutanku yang luar biasa. Aku tidak tahu kata yang tepat.
             “Ada aku,” Kau kembali mengambil tanganku, kali ini lebih perlahan. Dan menggenggamnya pelan-pelan, erat-erat.
             Aku tidak membalas genggamanmu.
             “Bukan itu…” Kali ini aku yang memecah diam di antara kita. Mataku menerawang ke langit. Sejak tadi warna langit belum berubah, masih kelabu. Biasanya aku sangat menyukai pagi dengan langit abu-abu. Warna abu-abu di langit membuat segala sesuatunya menjadi lebih tenang, membuatku merasa tidak perlu terburu-buru bangun dan mulai siap-siap beraktifitas. Aku merasa lebih dapat menikmati hidup dengan pagi yang kelabu. Tapi pagi ini berbeda. Langit abu-abu pagi ini terasa hambar.
            “Masih banyak yang ingin aku lakukan, Biru…” Aku mengucapkan perasaanku pelan-pelan. “Aku ga mau hamil. Aku ga boleh hamil. Kau tahu, aku ingin jadi jurnalis, dari dulu. Aku ingin bisa meliput berita-berita terbaru. Aku ingin mengguncangkan dunia dengan berita-berita yang kulaporkan. Aku…”
             “Dunia akan terus terguncang tanpa perlu kamu yang melaporkan, Ning,” Kau memotong ucapanku dengan desisanmu menahan volume suaramu sendiri. “Kenyataannya, kamu…”
             Kau menghentikan kalimatmu. Perlahan kau lepaskan genggaman tanganku dan kini memegang kepalamu dan mengusap-usap rambutmu yang sudah mulai panjang menunggu dipotong untuk maju ke ruang sidang skripsi. Rambut indahmu yang pertama kali membuat makanku tidak enak dan hari-hari penuh harapan sampai kau menanyakan namaku sehabis kuliah sore, empat tahun yang lalu.
             “Kamu tetap bisa jadi jurnalis, Ning, seperti mimpimu. Aku tidak akan menahanmu…”
             Kau kembali memutus kalimatmu. Dan kita kembali diam. Kali ini lebih lama dari sebelumnya.
             “Sebentar lagi aku dan kamu sama-sama lulus. Kita nikah. Kita lewatin ini sama-sama. Lagipula kita sudah cukup dewasa kan untuk punya keluarga sendiri.”
             Nada suaramu kembali terdengar ragu. Aku tahu lagi-lagi kamu juga tidak yakin dengan ucapanmu sendiri.
             “Aku ga siap, Biru,” responku spontan. Aku menatap jauh ke lapangan kampus yang sudah ramai dengan mahasiswa-mahasiswi lalu lalang, ada yang dengan payung ada yang lari-lari kecil menghindari rintik hujan. Pikiranku melayang ke lapangan dan berhenti pada seorang gadis berpayung biru yang berjalan berlahan menembus gerimis. Apa yang sedang ia pikirkan? Apakah ia menyembunyikan sesuatu di dalam perutnya? Adakah yang sedang ia tutup-tutupi? Hamilkah ia?
Hujan masih belum berhenti juga.
“Aku juga ga siap, Ning,”
Aku menghela napas panjang.
“Masih banyak yang ingin aku lakukan, Biru, kau tahu itu. Masih banyak yang bisa kita lakukan,” Ucapanku mulai menggebu, “Dunia ini terlalu luas kalau kita hanya diami di satu titik. Aku ga mau nikah…”
Kau menoleh dan aku memutus ucapanku. Mata kita bertemu lagi. Kali ini ada kebingungan yang berbeda di matamu. Kau mungkin melihat api di mataku.
“… Tidak sekarang, Biru,” Aku melanjutkan ucapanku yang terputus, atau aku hanya menambahkan karena kau langsung bereaksi dengan kata-kataku itu, entahlah, aku tidak tahu mana yang benar. “Aku akan nikah, suatu hari nanti. Kita akan nikah, nanti.”
Kau dan aku kembali dalam diam. Aku memperhatikan titik-titik kecil air dari langit yang turun dengan cepat ke tanah. Aku membayangkan akan kemana air dari langit itu. Apakah titik-titik air itu mengenal titik-titik air yang lain? Apakah mereka berteman? Atau bahkan bersaudara? Apakah mereka merasa takut ketika jatuh dari langit ke tanah yang mungkin tidak dikenalnya? Atau apakah karena mereka jatuh bersama-sama sehingga mereka tidak takut sama sekali? Akankah mereka kembali ke tanah yang sama? Atau mereka akan selalu mendarat di tanah yang berbeda?
“Entahlah Biru,” Memikirkan titik-titik air hujan di hadapanmu membuatku merasa kau perlu tahu apa yang kupikirkan. “Aku tidak bisa membayangkan diriku menjadi seperti Bunda. Pagi-pagi entah sepagi apa dia sudah bangun menyiapkan sarapan untuk Ayah, aku, dan Arti. Lalu entah apa yang dia lakukan ketika kami seharian pergi, mungkin masak, beres-beres rumah, menjahit, arisan, yang jelas Bunda selalu ada kalau aku pulang, siang atau sore atau malam. Kapanpun aku butuh, Bunda selalu ada. Maksudku itu hal yang sangat aku sukai bermanja-manjaan dengan Bunda sepulang aku dari bepergian, tapi… Aku selalu berpikir Bunda tidak mempunyai kehidupan. Hidupnya adalah kami. Hidupnya adalah ayah, aku, dan Arti. Sedangkan aku tahu ayah, aku, dan Arti punya kehidupan sendiri-sendiri…”
“Lalu?” Kau kembali menatapku dengan kebingungan yang berbeda lagi. “Kau tidak perlu menjadi seperti bundamu. Kamu tetap bisa jadi jurnalis. Kamu tidak perlu seharian di rumah. Itu pilihan Ning. Mungkin itu memang pilihan Bundamu, untuk tetap di rumah, mengurus kamu dan ayahmu dan adikmu. Kau punya pilihan untuk menjadi jurnalis, dan kau akan selalu punya pilihan…”
“Bagaimana kalau tidak?” Aku memotong. “Bagaimana kalau sebenarnya Bunda tidak punya pilihan karena harus mengurus keluarga? Bagaimana kalau sebenarnya Bunda ga punya pilihan karena ga tega nelantarin anak-anaknya? Bagaimana kalau sebenarnya Bunda ga pernah menginginkan kehidupan yang sekarang ia jalani? Beberapa kali aku memergoki Bunda sedang termenung, lama… Waktu aku memanggilnya, ia seperti dibangunkan dari tidur dan membalasku dengan senyuman. Aku hanya merasa… Bunda tidak bahagia.”
Dadaku terasa sesak dan tatapanku mulai membara. Aku berusaha memindahkan kekalutan otakku ke dalam kata-kata. Dan tidak berhasil.
 “Kalau kamu bilang aku punya pilihan, aku memilih untuk ga hamil.” Hanya itu yang berhasil keluar dari mulutku.
“Terus kamu mau apa?” Tatapanmu mulai tersungut ketidaksabaran. “Aku ga ngerti sama kamu. Sekarang kenyataannya seperti ini, terus kamu ga mau. Kamu ga bisa untuk ga mau. Kita ga bisa, Ning. Kita harus mau. Yang kita bisa lakuin adalah nentuin pilihan kita sesudahnya.”
Aku diam. Untuk kesekian kalinya pagi ini dan kali ini bahkan lebih lama dari sebelumnya. Aku tahu kepalamu juga bising dengan pikiran-pikiranmu sendiri. Aku pun demikian.
“Masih banyak yang ingin aku lakukan, Biru,” Ulangku. Aku menghela napas panjang, sangat panjang. “Aku masih muda. Ada begitu banyak kesempatan di hadapanku. Aku ingin menjadi jurnalis yang hebat. Aku ingin keliling dunia meliput berita dari segala penjuru negeri. Aku ingin menjelajah ke tempat-tempat yang belum disentuh oleh orang-orang. Aku bahkan ingin ke Kutub Utara untuk merasakan seberapa dingin udara di sana dan seperti apa rasanya terjebak di musim dingin yang panjang tanpa matahari…”
Dengan gugup aku merogoh kantong kecil di dalam tasku. Aku mengambil buku kecil bersampul kulit yang mulai kumal karena terus kubawa-bawa kemanapun aku pergi sejak pertama kali aku membelinya, sehari setelah aku lulus SMA.
“Lihat ini, Biru,”Aku membuka buku itu sampai halaman terakhir yang kutulisi. Ada 432 hal yang ingin aku lakuin, dan angka ini akan terus bertambah!”
             Jemari tanganku membuka acak halaman buku kecilku dan mulai membaca perlahan. Air mataku mulai merebak. Semakin banyak daftar yang aku baca, air mataku turun menetes-netes di atas halaman daftar mimpiku tanpa bisa kutahan lagi.
“Mending aku mati aja, Biru,” Kedua tanganku menahan air mataku untuk turun lebih banyak lagi. “Semua mimpi ini ga akan ada artinya lagi kalau aku… Kalau aku punya anak sekarang…”
Kau menghela nafas. Ketidaksabaranmu terasa olehku.
“Menikah dan punya anak bukan akhir segalanya, Ning,”Kau berusaha menekan nada suaramu serendah mungkin. “Kau tetap bisa melakukan apapun yang kamu mau, aku janji tidak akan menghalangimu, aku mau menemanimu kemanapun kamu pergi.”
Untuk kesekian kalinya, aku tenggelam dalam diamku. Dalam pikiranku. Dalam kegaduhan otakku.
“Aku ga bisa melihat seperti yang kamu lihat, Biru,” Aku menghapus bersih air mataku. Jemariku  yang basah membelai pelan sampul buku kecilku. “Yang ada di depan mataku cuma Bunda. Aku bakal seperti Bunda kalau kita nikah sekarang. Dan aku ga mau…”
“Kalau Bundamu tidak seperti sekarang, katakanlah sibuk dengan kariernya dan jarang di rumah, apakah akan membuatmu berpikir berbeda?”
Kau menantangku. Dan membuatku berpikir jauh lebih keras lagi.
Aku tidak tahu.
Hujan mulai bosan turun. Titik-titik air yang jatuh ke tanah semakin sedikit. Dan mendadak aku mulai lelah luar biasa berbicara denganmu, seperti gula darahku yang turun tiba-tiba.
“Kalau kita ga nikah sekarang, lantas kamu mau apa, Ning?”
Aku bersumpah ini adalah pertanyaan terakhir yang ingin kudengar dari mulutmu.
“Biru, dengar,” putusku. “Kau bilang aku punya pilihan. Aku selalu punya pilihan. Dan untuk sekarang, aku memutuskan untuk ga hamil.”
Dahimu mengernyit dalam.
“Lalu maumu apa, Ning?” Akhirnya kesabaranmu benar-benar sampai di ujung. Aku bisa merasakannya dan aku tidak mau berurusan dengan itu.
Aku menatapmu lekat-lekat. Cukup sudah, kau membuatku terlalu lelah.
“Nanti akan kupikirkan caranya.” Aku membereskan tasku dengan seadanya dan berlari meninggalkanmu, menyeberangi lapangan kampus.
Hujan sudah berhenti dan matahari mulai kelihatan dari balik awan. Kau tidak mengejarku.         

*

            Sepanjang sore aku sibuk mencari berbagai informasi. Jelas hatiku memutuskan hanya melipat tangan sambil memantau. Otakku yang bekerja keras, memproses informasi dari sana sini, memikirkan cara yang terbaik yang paling sesuai dengan majikannya, Aku. Semakin banyak informasi yang kutemui, semakin was-was hatiku ini. Sampai akhirnya keduanya jatuh kelelahan menjelang larut malam, ketika bulan persis di atas kepala.
Aku pun jatuh tertidur di atas laptop yang masih terbuka dan monitor masih menyala.
Alam bawah sadarku perlahan mengambil alih. Segala hal yang kulihat tadi sore berusaha menjadi nyata dalam mimpiku. Ada seorang perempuan memakai jaket bulu putih, entah ayam entah burung, menyodorkanku segelas minuman. Dengan ragu aku menerimanya. Gelasnya hangat dan meneguknya sedikit. Aku mencecapnya pelan-pelan. Cairan hangat itu berubah menjadi dingin di dalam mulutku. Dalam hitungan detik aku merasakan tubuhku lemas dan jatuh perlahan ke atas tempat tidur berseprei putih. Kesadaranku menurun tiba-tiba dan dengan susah payah aku tetap berusaha membuka mata. Perempuan yang menawariku minuman itu tersenyum lebar, membaringkanku sepenuhnya, dan meluruskan kedua belah kakiku. Aku melihat sebilah pisau dapur yang biasa dipakai Bunda untuk memotong daging di tangannya. Tanpa ragu ia menaruh ujung pisau di tengah perutku. Dingin. Aku ingin berteriak tapi tidak ada suara yang keluar. Tanpa menunggu aku bisa mendengar suaraku sendiri, ia membelah perutku dan mengeluarkan isinya. Semuanya. Usus, jantung, ginjal, hati, berlumur darah dan lendir. Rasa sakit yang amat sangat menjalar ke seluruh tubuhku. Lalu perlahan ia menanggalkan jaket bulu yang dikenakannya, melipatnya menjadi empat bagian lalu dimasukkannya ke dalam badanku yang sudah kosong melompong dan menjahitnya dengan cepat. Sebentar saja badanku terisi kembali, seperti balon kempis yang ditiup cepat-cepat.
Aku terbangun menjelang pagi karena rasa gatal yang amat sangat dari leherku. Aku terbatuk tanpa henti seperti tersedak bulu-bulu burung yang memaksa keluar dari kerongkonganku. Rasa mual yang luar biasa hebat menyerangku tanpa ampun.
Aku berlari ke kamar mandi. Tapi terlambat. Seluruh isi perutku keluar dalam satu kali hentakan di lantai persis selangkah sebelum aku mencapai kamar mandi. Aku tersungkur di lantai, badanku luar biasa lemas. Aku merasakan sesuatu yang lembut di tanganku. Ada segenggam bulu burung berwarna putih di tanganku.

*

Aku terbangun dengan keringat di sekujur tubuhku dan napas terengah-engah luar biasa. Rupanya mimpiku terlalu buruk.

*

             Kekasihku bilang aku selalu punya pilihan, dan memang benar adanya. Aku punya pilihan. Yang dibutuhkan hanyalah sedikit keberanian. Keputusan ini kuambil karena aku tahu apa yang aku inginkan, walaupun aku tidak tahu apakah ini yang terbaik atau tidak. Persetan dengan keputusan yang terbaik, aku tidak peduli. Bagiku, meskipun ini keputusan yang paling buruk sekalipun, tapi ini yang kuinginkan. Aku sering mendengar orang-orang bilang kita bisa mengambil keputusan yang terbaik dari yang terburuk ataupun menemukan solusi yang menyenangkan semua pihak. Semuanya omong kosong bagiku. Aku tidak perlu yang terbaik ataupun memenangkan hati orang lain. Aku ingin mengikuti apa kata hatiku walaupun sering bentrok dengan otakku, atau malah sebaliknya, entahlah, tapi salah satu dari mereka memang sering kumanjakan. Dan kini, tubuhku yang harus menanggung akibatnya.
             Rasa nyeri yang belum pernah kurasakan sebelumnya menghinggapi perutku bagian bawah. Aku tidak tahu apa yang kurasakan atau kupikirkan saat ini. Aku hanya ingin segera jatuh tertidur dan melupakan semuanya. Mungkin ketika bangun nanti semua ini hanya mimpi belaka, bagian dari malam-malamku yang biasa yang terputus saat pagi mulai naik dan aku harus bergegas siap-siap ke kampus.

*

              Malamnya aku bermimpi terbang tanpa sayap. Aku memakai terusan panjang berwarna putih dan tanganku mengepak di udara seperti sayap seekor burung camar. Setiap kepakan kedua tanganku, aku melampaui jarak yang tidak bisa kutempuh ketika aku berjalan kaki saja. Sejuknya angin di ketinggian membelai lembut pipiku dan membuat rambutku melambai-lambai. Aku merasakan ada sesuatu yang terlepas dari dalam diriku.
              Aku merasa  b e b a s.



                

Read More

Jumat, 17 April 2015

- Leave a Comment

Bayi yang Menangis di dalam Kardus



Seharusnya pagi ini bisa menjadi pagi yang sunyi. Namun, tidak seperti biasanya, kali ini Warso harus teriak-teriak tak mau kalah dengan ayam yang berkokok.
“Man! Kemari, Man! Cepat, Man! Kemari! Ada bayi!” teriak Warso memanggil Kardiman yang kebetulan sedang tugas jaga pada hari itu.
Sebenarnya Kardiman lebih asyik memilih untuk meluruskan kakinya ke meja jaga ketika ia sedang duduk di pos, namun begitu ia mendengar kata “bayi” dari teriakan Warso, dengan sigap ia berlari mendekati temannya tersebut.
“Apa? Mana bayinya? Ada di mana?” tanya Kardiman kepada Warso begitu sampai di toilet SPBU tempatnya bertugas.
“Itu,” jawab Warso sambil menunjuk ke arah kardus bekas mi instan yang dari dalamnya terdengar tangisan bayi.
Dengan rasa penasaran, Kardiman mendekati kardus itu dan melihat bayi yang tengah menangis tanpa mengenakan sehelai kain pun. Ia kemudian mengangkat kardus itu dan membawanya keluar dari dalam toilet. Diletakkannya kardus itu di depan musala yang berada tidak jauh dari toilet.
“Kita harus laporkan ini ke polisi, So,” kata Kardiman setelah meletakkan kardus berisi bayi itu.
“Jangan, Man. Aku tidak mau kita berurusan dengan polisi. Aku juga tidak punya uang untuk membayar ongkos polisi-polisi itu nanti. Memangnya kau punya uang?” tanya Warso kepada Kardiman. Kardiman hanya menggeleng.
Mereka kemudian terdiam sambil memandangi bayi yang tak kunjung berhenti menangis itu.
“Ah, kita telepon bos saja, So,” kata Kardiman tiba-tiba menawarkan ide.
 “Ya sudah. Mana hape-mu?” tanya  Warso sambil menadahkan tangannya ke arah Kardiman.
 “Kok hape-ku? Ya Pakai hape-mu lah. Aku nggak ada pulsa. Kau kan tahu, lemburan kita telat bulan ini,” kata Kardiman pasrah. Mereka kemudian kembali terdiam.
Di sela-sela kebisuan mereka yang dilatarbelakangi oleh tangisan bayi di dalam kardus itu, datanglah Suriyem, penjual jamu langganan Kardiman dan Warso.
“Bayi siapa itu, Man?” tanya Suriyem yang datang sambil menuntun sepedanya yang berisi jamu.
Kardiman kemudian menjelaskan bahwa tadi Warso menemukan kardus yang berisi bayi ini di dalam toilet. Pria jangkung berbaju seragam hijau daun pisang milik perusahaan gas ternama ini sebelumnya tidak melihat satu orang pun masuk ke toilet SPBU yang memang belum buka.
“Berarti, ini salah kamu, Man. Masak ada orang masuk ke sini kamu nggak liat?” kata Suriyem kemudian.
Kardiman tak terima disalahkan oleh Suriyem. Dengan cepat ia memutar otak untuk mendapatkan beribu alasan agar posisinya benar.
“Enak saja. Orang itu kan masuknya ke toilet, berarti Warso yang lebih berwenang. Kalau orang itu masuk ke kantor, baru aku yang salah,” ucap Kardiman membela diri.
Ribut-ribut saling menyalahkan itu ternyata menarik perhatian tiga orang yang sedang lari pagi di sekitar SPBU. Tiga orang itu lebih dikenal dengan panggilan Pak RT karena dia seorang RT, Pak Ustaz karena dia seorang guru mengaji, dan Pak Guru karena dia adalah seorang guru SD di lingkungan tersebut.
“Ada apa ini? Kok ribut? Ini bayi siapa?” tanya Pak RT begitu mereka mendekat.
Warso kemudian menjelaskan kejadian yang menimpa dirinya hingga akhirnya terjadi keributan saling menyalahkan ini.
“Waduh, sudah kalau begitu,” ucap Pak Guru menenangkan, “kalau begini ini, kalian jelas tidak salah. Lihat itu, masalahnya adalah bayi itu kan? Yang salah ya orang tua bayi itu. Kok tega membuangnya? Orang seperti ini pasti bukan warga yang baik,” lanjut Pak Guru.
“Ah, tapi warga saya semuanya baik kok, Pak,” sanggah Pak RT, “tidak mungkin warga saya melakukan hal semacam ini. Jelas yang salah ini karena mereka tidak punya keimanan yang kuat. Hingga tega membuang darah dagingnya sendiri,” kata Pak RT.
Mendengar pernyataan itu, Pak Ustaz jelas tidak terima. Dia merasa telah mengajarkan agama kepada warga sekitar dengan baik dan yakin keimanan warga di sini sangatlah kuat.
“Buktinya, Pak RT, warga di sini tidak pernah alfa merayakan hari besar Islam. Yang mengisi pun, selalu kiai-kiai besar. Belum lagi, anak muda di sini juga setiap pekan selalu hadir di majelis taklim yang dipimpin oleh habib besar. Anak saya biasanya memimpin rombongan paling depan. Pak RT dan Pak Guru sering lihat kan bendera besar mereka?” tanya Pak Ustaz. Semua orang yang ada di situ mengangguk, tanda setuju dengan apa yang dikatakan Pak Ustaz.
“Ini pasti ulah warga luar, Pak!” kata Kardiman yakin.
“Hus! Jangan asal tuduh kau, Man!” kata Warso.
Namun Kardiman yakin ini pasti ulah warga kampung sebelah. Ia menyimpulkan setelah mendengar yang dikatakan tiga orang yang sedang lari pagi itu.
Setelah semua yang ada di situ yakin bahwa orang tua bayi ini adalah warga kampung sebelah, Pak RT berinisiatif untuk membawanya ke panti asuhan yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya. Namun baru saja dia mengangkat kardus itu dengan kedua tangannya, ponselnya berdering keras sekali. Dia meminta Warso untuk mengambilkan ponsel itu di dalam saku bajunya. Selain itu, setelah melihat nama istrinya di layar ponsel, dia meminta Warso menekan tombol speaker agar dia bisa mendengar jelas suara istrinya dengan tetap dipegangi Warso.
Pak, Bapak di mana? Cepat pulang, Pak!” suara Bu RT di seberang sana.
“Ada apa, Bu?” tanya Pak RT terlihat panik.
Anak kita kekurangan darah, Pak. Darah terus mengalir dari kemaluannya. Ternyata dia baru saja melahirkan anak dan membuangnya entah di mana.
Semua orang yang ada di situ saling tatap. Pak RT tak bicara apa pun. Dia kemudian menunduk dan melihat bayi yang ada di dalam kardus yang dipegangnya.
Anak kita dihamili oleh Slamet, Pak! Anak Ustaz,” kata Bu RT yang kemudian diikuti suara tangisan.
Pak RT menatap Pak Ustaz. Pak Ustaz hanya bisa melongo membalas tatapan Pak RT.
“Jadi, ini bayi siapa?” tanya Warso ketika semua terdiam.
“Saya pikir, Wati memang gemukan sekarang. Ealah, saya ketipu. Ayo, Pak, bawa ke rumah Bapak saja,” kata Pak Guru sambil merangkulkan tangan ke bahu Pak RT dan mengajaknya berjalan.


Sumber gambar: http://www.anneahira.com/orang-terkecil-di-dunia.htm
Read More

Rabu, 21 Januari 2015

- Leave a Comment

Campsie

Namaku Campsie, dibaca kem-si. Usiaku sekarang lima setengah tahun. Aku adalah boneka beruang berwarna merah muda. Ukuranku tidak besar, sehingga tidak bisa dipeluk, pun tidak kecil sehingga tidak bisa dijadikan gantungan tas atau aksesoris semacamnyalah. Bentukku lucu, proporsional dan cantik. Seiring dengan berjalannya waktu, warnaku mulai memudar, tapi itu sama sekali tidak mengurangi pesonaku. Buktinya, pemilikku masih tetap menjadikan aku sebagai koleksi favoritnya. Akulah satu-satunya boneka yang selalu dibawa kemana pun ia bepergian.
Aku dan pemilikku pertama kali bertemu di sebuah toko boneka kecil di dekat stasiun kereta bernama Campsie, salah satu kota di pinggiran Sydney. Makanya ia memberiku nama Campsie agar ia tidak lupa tempat asalku. Aku masih ingat betul saat peristiwa pertemuan kami, rasanya seperti baru kemarin. Hari dimana aku bertemu dengan pemilikku adalah hari terakhir aku dimana melihat pacarku.
Saat itu, sedang musim panas di pertengahan Januari. Aku sangat senang dengan musim panas. Ada banyak cahaya matahari yang masuk melalui jendela etalase toko. Dibandingkan musim semi di bulan September, manusia yang berseliweran mengejar kereta pada musim panas tampak lebih gembira dan lincah. Pakaian yang mereka kenakan pun lebih cerah dan terbuka. Banyak dari mereka yang mengenakan kaca mata hitam atau topi.
Aku pertama kali merapat ke Benua Kanguru ini pada bulan Juli. Asalku dari sebuah pabrik di China, sama seperti semua boneka dan beragam produk lainnya yang tersebar di seluruh dunia. Ketika pertama kali sampai, udara di pelabuhan Sydney sangatlah dingin tapi tidak sampai turun salju. Kami semua, maksudnya semua boneka yang baru saja sampai, disimpan terlebih dahulu di kontainer raksasa sebelum didistribusikan ke berbagai toko. Saat berada di dalam kontainer yang gelap dan dingin itulah aku bertemu pacarku, boneka beruang besar berwarna cokelat tua. Jika bersebelahan dengannya, aku terlihat sangat kecil. Kami pasangan yang terlihat jomplang sebenarnya tapi aku tidak peduli karena dia sangat baik padaku. Dia selalu melindungiku dari dinginnya udara yang menyusup masuk dari celah-celah tipis kontainer dan menjagaku dari gangguan boneka lain. Memang ada banyak boneka yang baik hati dan lucu, tapi ada juga beberapa yang menyebalkan dan sering mengusili boneka lain. Tapi selama ada pacarku, aku merasa aman dan nyaman. Sampai akhirnya kami semua didistribusikan ke berbagai gerai, aku dan pacarku beruntung karena kami tetap bersama.
Pemilik toko kami adalah seorang lelaki muda, berkulit kuning terang, bermata sipit, berambut pirang yang dipotongcepak, tingginya sedang dan agak sedikit gemuk. Sekilas wajahnya mirip dengan orang-orang yang kutemui di pabrik asalku, namun dia menggunakan bahasa yang berbeda seperti yang kudengar di pabrik. Kata boneka kura-kura yang sudah lebih lama berada di toko ini, nenek moyang sang pemilik toko berasal dari negara yang sama dengan kami tapi mereka pindah ke sini. Mereka kemudian membentuk komunitas, beradaptasi, dan menggunakan bahasa baru.
Jika kuintip-intip dari jendela besar yang ada di depanku, kota ini sebenarnya aneh juga karena banyak toko yang menuliskan huruf Han-Zi di depan pintunya. Aku sampai tidak yakin apakah aku benar-benar berada di benua lain ataukah tetap di China. Selain aksara itu, juga ada beberapa aksara Hangul dan Arab namun tidak sebanyak Han-Zi. Ketika aku bertanya ke pacarku kenapa ada banyak tulisan selain huruf latin, katanya benua ini memang banyak menjadi tujuan untuk memulai hidup baru bagi banyak orang di berbagai belahan bumi. Itu jika mereka beruntung mendapatkan ijin tinggal.
Akupun menyukai kota ini dan berharap dapat tinggal selamanya di sini. Jika malam tiba, terkadang aku, pacarku dan beberapa boneka lainnya mengendap-endap keluar toko melalui celah teralis hanya untuk sekedar berjalan-jalan melihat sepinya kota atau lebih sering kami naik ke lantai dua untuk melihat bintang-bintang di langit. Hampir semua toko di sekitar stasiun ini tutup pada pukul lima sore dan umumnya mereka mulai buka kembali pukul delapan atau sembilan pagi. Akhirnya, kami punya banyak waktu untuk bersenang-senang di malam hari.
Ketika musim panas dimulai pada awal bulan Desember, itu artinya Natal pun tiba. Saatnya membeli kado Natal dan libur panjang. Dampaknya adalah kami menjadi tercerai-berai. Tidak hanya boneka, mobil-mobilan, action figure, sampai gantungan untuk handphone pun sangat diminati. Ada perasaan sedih juga kehilangan teman-teman sepermainan, tapi sebenarnya perasaan bangga lebih besar di hati kami ketika para pembeli memilih dan bisa ‘lulus’ setelah menjadi pajangan selama beberapa bulan di etalase. Pada dasarnya, kami menyadari hakikat kami dibikin adalah untuk menghibur dan menyenangkan hati manusia, sehingga jika kami hanya duduk manis di rak pajangan toko selamanya maka itu artinya hidup kami tidak berarti apa-apa.
Seminggu sebelum Natal, penjualan di toko sangat meningkat. Betul-betul ramai dan padat pembeli. Namun, hampir semuanya membeli boneka Hello Kitty beragam bentuk atau Doraemon atau boneka kuda poni atau bebek karet berwarna kuning. Boneka beruang adalah jenis yang “tidak laku” di toko ini. Meskipun kami sudah memasang ekspresi seimut mungkin, namun baik aku, pacarku dan beberapa beruang lain jarang dibeli. Mereka hanya menghampiri kami, tersenyum karena melihat kelucuan kami dan beberapa diataranya memeluk kami, namun tidak membawa kami ke kasir. Untung saja toko ini tidak menjual boneka Barbie atau Lego, the two most selling toys in the world, karena harga kedua barang tersebut mahal sedangkan penghuni kota ini mayoritas pendatang yang sedang memperjuangkan hidupnya menjadi lebih baik. Atau mungkinkah para manusia sudah bosan dengan kami?
Sepertinya manusia memang tidak tertarik lagi dengan kami karena bahkan sampai tahun baru tiba, aku dan pacarku masih duduk di rak. Bahkan sekarang kami ditaruh di deretan paling belakang.Sementara boneka Hello Kitty yang baru terus berdatangan karena masih ada banyak permintaan.
“Apakah mungkin kita jelek ya, sayang?” tanyaku suatu hari pada pacarku.
“Tidak, ah. Kamu cantik,” jawabnya.
“Kalau aku cantik, mengapa mereka tidak memilih aku?”
“Hmm, kalau mereka membelimu, kita akan berpisah dong?”
Astaga, aku sungguh kaget ketika pacarku mengatakan itu! Benar juga, kami akan berpisah jika salah satu diantara kami akhirnya dibeli. Karena kami berbeda jenis, maksudku dia beruang besar dan aku beruang kecil, tidak mungkin manusia akan membeli kami bersamaan. Mereka pasti hanya akan memilih satu.
Sejak saat itu, aku berusaha sebisa mungkin agar tidak dibeli. Sering kusembunyikan diriku di antara boneka yang lain agar tidak menarik perhatian pembeli yang datang. Cara ini selalu berhasil, setidaknya aku dan pacarku masih bersama-sama bahkan dua minggu setelah perayaan tahun baru. Ini sangat melegakan karena setelah Natal dan tahun baru, tidak banyak alasan untuk membeli boneka. Aku yakin bahwa aku dan pacarku masih akan bersama-sama setidaknya  sampai sebelum perayaan Valentine.
Keyakinanku runtuh ketika keesokan paginya, aku melihat ada dua anak perempuan yang sedang berjalan cepat namun salah satunya segera memperlambat langkahnya ketika berada persis di depan jendela toko kami. Ia mengintip-intip ke dalam dan matanya berpapasan denganku. Ia melihatku lalu tersenyum namun ia tidak masuk dan terus berjalan menuju stasiun kereta. Pada sore harinya, dua perempuan bertubuh mungil itu kembali lewat di depan toko. Kali ini, mereka masuk ke dalam toko. Anak perempuan yang tadi pagi bertatapan denganku langsung berjalan menuju ke arahku. Aku sama sekali tidak sempat menyembunyikan diriku dari pandangannya! Segera ia mengambilku dari rak paling belakang dan memegangku, sepertinya dia mencari tag hargaku.
“Wah, 30 dollar. Mahal juga ya. Beli gak ya?” tanyanya ke temannya.
“Lucu sih, tapi mahal euy. 30 dollar kan bisa beli macem-macem. Ini bonekanya kecil pula,” jawabnya.
Terlihat kecewa, dia menaruhku kembali ke tempat semula dan mereka berdua keluar dari dalam toko. Setelah mereka berjalan keluar, aku merasakan perasaan cukup aneh, antara lega dan sedih. Lega karena tidak jadi membeliku, sedih karena aku masih belum terjual juga padahal sudah setengah tahun berada di sini. Sungguh membuat hatiku terluka. Pada malam harinya, saat menyelinap ke lantai dua untuk melihat langit cerah yang bertaburan bintang dan bulan purnama, aku menceritakan kegundahan hatiku ke pacarku.
“Tadi ada yang hampir membeliku, tapi tidak jadi. Aku merasa senang karena kita tidak jadi berpisah, tapi akupun jadi sedih karena merasa tidak berguna. Kita diciptakan untuk menghibur dan menyenangkan hati manusia kan, sayang?”
Pacarku tersenyum lembut sambil menatapku dengan tatapannya yang selalu teduh dan menenangkan
“Aku tadi melihat anak perempuan yang hampir membelimu itu. Sepertinya dia baik…”
“Iya, tapi dari penampilannya sepertinya dia tidak tinggal di sini. Kalau besok dia datang lagi dan akhirnya membeliku bagaimana?” tanyaku khawatir.
“Tidak apa-apa, karena itu sudah takdir kita…” jawab pacarku mantap.
“Kamu lihat bulan purnama di sana?” lanjutnya, “setiap kamu melihat purnama di langit manapun, akupun akan memandangi bulan itu. Meskipun kita tidak berada di tempat yang sama, namun kita akan terus dipersatukan oleh bulan purnama, karena kita memandang bulan purnama yang sama.”
“Ih, kamu terdengar gombal! Hahaha” jawabku.
Pacarku tidak ikut tertawa bersamaku, kali ini dia menatapku dengan serius.
“Kita akan baik-baik saja, sayang…percayalah,” ujarnya mantap meskipun ada sedikit nada getir di kalimatnya.
Dan setelah itu aku merasa, sepertinya ini adalah malam terakhir kami bersama. Kuputuskan untuk memandangi bulan purnama lekat-lekat agar selalu mengingat terang cahaya dan bentuknya. Karena bulan purnama adalah beruang cokelat besar kesayanganku.
            Keesokan harinya, anak perempuan kemarin, kembali datang ke toko kami. Kali ini dengan senyum yang lebar dan mata yang berbinar-binar, dia segera meluncur ke arahku, memegangku dan mendekapku, hangat. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, dimana para boneka beruang ini hanya dipandangi lalu ditinggalkan, kali ini aku dibawa menuju kasir. Dia mengeluarkan tiga lembar uang 10 dollar dan menyerahkannya ke pemilik toko. Oh, inikah rasanya ada manusia yang mempercayaimu dapat membahagiakan mereka? Ternyata sensasinya sungguh luar biasa! Aku seperti terbang ke langit, lebih tinggi daripada bulan dan bintang yang sering kulihat setiap malam. Aku merasa bahagia, lebih bahagia dibandingkan bersama pacarku. Ah, hampir saja aku lupa…sejenak kucari pacarku di antara tumpukan boneka di rak atas, kami berpandangan. Dia tersenyum bangga dan mengikhlaskanku pergi. Akupun tersenyum bangga dan merelakan kami berdua terpisah.
***
“Hai, namaku Chibi. Namamu bagusnya apa ya?” tanya anak perempuan yang sekarang menjadi pemilikku.
“CAMPSIE!” sambar temannya.
“Kok Campsie?” tanya pemilikku.
“Ya kan belinya di Campsie…hehehehe.”
Pemilikku pun menaruhku dengan hati-hati ke dalam tasnya, tapi kepalaku masih dapat melihat pemandangan di luar. Mereka berdua berjalan dengan gembira masuk ke dalam pesawat.

-Fanny Fajarianti-
19.01.2015
Read More

Kamis, 18 Desember 2014

- Leave a Comment

Hantu Terindah

Saat itu saya sedang memperdalam studi bahasa di Korea. Rambut saya semakin botak, dan perut semakin gendut. Saya tidak terlalu paham tentang Korea Selatan sebelumnya, hanya mengintip dari serial televisi dan mendengarkan musiknya. Sarjana yang beberapa tahun lalu kuselesaikan adalah bidang bahasa Indonesia, kampus tempat saya mengajar ada-ada saja, karena terjadi kerjasama maka saya termasuk yang dikirim ke Korea Selatan untuk studi bahasanya.
Kepergian inilah yang membuat saya dengan Sasti mengakhiri hubungan percintaan. Dia selalu yakin kedekatan hubungan adalah cinta yang sebenarnya, sehingga kami pada akhirnya menyepakati bahwa hubungan ini harus diakhiri, sehingga saya bisa pergi dan lebih tepatnya serasa terusir. Sehingga kepergian dengan keadaan seperti ini, kehilangan ini, sungguh sangat menyesakkan.
Sasti sangat mencintai Indonesia, dia tidak ingin pergi terlalu lama atau menempuh studi di luar negeri. Baginya Indonesia mesti dibangun dan dia ingin pembangunan itu dari dalam sendiri, dia mempelajari bahasa Indonesia, dan semakin memperdalam bahasa-bahasa di Indonesia. Untuk saat ini saya mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya. Menyimpannya dalam lemari bernama kenangan, meski kapan saja bisa dibuka untuk diingat kembali baik sengaja ataupun tidak, tapi setidaknya perlahan akan terhapus dari ingatan.          
“Sungguh melelahkan”
Tiba-tiba perempuan yang duduk di sebelah saya membuyarkan lamunan yang sedari tadi berputar di kepala saya tentang Sasti dan tentang Indonesia. Saya agak lupa, dimana perempuan ini naik ke pesawat. Apa memang terbang dari Jakarta bersama-sama, atau naik ke pesawat di saat pesawat ini transit di Singapura. Dalam perjalan saya memang banyak termenung, dan tanpa terasa terlelap.
“Siapa namamu?”
“Gumiho”
“Nama yang indah”
Dia lalu tertawa terbahak-bahak. Melihat tawanya saya semakin yakin bahwa dalam keadaaan apapun, dia adalah keindahan. Seperti apa itu keindahan, dan bagaimana itu keindahan, saya hanya bisa membayangkan bunga-bunga bermekaran di halaman, sungguh kering imajinasiku tentang keindahan. Lalu saya teringat pada paras Han Ga In, untuk mengeja namanya saya harus berupaya keras.
“Panggil saya Sheril saja” katanya memecahkan pikiran-pikiran lain yang mulai terbersit ketika saya berbincang dengannya. Saya sangat nyaman dengan nama itu, saya pikir nama Sheril lebih akrab di telingaku dibandingkan dengan nama seseorang yang menunjukkan ke-Koreaannya, seperti Kim Yoo-jin, Son Ye Jin, Jun Ji Hyun, Park Jae-sang, Jo Sung-Hyun.  
“Bagaimana kalau nanti kita pergi ke sebuah bukit yang indah di pinggiran kota”
“Sungguh sangat menyenangkan. Saya tak tahu apa kita punya kesempatan untuk itu”
“Kamu pasti tak akan melupakan”
“Apa nama tempatnya”
“Bagaimana kalau sebuah tempat itu hanya diingat dan tak perlu diberikan nama”
Dia tersenyum, kupikir bibirnya seindah masker pertolongan yang tiba-tiba meluncur dari atas tempat duduk kami. Saya pikir tidak lama lagi kami akan tiba di bandara internasional Incheon, Seoul. Percakapan dengannya seperti tak ingin kuakhiri. Perasaanku semakin bergairah memasuki negara yang kutuju ini. Apalagi sebelum mendarat, tiba-tiba tangan Sheryl menggenggam tangan saya, dan saat itu saya seperti sedang ditikam.
Sebuah tikaman lembut yang ditekan perlahan ke dalam jantung. Kemudian saya tatap wajahnya Sheryl, matanya terpejam dan bibirnya tersenyum. Saya kembali mengarahkan pandangan lurus ke depan, ikut memejamkan mata dan merasakan genggaman tangannya. AC terus menerus menyiram dari atas kepala kami.
Peristiwa itu telah menyeret kami jauh dari dalam pesawat, seperti terlempar ke pinggiran pantai dengan ombak yang suaranya seperti tenang tetapi berkecamuk arus di dasarnya, di sebuah malam penuh bulan terang. Terangnya bulan sangat kencang seperti angin yang melambaikan rambutnya ke arah samudra yang jauh.
Mengingat lambaian rambutnya saya seperti pulang ke dalam rumah, pulang ke dalam kedamaian di tengah kecamuk dan ketenangan. Ada gemerisik rambutnya yang hanya bisa kubayangkan yang ikut menentramkan. Bersama rambutnya, tangannya perlahan menggapai ke arah saya. Tangannya, oh tangannya, jemarinya, rambutnya, tubuhnya, saya ingin meraihnya perlahan, dan perlahan-lahan. Hingga saling bertemu, hingga berpelukan, hingga saling meremas.
Kami berpelukan, entah berapa lama kami berpelukan. Aroma pantai yang ikut tertelan di antara dengus yang sedang kami khidmati. Gemerisik pasir yang semakin menempel di antara tubuh kami. Rambutnya ikut membelai perlahan dan masuk ke dalam pori-pori saya. Matanya terpejam, mata saya terpejam juga, saling merasakan.
Bibir dan lidahnya mulai mengecup kuping saya, kemudian bisikan itu hadir, suara yang letih yang datang dari ribuan tahun yang lalu. Dia meminta saya untuk memakan jantungnya. Sudah beribu tahun dia telah berulang kali menyantap jantung lelaki, sekarang saatnya untuk merelakan kehilangan jantungnya.
“Robeklah payudara, ambillah jantung saya, raihlah, rasakan denyutnya, ayolah, Sayang!”
Saya tertegun. Mematung. Tak tahu lagi apa yang dapat dilakukan. Permintaan itu sangat tak masuk akal dan berlebihan. Menjauhi dan melampaui hak untuk hidupnya manusia. Merasakan tubuhnya ke dalam dekapan sungguh sangat membuat gairah meletup tak terhingga, tapi tiba-tiba semuanya berguguran dan kesadaran saya tak tahu telah bertebaran ke arah mana.  
Digenggamnya tangan saya, dan kami bersama-sama merobek payudaranya hingga jantung yang berdegup itu kelihatan dan mulai memandang ke arah kami. Mengapa saya harus merelakan sebuah jantung perempuan untuk masuk ke dalam perut saya. Bibir saya tak kuasa untuk menelannya. Saya memasukkan jantung itu ke dalam mulut. Basah dan jijik menyelimuti perasaan. Rembesan darah mulai mengaliri bibir saya, seperti sungai yang mulai mengalir ribuan tahun yang lalu.
Dia telah terkapar kehilangan jantungnya, darahnya mengalir ke mana-mana. Saya memeluknya beserta tangis yang dalam, dunia semakin bergemuruh. Saya beserta pantai, beserta bulan, beserta ombak, beserta suara, beserta angin, beserta pasir, beserta tubuhnya, beserta rambutnya, beserta jantungnya, beserta tangis, beserta semuanya mulai tenggelam dan semakin terbenam.
Pesawat mulai berguncang, beberapa penumpang ada yang berteriak karena kaget, saya segera terbangun dengan jantung yang sangat bergetar. Saya sangat kaget sekali, kemudian saya atur nafas yang tersenggal hingga keaadan tubuh menjadi nyaman lagi.
“Syukurlah, untung tadi hanyalah mimpi.” Kata saya berguman perlahan sambil mengelus-elus dada menenangkan diri.  
Pesawat yang saya tumpangi akan segera mendarat di bandara internasional Incheon, Seoul. Sebentar lagi saya akan menjejakkan kaki di Korea. Saya lalu berdiri dan menuju ke toilet, meraup muka dan membasahi rambut, mendinginkan pikiran. Setidaknya bisa membuat segar dan melepaskan ketegangan yang telah terjadi akibat mimpi itu.
Saya mengaca di toilet, memperhatikan dengan sungguh-sungguh wajah dan tubuh saya. Sekali lagi saya sangat cemas, ada sesuatu yang sangat lain terjadi pada saya. Saya tidak pernah melakukan operasi plastik. Dengan cepat saya buka dan saya banting pintu toilet. Pramugari keheranan dan segera mendekat. Saya bergegas dan kembali menuju tempat duduk. Saya tak pernah ingin tidur lagi. Senyum perempuan yang duduk di seberang kursi saya seperti mengingatkan sesuatu.
Read More

Selasa, 02 Desember 2014

- Leave a Comment

Kisah Siti dan Mayat Hidup

Ada yang berubah dengan Siti. Ia sudah tidak lagi merasa kehilangan siapapun. Tapi ketika melihatnya menyantap makanan yang terhidang di mejanya, ada daging mentah yang masih berdarah. Siti tengah mengoyaknya dengan gigi yang tak pernah berubah, masih jelita seperti sedia kala. Sementara merah darah sesegar pagi yang beranjak, itu menghiasi bibir dan pipinya. Sesekali Siti mengerang dengan panjang, merasakan setiap serat daging segar yang masih bercampur dengan darah itu, merasakan kenyerian ketika daging segar itu masih hidup. Entah daging apa dan entah daging siapa.
“Itu daging dari mayat si Datuk” kata seorang yang hanya lewat depan rumah siti dan sangat ketakutan menyaksikan.
“Bukan, sepertinya itu kepunyaan Samsul” teman yang lewat tadi juga ikut nimbrung dan ngeri untuk berhenti sejenak.
Tapi ketika hari biasa yang tak sedang menyantap di ruang makan itu, kelembutan Siti tak dapat diragukan lagi. Siti tak merindukan si Datuk dan juga Samsul sekalipun. Baginya itu sudah cerita usang yang sudah sepantasnya dilupakan. Siti tak peduli lagi, yang mana merupakan bagian dari pemerintah kolonial, atau bagian dari pahlawan yang mempertahankan tanahnya, baginya sudah sangat samar, cinta yang lampau telah menjadikannya bahan renungan untuk beranjak melangkah ke depan.
“Barangkali Siti tengah kena sihir dari tukang tenung”
“Siapa gerangan yang mau sihir Siti?”
“Benarkah Siti sudah menjadi mayat hidup? Hidup segan mati tak hendak?”
Orang-orang mulai memperbincangkan bahwa bagian ujung bibir siti mulai membusuk. Bau busuknya itu mulai menyebar ketika orang-orang berpapasan dengan Siti. Bau busuk dari mayat yang cukup lama berkeliaran. Semua orang menyayangkan, apa gerangan yang terjadi pada Siti. Apakah ia menderita sakit yang belum ada obatnya, atau memang sedang sariawan yang sudah lama tak disembuhkan.
Ketika sedang melamun di halaman rumah, seseorang mendatangi Siti dan memberikan segenggam sirih untuk dioleskan ke ujung bibir Siti. Pembawa sirih itu datang sambil menutup hidungnya dengan tangan kirinya, dan menyodorkan tangan kanannya yang mengepal sirih. Siti menjawabnya hanya dengan mata yang melotot. Cukup membuat pembawa sirih itu gemetar dari ujung kepala hingga ujung kaki, kemudian melemparkan sirih itu ke udara dan kemudian berbalik arah lari sekencang-kencangnya.
Tak lama setelah itu, di malam yang gelap dan bulan sedang mati, perlahan-lahan mayat-mayat bangkit lagi dari sepenjuru kuburan. Mayat-mayat lama yang tinggal tulang, mayat-mayat baru yang setengah membusuk, berjalan perlahan dan mengeluarkan suara yang menggeram-geram, mereka terus berjalan hingga mendekati rumah Siti. Mereka satu persatu mendekati halaman rumah Siti, berkumpul dan berkerumun disana, semakin lama semakin banyaklah jumlahnya.
Orang-orang hendak lari, tapi bertanya-tanya akan lari kemana. Mereka hanya mengintip dari balik jendela rumahnya. Tapi mayat-mayat yang bergerak itu tak ada yang ingin mampir, seakan rumah orang-orang itu tak menarik hati bagi mayat-mayat itu.      
“Seseorang pasti merapal ilmu hitam, menghidupkan mayat-mayat” bisik pengintip yang gemetaran sekali.
“Apa yang hendak dituntutnya dari menyerang ke tempat ini” seorang di rumah seberangnya ikut membatin dan bulu kuduknya berdiri.
Pintu rumah Siti kemudian terbuka, seakan membiarkan mayat-mayat itu masuk dan memenuhi seisi rumah Siti. Satu persatu mayat itu memasuki rumah Siti.
Tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu di rumah Siti. Dugaan bahwa Siti telah dikepung dan dimangsa mayat-mayat hidup itu tak benar adanya. Orang-orang terlalu takut untuk mengetahui apa yang terjadi malam itu, tapi segelintir orang yang berani selalu ada. Mereka dari kejauhan membuntuti dengan rasa penasaran yang teramat banyak memenuhi pikirannya.
Merasa bahwa mayat-mayat itu hanya melewati rumahnya, orang-orang kembali ke tempat tidur dan berharap yang baru saja terjadi hanya mimpi buruk menjelang pagi. Tinggallah beberapa orang yang berani dan dipenuhi penasaran yang melihat dari kejauhan. Mereka dengan sabarnya menanti apa yang akan terjadi.
Rumah Siti seakan penuh sesak oleh mayat-mayat, mereka semuanya dapat masuk ke dalamnya. Di sana mayat-mayat itu saling memangsa, mencabik-cabik, menggerogoti dan menggigit-gigit. Hingga waktu yang lama menjelang pagi, saling perang mayat-mayat itu berakhir dan bertebaran sisa-sisanya. Siti hanya terdiam di peraduan dan menyaksikan, ternyata mayat-mayat itu pun tak sempat menyentuh Siti.
Seakan niat awal menyerang Siti dengan mayat-mayat itu, kemudian niat busuk yang digerakkan dari kejauhan itu tak sampailah. Mayat-mayat itu kemudian saling menghancurkan diantara mereka. Siti dengan kecantikan yang hidup itu telah terselamatkan, hanya waktu yang memberi jawab dari pertolongan yang telah didapatnya.
Tapi setelah itu, pagi yang cerah datang, Siti entah ada dimana. Orang-orang yang mengawasi dari kejauhan didera kelelahan, hingga tak sempat melihat dimana adanya Siti, mereka pun tertidur lelap di tempat yang nyaman untuk pengawasan.        
***
Sebelum malam itu, Siti tengah membawa sebuah Koran. Sebuah koran yang tergeletak begitu saja di depan halaman rumah Siti, entah siapa yang membacanya dan kemudian menyimpannya disitu. Siti tak terlalu memperhatikan apa saja berita yang ada, tapi bagian koran yang tergeletak itu di halaman yang dapat dibacanya memberitakan.    
Perusahaan virus milik pemerintah kolonial sudah hadir di kota ini, dengan alasan bahwa pribumi adalah biangnya segala penyakit. Tak seorangpun dapat menyangka ada tempat yang dapat melakukan kegiatan yang demikian. Bahkan penduduk pribumi masih segelintir yang dapat memahami apa yang terjadi. Pemerintah kolonial memang sedang bersemangat untuk bersih-bersih. Melakukan berbagai macam cara dengan mengembangbiakkan berbagai macam virus dan bakteri.   
Koran itu lalu dilipatnya lagi dan kemudian disimpan ke dalam rumah, sembarang saja Siti simpan. Berita itu tak penting bagi Siti. Sepertinya yang ada dikepalanya hanya memuaskan diri dengan menyantap daging mentah merah dengan darah yang masih segar. Keinginan itu makin menguat seiring bulan demi bulan berjalan, keinginan merasakan serat-serat kasar itu dicabik di gigi-giginya, disesap-sesap di lidahnya.  
***
Beberapa orang yang telah melihat dari kejauhan dengan mata kepala sendiri itu, ketika dimintai untuk menceritakan apa yang terjadi di rumahnya Siti malam itu, mereka sepakat untuk menceritakan :
Bumbu yang biasa digunakan untuk memasak daging itu telah disulapnya untuk menghidupkan lagi mayat-mayat yang hidup. Untuk menjadi pasukannya yang dapat membalaskan dendam kesumatnya. Seluruh pemakaman di manapun telah didatanginya. Ditaburkannya bumbu-bumbu itu. Langit memang sedang gelap-gelapnya. Mengukir mata untuk membatasi pandangan matanya.
Kepiawannya meracik bumbu telah dipelajari sejak lama, sebagai seorang perempuan tentu tak elok jika tak pandai meracik  bumbu di setiap masakan. Rendang, gulai, dan apapun namanya dapat dengan mudah dituntaskan. Tapi tak seorangpun tahu dengan bumbu masak apa dapat membangkitkan lagi mayat yang hidup. Hanya ia yang telah mencoba resep itu.
Resep itu memang tak didapatnya dengan mudah, harus mengidamkan hati yang keji untuk dapat mudah mendatangkan pikiran tentang resep itu.
Mereka memang tak menyembuyikan sesuatu apapun, sebab kejadian yang pernah terjadi malam itu telah disampaikan ke semua orang, tetapi memang harus ada pihak yang disalahkan. Mereka sepakat untuk membuat ceritanya seperti yang telah diutarakan. Tapi mereka tak pernah menjadikan Siti sebagai bagian dari mayat-mayat hidup itu.
***
Setelah malam itu Siti memang menghilang hingga beberapa bulan. Orang-orang menyangka bahwa Siti telah dimangsa mayat hidup. Mereka tidak tahu siapa orang keji yang telah membuat mayat-mayat bangkit dan hidup lagi lalu menyerang Siti.
Hingga setelah beberapa bulan itu, orang-orang mulai merasa melihat Siti lagi. Siti sangat indah dilihat dari halaman rumahnya, tak pernah Siti terlihat secantik itu sepanjang hidupnya. Setiap orang mengenang, setiap orang terkenang.   

Read More

Rabu, 26 November 2014

- 2 comments

Penunggu Rumah Tua




Oleh: Dini Afiandri


Julukan Kota Kembang mungkin sudah tak layak lagi disematkan pada kota itu. Namun pada daerah tertentu di sana, masih ada tempat yang menggambarkan dengan jelas mengapa julukan tersebut dulu pernah diberikan. Salah satu tempat yang tersisa sebagai saksi sejarah adalah rumah tua itu. 

Rumah besar itu berada di sisi jalan, arsitektur luarnya bergaya klasik dan khas rumah jaman Belanda. Dengan halaman depan yang luas, dan halaman belakang yang bahkan lebih luas lagi. Tanahnya subur dan hitam. Ada hampir sepuluh jenis pohon buah yang ditanam di sana, mulai dari lengkeng, pisang, alpukat, mangga, sukun, belimbing, hingga sawo belanda. Tamannya terawat, kerimbunan pohon dan bebungaan serta langit-langit rumah yang tinggi membuat udara di dalam rumah menjadi adem ayem. Bagian dalam ditata apik, dengan furnitur kayu hitam dan lantai marmer kekuningan.

Sering terlihat burung kolibri, tikus tanah, dan landak yang sekali-sekali muncul di halaman belakang. Namun, rumah ini juga menyimpan sejuta misteri. Selain berbagai hewan itu, banyak juga makhluk gaib yang turut menjadi penghuni. Di antara kupu-kupu yang hinggap di rumpun bunga, kadang ada satu-dua peri bersayap keperakan yang turut bergabung. Spirit yang sangat tua menghuni pohon lengkeng besar di halaman depan yang telah berusia hampir setengah abad. Di gang dalam rumah kadang terlihat sesosok nona Belanda yang membawa lentera di malam hari. Para malaikat kerap kali keluar-masuk rumah ini. Dan aku adalah salah satu di antara mereka semua, tepatnya pemimpin mereka. Kami bukan makhluk pengganggu, melainkan penjaga rumah ini dan pelindung bagi garis keturunan yang telah tinggal dan memiliki rumah ini secara turun temurun.

Tahun-tahun berlalu, dan kini rumah ini ditinggali sepasang suami-istri yang baru saja dikaruniai seorang putra. Mereka memberinya nama yang indah: Adya Samudera Aradhana. Ketika baru berusia beberapa hari, ia dibawa ke rumah ini, dan kami semua langsung tahu bahwa ia bukan anak biasa. Menjelang malam, Madame— si nona Belanda— muncul di dekat boks bayi. Adya menatapnya, lalu mulai menangis. Anak ini bisa melihat kami.

Madame tersenyum. “Jangan menangis, anak manis. Lihat!”

Madame menyalakan lenteranya dan lentera itu berpendar warna warni—biru, hijau dan ungu. Adya berhenti menangis. Ia menatap Madame dan tersenyum lebar. Sepasang mata hitam miliknya berkilauan memantulkan cahaya lentera. Para malaikat menari di sisi tempat ia tidur, bercahaya kelap-kelip. Tentu saja hanya Adya yang bisa melihat itu semua. Bayi itu tertawa.

Ibunya berkata: “Betapa pemberaninya anak kita. Ia tidak menangis walau ditinggal sendirian.”

Waktu bergulir dengan cepat hingga Adya hampir genap satu tahun. Pagi itu ia sedang duduk bermain di lantai ruang tamu. Ayahnya duduk di dekatnya, mengawasi sang anak sambil membaca koran. Aku melongokkan kepalaku dari langit-langit dan mengintip ke bawah. Adya mendongak dan melihatku. Ia tersenyum menggemaskan. Aku jadi ingin menghiburnya, maka aku menjulingkan mata hingga kedua bola mataku keluar, lalu kujulurkan lidahku hingga panjangnya nyaris menyentuh lantai. Adya tertawa tergelak-gelak dan bertepuk tangan. Ayahnya melihat bocah itu tertawa pada langit-langit yang kosong. Bulu kuduknya merinding.

“Apapun yang ia lihat,” pria itu berujar pada dirinya sendiri dalam hati, “semestinya aku bersyukur bahwa kehadiran makhluk tak kasat mata itu menghibur. Bukan menakuti, apalagi menyakiti.”

Tampaknya baik sang ayah maupun sang ibu berusaha meyakini bahwa keberadaan kami di rumah ini tidak akan mengganggu perkembangan putra mereka. Tapi tentu saja mereka tetap khawatir, dan kekhawatiran itu semakin bertambah ketika seiring pertumbuhannya, mereka sering mendapati Adya bicara sendiri. Di ruang kosong, atau pada bunga-bunga di halaman samping. Sekali, mereka betul-betul memergokinya sedang tertawa dan mengoceh pada spirit tua di pohon lengkeng. Adya belum lagi 5 tahun saat itu, dan akhirnya kedua orang tuanya mengambil keputusan, didorong oleh kecemasan dan rasa ingin tahu.


* * * * *


Bel berdering pagi itu. Dari pintu depan yang tertutup berhembus angin semilir yang hangat, seolah yang datang adalah tamu istimewa. Ayah Adya, sang tuan rumah, menyambutnya dan mempersilakan pria paruh baya berkemeja putih itu duduk. Setelah berbasa-basi sesaat, mereka pun masuk ke inti pembicaraan.

“Jadi begini, Pak Iman. Ibu saya yang sudah sepuh baru saja meninggal bulan lalu, dan rumah ini termasuk salah satu harta warisan beliau. Saya memutuskan untuk menjual rumah ini, karena rasanya baik saya maupun istri saya tidak sanggup mengurus rumah sebesar ini. Uang hasil penjualannya akan dibagi-bagi antara saya dan saudara-saudara saya yang tinggal di luar kota. Nah, yang jadi masalah...” Ayah Adya menceritakan secara singkat keanehan-keanehan yang sering mereka rasakan, juga sikap putra mereka yang tak wajar.

“Kami berharap Pak Iman bisa membantu dan memberi tahu, sebetulnya ada apa di rumah ini. Saya takut mereka akan menimbulkan masalah sesudah saya menjualnya nanti.”

Pria yang dipanggil Pak Iman itu mengangguk, ia menyatakan bahwa ia turut berbelasungkawa, sekaligus membenarkan kecurigaan tersebut.

“Saya bisa merasakan keberadaan entitas gaib yang sangat kuat di sini, tapi yang ini terasa agak berbeda dibanding kasus lain yang biasa saya tangani,” ujarnya kalem.

Ayah Adya menatap pria itu dengan sangsi, ia sendiri sesungguhnya ragu apakah keputusannya mengundang orang ini tepat. Pak Iman kemudian minta diantar keliling rumah. Mereka berdua beranjak dari ruang tamu dan beralih ke ruang tengah. Di sofa, sang ibu tengah menimang Adya yang tertidur di pangkuannya. Pak Iman berjongkok dan menyentuh lantai tepat di tengah ruangan.

“Di sini terasa kuat sekali. Ah... ada sesuatu yang dikubur di sini. Mungkin pusaka atau semacamnya. Saya tidak bisa memastikan.” Pak Iman bergumam.

Ibu Adya menatap suaminya. Suaminya memberi isyarat dengan mengangkat bahu. Haruskah mereka berpegang pada kata-kata pria itu? Sejauh ini, kata-katanya belum berarti apa-apa. Pak Iman melihat keraguan mereka berdua. Ia meminta mereka semua, termasuk Adya, untuk keluar ke halaman belakang. Sang ayah menunjukkan jalan pada tamunya, sementara sang istri mengikuti sambil menggendong Adya yang masih terlelap. Di halaman belakang, tepat di tengah-tengah halaman berumput, Pak Iman minta izin untuk membakar kertas koran. Setelah dibolehkan, ia mulai menyalakan api lalu berkomat-kamit merapalkan sesuatu. Ia meminta makhluk apapun yang ada di situ untuk menampakkan diri karena ia ingin mengajak berbicara.

Api dari kertas koran itu berkobar, semakin lama semakin besar. Bersamaan dengan itu, cahaya mulai bermunculan dari pohon-pohon di halaman. Bola-bola cahaya itu berkumpul, lalu masuk ke dalam api yang dibuat Pak Iman. Mereka berempat melangkah mundur. Lebih banyak lagi cahaya muncul dari pintu dan dari ruangan di dalam rumah, melayang keluar dan bergabung menjadi satu. Lalu dari dinding rumah, tampak sebuah wajah yang besar sekali. Wajah itu bertaring panjang hingga dagu. Sosok kehijauan itu melangkah keluar, sepenuhnya menembus dinding dan berjalan ke halaman belakang. 

Ketika ia berdiri di depan api, sosoknya begitu raksasa, tingginya hampir mencapai sepuluh meter. Cahaya-cahaya menari-nari dan berkerlip di sekitar kakinya. Sosok itu menatap ke bawah, ke arah Pak Iman dan pemilik rumah.

Ayah Adya tampak sangat syok, karena tidak hanya Pak Iman seorang yang memiliki kelebihan yang bisa melihat makhluk itu—dia sendiri juga bisa melihat. Hanya istrinya yang masih menggendong Adya yang tampak bingung karena tidak melihat apa-apa. Sementara itu, Adya sama sekali tak terganggu dan melanjutkan tidur di pelukan ibunya.

Sebuah geraman yang sangat dalam memecah keheningan.

Aku memperlihatkan diri padamu karena kau mewarisi darah penghuni sebelumnya.

Ayah Adya berjengit. Suara itu amat asing. Tak ada satu suara pun yang menyerupainya, seolah berasal dari dunia lain. Makhluk raksasa itu yang berbicara. Di sampingnya, Pak Iman berdeham, lalu mendongak menatap makhluk yang tinggi menjulang di hadapannya.

“Kau penjaga rumah ini?” Ia berusaha membuat suaranya setenang mungkin.

Apa maumu?

Selanjutnya, Pak Iman dan makhluk itu berbicara. Pak Iman mengutarakan maksud panggilannya, bahwa penghuni rumah itu merasa terganggu dan ingin para makhluk gaib untuk pergi dan tidak lagi mengganggu Adya—putra mereka. Awalnya makhluk itu menolak. Lalu sang ayah berkata bahwa jika makhluk itu tak mau pindah, maka keluarganyalah yang akan pindah dan rumah itu akan dijual untuk dijadikan restoran. Restoran pastinya akan membutuhkan dapur yang besar, dan karena menggunakan api yang panas, para makhluk itu tentu akan merasa terganggu.

Tapi aku dan kawan-kawanku tidak pernah mengganggu. Sejak dulu kami ditugaskan menjaga rumah ini, melindungi para keturunannya. Jika tak ada lagi pewaris darah yang tinggal di sini, itu berarti tugas kami sudah selesai.

“Jadi kalian setuju untuk pergi?”

Terdengar geraman rendah sebelum  makhluk itu menjawab.

Ini rumah kami juga. Kami semua akan tidur panjang.

Setelah mengatakan itu, makhluk itu mengulurkan tangan dan ujung jarinya perlahan membelai kepala Adya yang digendong si ibu tanpa menyentuhnya. Wanita itu terkesiap merasakan udara dingin di depan wajahnya.

Kemudian, bayangan raksasa itu memudar. Cahaya di sekitarnya semakin redup, lalu satu per satu perlahan menghilang. Api dari kertas koran itu padam, disusul kesunyian dan kesan tenang yang belum pernah ada sebelumnya.


* * * * * *


25 tahun berlalu, dan rumah itu masih berdiri tegar di tempatnya semula.

Pada beberapa bagian rumah terlihat seolah pernah mengalami usaha renovasi, namun tidak selesai. Seorang pemuda bermata cemerlang dan berkulit pualam yang mengenakan kemeja batik bermotif mega mendung berjalan masuk bersama seorang agen properti yang tengah berbicara panjang lebar.

“Pemilik restoran yang memiliki tanah ini, sebelumnya berusaha membangun ulang rumah ini selama bertahun-tahun, tapi selalu mengalami gangguan aneh-aneh sehingga lama kelamaan tempat ini terbengkalai.”

“Gangguan aneh macam apa tepatnya?” tanya pemuda itu halus.

“Yah... Macam-macam. Ada yang melihat penampakan nona Belanda di tengah-tengah gang dalam rumah, bahan-bahan bangunan yang mendadak hilang secara misterius, dan sebagainya. Setelah berganti pemilik beberapa kali, pemilik terakhir ingin kembali menjual tanah ini. Kita kesampingkan saja isu-isu itu. Tapi jika anda teliti, sebetulnya rumah ini cukup nyaman untuk ditinggali,  kan?”

Pemuda itu melihat-lihat ke sekeliling. Banyak kamar-kamar yang masih sama seperti dulu, termasuk kerindangan pohon-pohon di taman yang kini tak terawat. 

Pemuda itu kemudian berjalan menghampiri pohon lengkeng di taman depan, pohon terbesar yang ada di sana, lalu membelai batang kayu kasar itu dengan lembut.

“Anda suka? Pohon ini sudah hampir seabad umurnya, dan katanya masih bisa berbuah sampai sekarang, walau hanya setahun sekali.” Agen itu terus berpromosi.

Pemuda itu diam saja.

“Pak Adya? Apa perlu saya tinggal sebentar?”

Adya Samudera Aradhana mendongak sekilas, menatap wajah renta yang tersenyum di antara cabang pohon. Wajah sahabat lama yang hanya bisa dilihat olehnya. Ia memejamkan mata dan menyandarkan dahi ke pohon lengkeng itu, tanpa mempedulikan tatapan heran sang agen.

“Aku kembali lagi,” bisiknya. 

         Aku sudah pulang. 




Read More