Jumat, 08 Desember 2017

- Leave a Comment

Bekas Luka

Cerpen Andina Dwifatma

Aryan pernah menjadi kekasih Aryani semasa SMA. Selain nama mereka berdua yang mirip, wajah mereka pun tampak serupa, sampai-sampai saat Aryan membawa Aryani ke rumah untuk bertemu kedua orangtuanya, Papa Aryan terperangah beberapa detik, sebelum kemudian meledak dalam tawa dan berkata,

"Jangan-jangan aku enggak sadar kondomku pernah bocor.” Mama Aryan mencubit perut suaminya dan Aryani menganggap selera humor bakal calon mertuanya itu meriah.

Aryan dan Aryani sama-sama punya kulit coklat, bagian apel di pipi yang menonjol saat tersenyum, bentuk rahang yang halus, muka oval, rambut bergelombang, dan mata yang berbinar. Setiap orang berkomentar bahwa wajah yang mirip berarti jodoh. Mereka tertawa saja, tetapi berharap mitos itu benar adanya.

Aryan pertama kali melihat Aryani di kantin saat sedang menyantap badak sambel—sebenarnya hanya bakwan dipotong-potong lalu dimakan dengan saus kacang, namun dikategorikan sebagai mahakarya kuliner oleh para siswa SMA 3 Semarang. Aryan mencolek bahu Haksoro, kawan sekelasnya, dan bertanya apakah dia kenal cewek yang sedang makan di ujung sana.

“Yang mana?”
“Yang pakai bando merah.”
“Oh, itu namanya Aryani, dari kelas I-8.”
“Salah kowe,” Aryan menggeleng. “Itu calon istriku.”

Haksoro menggeleng-geleng sambil menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti ‘ndasmu’.

Gambar dari sini

Aryan lalu memulai periode pedekate yang terstruktur, sistematis dan masif. Aryan menitip salam ke semua orang yang kebetulan kenal Aryani. Aryan merekayasa kesempatan mengantarkan Aryani pulang dengan menyuruh kawan sekelas Aryani yang juga tetangga rumah gadis itu untuk pura-pura sakit perut, sehingga perlu minta tolong Aryani membawakan buku paket yang baru dibagikan wali kelas sebanyak 12 buah. Ketika Aryani kebingungan bagaimana caranya pulang dengan sekardus penuh buku, muncul Aryan dan motornya sebagai penyelamat. Sepanjang perjalanan menuju rumah Aryani, Aryan sengaja lewat jalan-jalan yang agak menanjak dan bergeronjal sambil berkata sok casual, “Pegangan aja.”

Aryan bahkan ikut Aryani masuk ekstrakurikuler Kepanduan Soeringgit alias Pramuka padahal sumpah mati dia benci sekali tali temali apalagi seragam. Aryan membuat puisi, surat cinta, menyanyi untuk Aryani di bawah balkon kelas gadis itu yang terletak di lantai 2. Selama tiga bulan Aryani merespons tipis-tipis saja, membuat orang satu sekolah ikut deg-degan dan merana.

Maka ketika mereka jadian sungguhan, banyak yang bersuka cita. Bagi Aryan dan Aryani, hari-hari itu berwarna pelangi. Ketika Aryan memberi Aryani ciuman pertamanya, mereka saling menatap dan diam-diam berkata dalam hati masing-masing, "aku akan hidup dengan orang ini sampai mati."

Aryani paling senang mengelus-elus bekas luka di sudut mata kiri Aryan, berbentuk garis seperti codet kecil, kira-kira sepanjang tiga sentimeter. Setiap kali Aryani meminta Aryan menceritakan tentang bekas lukanya, Aryan selalu memberikan versi yang berbeda-beda, tergantung mood dia saat ditanya. Aryani suka mendengarkannya.

Mood sedang ingin dianggap bad boy.
“Bekas luka ini karena aku jatuh dari genteng waktu kecil.”
“Aku maling mangga terus galahnya kena mata.”
“Aku berantem sama anak RT sebelah karena nyuit-nyuitin kakakku.”

Mood cowok sporty.
“Ini waktu aku jadi kiper terus ditekel penyerang lawan.”
“Dilempar bola basket. Lawanku kesal karena aku berhasil three point dari jarak yang jauuh banget."

Mood rayuan gombal.
“Oh, ini? Ini baru ada semalem, saking kerasnya aku mikirin kamu.”

Aryani keburu muntah. Aryan tertawa-tawa.

Semua orang bilang Aryan ganteng karena ia tinggi dan berkulit coklat dan punya senyum manis dan bentuk rahang yang halus dan muka oval dan rambut bergelombang dan mata yang berbinar—tapi bagi Aryani, bekas luka di sudut mata kiri itulah yang membuat Aryan tampan. Aryani bahkan sering memimpikan bekas luka Aryan. Lebih tepatnya, setiap kali Aryan tampil di mimpi Aryani, bekas luka tersebut selalu tampak menonjol. Kelak ketika Aryani meminta putus dari Aryan, malamnya dia mimpi dari bekas luka Aryan itu keluar darah (tapi itu cerita sedih setelah hari-hari tak lagi berwarna pelangi). Setiap mereka bertengkar, Aryani akan mengecup bekas luka Aryan sebagai tanda berbaikan. Dan Aryan balas mencium tangannya.

Lalu hidup membuat Aryan dan Aryani berubah dari sepasang remaja yang cukup bahagia berjalan di bawah hujan berdua, menjadi dua orang asing yang saling mencintai tapi terlalu berbeda. Aryan memutuskan kuliah di luar kota. Aryani melepaskan kepergian Aryan sambil membawakan CD berisi lagu sendu, walau ke ujung dunia pasti akan kunanti, walau ke tujuh samudera pasti ku kan menunggu..

Kenyataannya Aryani tidak menanti Aryan meskipun Aryan tidak pergi ke ujung dunia dan tidak menyeberang tujuh samudera. Aryani meninggalkan Aryan, Aryan meninggalkan Aryani, berkali-kali, sampai akhirnya tak ada lagi alasan yang tersisa untuk bersama.

“Tidak ada orang lain yang bisa mencintaimu seperti aku,” jerit Aryan dalam salah satu episode putus mereka.
“Dan tidak ada orang lain yang bisa menyakitiku seperti kamu,” Aryani balas menjerit.

Dengan pahit mereka berpisah menuju takdir masing-masing. Aryan menikah dengan seorang akuntan dan punya satu anak perempuan. Aryani menikah dengan seorang insinyur dan punya satu anak laki-laki. Mereka tinggal di kota, bahkan pulau, yang berbeda. Sebelum menikah, Aryan membuang nomor lamanya seolah ingin mengenyahkan Aryani dari hidupnya. Dan hidup berjalan tanpa banyak kejutan.

Sesekali Aryani memikirkan Aryan. Bahwa mereka tidak cocok—dan tidak akan pernah cocok—itu ia mengerti. Bila bersama, Aryan dan Aryani seperti memancing keluar sisi tergelap dan terburuk masing-masing. Itulah kesimpulan paling logis dari cinta pertamanya.

Yang tidak ia pahami adalah mengapa, pada malam-malam tertentu saat suaminya tidur di sebelahnya, Aryani bisa melihat Aryan tersenyum menatapnya, dengan sepasang mata dan bekas luka di sudut kiri, bekas luka yang selalu ia sayangi.***

Read More

Sabtu, 11 November 2017

- Leave a Comment

PROMOSI BISNIS


Sebuah karavan kecil dengan atap terpal kuning kusam terparkir di tengah alun-alun kota Bern. Tak jauh dari sana, dua ekor kuda pertanian kurus yang bertugas menariknya sedang merumput dengan tenang.

Di samping kanan karavan itu, boks-boks kayu bekas disusun membentuk sebuah latar dan undakan kecil, bagaikan sebuah panggung untuk seniman jalanan. Dinding latar dan lantai boks didominasi warna merah kehitaman, tanpa pernak-pernik lainnya. Sebuah panggung terbuka yang sekilas sama sekali tidak menarik.

Setiap akhir pekan, petani Joe akan membawa dua atau tiga ekor sapi terbaiknya ke sana untuk pertunjukan. Pesuruhnya akan membawa sapi itu, lalu mengikatnya ke pasak di tengah panggung. Sapi itu akan melenguh gelisah.

Lalu, seorang pemuda dengan tinggi badan sedang namun berotot akan naik ke atas panggung. Kepalanya ditutup topeng kain algojo, dan ia bertelanjang dada. Ia membawa tujuh jenis pisau dan sebilah golok besar.

Dalam satu kedipan mata, pemuda itu menggorok leher si sapi hingga darah muncrat ke mana-mana, membasahi lantai dan latar, membuat warna hitamnya kembali merah. Sapi itu akan terkejut dan menggelepar, lalu jatuh. Dengan kecepatan yang lebih luar biasa lagi, si algojo akan langsung memotong-motong tubuh si sapi. Mengulitinya, lalu memisahkan bagian sandung lamur, paha bagian dalam, iga, ruas punggung, jeroan serta isi perut. Lalu ia memutuskan kepala sapi dari badan, mengeluarkan otak dan memisahkan lidahnya. Terakhir, ia mengangkat tinggi-tinggi kepala bangkai sapi itu, dan memberi salut kepada para penduduk desa yang memberikan tepuk tangan meriah.

Semua daging yang ia potong langsung dijual saat itu juga. Harganya lebih mahal, tapi tetap saja ada orang yang mau membeli. Kadang algojo itu melakukan pertunjukan ekstra bila ada yang memesan daging cincang. Di sisi kiri, ada sebuah papan bertuliskan: "Butchering Alive", dengan tinta hijau cerah.

Tak jauh dari panggung, petani Joe yang menyewa si algojo setiap minggu, menatap seluruh pertunjukan barbar itu sambil menggigit pipa tembakau.



"Promosi jaman sekarang," gumamnya pada diri sendiri. "Semakin gila, semakin menarik perhatian, maka semakin laku pula jualan. Mengherankan."

(Dini Afiandri)
Read More

Jumat, 21 Juli 2017

- Leave a Comment

Negara Tak Akan Berubah


Akhirnya, terjadi lagi kerusuhan besar seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Namun kali ini penyebabnya karena para pemuda di Indonesia muak dengan berita-berita yang selalu menampilkan tingkah koruptor, dari kelas teri hingga kelas kakap, sebagai bintangnya.

Ramai-ramai para pemuda menyerbu gedung pemerintahan. Entah ini sudah kali keberapa mereka mendatangi gedung yang katanya akan dibuat baru itu. Ya, bisa jadi, akhir-akhir ini para pemuda yang kesemuanya adalah mahasiswa, lebih sering datang ke gedung ini ketimbang datang ke kampus mereka sendiri. Aku serius akan hal ini. Aku ingat betul terakhir kali aku ke kampus yaitu ketika hendak berkonsultasi judul skripsi kepada dosen pembimbingku, di tengah perjalanan aku dihadang oleh temanku.

“Apa yang kau lakukan, Kawan? Para pemuda akan melakukan perubahan besar, dan kau masih bisa berjalan dengan santai?”

Aku terdiam mendengarnya. Sejenak aku berpikir tentang kata “perubahan” yang dia maksudkan. Tapi aku tak menemukan apa maksudnya.

“Perubahan? Perubahan bagaimana maksudmu?”

“Perubahan pemerintahan, Kawan! Kau tahu apa yang melatarbelakangi para pemerintah itu korupsi? Tekanan ekonomi, Kawan! Mereka melakukan itu untuk membahagiakan keluarganya! Seharusnya Negara tidak boleh dipimpin oleh orang-orang yang berada di bawah tekanan, Kawan!”

“Maksudmu, Negara itu harus dipimpin oleh ….”

“Pemuda! Kau benar, Kawan! Karena pemuda belum memiliki keluarga yang tentu saja tidak akan merasakan tekanan ekonomi karena hasratnya untuk membahagiakan anak dan istrinya!”

Aku tertegun mendengarnya, tampaknya dia benar. Aku memutuskan untuk ikut dengannya. Aku melupakan judul skripsiku, dan aku melupakan pendidikanku. Tenang, ini hanya untuk sementara. Sampai perjuangan para pemuda akhirnya bisa dimenangkan.

Sekarang aku di sini. Bergabung di antara ribuan pemuda yang menuntut lengsernya pemerintahan. Tapi, tidak, tidak tepat jika kukatakan “lengsernya pemerintahan”, semua pemuda di sini memiliki keinginan yang sama, yaitu mengganti pemerintahan dengan kader pemuda. Berarti pemerintahan benar-benar diubah total! Kalau begitu, kita sebut saja “longsornya pemerintahan”.

Hanya butuh waktu sepuluh hari untuk melongsorkan pemerintahan. Rupanya, para orang tua yang selama ini duduk di kursi pemerintahan tidak mampu menahan bokongnya lebih lama lagi. Ramai-ramai mereka keluar sambil membawa pengeras suara. Secara terang-terangan, mereka menyerah, dan menyerahkan kekuasaan sepenuhnya kepada para pemuda. Mendengar pernyataan itu, sontak para pemuda bersorak. Gemuruh memenuhi langit kala itu.

***

Kini aku menjabat sebagai Menteri Keuangan, jabatan yang sangat “basah” di kala pemerintahan orang tua dulu. Jika saja kuikuti jejak mereka dulu, tak dapat dipungkiri, setahun kemudian mungkin saja aku harus menambahkan dua buah huruf “X” di depan label ukuran bajuku yang sebelumnya hanya bertuliskan “L” saja. Ya, aku serius. Karena dengan keahlian manipulasi data yang diwariskan oleh orang tua di pemerintahan dulu, angka pengeluaran yang seharusnya Rp1.000.000 bisa kusulap manjadi Rp10.000.000. Kupakai Rp1.000.000 untuk anggaran sebenarnya, sisanya kumasukkan ke rekening pribadiku. Mudah bukan? Tapi, aku tak mau mengulang sejarah kotor itu. Bagiku, gaji saja sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Ya, karena aku tak perlu repot-repot memikirkan biaya dapur untuk anak-istri juga biaya pendidikan untuk anakku.

 Ada beberapa peraturan baru terkait pemerintahan pemuda ini, di antaranya adalah:
  • Setiap pejabat Negara diperbolehkan menyelesaikan studinya selama masa jabatan dengan catatan bahwa pejabat terkait tetap mempertanggungjawabkan kinerjanya kepada Negara.
  • Setiap pejabat Negara tidak diperbolehkan untuk berkeluarga. Pejabat Negara yang memutuskan untuk berkeluarga, akan diberhentikan demi kebaikan pemerintahan.
  • Masa jabatan ditentukan oleh usia. Pejabat Negara yang diperbolehkan menjabat adalah yang berusia antara 22 sampai dengan 30 tahun.
  • Pemilihan pejabat Negara ditentukan melalui seleksi khusus yang mempertimbangkan keahliannya masing-masing.
  • Presiden, wakil presiden, ketua dewan permusyawaratan rakyat, dan ketua majelis permusyawaratan rakyat dipilih dari pemuda terbaik dengan kriteria tertentu.
Kira-kira, seperti itulah beberapa peraturan-peraturan baru yang kuingat. Entah pemerintahan seperti ini menguntungkan atau tidak, tapi sejauh yang kuketahui, tak ada masa periode jabatan. Kadang pergantian jabatan terjadi tiga kali dalam seminggu, dan terkadang tidak ada satu pun pergantian jabatan dalam satu bulan.

“Kapan kau akan menikahiku?”

Dinda bertanya kepadaku ketika aku mampir ke rumahnya seusai bekerja. Aku terkejut mendengarnya. Hampir kumuncratkan lagi teh manis yang belum sempat kutelan. Aku memandangnya dalam diam.

“Dulu kau bilang, kau akan menikahiku ketika kau sudah mapan, bukan?”

Ya, aku ingat itu, aku memang pernah berjanji seperti itu. Aku ingat, tepat dua tahun yang lalu, ketika aku masih menjadi mahasiswa, sebelum aku berada dalam pemerintahan pemuda ini.

“Kenapa kau diam? Apa itu hanya janji palsu? Ketika kini kau sudah mapan dan memiliki segalanya, kau akan meninggalkanku begitu saja?”

“Bukan. Bukan seperti itu, Din. Dengar, sekarang aku memang sudah mapan, tetapi kau tahu kan bahwa aku sedang bekerja di pemerintahan? Kau tahu kan bahwa pemuda yang bekerja di pemerintahan tidak boleh berkeluarga?”

“Lalu aku harus menunggu lagi? Dulu kau memintaku untuk menunggumu sampai mapan, kini aku harus menunggu lagi sampai kau berhenti dari pemerintahan?”

“Tidak, bukan itu maksudku.”

“Lalu apa? Jika memang seperti ini, aku tidak akan pernah mendukungmu masuk ke pemerintahan!”

Kulihat mata Dinda mulai berkaca. Aku sudah dapat menduga apa yang akan terjadi selanjutnya, dia akan menyudutkanku, menangis, kemudian meninggalkanku begitu saja.

“Dengar! Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi!” Dinda bangkit dari duduknya, “nikahi aku, atau akan kucari laki-laki lain yang lebih bisa memberikan kepastian kepadaku!”

Air matanya mulai mengalir anggun dari mata melewati pipi. Aku tak mampu menatap beningnya air mata itu. Sesaat kemudian, Dinda masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkanku di teras rumah begitu saja. Aku tak bisa berkata apa-apa.

Sepanjang perjalanan aku memikirkan apa yang baru saja kualami. Aku harus memilih antara janjiku kepada Dinda dan pengabdianku kepada Negara. Sebuah pilihan yang tidak mudah bagiku, karena keduanya, merupakan hal yang sama-sama harus dipertanggungjawabkan.

Kuparkirkan mobilku di sebuah masjid yang sebenarnya tak jauh dari rumahku. Tidak, aku tidak sedang ingin beribadah kepada-Nya. Hal ini pernah kulakukan sebelumnya. Di sini, aku hanya ingin menenangkan pikiranku. Menyendiri dan menyepi, berharap Tuhan akan membisikkan jawaban atas pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikiranku kini.

Aku duduk bersila menghadap mimbar. Berada di tengah ruangan, tepat di bawah kubah masjid. Mataku tak kuhadapkan ke arah mimbar, namun kuarahkan pada karpet hijau yang bergambar masjid di bawahku.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang.

“Regiansyah Candrasena, Menteri Keuangan kita,” katanya sambil tersenyum.

Aku membalas senyumnya.

“Apa yang kau pikirkan, Nak? Sepertinya sesuatu yang sangat berat sedang menindih kepalamu.”

Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya. Aku hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.

“Ceritakanlah, Nak. Kau tidak bisa menyembunyikan sesuatu dariku,” katanya sambil memegang pundakku.

“Dinda memintaku untuk segera menikahinya, Kek.”

“Itu bagus! Lalu apa lagi yang kau pikirkan? Regiansyah, kau sudah mapan sekarang. Memang sudah waktunya untuk berkeluarga!”

“Masalahnya, aku masih menjabat di pemerintahan, Kek.”

“Masalah? Di mana masalahnya? Apa hubungannya berkeluarga dengan pemerintahan, Nak?”

“Kek, pemerintahan sebelumnya kacau karena para pejabatnya sudah berkeluarga.” Kakek mengernyitkan matanya, “maksudku, karena para pejabatnya sudah berkeluarga, maka mereka terjebak dalam himpitan ekonomi. Himpitan ekonomi inilah yang menyebabkan para pejabat itu nekat melakukan tindakan korupsi. Keuangan Negara pun kacau, dan semuanya menjadi berantakan. Inilah yang menyebabkan kami, para pemuda, akhirnya melongsorkan pemerintahan sebelumnya, Kek.”

“Ya, aku tahu tentang itu. Regiansyah Candrasena, mungkin kau benar bahwa jika kita berkeluarga maka kita akan terjebak dalam himpitan ekonomi. Tapi aku rasa kesimpulanmu salah jika kau mengatakan bahwa berkeluargalah yang akhirnya memicu lahirnya korupsi. Regiansyah, menikah itu bisa membuka pintu rahmat, bukan malah sebaliknya. Himpitan ekonomi terjadi karena ada sesuatu yang ingin kau wujudkan namun memerlukan sejumlah biaya. Mungkin benar, dengan berkeluarga kau akan terjebak dalam himpitan ekonomi. Karena saat berkeluarga, kau mulai memikirkan untuk mewujudkan keinginan banyak orang. Kau ingin mewujudkan keinginanmu sendiri, istrimu, juga anakmu. Itu artinya, kau memerlukan biaya yang tidak sedikit lagi. Sekarang yang jadi masalah adalah, bagaimana caramu untuk mewujudkan semua keinginan itu? Sebagai seorang kepala keluarga, tentu saja kau ingin melihat keluargamu selalu bahagia. Cara yang kau ambil itu, bisa saja benar atau bahkan bisa saja salah. Semua tergantung bagaimana caramu mempertimbangkan segalanya.”

Aku mengangguk sambil terus mendengarkan penjelasan kakekku.

“Regiansyah Candrasena, sebenarnya aku sangat menyayangkan apa yang kau lakukan bersama teman-temanmu pada waktu. Jika kau perhatikan, apa yang terjadi di pemerintahan sebelum dan sesudah ‘pelongsoran’ itu, benar-benar tidak ada bedanya. Kalian tetap memerintah dengan sistem kerja yang tidak ada bedanya. Hanya saja, kalian memiliki keyakinan bahwa pemuda lebih baik dari orang tua yang sebelumnya. Padahal, baik orang tua maupun pemuda, keduanya hanya digerakkan oleh tiga hal; nafsu, pikiran, dan hati.”

Aku mengernyitkan mataku, seperti ada perasaan tidak setuju dengan kakekku, namun aku masih enggan untuk memotong pembicaraannya.

“Kau tahu, nafsulah yang membuatmu memiliki keinginan akan sesuatu, pikiran yang menciptakan akal tentang bagaimana caramu mewujudkan keinginan itu, dan hatilah yang menimbang serta memberi penilaian tentang baik atau buruknya caramu mewujudkan sesuatu itu. Sayangnya, hati inilah yang jarang digunakan. Pemerintahan yang baik, bukanlah pemerintahan yang dipimpin oleh para pemuda atau oleh para orang tua. Akan tetapi, pemerintahan yang dipimpin dengan ini,” dia mengarahkan tangannya ke dada dan menunjuknya berkali-kali, “kau mengerti?”

Aku terdiam. Tak mampu menjawab.

“Mungkin pemerintahanmu ini akan baik di awalnya saja,” dia melanjutkan, “tapi kita lihat saja nanti, beberapa tahun lagi. Ketika pemuda-pemuda penggantimu mulai melupakan tekad dibentuknya pemerintahan ini. Ketika mereka yang menjabat bukanlah mereka yang ikut berjuang dalam ‘pelongsoran’ kemarin. Masa-masa seperti itu, sudah pernah aku lewati.”

Tiba-tiba suasana menjadi hening sesaat. Aku seakan kehilangan kata-kata begitu kakekku selesai berbicara.

“Oh, iya. Bagaimana dengan Dinda, Nak? Jadi, apakah kau sudah mulai menemukan jawaban dari masalahmu itu?” kakekku mencoba memecahkan keheningan yang terjadi.

“Aku masih belum begitu yakin, Kek.”

Kakekku tersenyum. Meski kumis dan jenggot hampir menutupi lekuk bibirnya, aku masih tetap bisa merasakan senyumannya yang ikhlas.

“Yakinkanlah dirimu, Nak. Ingat tiga hal yang kubicarakan tadi. Jangan pernah kau lupakan yang terakhir.” Sesaat dia melirik jam besar yang ada di belakangku. “Pulanglah, besok kau harus kembali bekerja.”

Aku melirik jam tanganku dan bangkit setelah berpamitan dengan kakekku. Kakekku ikut berdiri dan mengantarku sampai ke depan pintu masjid. Aku meninggalkannya setelah dia menitipkan salam untuk ayah dan ibuku di rumah. Ya, kakek tidak tinggal serumah bersamaku, dia lebih memilih tinggal sendiri dan menghabiskan waktunya di masjid.

***

Beberapa bulan setelah itu, aku menikah dengan Dinda. Setelah setahun menunggu, putra pertamaku pun lahir. Sayang, kakekku sudah tiada sebelum putra pertamaku ini lahir. Dia wafat tidak lama setelah pernikahanku dengan Dinda.

Kini, setelah anakku berumur lima tahun, tiba-tiba saja aku terkenang akan obrolanku dengan kakek di masjid pada waktu itu. Dia benar, kini Negara kembali kacau. Mungkin, akan selalu seperti ini keadaannya sampai kapan pun. Pemerintahan yang dijabat oleh para pemuda, jelas terbukti tidak dapat mengubah Negara ini menjadi lebih baik. Aku rasa, benar apa yang dikatakan oleh kakekku, Negara ini baru akan berubah jika pemerintahannya dijabat oleh mereka yang selalu memperhatikan tiga hal, yaitu nafsu, pikiran, dan tidak pernah lupa untuk menggunakan hati.

Gondangdia,
21 Juli 2017
20:11
 
Sumber gambar: http://kalaliterasi.com/wp-content/uploads/2017/02/Aksi-Mahasiswa.jpg
Read More

Sabtu, 01 Agustus 2015

- Leave a Comment

Bebas



“Aku hamil.”
Kau terdiam.
“Kamu tahu dari mana?”
“Semalam aku beli test pack. Dan hasilnya positif,” suaraku datar, tenagaku habis kupakai untuk menangis semalam. Kau terdiam lagi. Aku juga.
“Aku ga mau hamil. Aku ga boleh hamil.”
“Ya sudah, kita nikah aja,” Setelah lama, suaramu yang tidak kalah datar dengan suaraku tadi memecah keheningan. Jelas kau tidak menyimak kata-kataku.
 Pagi ini kampus masih sepi. Jadwal bertemu dengan dosen masih dua jam lagi. Aku memang datang terlalu pagi tapi lebih lama di rumah bisa membuatku gila.
“Hah?” Setelah sekian lama pertemuan kami, aku menoleh, menatap matamu dengan terheran-heran. Matamu diam di sana, balas menatapku dengan pandangan yang tidak kumengerti. Manik matamu langsung menantang tatapanku.
“Nikah gimana?” Aku membalas tatapanmu dengan dua kali lebih heran dari sebelumnya.
 Kau kembali dalam diammu. Matamu meninggalkan tatapanku yang penuh kebingungan. Sekarang pandanganmu menatap jauh ke lapangan kampus di hadapan kita. Aku tahu kau tidak mengerti apa yang kau bicarakan.
            Pagi ini masih menyambung hujan dari semalam. Hujan rintik-rintik tapi tak kunjung reda.  Semalam setelah beberapa hari aku curiga dengan rasa aneh yang kualami dengan badanku, aku memberanikan diri untuk ke apotek beli test pack.  Aku linglung semalam. Kau belum pulang dari bimbingan dengan dosennya dan aku tidak sanggup lagi menunggu seperti apa kenyataan sebenarnya. Rasanya mirip ketika kau tahu tidak akan lulus ujian karena separo esai yang diberikan kau biarkan kosong begitu saja karena kau tidak mengerti sama sekali bagaimana menjawabnya, tapi ketika nilai-nilai ujian sudah masuk sistem komputer, jauh sekali di lubuk hatimu, atau hati kecilmu yang paling kecil masih (sedikit) berharap bahwa ketika kau memberanikan diri untuk masuk ke dalam sistem dan melihat nilaimu,  nilaimu masuk kategori lulus. Dan tentu saja, kenyataannya tidak demikian. Aku bahkan sempat berpikir mungkin kalau aku yakin benar kalau aku benar-benar hamil, aku tidak akan hamil. Sayang, harapan kecil itu ada di entah bagian mana hatiku yang paling dalam. Bagaimana tidak, aku merasa mensku bulan ini tidak datang-datang padahal siklusku teratur, payudaraku membengkak seperti mau mens dan terus membengkak tak kunjung reda, dan setelah aku menghitung sepertinya aku sedang masa subur pada saat terakhir kali aku berhubungan denganmu dan kau tidak menggunakan kondom. Entahlah, aku tidak terlalu paham dengan menghitung masa subur tapi dari situs yang kubuka kemarin sore, ada cara mudah menghitungnya, hanya dengan menambahkan beberapa hari setelah hari terakhir mens. Dari sekian pertanda yang tidak pernah kualami sebelumnya, aku berasumsi aku hamil sejak beberapa hari kemarin, dan keyakinanku semakin bertambah besar aku semakin merasakan ada yang aneh dengan tubuhku. Dan benar saja.
            “Aku sebentar lagi sidang, aku pasti lulus. Habis itu aku akan langsung cari kerja,” Kau kembali memecah kesenyapan di antara kami berdua. Tatapanmu kini menerawang, berpindah dari lapangan kampus ke udara di sekitarnya.
            “Aku takut, Biru. ” Takut bukanlah kata yang tepat. Sejujurnya aku sangat takut. Aku luar biasa takut. Atau, kalau ada kata yang bisa mewakili perasaan takutku yang amat sangat ini, itulah yang kurasakan. Ya, itu. Aku tidak tahu apa itu.
            “Takut apa? Ada aku,” Kau mengambil tanganku dan menggenggamnya erat-erat, seakan-akan genggamanmu bisa menenangkanku. “Kamu kan sudah mau lulus, aku juga. Kita nikah, aku akan bilang ke ayah bunda kamu. Aku bisa cari kerja duluan, kamu bisa tunggu sampai melahirkan. Setelah itu kamu mau coba kerja juga boleh, tapi kalau mau di rumah aja ga apa-apa, biar aku yang cari uang.”
              Aku jelas mendengar keraguan dari kata-katamu. Aku tahu kamu juga takut, tapi kata-katamu sungguh manis.
              “Tapi bukan itu yang aku mau, Biru,” Aku membalas genggamanmu tak kalah erat. Aku bisa merasakan cincin kayu yang ada di jari manismu, oleh-oleh dariku ketika aku liburan ke Jogja dua tahun lalu. Aku pun punya satu, dan kukenakan di jari manisku juga, sebagai tanda cinta kita berdua dua tahun yang lalu.
              Kau merespon jawabanku dengan kembali diam. Aku mengikutimu.
              “Kemarin aku browsing-browsing, ada obat yang…” Kau memutus ucapanku dengan melepaskan genggamanmu tiba-tiba.
              “Jangan macam-macam!” Kau menatapku tajam. Lalu kau seperti hendak mengatakan sesuatu tapi kau memutuskan untuk kembali diam.
             Dadaku berdegup kencang. Tangisku mulai pecah tapi kutahan mati-matian. Kampus mulai ramai. Aku dan Biru memang duduk di bawah tangga, sedikit tersembunyi tapi tetap saja satu dua mahasiswa mulai lalu lalang di sekitar kami.
             “Aku takut, Biru.” Takut yang amat sangat. Takut yang amat sangat pun bukan kata yang tepat. Ya, itu, kata lain menggambarkan ketakutanku yang luar biasa. Aku tidak tahu kata yang tepat.
             “Ada aku,” Kau kembali mengambil tanganku, kali ini lebih perlahan. Dan menggenggamnya pelan-pelan, erat-erat.
             Aku tidak membalas genggamanmu.
             “Bukan itu…” Kali ini aku yang memecah diam di antara kita. Mataku menerawang ke langit. Sejak tadi warna langit belum berubah, masih kelabu. Biasanya aku sangat menyukai pagi dengan langit abu-abu. Warna abu-abu di langit membuat segala sesuatunya menjadi lebih tenang, membuatku merasa tidak perlu terburu-buru bangun dan mulai siap-siap beraktifitas. Aku merasa lebih dapat menikmati hidup dengan pagi yang kelabu. Tapi pagi ini berbeda. Langit abu-abu pagi ini terasa hambar.
            “Masih banyak yang ingin aku lakukan, Biru…” Aku mengucapkan perasaanku pelan-pelan. “Aku ga mau hamil. Aku ga boleh hamil. Kau tahu, aku ingin jadi jurnalis, dari dulu. Aku ingin bisa meliput berita-berita terbaru. Aku ingin mengguncangkan dunia dengan berita-berita yang kulaporkan. Aku…”
             “Dunia akan terus terguncang tanpa perlu kamu yang melaporkan, Ning,” Kau memotong ucapanku dengan desisanmu menahan volume suaramu sendiri. “Kenyataannya, kamu…”
             Kau menghentikan kalimatmu. Perlahan kau lepaskan genggaman tanganku dan kini memegang kepalamu dan mengusap-usap rambutmu yang sudah mulai panjang menunggu dipotong untuk maju ke ruang sidang skripsi. Rambut indahmu yang pertama kali membuat makanku tidak enak dan hari-hari penuh harapan sampai kau menanyakan namaku sehabis kuliah sore, empat tahun yang lalu.
             “Kamu tetap bisa jadi jurnalis, Ning, seperti mimpimu. Aku tidak akan menahanmu…”
             Kau kembali memutus kalimatmu. Dan kita kembali diam. Kali ini lebih lama dari sebelumnya.
             “Sebentar lagi aku dan kamu sama-sama lulus. Kita nikah. Kita lewatin ini sama-sama. Lagipula kita sudah cukup dewasa kan untuk punya keluarga sendiri.”
             Nada suaramu kembali terdengar ragu. Aku tahu lagi-lagi kamu juga tidak yakin dengan ucapanmu sendiri.
             “Aku ga siap, Biru,” responku spontan. Aku menatap jauh ke lapangan kampus yang sudah ramai dengan mahasiswa-mahasiswi lalu lalang, ada yang dengan payung ada yang lari-lari kecil menghindari rintik hujan. Pikiranku melayang ke lapangan dan berhenti pada seorang gadis berpayung biru yang berjalan berlahan menembus gerimis. Apa yang sedang ia pikirkan? Apakah ia menyembunyikan sesuatu di dalam perutnya? Adakah yang sedang ia tutup-tutupi? Hamilkah ia?
Hujan masih belum berhenti juga.
“Aku juga ga siap, Ning,”
Aku menghela napas panjang.
“Masih banyak yang ingin aku lakukan, Biru, kau tahu itu. Masih banyak yang bisa kita lakukan,” Ucapanku mulai menggebu, “Dunia ini terlalu luas kalau kita hanya diami di satu titik. Aku ga mau nikah…”
Kau menoleh dan aku memutus ucapanku. Mata kita bertemu lagi. Kali ini ada kebingungan yang berbeda di matamu. Kau mungkin melihat api di mataku.
“… Tidak sekarang, Biru,” Aku melanjutkan ucapanku yang terputus, atau aku hanya menambahkan karena kau langsung bereaksi dengan kata-kataku itu, entahlah, aku tidak tahu mana yang benar. “Aku akan nikah, suatu hari nanti. Kita akan nikah, nanti.”
Kau dan aku kembali dalam diam. Aku memperhatikan titik-titik kecil air dari langit yang turun dengan cepat ke tanah. Aku membayangkan akan kemana air dari langit itu. Apakah titik-titik air itu mengenal titik-titik air yang lain? Apakah mereka berteman? Atau bahkan bersaudara? Apakah mereka merasa takut ketika jatuh dari langit ke tanah yang mungkin tidak dikenalnya? Atau apakah karena mereka jatuh bersama-sama sehingga mereka tidak takut sama sekali? Akankah mereka kembali ke tanah yang sama? Atau mereka akan selalu mendarat di tanah yang berbeda?
“Entahlah Biru,” Memikirkan titik-titik air hujan di hadapanmu membuatku merasa kau perlu tahu apa yang kupikirkan. “Aku tidak bisa membayangkan diriku menjadi seperti Bunda. Pagi-pagi entah sepagi apa dia sudah bangun menyiapkan sarapan untuk Ayah, aku, dan Arti. Lalu entah apa yang dia lakukan ketika kami seharian pergi, mungkin masak, beres-beres rumah, menjahit, arisan, yang jelas Bunda selalu ada kalau aku pulang, siang atau sore atau malam. Kapanpun aku butuh, Bunda selalu ada. Maksudku itu hal yang sangat aku sukai bermanja-manjaan dengan Bunda sepulang aku dari bepergian, tapi… Aku selalu berpikir Bunda tidak mempunyai kehidupan. Hidupnya adalah kami. Hidupnya adalah ayah, aku, dan Arti. Sedangkan aku tahu ayah, aku, dan Arti punya kehidupan sendiri-sendiri…”
“Lalu?” Kau kembali menatapku dengan kebingungan yang berbeda lagi. “Kau tidak perlu menjadi seperti bundamu. Kamu tetap bisa jadi jurnalis. Kamu tidak perlu seharian di rumah. Itu pilihan Ning. Mungkin itu memang pilihan Bundamu, untuk tetap di rumah, mengurus kamu dan ayahmu dan adikmu. Kau punya pilihan untuk menjadi jurnalis, dan kau akan selalu punya pilihan…”
“Bagaimana kalau tidak?” Aku memotong. “Bagaimana kalau sebenarnya Bunda tidak punya pilihan karena harus mengurus keluarga? Bagaimana kalau sebenarnya Bunda ga punya pilihan karena ga tega nelantarin anak-anaknya? Bagaimana kalau sebenarnya Bunda ga pernah menginginkan kehidupan yang sekarang ia jalani? Beberapa kali aku memergoki Bunda sedang termenung, lama… Waktu aku memanggilnya, ia seperti dibangunkan dari tidur dan membalasku dengan senyuman. Aku hanya merasa… Bunda tidak bahagia.”
Dadaku terasa sesak dan tatapanku mulai membara. Aku berusaha memindahkan kekalutan otakku ke dalam kata-kata. Dan tidak berhasil.
 “Kalau kamu bilang aku punya pilihan, aku memilih untuk ga hamil.” Hanya itu yang berhasil keluar dari mulutku.
“Terus kamu mau apa?” Tatapanmu mulai tersungut ketidaksabaran. “Aku ga ngerti sama kamu. Sekarang kenyataannya seperti ini, terus kamu ga mau. Kamu ga bisa untuk ga mau. Kita ga bisa, Ning. Kita harus mau. Yang kita bisa lakuin adalah nentuin pilihan kita sesudahnya.”
Aku diam. Untuk kesekian kalinya pagi ini dan kali ini bahkan lebih lama dari sebelumnya. Aku tahu kepalamu juga bising dengan pikiran-pikiranmu sendiri. Aku pun demikian.
“Masih banyak yang ingin aku lakukan, Biru,” Ulangku. Aku menghela napas panjang, sangat panjang. “Aku masih muda. Ada begitu banyak kesempatan di hadapanku. Aku ingin menjadi jurnalis yang hebat. Aku ingin keliling dunia meliput berita dari segala penjuru negeri. Aku ingin menjelajah ke tempat-tempat yang belum disentuh oleh orang-orang. Aku bahkan ingin ke Kutub Utara untuk merasakan seberapa dingin udara di sana dan seperti apa rasanya terjebak di musim dingin yang panjang tanpa matahari…”
Dengan gugup aku merogoh kantong kecil di dalam tasku. Aku mengambil buku kecil bersampul kulit yang mulai kumal karena terus kubawa-bawa kemanapun aku pergi sejak pertama kali aku membelinya, sehari setelah aku lulus SMA.
“Lihat ini, Biru,”Aku membuka buku itu sampai halaman terakhir yang kutulisi. Ada 432 hal yang ingin aku lakuin, dan angka ini akan terus bertambah!”
             Jemari tanganku membuka acak halaman buku kecilku dan mulai membaca perlahan. Air mataku mulai merebak. Semakin banyak daftar yang aku baca, air mataku turun menetes-netes di atas halaman daftar mimpiku tanpa bisa kutahan lagi.
“Mending aku mati aja, Biru,” Kedua tanganku menahan air mataku untuk turun lebih banyak lagi. “Semua mimpi ini ga akan ada artinya lagi kalau aku… Kalau aku punya anak sekarang…”
Kau menghela nafas. Ketidaksabaranmu terasa olehku.
“Menikah dan punya anak bukan akhir segalanya, Ning,”Kau berusaha menekan nada suaramu serendah mungkin. “Kau tetap bisa melakukan apapun yang kamu mau, aku janji tidak akan menghalangimu, aku mau menemanimu kemanapun kamu pergi.”
Untuk kesekian kalinya, aku tenggelam dalam diamku. Dalam pikiranku. Dalam kegaduhan otakku.
“Aku ga bisa melihat seperti yang kamu lihat, Biru,” Aku menghapus bersih air mataku. Jemariku  yang basah membelai pelan sampul buku kecilku. “Yang ada di depan mataku cuma Bunda. Aku bakal seperti Bunda kalau kita nikah sekarang. Dan aku ga mau…”
“Kalau Bundamu tidak seperti sekarang, katakanlah sibuk dengan kariernya dan jarang di rumah, apakah akan membuatmu berpikir berbeda?”
Kau menantangku. Dan membuatku berpikir jauh lebih keras lagi.
Aku tidak tahu.
Hujan mulai bosan turun. Titik-titik air yang jatuh ke tanah semakin sedikit. Dan mendadak aku mulai lelah luar biasa berbicara denganmu, seperti gula darahku yang turun tiba-tiba.
“Kalau kita ga nikah sekarang, lantas kamu mau apa, Ning?”
Aku bersumpah ini adalah pertanyaan terakhir yang ingin kudengar dari mulutmu.
“Biru, dengar,” putusku. “Kau bilang aku punya pilihan. Aku selalu punya pilihan. Dan untuk sekarang, aku memutuskan untuk ga hamil.”
Dahimu mengernyit dalam.
“Lalu maumu apa, Ning?” Akhirnya kesabaranmu benar-benar sampai di ujung. Aku bisa merasakannya dan aku tidak mau berurusan dengan itu.
Aku menatapmu lekat-lekat. Cukup sudah, kau membuatku terlalu lelah.
“Nanti akan kupikirkan caranya.” Aku membereskan tasku dengan seadanya dan berlari meninggalkanmu, menyeberangi lapangan kampus.
Hujan sudah berhenti dan matahari mulai kelihatan dari balik awan. Kau tidak mengejarku.         

*

            Sepanjang sore aku sibuk mencari berbagai informasi. Jelas hatiku memutuskan hanya melipat tangan sambil memantau. Otakku yang bekerja keras, memproses informasi dari sana sini, memikirkan cara yang terbaik yang paling sesuai dengan majikannya, Aku. Semakin banyak informasi yang kutemui, semakin was-was hatiku ini. Sampai akhirnya keduanya jatuh kelelahan menjelang larut malam, ketika bulan persis di atas kepala.
Aku pun jatuh tertidur di atas laptop yang masih terbuka dan monitor masih menyala.
Alam bawah sadarku perlahan mengambil alih. Segala hal yang kulihat tadi sore berusaha menjadi nyata dalam mimpiku. Ada seorang perempuan memakai jaket bulu putih, entah ayam entah burung, menyodorkanku segelas minuman. Dengan ragu aku menerimanya. Gelasnya hangat dan meneguknya sedikit. Aku mencecapnya pelan-pelan. Cairan hangat itu berubah menjadi dingin di dalam mulutku. Dalam hitungan detik aku merasakan tubuhku lemas dan jatuh perlahan ke atas tempat tidur berseprei putih. Kesadaranku menurun tiba-tiba dan dengan susah payah aku tetap berusaha membuka mata. Perempuan yang menawariku minuman itu tersenyum lebar, membaringkanku sepenuhnya, dan meluruskan kedua belah kakiku. Aku melihat sebilah pisau dapur yang biasa dipakai Bunda untuk memotong daging di tangannya. Tanpa ragu ia menaruh ujung pisau di tengah perutku. Dingin. Aku ingin berteriak tapi tidak ada suara yang keluar. Tanpa menunggu aku bisa mendengar suaraku sendiri, ia membelah perutku dan mengeluarkan isinya. Semuanya. Usus, jantung, ginjal, hati, berlumur darah dan lendir. Rasa sakit yang amat sangat menjalar ke seluruh tubuhku. Lalu perlahan ia menanggalkan jaket bulu yang dikenakannya, melipatnya menjadi empat bagian lalu dimasukkannya ke dalam badanku yang sudah kosong melompong dan menjahitnya dengan cepat. Sebentar saja badanku terisi kembali, seperti balon kempis yang ditiup cepat-cepat.
Aku terbangun menjelang pagi karena rasa gatal yang amat sangat dari leherku. Aku terbatuk tanpa henti seperti tersedak bulu-bulu burung yang memaksa keluar dari kerongkonganku. Rasa mual yang luar biasa hebat menyerangku tanpa ampun.
Aku berlari ke kamar mandi. Tapi terlambat. Seluruh isi perutku keluar dalam satu kali hentakan di lantai persis selangkah sebelum aku mencapai kamar mandi. Aku tersungkur di lantai, badanku luar biasa lemas. Aku merasakan sesuatu yang lembut di tanganku. Ada segenggam bulu burung berwarna putih di tanganku.

*

Aku terbangun dengan keringat di sekujur tubuhku dan napas terengah-engah luar biasa. Rupanya mimpiku terlalu buruk.

*

             Kekasihku bilang aku selalu punya pilihan, dan memang benar adanya. Aku punya pilihan. Yang dibutuhkan hanyalah sedikit keberanian. Keputusan ini kuambil karena aku tahu apa yang aku inginkan, walaupun aku tidak tahu apakah ini yang terbaik atau tidak. Persetan dengan keputusan yang terbaik, aku tidak peduli. Bagiku, meskipun ini keputusan yang paling buruk sekalipun, tapi ini yang kuinginkan. Aku sering mendengar orang-orang bilang kita bisa mengambil keputusan yang terbaik dari yang terburuk ataupun menemukan solusi yang menyenangkan semua pihak. Semuanya omong kosong bagiku. Aku tidak perlu yang terbaik ataupun memenangkan hati orang lain. Aku ingin mengikuti apa kata hatiku walaupun sering bentrok dengan otakku, atau malah sebaliknya, entahlah, tapi salah satu dari mereka memang sering kumanjakan. Dan kini, tubuhku yang harus menanggung akibatnya.
             Rasa nyeri yang belum pernah kurasakan sebelumnya menghinggapi perutku bagian bawah. Aku tidak tahu apa yang kurasakan atau kupikirkan saat ini. Aku hanya ingin segera jatuh tertidur dan melupakan semuanya. Mungkin ketika bangun nanti semua ini hanya mimpi belaka, bagian dari malam-malamku yang biasa yang terputus saat pagi mulai naik dan aku harus bergegas siap-siap ke kampus.

*

              Malamnya aku bermimpi terbang tanpa sayap. Aku memakai terusan panjang berwarna putih dan tanganku mengepak di udara seperti sayap seekor burung camar. Setiap kepakan kedua tanganku, aku melampaui jarak yang tidak bisa kutempuh ketika aku berjalan kaki saja. Sejuknya angin di ketinggian membelai lembut pipiku dan membuat rambutku melambai-lambai. Aku merasakan ada sesuatu yang terlepas dari dalam diriku.
              Aku merasa  b e b a s.



                

Read More

Jumat, 17 April 2015

- Leave a Comment

Bayi yang Menangis di dalam Kardus



Seharusnya pagi ini bisa menjadi pagi yang sunyi. Namun, tidak seperti biasanya, kali ini Warso harus teriak-teriak tak mau kalah dengan ayam yang berkokok.
“Man! Kemari, Man! Cepat, Man! Kemari! Ada bayi!” teriak Warso memanggil Kardiman yang kebetulan sedang tugas jaga pada hari itu.
Sebenarnya Kardiman lebih asyik memilih untuk meluruskan kakinya ke meja jaga ketika ia sedang duduk di pos, namun begitu ia mendengar kata “bayi” dari teriakan Warso, dengan sigap ia berlari mendekati temannya tersebut.
“Apa? Mana bayinya? Ada di mana?” tanya Kardiman kepada Warso begitu sampai di toilet SPBU tempatnya bertugas.
“Itu,” jawab Warso sambil menunjuk ke arah kardus bekas mi instan yang dari dalamnya terdengar tangisan bayi.
Dengan rasa penasaran, Kardiman mendekati kardus itu dan melihat bayi yang tengah menangis tanpa mengenakan sehelai kain pun. Ia kemudian mengangkat kardus itu dan membawanya keluar dari dalam toilet. Diletakkannya kardus itu di depan musala yang berada tidak jauh dari toilet.
“Kita harus laporkan ini ke polisi, So,” kata Kardiman setelah meletakkan kardus berisi bayi itu.
“Jangan, Man. Aku tidak mau kita berurusan dengan polisi. Aku juga tidak punya uang untuk membayar ongkos polisi-polisi itu nanti. Memangnya kau punya uang?” tanya Warso kepada Kardiman. Kardiman hanya menggeleng.
Mereka kemudian terdiam sambil memandangi bayi yang tak kunjung berhenti menangis itu.
“Ah, kita telepon bos saja, So,” kata Kardiman tiba-tiba menawarkan ide.
 “Ya sudah. Mana hape-mu?” tanya  Warso sambil menadahkan tangannya ke arah Kardiman.
 “Kok hape-ku? Ya Pakai hape-mu lah. Aku nggak ada pulsa. Kau kan tahu, lemburan kita telat bulan ini,” kata Kardiman pasrah. Mereka kemudian kembali terdiam.
Di sela-sela kebisuan mereka yang dilatarbelakangi oleh tangisan bayi di dalam kardus itu, datanglah Suriyem, penjual jamu langganan Kardiman dan Warso.
“Bayi siapa itu, Man?” tanya Suriyem yang datang sambil menuntun sepedanya yang berisi jamu.
Kardiman kemudian menjelaskan bahwa tadi Warso menemukan kardus yang berisi bayi ini di dalam toilet. Pria jangkung berbaju seragam hijau daun pisang milik perusahaan gas ternama ini sebelumnya tidak melihat satu orang pun masuk ke toilet SPBU yang memang belum buka.
“Berarti, ini salah kamu, Man. Masak ada orang masuk ke sini kamu nggak liat?” kata Suriyem kemudian.
Kardiman tak terima disalahkan oleh Suriyem. Dengan cepat ia memutar otak untuk mendapatkan beribu alasan agar posisinya benar.
“Enak saja. Orang itu kan masuknya ke toilet, berarti Warso yang lebih berwenang. Kalau orang itu masuk ke kantor, baru aku yang salah,” ucap Kardiman membela diri.
Ribut-ribut saling menyalahkan itu ternyata menarik perhatian tiga orang yang sedang lari pagi di sekitar SPBU. Tiga orang itu lebih dikenal dengan panggilan Pak RT karena dia seorang RT, Pak Ustaz karena dia seorang guru mengaji, dan Pak Guru karena dia adalah seorang guru SD di lingkungan tersebut.
“Ada apa ini? Kok ribut? Ini bayi siapa?” tanya Pak RT begitu mereka mendekat.
Warso kemudian menjelaskan kejadian yang menimpa dirinya hingga akhirnya terjadi keributan saling menyalahkan ini.
“Waduh, sudah kalau begitu,” ucap Pak Guru menenangkan, “kalau begini ini, kalian jelas tidak salah. Lihat itu, masalahnya adalah bayi itu kan? Yang salah ya orang tua bayi itu. Kok tega membuangnya? Orang seperti ini pasti bukan warga yang baik,” lanjut Pak Guru.
“Ah, tapi warga saya semuanya baik kok, Pak,” sanggah Pak RT, “tidak mungkin warga saya melakukan hal semacam ini. Jelas yang salah ini karena mereka tidak punya keimanan yang kuat. Hingga tega membuang darah dagingnya sendiri,” kata Pak RT.
Mendengar pernyataan itu, Pak Ustaz jelas tidak terima. Dia merasa telah mengajarkan agama kepada warga sekitar dengan baik dan yakin keimanan warga di sini sangatlah kuat.
“Buktinya, Pak RT, warga di sini tidak pernah alfa merayakan hari besar Islam. Yang mengisi pun, selalu kiai-kiai besar. Belum lagi, anak muda di sini juga setiap pekan selalu hadir di majelis taklim yang dipimpin oleh habib besar. Anak saya biasanya memimpin rombongan paling depan. Pak RT dan Pak Guru sering lihat kan bendera besar mereka?” tanya Pak Ustaz. Semua orang yang ada di situ mengangguk, tanda setuju dengan apa yang dikatakan Pak Ustaz.
“Ini pasti ulah warga luar, Pak!” kata Kardiman yakin.
“Hus! Jangan asal tuduh kau, Man!” kata Warso.
Namun Kardiman yakin ini pasti ulah warga kampung sebelah. Ia menyimpulkan setelah mendengar yang dikatakan tiga orang yang sedang lari pagi itu.
Setelah semua yang ada di situ yakin bahwa orang tua bayi ini adalah warga kampung sebelah, Pak RT berinisiatif untuk membawanya ke panti asuhan yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya. Namun baru saja dia mengangkat kardus itu dengan kedua tangannya, ponselnya berdering keras sekali. Dia meminta Warso untuk mengambilkan ponsel itu di dalam saku bajunya. Selain itu, setelah melihat nama istrinya di layar ponsel, dia meminta Warso menekan tombol speaker agar dia bisa mendengar jelas suara istrinya dengan tetap dipegangi Warso.
Pak, Bapak di mana? Cepat pulang, Pak!” suara Bu RT di seberang sana.
“Ada apa, Bu?” tanya Pak RT terlihat panik.
Anak kita kekurangan darah, Pak. Darah terus mengalir dari kemaluannya. Ternyata dia baru saja melahirkan anak dan membuangnya entah di mana.
Semua orang yang ada di situ saling tatap. Pak RT tak bicara apa pun. Dia kemudian menunduk dan melihat bayi yang ada di dalam kardus yang dipegangnya.
Anak kita dihamili oleh Slamet, Pak! Anak Ustaz,” kata Bu RT yang kemudian diikuti suara tangisan.
Pak RT menatap Pak Ustaz. Pak Ustaz hanya bisa melongo membalas tatapan Pak RT.
“Jadi, ini bayi siapa?” tanya Warso ketika semua terdiam.
“Saya pikir, Wati memang gemukan sekarang. Ealah, saya ketipu. Ayo, Pak, bawa ke rumah Bapak saja,” kata Pak Guru sambil merangkulkan tangan ke bahu Pak RT dan mengajaknya berjalan.


Sumber gambar: http://www.anneahira.com/orang-terkecil-di-dunia.htm
Read More

Rabu, 21 Januari 2015

- Leave a Comment

Campsie

Namaku Campsie, dibaca kem-si. Usiaku sekarang lima setengah tahun. Aku adalah boneka beruang berwarna merah muda. Ukuranku tidak besar, sehingga tidak bisa dipeluk, pun tidak kecil sehingga tidak bisa dijadikan gantungan tas atau aksesoris semacamnyalah. Bentukku lucu, proporsional dan cantik. Seiring dengan berjalannya waktu, warnaku mulai memudar, tapi itu sama sekali tidak mengurangi pesonaku. Buktinya, pemilikku masih tetap menjadikan aku sebagai koleksi favoritnya. Akulah satu-satunya boneka yang selalu dibawa kemana pun ia bepergian.
Aku dan pemilikku pertama kali bertemu di sebuah toko boneka kecil di dekat stasiun kereta bernama Campsie, salah satu kota di pinggiran Sydney. Makanya ia memberiku nama Campsie agar ia tidak lupa tempat asalku. Aku masih ingat betul saat peristiwa pertemuan kami, rasanya seperti baru kemarin. Hari dimana aku bertemu dengan pemilikku adalah hari terakhir aku dimana melihat pacarku.
Saat itu, sedang musim panas di pertengahan Januari. Aku sangat senang dengan musim panas. Ada banyak cahaya matahari yang masuk melalui jendela etalase toko. Dibandingkan musim semi di bulan September, manusia yang berseliweran mengejar kereta pada musim panas tampak lebih gembira dan lincah. Pakaian yang mereka kenakan pun lebih cerah dan terbuka. Banyak dari mereka yang mengenakan kaca mata hitam atau topi.
Aku pertama kali merapat ke Benua Kanguru ini pada bulan Juli. Asalku dari sebuah pabrik di China, sama seperti semua boneka dan beragam produk lainnya yang tersebar di seluruh dunia. Ketika pertama kali sampai, udara di pelabuhan Sydney sangatlah dingin tapi tidak sampai turun salju. Kami semua, maksudnya semua boneka yang baru saja sampai, disimpan terlebih dahulu di kontainer raksasa sebelum didistribusikan ke berbagai toko. Saat berada di dalam kontainer yang gelap dan dingin itulah aku bertemu pacarku, boneka beruang besar berwarna cokelat tua. Jika bersebelahan dengannya, aku terlihat sangat kecil. Kami pasangan yang terlihat jomplang sebenarnya tapi aku tidak peduli karena dia sangat baik padaku. Dia selalu melindungiku dari dinginnya udara yang menyusup masuk dari celah-celah tipis kontainer dan menjagaku dari gangguan boneka lain. Memang ada banyak boneka yang baik hati dan lucu, tapi ada juga beberapa yang menyebalkan dan sering mengusili boneka lain. Tapi selama ada pacarku, aku merasa aman dan nyaman. Sampai akhirnya kami semua didistribusikan ke berbagai gerai, aku dan pacarku beruntung karena kami tetap bersama.
Pemilik toko kami adalah seorang lelaki muda, berkulit kuning terang, bermata sipit, berambut pirang yang dipotongcepak, tingginya sedang dan agak sedikit gemuk. Sekilas wajahnya mirip dengan orang-orang yang kutemui di pabrik asalku, namun dia menggunakan bahasa yang berbeda seperti yang kudengar di pabrik. Kata boneka kura-kura yang sudah lebih lama berada di toko ini, nenek moyang sang pemilik toko berasal dari negara yang sama dengan kami tapi mereka pindah ke sini. Mereka kemudian membentuk komunitas, beradaptasi, dan menggunakan bahasa baru.
Jika kuintip-intip dari jendela besar yang ada di depanku, kota ini sebenarnya aneh juga karena banyak toko yang menuliskan huruf Han-Zi di depan pintunya. Aku sampai tidak yakin apakah aku benar-benar berada di benua lain ataukah tetap di China. Selain aksara itu, juga ada beberapa aksara Hangul dan Arab namun tidak sebanyak Han-Zi. Ketika aku bertanya ke pacarku kenapa ada banyak tulisan selain huruf latin, katanya benua ini memang banyak menjadi tujuan untuk memulai hidup baru bagi banyak orang di berbagai belahan bumi. Itu jika mereka beruntung mendapatkan ijin tinggal.
Akupun menyukai kota ini dan berharap dapat tinggal selamanya di sini. Jika malam tiba, terkadang aku, pacarku dan beberapa boneka lainnya mengendap-endap keluar toko melalui celah teralis hanya untuk sekedar berjalan-jalan melihat sepinya kota atau lebih sering kami naik ke lantai dua untuk melihat bintang-bintang di langit. Hampir semua toko di sekitar stasiun ini tutup pada pukul lima sore dan umumnya mereka mulai buka kembali pukul delapan atau sembilan pagi. Akhirnya, kami punya banyak waktu untuk bersenang-senang di malam hari.
Ketika musim panas dimulai pada awal bulan Desember, itu artinya Natal pun tiba. Saatnya membeli kado Natal dan libur panjang. Dampaknya adalah kami menjadi tercerai-berai. Tidak hanya boneka, mobil-mobilan, action figure, sampai gantungan untuk handphone pun sangat diminati. Ada perasaan sedih juga kehilangan teman-teman sepermainan, tapi sebenarnya perasaan bangga lebih besar di hati kami ketika para pembeli memilih dan bisa ‘lulus’ setelah menjadi pajangan selama beberapa bulan di etalase. Pada dasarnya, kami menyadari hakikat kami dibikin adalah untuk menghibur dan menyenangkan hati manusia, sehingga jika kami hanya duduk manis di rak pajangan toko selamanya maka itu artinya hidup kami tidak berarti apa-apa.
Seminggu sebelum Natal, penjualan di toko sangat meningkat. Betul-betul ramai dan padat pembeli. Namun, hampir semuanya membeli boneka Hello Kitty beragam bentuk atau Doraemon atau boneka kuda poni atau bebek karet berwarna kuning. Boneka beruang adalah jenis yang “tidak laku” di toko ini. Meskipun kami sudah memasang ekspresi seimut mungkin, namun baik aku, pacarku dan beberapa beruang lain jarang dibeli. Mereka hanya menghampiri kami, tersenyum karena melihat kelucuan kami dan beberapa diataranya memeluk kami, namun tidak membawa kami ke kasir. Untung saja toko ini tidak menjual boneka Barbie atau Lego, the two most selling toys in the world, karena harga kedua barang tersebut mahal sedangkan penghuni kota ini mayoritas pendatang yang sedang memperjuangkan hidupnya menjadi lebih baik. Atau mungkinkah para manusia sudah bosan dengan kami?
Sepertinya manusia memang tidak tertarik lagi dengan kami karena bahkan sampai tahun baru tiba, aku dan pacarku masih duduk di rak. Bahkan sekarang kami ditaruh di deretan paling belakang.Sementara boneka Hello Kitty yang baru terus berdatangan karena masih ada banyak permintaan.
“Apakah mungkin kita jelek ya, sayang?” tanyaku suatu hari pada pacarku.
“Tidak, ah. Kamu cantik,” jawabnya.
“Kalau aku cantik, mengapa mereka tidak memilih aku?”
“Hmm, kalau mereka membelimu, kita akan berpisah dong?”
Astaga, aku sungguh kaget ketika pacarku mengatakan itu! Benar juga, kami akan berpisah jika salah satu diantara kami akhirnya dibeli. Karena kami berbeda jenis, maksudku dia beruang besar dan aku beruang kecil, tidak mungkin manusia akan membeli kami bersamaan. Mereka pasti hanya akan memilih satu.
Sejak saat itu, aku berusaha sebisa mungkin agar tidak dibeli. Sering kusembunyikan diriku di antara boneka yang lain agar tidak menarik perhatian pembeli yang datang. Cara ini selalu berhasil, setidaknya aku dan pacarku masih bersama-sama bahkan dua minggu setelah perayaan tahun baru. Ini sangat melegakan karena setelah Natal dan tahun baru, tidak banyak alasan untuk membeli boneka. Aku yakin bahwa aku dan pacarku masih akan bersama-sama setidaknya  sampai sebelum perayaan Valentine.
Keyakinanku runtuh ketika keesokan paginya, aku melihat ada dua anak perempuan yang sedang berjalan cepat namun salah satunya segera memperlambat langkahnya ketika berada persis di depan jendela toko kami. Ia mengintip-intip ke dalam dan matanya berpapasan denganku. Ia melihatku lalu tersenyum namun ia tidak masuk dan terus berjalan menuju stasiun kereta. Pada sore harinya, dua perempuan bertubuh mungil itu kembali lewat di depan toko. Kali ini, mereka masuk ke dalam toko. Anak perempuan yang tadi pagi bertatapan denganku langsung berjalan menuju ke arahku. Aku sama sekali tidak sempat menyembunyikan diriku dari pandangannya! Segera ia mengambilku dari rak paling belakang dan memegangku, sepertinya dia mencari tag hargaku.
“Wah, 30 dollar. Mahal juga ya. Beli gak ya?” tanyanya ke temannya.
“Lucu sih, tapi mahal euy. 30 dollar kan bisa beli macem-macem. Ini bonekanya kecil pula,” jawabnya.
Terlihat kecewa, dia menaruhku kembali ke tempat semula dan mereka berdua keluar dari dalam toko. Setelah mereka berjalan keluar, aku merasakan perasaan cukup aneh, antara lega dan sedih. Lega karena tidak jadi membeliku, sedih karena aku masih belum terjual juga padahal sudah setengah tahun berada di sini. Sungguh membuat hatiku terluka. Pada malam harinya, saat menyelinap ke lantai dua untuk melihat langit cerah yang bertaburan bintang dan bulan purnama, aku menceritakan kegundahan hatiku ke pacarku.
“Tadi ada yang hampir membeliku, tapi tidak jadi. Aku merasa senang karena kita tidak jadi berpisah, tapi akupun jadi sedih karena merasa tidak berguna. Kita diciptakan untuk menghibur dan menyenangkan hati manusia kan, sayang?”
Pacarku tersenyum lembut sambil menatapku dengan tatapannya yang selalu teduh dan menenangkan
“Aku tadi melihat anak perempuan yang hampir membelimu itu. Sepertinya dia baik…”
“Iya, tapi dari penampilannya sepertinya dia tidak tinggal di sini. Kalau besok dia datang lagi dan akhirnya membeliku bagaimana?” tanyaku khawatir.
“Tidak apa-apa, karena itu sudah takdir kita…” jawab pacarku mantap.
“Kamu lihat bulan purnama di sana?” lanjutnya, “setiap kamu melihat purnama di langit manapun, akupun akan memandangi bulan itu. Meskipun kita tidak berada di tempat yang sama, namun kita akan terus dipersatukan oleh bulan purnama, karena kita memandang bulan purnama yang sama.”
“Ih, kamu terdengar gombal! Hahaha” jawabku.
Pacarku tidak ikut tertawa bersamaku, kali ini dia menatapku dengan serius.
“Kita akan baik-baik saja, sayang…percayalah,” ujarnya mantap meskipun ada sedikit nada getir di kalimatnya.
Dan setelah itu aku merasa, sepertinya ini adalah malam terakhir kami bersama. Kuputuskan untuk memandangi bulan purnama lekat-lekat agar selalu mengingat terang cahaya dan bentuknya. Karena bulan purnama adalah beruang cokelat besar kesayanganku.
            Keesokan harinya, anak perempuan kemarin, kembali datang ke toko kami. Kali ini dengan senyum yang lebar dan mata yang berbinar-binar, dia segera meluncur ke arahku, memegangku dan mendekapku, hangat. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, dimana para boneka beruang ini hanya dipandangi lalu ditinggalkan, kali ini aku dibawa menuju kasir. Dia mengeluarkan tiga lembar uang 10 dollar dan menyerahkannya ke pemilik toko. Oh, inikah rasanya ada manusia yang mempercayaimu dapat membahagiakan mereka? Ternyata sensasinya sungguh luar biasa! Aku seperti terbang ke langit, lebih tinggi daripada bulan dan bintang yang sering kulihat setiap malam. Aku merasa bahagia, lebih bahagia dibandingkan bersama pacarku. Ah, hampir saja aku lupa…sejenak kucari pacarku di antara tumpukan boneka di rak atas, kami berpandangan. Dia tersenyum bangga dan mengikhlaskanku pergi. Akupun tersenyum bangga dan merelakan kami berdua terpisah.
***
“Hai, namaku Chibi. Namamu bagusnya apa ya?” tanya anak perempuan yang sekarang menjadi pemilikku.
“CAMPSIE!” sambar temannya.
“Kok Campsie?” tanya pemilikku.
“Ya kan belinya di Campsie…hehehehe.”
Pemilikku pun menaruhku dengan hati-hati ke dalam tasnya, tapi kepalaku masih dapat melihat pemandangan di luar. Mereka berdua berjalan dengan gembira masuk ke dalam pesawat.

-Fanny Fajarianti-
19.01.2015
Read More