Minggu, 18 Agustus 2013

- 2 comments

Si Untung

Oleh: R.Mailindra

Sumber gambar: http://iappsofts.com

Untung Sejati. Barangkali Bapak terlalu girang saat aku lahir sehingga memberiku nama semuskil itu. Orangtuaku memang sudah lama merindukan kehadiran seorang anak dan aku datang bertepatan dengan kenaikan pangkat Bapak. Namun memikirkan kejadian seminggu ini, permulaan pagi ini, serta antrian mobil di depan, kupikir namaku seharusnya Sial Sejati.

Entah mengapa seminggu ini selalu ada masalah dengan tugasku. Asumsi yang salah lah, anggota tim yang sakit lah, dan hal-hal lain yang tak bisa kulihat sebelumnya. Itu membuat bosku meradang setiap hari. Seperti masih kurang, kemarin si Firhan kena tipus. Sebenarnya hal terakhir itu bukanlah kesialanku. Musibah itu murni milik Firhan. Namun karena ia mendadak terkapar, terpaksalah aku dikirim ke Surabaya untuk menggantikannya dan memulai kesialanku.

“Proyek itu sudah delayed dua minggu. Kau gantikan Firhan meeting besok! Pesawatmu jam 7.30, dan meeting jam 10.30,” kata bosku semalam, jam tujuh, tepat sebelum aku pulang.
Belum apa-apa aku sudah punya firasat buruk. Para klien di Surabaya itu memang sangat cerewet dan bermulut tajam. Aku ingat setahun lalu mereka pernah marah besar hanya karena beberapa kesalahan kecil pada proyekku. Ingatan itu membuatku berusaha mempelajari semua keputusan yang sudah mereka sepakati bersama Firhan.

Langkah awal jenius itu segera terbukti sebagai kesalahan karena aku baru tidur lewat tengah malam dengan masih setumpuk laporan yang belum selesai kubaca.

Jam lima pagi aku bangun dan langsung kesurupan karena alarm ponselku tidak menyala tersebab baterainya habis. Aku lupa memeriksanya semalam. Untunglah aku bisa bersiap dengan cepat, namun saat akan ke luar mencari taksi, alam mengujiku.

Langit menumpahkan air seperti sudah berbulan-bulan tak hujan. Dalam cuaca seperti itu, meski memakai payung, bajuku akan segera kuyup kalau nekat keluar. Jadi kuputuskan untuk menelpon taksi saja.

Bukan cuma rejeki, rupanya kesialan juga datang bersama hujan. Lima belas menit berlalu namun tak ada taksi yang datang. Berapa lama harus kutunggu? Aku tak punya waktu. Saat kulihat hujan sedikit reda, kuputuskan untuk ke luar kompleks mencari taksi.

Setelah sampai di luar kompleks hujan berhenti. Sayangnya kesialan tidak reda bersama hujan. Di persimpangan itu  biasanya banyak taksi yang lewat, namun pagi ini tak tampak satu pun. Justru penggemarnya yang melimpah. Kulihat ada lima orang yang sedang menunggu. Aku baru kebagian tumpangan pukul enam lebih.


“Pak, bisa tolong lebih cepat?” kataku kepada supir taksi ketika kulihat speedometer-nya hanya menunjukkan angka 40 km/jam.
Sopir itu mendongak. Dari spion kulihat ia tersenyum. Mungkin begitulah senyum seorang bapak kepada anaknya yang merengek minta dipetikkan bulan. Hujan masih turun dengan deras. Airnya menampar-nampar kaca jendela. Kulihat kaca depan taksi di bagian kiri mengembun. Di atas dashboard ada tanda pengenal sopir itu; namanya Untung Santoso.

Tiba-tiba aku terdorong ke kanan. Seolah masih berusaha mengambilkan bulan, supir itu menekan gas lebih dalam, berbelok tiba-tiba ke kiri, mencoba menyalip, namun truk minyak di depan melambat—membuatnya tak mungkin untuk memotong kembali ke  kanan. Namanya Untung, namun keberuntungannya seperti jauh panggang dari kompor.

Setelah beberapa menit mengikuti rayapan truk minyak itu, keadaan justru membuat hatiku teriris. Mobil-mobil melambat dan kulihat antrian di depan gerbang tol seperti baru akan habis ketika Indonesia meraih piala dunia sepak bola. Tampaknya dua orang bernama Untung di taksi ini tak cukup untuk membuatku sampai ke bandara tepat waktu.

Menurut ayahku, karena aku lahir tanggal satu Januari, aku membawa keberuntungan. Menurutku, entah aku lahir di tanggal satu atau tiga puluh satu, diberi nama Untung atau Wiliam, Bapak tak punya bakat jadi peramal. Bahkan dengan menamaiku Untung, ia mungkin telah menjerumuskanku dengan menantang nasib buruk untuk terus mengujiku. Apa dia tak pernah dengar banyak sudah para Untung yang berguguran. Seperti cerita perwira celaka bernama Letkol Untung. Gerakan 30 September yang ia pimpin gagal total. Ketika melarikan diri, ia tertangkap secara tidak sengaja. Bayangkan, seorang komandan brilian bisa tertangkap secara tak sengaja. Yang benar saja. Banci pun harus segaja disergap satpol PP jika ingin ditangkap.


Cantik Delima, nama perempuan di balik meja itu. Muda, cantik, dan tentu saja terkutuk. Melihat mimik dan mendengar penjelasannya kupikir delima lah yang membuat Nabi Adam dikeluarkan dari Taman Firdaus.
Tanpa ampun ia bilang tiketku hangus dan pesawat mereka berikutnya baru akan berangkat ke Surabaya nanti sore. Ia tega memvonis demikian meski sekarang baru jam tujuh dan peluh bercucuran di dahiku. Ia tentu saja mengabaikan jutaan kesulitan yang sudah kulewati untuk sampai ke sini, meski aku berbusa-busa menjelaskannya.

Tadinya aku ingin merobek kupingnya dengan makian paling orisinil. Beruntung, sebelum sempat melakukannya aku tersadar. Mendebatnya cuma menambah kesialan saja. Maskapai ini terkenal licin. Terlambat dan minta maklum adalah hak eksklusif mereka. Dan mereka pernah mengerjaiku. Saat itu aku terlambat check-in satu menit dan mereka bilang bagasi tidak boleh masuk lagi sebab pesawat akan berangkat 44 menit lagi. Terpaksalah aku mendermakan koperku beserta isinya kepada para kuli. Aku lalu bergegas berlari ke ruang tunggu, berkeringat, berdebar, hanya untuk mendengarkan mereka memohon maklum karena pesawat akan terlambat satu jam. Sial! Maklum mereka ditukar dengan koporku.
Jadi, alih-alih berdebat dengan si Buah Terkutuk, aku membujuknya untuk mencarikan maskapai lain yang berangkat dalam waktu dekat. 

Aku beruntung—yang setelah kupikir lagi sebenarnya aku buntung karena kantongku dikuras tanpa ampun—ada yang akan terbang satu jam lagi. Takut diterjang kesialan lagi, aku sambar tawaran itu, langsung check-in, lalu pergi ke ruang tunggu.


Tak pernah kubayangkan bisa sedemikan nelangsa melihat sebuah pesawat terbang. Dari balik kaca ruang tunggu ini kulihat pesawat yang harusnya kunaiki mulai bergerak. Mungkin saat ini pilotnya sedang menjulurkan lidah kepadaku. Dan para pramugari sedang melambai-lambaikan tangan. Tak perlu jadi peramal untuk tahu aku akan terlambat meeting jam setengah sebelas nanti. Entah makian apa yang harus aku telan karena delayed proyek—padahal itu jatah si Firhan. Dan saat melapor jam delapan nanti, sebelum pesawat berangkat, aku pasti didamprat habis-habisan oleh bosku. Gusti, bunuh saja aku sekalian.
Mengapa untuk hal sepele seperti ini aku bisa sial?

Lewat kaca itu kulihat pesawat melaju kencang, bersiap untuk terbang.
Untung Sejati, Bapak, kurasa kau salah memberiku nama.
Pesawat itu terus melaju dan beberapa detik kemudian, tepat ketika akan lepas landas, ia menjadi juru bicara Bapak.

Ketika datang, sabdanya langsung membuat badanku gemetar, mataku melotot, dan tubuhku lunglai. Orang-orang di sekitarku berteriak bagai jamaah yang sedang mengamini imam. Bahkan kaca ruang tunggu bergetar laksana sedang menerima wahyu. 

Kudengar sirine berkumandang. Kulihat para petugas berlarian. Di luar perang seolah sedang meletus. Pesawat yang harusnya kutumpangi gagal lepas landas. Asap hitam membumbung bagai cendawan raksasa. Malaikat maut pasti sedang bekerja keras di bawahnya.

Untung Sejati. Campuran rasa takut dan malu menggigitku. 
Kupikir sebaiknya kutelepon Bapak sekarang.


Bandung, Agustus 2013

Penulis: Wahyu Heriyadi

Tulisan lain dari Wahyu Heriyadi

Kenali lebih dekat di sini:

Icon Icon mengumpulkan saja

2 komentar:

  1. cerpennya bagus. kayak di koran-koran Minggu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Pak Benny Ramdani.
      Wah bisa meletus nih kepala disanjung editor :D
      Salam.

      Hapus