Kamis, 07 Juni 2018

- Leave a Comment

Baja Hitam Tangan Satu



  Ssstt... aku akan menceritakan sebuah rahasia padamu....
   Ayahku adalah seorang Ksatria Baja Hitam! Tapi tidak seperti Kotaro Minami, ia hanya mempunyai sebelah tangan untuk berubah wujud. Dan karena itu, ibu marah besar sewaktu ayah memutuskan mencicil belalang tempur agar dapat memudahkannya menyelamatkan dunia.
   “Untuk makan saja sudah susah!” tegur ibu. “Mana sanggup kau bayar motor itu?”
   Akan tetapi, ayah tetap ngotot membeli belalang tempur karena sudah terlanjur jatuh cinta pada motor itu.
   “Semua laki-laki apalagi seorang pahlawan membutuhkan sebuah motor!” tegas ayah pada ibu, meskipun aku tahu ia menitipkan pesan padaku untuk aku ingat.
   “Kau cuma punya sebelah tangan! Kau pikir siapa yang mau jadi penumpangmu?” bentak ibu.
   “Lihat saja nanti! Pasti ada orang yang membutuhkan pertolonganku!”
   Ibu mendengus kesal dan tidak mau berbicara pada ayah selama tiga hari. Setiap pagi, ayah mangkal di lampu merah untuk mencari penumpang. Tukang ojek di sana biasanya tidak begitu bersahabat terhadap pesaing baru, tapi karena ayah hanya mempunyai sebelah lengan, mereka menaruh simpati padanya -- walaupun ada juga yang mengejeknya dan menganggap ayah sudah gila.
   Sedikit banyak, ada saja orang-orang yang bosan hidup dan memilih ayah untuk mengantarkan mereka ke tempat tujuan. Ayah mengerjakan tugasnya dengan baik dan hati-hati. Rasa cemas para penumpang ayah mulai berkurang dan mereka pun menjadi langganan tetap.
   Tentu saja ayah pernah diberhentikan beberapa kali untuk diperiksa kelayakan SIM dan STNK-nya. Pak polisi yang menghentikan ayah merasa takjub, ngeri, dan khawatir. Namun mereka tak tega untuk meminta “uang rokok” bahkan seandainya ayah melanggar salah satu dari peraturan lalu lintas.
   Ayah bercerita bahwa ia dan penumpangnya sering menjadi pusat perhatian di setiap lampu merah maupun di jalanan. Mata-mata menyelidik, tatapan kagum, dan debar jantung pengendara motor lainnya telah menjadi santapan ayah sehari-hari.
   Ayah menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang yang ditemuinya. Para pengendara motor lainnya menjadi lebih tertib dan sabar ketika berpapasan dengan ayah. Mereka tidak berani mengklakson, apalagi menyalib ayah. Seandainya terjadi tabrakan, para pengguna jalan akan menyalahkan siapa saja selain ayah. Bahkan mobil polisi dan ambulans pun memberikan jalan pada ayah dan belalang tempur.
***
   Aku ingin sekali menaiki belalang tempur dan ayah telah berjanji bahwa suatu hari ia akan memboncengku. Mendengar janji itu, ibu marah-marah pada ayah.
   “Aku tidak mengizinkan kau membawa anakku! Kau sudah gila? Bagaimana kalau terjadi apa-apa?”
   “Tidak akan terjadi apa-apa, Bu. Hidup mati di tangan Tuhan! Lha, orang sehat saja bisa jantungan dan mati,” bujuk ayah.
   “Tidak, tidak, tidak. Pokoknya tidak!” kata ibu bersikeras.
   Ayah tidak berkata apa-apa lagi karena telah memahami sifat ibu. Aku ngambek pada ibu dan bolos sekolah keesokan harinya. Ibu memukulku. Malamnya, ayah pulang dan dalam keadaan lelah ia berjanji akan membelikanku sepeda.
   “Aku tidak mau sepeda. Aku mau belalang tempur!”
   “Iya, tapi kau harus belajar mengendarai sepeda dulu baru bisa mengendarai belalang tempur.”
   Aku mendongak dan menatap ayah. “Kapan ayah mengajakku naik belalang tempur?”
   Ayah menghela napas. “Kau harus tanyakan pada ibumu.”
***
   Pendapatan ayah setelah mempunyai belalang tempur jauh lebih baik daripada ketika memulung botol-botol plastik. Kami sekeluarga dapat makan daging seminggu sekali dengan teratur dan ibu dapat mencicil utangnya di warung. Sikap ibu terhadap ayah pun mulai berubah. Dengan enggan, ibu terpaksa menyetujui pekerjaan baru ayah walaupun masih merasa cemas dengan kondisi ayah.
   Kecemasan ibu beralasan. Suatu hari, seorang penumpang merampok ayah! Ayah telah melawan sekuat tenaga namun tetap kalah. Ia pulang dalam keadaan sedih, kecewa, dan terluka. Ibu mengelus dada. Kecemasannya menguncup menjadi perasaan lega. Ibu bersyukur kalau ayah hanya mendapati lecet-lecet kecil. Tidak terluka parah apalagi sampai meninggal.
   Ayah menggebrak meja dan membentak ibu. Musibah baru saja terjadi kenapa malah bersyukur! Ibu menjawab: Kau masih dapat teriak? Baguslah!
   Ibu lalu pergi meninggalkan ayah ke dapur untuk menghindari perdebatan lebih lanjut. Aku berdiri di pintu kamarku dan mengawasi ayah takut-takut. Belum pernah aku melihat ayah seperti ini. Ia sedang dalam keadaan kacau, terpuruk, dan menderita kekalahan hebat. Sedikit-banyak aku rasa aku mengerti perasaan ayah. Jika ayah membelikanku sepeda dan anak yang lebih besar menginginkan dan berusaha mencurinya dariku, dan lalu aku tak bisa mencegahnya, kukira perasaanku akan sama seperti perasaan ayah. Sedih — bukan karena kehilangan sepeda itu — melainkan karena aku tidak mampu melindunginya. Dan sepedaku tahu hal itu. Begitu pun dengan belalang tempur. Ia tahu kalau ayah tidak mampu melindunginya.
   Ayah melihatku dan memanggilku ke dalam pangkuannya.
   “Nak, kamu tahu kan, kalau ayah sudah berusaha mencegahnya?” ayah berusaha membela diri. Mungkin ada sesuatu di dalam tatapanku yang membuatnya berkata seperti itu.
   Aku mengangguk. “Tidak apa-apa, Yah! Nanti belalang tempur pasti bisa mencari jalan pulang sendiri.”
   Ayah tersenyum kecut. “Mungkin. Tapi mungkin juga ia menunggu diselamatkan ayah!”
   Aku mendongak dan menatap ayah dengan ternganga. Kalau begitu kejadiannya, aku tidak akan pernah bisa melihat belalang tempur lagi.
   “Monster yang dikirimkan Kapten Jack sungguh kuat. Ayah telah memakai tendangan maut tapi monster itu tidak bisa mati.”
   “Ayah juga memakai pukulan maut?” tanyaku spontan.
   “Ya.”
   “Bagaimana dengan pedang matahari?”
   Ayah ternganga dan sorot matanya tampak seperti baru teringat akan sesuatu. Ah, ayah pasti lupa memakainya lagi!
***

0 comments:

Posting Komentar